Benarkah pendapat yang mengatakan: “Seseorang tak kan mampu mengenal seorang lain sebelum ia mengenali dirinya sendiri terlebih dulu.” ?
Filed under: Uncategorized | 2 Comments
Tags: pertanyaan
Hujan Hari Ini
Siang ini 11:45
Turun hujan di Bandung, akhirnya.
Setelah kemarau berminggu-minggu… air itu turun…
Membawa sejuk di udara. membawa bau tanah menyeruak ke atas
yang dapat saya cium saat saya buka jendela disamping meja kerja saya…
Saya lemparkan pandang sejauh mungkin saat jendela sudah dibuka. Tangan menahan, dan kepala menjulur keluar jendela.
Petikan gitar dinamis Depapepe membawakan lagu klasik melodis “Air on The G String - Johann Sebastian Bach” …
Membuat hati dan mulut tersenyum, membuat pikir melambung terlontar tak terarah,
Yang jelas sedikit damai terasa, tidak, tidak banyak, entah kenapa…
Kemana perginya bentuk sejati?
Entah kemana, saya nikmati saja dulu yang ada.
Ada sedikit kontraksi di dada, terus berdegup. Lambat tidak, kencang pun bukan.
Setempo dengan petikan gitar ini? mungkin saja…
Yang jelas paduannya (hujan, musik, dan rasa ini) menjadi begitu harmonis, beriris.
Setiap sesuatu pasti memiliki pesannya sendiri memaknai apa yang dijalani.
Jangan, jangan ambil perduli… biarkan ia maknai sendiri…
Karena takkan pernah kamu mengerti, apa sebenarnya yang ia cari.
Seperti hujan yang memiliki maksudnya sendiri di hari ini.
Saya anggap saja ia datang untuk menyegarkan hari, sebelum mentari kembali menyinari.
Walau mungkin menurutnya sendiri itu lain lagi…
Selamat menikmati hari….
-japs-
(tidak sengaja keterusan berdiksi dengan rima “i”)
Filed under: ocehan | 3 Comments
Tags: hati, hujan, musik, pribadi, prosa
“Apalagi yang kita tunggu? Mengapa tidak sekarang saja?!!”
“Apakah kita harus menunggu kemerdekaan itu diberikan sebagai hadiah?”
“Jadi Saudara mengatakan bahwa Saudara telah siap dan sanggup untuk memproklamasikan kemerdekaan?”
“Mengapa Saudara tidak memproklamasikan kemerdekaan itu sendiri?”
…
“Revolusi berada di tangan kami sekarang?!! Dan kami memerintahkan Bung, Kalau Bung tidak memulai revolusi, malam ini juga , lalu kami…”
“Laalu aapa!!!”
“Yang paling penting dari peperangan dan revolusi adalah saatnya yang tepat.”
…
Cuplikan skenario trailer “Jangan Lupakan 16 Agustus”- Sampoerna Untuk Indonesia. Sebuah karya yang mengangkat satu peristiwa di tanggal 16 Agustus. Sebuah peristiwa yang menjadi titik balik nasion ini, yang semulanya adapun negara yang terjajah sekian lama, menjadi negara merdeka yang berdaulat akan dirinya sendiri. “Jangan lupakan 16 Agustus” menjadi tagline dari video ini.
Jangan lupakan 16 Agustus, merupakan sebuah pesan moral dan sosial bagi kita semua, Bangsa Indonesia, yang selalu demam dan euphoria hari kemerdekaannya di tanggal 17 Agustus. Tanggal diproklamasikannya Negara Indonesia, tanggal dirgahayu-nya Indonesia, tanggal semua mendadak nasionalis dalam setiap jargon dan slogan, dalam setiap balutan dwi warna, merah dan putih.
Tanpa mengurangi sedikitpun nilai dari tanggal 17 Agustus 1945, sebaiknya dikenang pula tanggal 16 Agustus 1945. Hari dimana tekad akan kemerdekaan tersebut diperjuangkan, diperdebatkan untuk akhirnya berhasil dibulatkan. Hari dimana nasionalisme segolongan pemuda tidak hanya berupa jargon dan slogan cuma-cuma. Hari dimana perseteruan bukan demi membela kepentingan pribadi. Hari dimana pertikaian terjadi demi menghargai setiap darah dan nyawa yang tumbang sebelumnya, dan demi ribuan nyawa lainnya yang saat itu rindu kebebasan dan kemerdekaan. Bukan dengan cara yang mudah, juga bukan atas hadiah, tapi dengan darah dan perjuangan.
Membaca cuplikan diatas atau menikmati karya seni videografi “Jangan Lupakan 16 Agustus”, begitu menggambarkan dengan jelas perbedaan pendapat kaum muda dan golongan tua akan waktu yang tepat untuk sebuah pemroklamasian kemerdekaan. Kaum muda yang menganggap waktu yang tepat adalah waktu yang secepat-cepatnya, serta golongan tua yang menganggap waktu yang tepat adalah waktu yang ditentukan oleh PPKI. Keduanya berdebat akan pendapat masing-masing yang dianggap benar. Yang berbuah sebuah teks proklamasi keesokan harinya, teks yang mendeklarasikan hadiah terbesar dan terindah bagi negeri ini, sebuah kemerdekaan.
“Tanpa mereka, akankah kita merdeka?“
sebuah pertanyaan retoris yang tak memerlukan jawaban
sebuah pertanyaan yang lebih membentuk pernyataaan,
sebuah ungkapan syukur akan sebuah keberanian:
“terima kasih pemuda Indonesia“
Jangan Lupakan 16 Agustus :
sebuah karya yang hebat, wujud cinta pada nasion ini, yang juga kan jadi satu jargon dan slogan lagi. Bila hanya berakhir dalam ungkapan kata, tanpa wujud perbuatan nyata.
Dapatkah kita stop bilang aku cinta indonesia? dan memulai berkata dalam wujud nyata cinta yang sesungguhnya? berbakti untuk Ondonesia?
*tulisan ini hanya berupa renungan semata, tiada maksud menggurui atau apapun diksi lainnya. Hanya sebagai cermin bagi diri pribadi, diri kita atau mereka yang masih menggerogoti kedaulatan dan kemerdekaan dari dalam tubuh negeri ini, dari setiap sudut dan sisinya*
Video Sumber | Sampoerna Untuk Indonesia
Filed under: tulisan lepas | 3 Comments
Tags: 16 Agustus, 17 Agustus, Indonesia, Kemerdekaan, Nasionalisme, Proklamasi, Sampoerna, Sejarah, Videografi
KICKFest 2008 pada malam 3 Agustus 2008. Saya berkesempatan melihat manggungnya band-band indie yang akan menutup rangkaian acara festival clothing dan distro terbesar tersebut. Kesana bersama tiga orang kawan, kami semua berencana menonton band Efek Rumah Kaca, band indie yang mengusung musik alternatif dengan lirik-lirik cerdas dan nada-nada melodius.
Band pembuka adalah Vincent Vega, menurut sumber yang saya temukan di Google, band ini beranggotakan: Ariel William (Vocal), Rangga Syailendra (drum), Agung Dwi Anggoro (Bass), Muhamad Saugan Najib (Gitar) dan Fikri Hardiansyah (Gitar). Memainkan musik-musik indie-rock up-beat yang cenderung agresif, penampilan mereka sangat enerjik, ekspresif sampai saya terheran-heran melihat semangatnya diatas panggung. Saya masih belum familiar dengan band ini jadi kurang tahu judul-judul lagu yang dimainkan. Berikut beberapa skrinsyut-nya.
Band berikutnya adalah Efek Rumah Kaca [Cholil (vokalis & gitaris), Adrian (bass), Akbar(drummer)] , band yang membuat kami sengaja datang bersama ke KiCKFest malam itu. Band ini merupakan Rookie of The Year versi majalah Rolling Stone Indonesia (2008). Band yang setiap lagunya memiliki satu cerita berarti dalam pemaknaan yang dalam, sangat kental dengan isu-isu dan kritik sosial, disampaikan dalam bahasa nada musik Indonesia. Saya mengenal band ini kurang lebih setahun lalu melalui kesempatan yang tidak terduga (dari tak mengenal sama sekali, sampai mulai suka satu persatu lagunya). Hingga akhirnya sekarang sudah dalam tahap teradiksi dalam alunan melodi dan lirik-lirik kelas penyair-nya. Suatu saat nanti mungkin saya akan menulis apa kata saya mengenai band indie ini. Sekarang foto-foto konsernya dulu aja ya.

Efek Rumah Kaca memainkan lagu Debu-Debu Berterbangan, Belanja Terus Sampai Mati, Desember, Cinta Melulu dan Di Udara. Setlist yang lumayan asik dari band ini, membuat semua penggemar musik indie bernyanyi, termasuk saya, hehehe… Buat yang baru tahu Efek Rumah Kaca, silahkan dengar lagunya di http://myspace.com/efekrumahkaca. Dukung dengan membeli CDnya di toko besi kaset terdekat.
Bravo Efek Rumah Kaca.
Band berikutnya adalah si “Secret Admirer” Mocca, membawakan lagu-lagu jazz swing-nya, Arina Ephipania (vokal dan flute), Achmad Pratama (bass), dan Indra Massad (drum) mengantarkan penonton menuju penampilan The Sigit dengan lagu-lagu cadasnya, nge-rock!!! hehehe, Sebagai band yang nampaknya paling ditunggu-tunggu, penampilannya cukup membawa penonton jingkrak-jingkrak, saya sendiri kurang ngerti musik-musik rock begini, tapi overall seru lah penampilannya. Selalu salut dengan idealisme temen-temen musisi independen, karena sejatinya berasa banget, bahwa musik adalah nafas kalian. Sukses buat kalian.
Dan KICKFest 2008 pun ditutup. Sampai ketemu lagi, Kawan-Kawan Komunitas Independen. Tetap berkarya (dengan cinta (halah)) ![]()
Filed under: musik, tulisan lepas | 7 Comments
Tags: band, kickfest, indie, efek rumah kaca, vincent vega, mocca, the sigit
“Sampai ketemu lagi, ya…”
Sebuah ungkapan ringan yang terdengar begitu menyenangkan.
Sampai ketemu lagi,
sebuah ungkapan spontan, tersamar keinginan hati untuk berjumpa kembali.
Sampai ketemu lagi,
tiga buah kata terakhir untuk perpisahan temporer yang relatif takkan memakan waktu lama.
Sampai ketemu lagi,
sebuah kalimat sederhana yang saya curi dengar pagi tadi dari seorang
asing yang beranjak pergi meninggalkan kerabatnya yang membuat saya berpikir lalu menuliskannya disini.
Sampai ketemu lagi,
tiga kata yang saya temukan terdengar begitu ringan dalam ucapan
namun demikian begitu berbobot tinggi dalam arti.
So… Kawan…
Sampai ketemu lagi…
Filed under: diksi | 15 Comments
Tags: diksi, kalimat, kata
Oleh-oleh dari KICKFest 2008
“Jap, besok kamu dateng ke Kickfest?”
Saya terdiam, yang sepertinya langsung terbaca dikening saya “kickfest? apa itu?“
“Kickfest!!! kickfest!!! salah satu acara besar di Helarfest!!!”
“Oh, iya.. iya…” jawab saya pura-pura tahu yang kurang sukses sepertinya.
“You should manage your social and professional life, jap!”
“…..”
Oke, bagi temen-temen di Bandung yang belum tahu apa itu KICKFest, dont worry be happy. Karena masih ada saya, salah satu temen kuper kalian. Mari mulai bergaul bersama-sama, hehehe….
KICKFest adalah festival besar tahunan KICK (Kreative Independent Clothing Kommunity), sebuah bazzar clothing dan distro-distro yang April 2008 lalu di gelar di Yogyakarta, sebulan kemudian di Makasar. Dan pada tanggal 1,2, dan 3 Agustus 2008 kemarin digelar di Lapangan Gasibu Bandung, sebagai bagian dari seluruh rangkaian acara Bandung Helarfest 2008.
Filed under: tulisan lepas | 5 Comments
Tags: bandung, clothing, distro, festival, helarfest, kickfest
Sore itu saya ikut kawan-kawan yang hendak mengisi pensi sebuah SMA negeri di Bandung. Keberangkatan dipercepat karena mereka harus tampil pukul setengah tujuh, maju setengah jam dari jadwal semula. Karena pemberitahuan yang mendadak, seluruh kru band dan tim segera bertolak dari kostan saya ke lokasi tempat mereka akan manggung di Jalan Dago. Kami berangkat sekitar pukul enam kurang lima belas, konvoi menggunakan tiga mobil. Mobil yang saya tumpangi berjalan paling depan dan bertugas memandu dua mobil lainnya.
Rasanya semua masih terkendali, dan waktu juga masih mungkin terkejar, SMU itu berjarak tidak begitu jauh dari kostan saya. Begitu pula saat adzan maghrib terdengar di mobil kami yang masih berada di Jalan Tamansari sebelah ITB, kami masih tenang karena dari tempat itu kira-kira dalam 10 menit kami bisa sampai di lokasi, “Masih keburu lah”. Namun, itu semua sebelum saya: si (hampir) penghancur pensi orang ini melakukan kebodohan.
Filed under: ocehan | 13 Comments
Tags: band, dago, nyasar, pensi
Someone Special Online
Permainan tag-tag-an ini saya dapatkan dari rangga, thanks for adding my blog, Bro. hehehe…
{Start Copy Here}
- Copy from start to finish
- This letter should be pass on to your closest friends online.
- Add your name and HERE!! Wheng | Hazel| Janeth Vicy’s Life Journey | A Sweet Taste Of Life | Ozzy’s Mom | When SAHM-one Speaks | My Life with Mel & Thea | Gagay one corner of my life! | Bill & Gina My Piece of Paradise | Chronicles of Trisna | woelank | rangga | japs | YOU’RE NEXT!
- Get back to Me [japs] and leave a comment once you’ve passed on the letter. Will then visit your site to make sure your links are complete and proper.
- To ensure everyone receives equal link benefit, UPDATE your list regularly!

Flower for my friends
It’s true I have never seen you
and we have never met,
Never shaken Hands or
even truly hugged and yet!
I know for sure you care for me
by the kindness that you give.
And our keyboards keep us
together doesn’t matter where we live.
So I give you this gift to
put a smile on your face
and to let you know in my
heart you have a special place.
{End Copy Here}
Now i am passing this along to my friends here : | weibullgamma | itikkecil | lei | mba milla | widy | aga | stino | dicke | mba yulis | mba tutinonka | hanggadamai | realylife |
P.S : For those name whom I don’t mention here, it doesn’t mean that I don’t consider you as someone special to me. i’ts 1:50 am now… i will add more incoming links later. thank you
Filed under: Uncategorized | 6 Comments
Perjalanan memiliki makna yang berbeda-beda bagi setiap orang.
Anda misalnya, yang memaknainya sebagai sebuah pelarian, atau dia yang duduk di bangku reyot itu yang sedang memandang langit dengan senyuman, berpakaian sederhana, bersepatu robek, dan tas punggung yang nampak penuh itu menganggap perjalanan adalah segalanya, perjalanan adalah hidup matinya. Tapi tidak bagi wanita cantik berkacamata sebesar hampir seperempat mukanya itu, baginya perjalanan adalah hiburan semata. Sementara simbok pedagang sayur yang baru pulang dari pasar itu? Ia akan berceloteh panjang lebar bahwa perjalanan adalah kepergian. Ah pantas saja… Ia telah kehilangan anaknya yang konon hendak mengadu nasib dan menempuh perjalanan ke pulau seberang namun tak kunjung pulang sampai sekarang. Satu lagi, bagi seorang ibunda pelajar kelas dua SMA kesayangannya yang sedang naik sepeda itu, perjalanan adalah pemborosan, hehehe…. katanya “Lebih baik kamu beli buku dan belajar di rumah, lupakan jalan-jalan ke Bali bersama teman-teman yang membuatmu melamun setiap hari.”
Filed under: perjalanan | 5 Comments

Tapak kaki ini terus melangkah melewati jembatan Sungai Opak yang gelap. Tak dapat saya lihat permukaan sungai itu di kanan saya, terlalu gelap. Sementara di kiri saya deru kendaraan melaju cepat menambah kengerian berjalan di tepi jembatan gelap yang pembatasnya hanya sebatas lutut itu. Saya takut terjatuh, takut menghilang di kegelapan sana. Maka saya percepat langkah ini menuju pertunjukkan kolosal itu. Sendratari Ramayana.
Filed under: perjalanan | 9 Comments
Tags: Backpacker, perjalanan, prambanan, sendratari ramayana, Wisata





