ia bahagia
ternyata
kebahagiaan dan kesenangan kadang tak datang dengan sendirinya,
namun kebahagiaan dan kesenangan ada karena diciptakan.
ternyata
kebahagiaan dan kesenangan itu tidak berpola,
tetapi abstrak dan tak beraturan.
kebahagiaan dan kesenangan itu tidak terkotak-kotakan,
karena ia bebas dan berhamburan.
kebahagiaan dan kesenangan juga tak pernah absolut berdasar kebersamaan atau kesendirian,
tetapi datang saat siapa mampu menerima kebersamaan ataupun kesendiriannya.
malam ini ia bahagia…
tanpa satupun siapa yang dapat ia sebut bersama…
tanpa ada satu juga yang ia rasa miliki…
ia selalu berpikir ia sendiri
orang lain bilang ia tidak pernah sendiri
(nyatanya) kita memang tidak pernah benar-benar sendiri
karena pada saat ia bahagia…
ada senyum dari yang ia cinta disana…
begitu juga disaat sendu
dapat ia rasa dari mereka pilu…
tapi tidak saat ini…
apa itu kesedihan ia sedang lupa…
dalam gemerlap hedonistik individual pribadi…
dalam langkah kaki yang kembali mengayun gontai di atas trotoar Jakarta
Meluap rasanya, melambung jiwanya,
benderang seterang kota setelah padam sejam lamanya.
kali ini ia bahagia
dalam satu bentuk abstrak yang ia cipta,
dan bukan karena satu pola umum yang ada…
ya, ia bahagia…
sangat bahagia…
Filed under: ocehan, renungan | 20 Comments
Perjalanan Pulang Petang Ini
Langkah kaki tergegas keluar dari bis dan pintu itu kembali bergeser tertutup. Bus melaju lagi, juga langkah kaki ini, segera kembali bergegas menuju luar halte yang bernama Tosari.
Lari… lari dan terus berlari… terlihat gedung-gedung itu mencakar langit begitu tinggi dari rendahnya trotoar merah mulus ini. Sementara itu alas kaki terus menerus hendak terlepas. Naik turun nafas terengah, hampir habis ditengah gegas diri yang terus melaju…
Bisa kulihat stasiun itu, Stasiun Sudirman, masih 2 kali lemparan batu untuk sampai sana. Namun tak dapat kuhalangi pandang mata ini terus menarik ke arah puncak gedung-gedung nan tinggi, yang terasa begitu harmonis dengan gegas kaki ini, yang terasa begitu klop dengan waktu yang melesat seperti tak pernah mampu dan dapat dikejar.
Kali ini aku benar-benar harus mengambil nafas, kulihat penunjuk waktu di telepon genggam. ”Ah… sudah lewat tiga menit” rasanya aku sudah ketinggalan kereta senja…
Tapi setitik asa masih tersisa ”Ini kan Indonesia… Kereta telat bukan hal aneh disini… jadi, masih ada harapan untuk si komuter ini”
Ku kembali berlari, dan alas kaki terus saja hendak terlepas yang kadang sempat membuatku geram dan ingin melepasnya saja. Ah, tapi apa jadinya jika berlari hanya dengan kaus kaki saja? Tanpa kaus kaki mungkin lebih baik, namun waktu yang dibutuhkan tuk melepas rasanya membuang waktu lebih banyak lagi. Dan akhirnya kupilih terus berlari sembari menahan sepatu agar tak terlepas.
Aku sampai stasiun itu, tak pernah kulihat antrian loket kereta Jabotabek sepanjang ini, seperti antrian bioskop saja rasanya. Huff… sudah telat, antrian pun tak dapat ditolak, kereta itu bisa jadi sudah lewat, tapi hati terus berharap bersama pandang mata yang selalu mengarah ke peron, bertanya ”kereta ekonomi ac itukah disana?”
”Ekonomi AC Depok sudah lewat, Pak?”
“Manggarai” Jawab penjaga tiket singkat dan datar, ekspresi macam ini sudah jamak kudapatkan di kota ini, tak sedikit orang yang tak suka sedikit berbasa basi ataupun ramah sedikit saja… yah, mungkin kerasnya ibukota yang membuat beberapa orang malas mengayun turunkan nada bicara atau membuang senyum, sedikit saja…
“Manggarai, kereta yang seharusnya berangkat pukul 17.30 itu masih di Manggarai?”
Kabar buruk bagi mereka yang datang tepat waktu, namun baik bagi yang gopoh gapah telat 5 menit seperti saya. Saya tunggu kereta di peron satu yang sudah penuh sesak orang, bagai cendol tanpa air… padat!!! Kami semua bersentuhan, begitu rapat. Saya menunggu kereta telat itu sampai saya lihat arah kereta ke arah Depok bukan di peron ini… Peron seberang! Ah! Saya harus kesana… rapatnya manusia tak terelakan harus diterobos, harus naik tangga penyebrangan, tas terjepit dan isinya keluar ”alamakjang!”, terpaksa saya harus menunduk-nunduk mencari-cari kunci yang jatuh diantara kaki-kaki, dan kembali berlari menaiki tangga penyebrangan menuju peron 2. Gopoh gapah…
Tubuh berhenti, peluh langsung mengalir deras… hawa panas seketika itu juga membungkus diri…Saya lihat wajah-wajah pekerja ibukota… ramai mewarnai stasiun kereta. Saat kereta menuju Tangerang sampai di peron seberang, saya lihat wajah-wajah itu berdesak masuk begitu jelas berusaha sekeras mungkin mendapat kursi di kereta kosong yang datang. Sementara itu waktu sudah menunjukkan pukul enam kurang lima, dan kereta itu masih belum datang juga. ”Tertahan di stasiun Manggarai”, begitu kata petugas informasi lewat pengeras suara. Informasi semacam ini sangat membantu, karena tidak membiarkan penumpang menunggu lama tanpa kepastian (digantung begitu saja).
Akhirnya kereta tiba, saya masuk dengan tenang, tak perlu berebut tempat duduk karena memang sudah tak bersisa dan berdiri pun sudah cukup nyaman bagi saya asal kereta sampai di Stasiun Depok Baru saja, karena makanan sudah disiapkan di rumah oleh kakak tercinta, menyempurnakan perjalanan pulang petang ini.
Satu perjalanan pulang di senja hari yang saya suka,
begitu sederhana namun sarat makna.
Saya suka Jakarta…
Saya suka naik kereta…
Saya suka naik kereta di Jakarta…
Hidup Komuter!!!
Salam
-japs-
Filed under: ocehan | 28 Comments
Tags: ibukota, jakarta, Kereta, komuter, transportasi
ibukota
Ayah, Ibu… saya lelah
mengejar denyut nadi ibukota.
Tapi kemana saya harus bersandar?
“Hanya kepada-Nya, Anakku… hanya pada-Nya” jawab mereka penuh kasih…
Filed under: ocehan | 20 Comments
bertanya atau berjalan?
di sebuah pedalaman terdengar suara yang lewat berkelebat,
sebenernya hidup ini buat apaan sih?
ya buat dijalanin lah…
dijalanin bagaimana?
ya di jalanin sebaik-baiknya aja…
sebaik-baiknya? buat siapa?
ya buat diri sendiri, buat orang lain, siapapun lah!
terus???
ya terus lo jangan nanya mulu aja!!! kapan jalannya?
mereka terus berjalan masuk lebih dalam tanpa bicara, kendati mungkin hatinya terus bertanya. sunyi, lalu menghilang…
…
suara-suara itu membuat saya tergelak di akhir, dan merenung sesaat berikutnya… sampai suara-suara itu benar2 hilang dan pergi. sunyi di telinga, lalu bingar tanpa suara…
salam
-japs-
Filed under: renungan | 27 Comments
aku ada dua???
Dan saya menggeragap ketika diri sanggup bersikap seolah padri di satu sisi sekaligus menjadi serigala tak kenal rasa di sisi berbeda. Menggeletar bengis menoreh luka mengundang murka begitu mala, dan bertenang-tenang seketika disisi lainnya menjadi rusa tanpa dosa.
Degup mengencang, jari gemetar, ampun… saya tak sanggup.
-japs-
nb: dan tempat ini semakin menjadi ruang penuh lindi luapan rasa. maaf, saya hanya butuh tempat meneteskannya… esok pun sudah tak apa… (barangkali)
Filed under: ocehan | 13 Comments
Sampai Ketemu di 2009…
Tertuang salam ucapan terima kasih melengkapi tuangan kata Sahabat semua di cangkir 2008 yang penuh cita rasa. ‘Kan saya sruput pelan di senja tahun ini. Seteguk demi teguk: catatan, balasan, pengalaman, perkenalan, hingga persahabatan… yang mengalir tenang mengisi relung dan tabula yang masih kosong.
Membiarkan cangkir ini kosong kembali, untuk lagi dan lagi kita isi
di tahun 2009
tahun perjalanan.
salam harap semua kawan dilingkupi kebahagiaan,
-japs-
Filed under: Uncategorized | 19 Comments
Wastukencana
Meringkuk sendiri di pinggir jalan, bersandar pada parapet jembatan.
Di Jalan Wastukencana, diatas Sungai Cikapundung.
Mencoba membuang segala pikir yang mengganggu.
Mencoba merasakan angin dingin melapis melilit kulit.
Mencoba membiarkan kelebatan cahaya terus lewat,
melewati saya yang mengemper damai di trotoar jalan.
Tapak2 kaki sesekali lewat melangkahi, begitu tinggi…
Tak saya ambil pikir apa yang mereka pikir,
tentang seorang meringkuk dengan telepon genggamnya,
yang alunkan “lilin-lilin kecil” lewat earphone lalu masuk ke telinganya.
“Orang yang aneh” mungkin saja pikir mereka.
“Hei!!! Saya tidak aneh. Hanya saja saya pikir semua orang di dunia ini memang aneh, kecuali saya tentunya”
(ini mengikuti perkataan seorang teman di kantor tentang arti “gila”)
Dan bersandar bersama irama & lirik melodius itu menjadi begitu nyaman… Sejenak terlupa semua pikiran usil yang terus mengacau. Surga buku-buku yang saya datangi tadi tak cukup dapat mengalihkan pikir, begitu juga dua buku yang saya beli. Justru di jembatan ini saya menjadi begitu asyik dengan diri sendiri… Bermain dengan kamera dan musik di telepon genggam, mengambil gambar kelebatan cahaya-cahaya lewat itu… membiarkan setiap langkah yang lewat berlalu dengan cemas membatin “Orang stres apa ya?”.
Silakan, panggil saya aneh, stres, atau kurang kerjaan, karena sempat-sempatnya mengambil gambar ini jam 9 malam, sendirian:
Di Trotoar Jalan
Wastukencana
salam
-japs-
seru lho… mau ikut (aneh) ?
Filed under: ocehan | 18 Comments
Tags: jalan wastukencana
“What’s in a name? that which we call a rose. By any other name would smell as sweet”
Shakespeare – Romeo and Juliet (1595)
…
Japraaaaa!!! Teriak seorang kawan dari luar angkot yang sukses membuat saya gak pengen nengok tapi takut dia terus-terusan manggil nama panggilan saya itu berulang-ulang kalo saya gak nengok. Sukses membuat saya ingin terbenam di dalam angkot itu… (ah berlebihan kau, Japs!). Karena saat itu saya belum beranggapan bahwa nama itu cukup kece (sekarang sudah, jangan ada yang protes!!!), dan masih teringat komentar seorang ibu kawan saya tentang nama teman anaknya :
“Telepon dari siapa, Ang?”
“Dari Japra, Mah…”
“Japra? Kok namanya kaya bandar narkoba gitu”
Saya (diujung telpon sambil gigit2 kabel telepon) : “^#%@%%$#”
Atau ibu teman saya yang lain (berdasarkan cerita teman tersebut) :
“itu tadi siapa namanya, De…”
“Japra, Mih…”
“apa? eh, maksud mamih siapa?”
“Japra”
“ah, becanda kamu…..”
“yeee… beneran kali, Mih”
“nama kok Japra???!!!”
Tambahan OOT : sukses dibilang bandar narkoba oleh Nyokap si “Ang” tak membuat karir saya berhenti disitu.
“Ang, Mama jadi penasaran ama yang namanya Japra”
“nih Ma” *memperlihatkan foto bareng temen-temen jaman SMA”
“Tuh kan, Ang!!! Orangnya kurus banget gitu, Mama yakin dia pasti make (narkoba) deh.
Gue (setelah diceritain Ang) : *ngelus-ngelus dada*
Temen2 gue yang ikutan dengar : *ngakak*
Argghhhh teman2 kulang ajal kalian semua!!!! kok malah ngakak si???#@&$#*^^%#^$!!!!!”
Filed under: kisah lalu, ocehan | 34 Comments
Tags: afgan, haha!, japra, nama
Lembayung Jingga Kemarin Sore
Langit kemarin sore begitu dahsyat,
lembayungnya meledak jingga di ufuk barat.
Menembakkan setiap sinarnya ke arah timur, kepada setiap bidang yang menantangnya.
Ke atap-atap rumah, ranting-ranting pohon, dan dinding-dinding putih yang menjadi kanvas besar bagi lukisan bayang-bayang si pohon.
Saya berjalan memunggungi “ledakan”, melangkah menuju timur,
menikmati setiap tembakan sinarnya di bidang yang menantang itu.
Ah… Galau kemarin sore, masih bisa saya ingat…
Begitu juga dengan sinar jingga yang hangat,
masih lekat-lekat menempel di sel otak.
Dan di pertengahan malam, sebuah pesan masuk…
Terkirim sebuah puisi sederhana dari seorang kawan tentang langit jingga tadi sore…
Tentang hawa dingin Kota Bandung yang bertentang dengan hangatnya sinar jingga…
Tentang perjalanan pulang yang sedemikian sederhana namun mencairkan rasa bahagia seketika itu juga…
Dan saya pun bahagia membacanya…
Yeap! This simply and beautiful life is too good too pass up.
Salam,
-japs-
Filed under: ocehan | 16 Comments
Recent Entries
Categories
- arsitektur-sosial (2)
- belajar (1)
- diksi (1)
- kisah lalu (2)
- kota (1)
- musik (5)
- ocehan (28)
- olahraga (6)
- perjalanan (10)
- renungan (4)
- tulisan lepas (5)
- Uncategorized (11)



