Batam, Dalam Catatan – Pulau Galang, Kamp Pengungsi Vietnam

Bus ini terus melaju, melintas di aspal mulus yang membentangi keenam pulau tanpa putus. Saya lihat jalan itu, keloknya lurusnya, juga tebing yang kadang membentuk vista dengan kedua sisinya, membentuk sebuah jalur panjang yang mengantarkan kami semua ke Pulau Galang, pulau tempat kamp pengungsian para manusia kapal dari Vietnam.

Memasuki kamp para pengungsi Vietnam ini pertama kalinya, saat itu saya benar-benar buta akan cerita dan sejarah dibaliknya. Dan lembar cerita itu mulai terbuka perlahan saat saya melihat peta kawasan kamp pengungsian ini tepat sebelum bis memasuki gerbang kamp pengungsian. 

Sekitar tahun 1979, saat Vietnam Utara atau yang lebih dikenal dengan sebutan vietcong mulai menguasai seluruh Vietnam, sejumlah ratusan ribu penduduk Vietnam Selatan mengungsi keluar Vietnam demi alasan keamanan. Pengungsian besar-besaran inilah yang memunculkan cerita mengenai para manusia kapal. 

Para manusia kapal, ya merekalah itu, para pengungsi dari Vietnam Selatan yang bertahan hidup disebuah kapal kecil berisi 40 hingga 100 orang. Di kapal tersebut terombang-ambing beragam golongan masyarakat, dengan berbagai usia dan profesi tertentu, “Mulai dari dokter, insinyur, sampai pelaku kriminal, ada di satu perahu”, jelas seorang bapak pemandu kepada kami. Ratusan ribu eksodus itu mengapung dan berlayar tanpa tujuan yang jelas, tidak sedikit pengungsi yang tak mampu bertahan dan meninggal di lautan. Mereka terus terombang-ambing dan beberapa negara yang sempat mereka sambangi seperti Filipina dan Singapura menolak kedatangan mereka. Sampai akhirnya sampailah mereka ke Kepulauan Riau. Pulau yang akhirnya menjadi tempat berlindung mereka selama puluhan tahun lamanya. Pulau yang saya sedang saya injak saat ini, ya mereka juga disini dua puluh tahunan yang lalu, berharap mendapat tempat berlindung lain setelah negara kelahirannya sendiri tak mampu memberikannya.

Awalnya aliran eksodus pengungsi Vietname tersebut terpencar di beberapa pulau di Kepulauan Riau. Hal tersebut menarik perhatian UNHCR (United Nation High Commisioner for Refugees) dan Pemerintah Indonesia untuk memberikan shelter sementara bagi para pengungsi. Dipilihlah pulau Galang sebagai kamp pengungsian, dan dibangun fasilitas-fasilitas untuk kepentingan tempat tinggal para pengungsi, seperti : barak pengungsian, rumah sakit, tempat ibadah, sekolah, bahkan penjara.  

CMIIW, namun demikianlah cerita yang dapat saya simpulkan setelah mendengar penjelas pemandu disana dan membaca beberapa sumber lain di internet. Satu yang membuat saya berpikir adalah, negara ini, negara saya, memberikan kesempatan bagi mereka untuk berlindung, sementara beberapa negara lain menolak (dengan kebijakannya sendiri tentunya). Bukan untuk alasan politis, namun demi alasan kemanusiaan semata. Satu kebijakan yang patut disyukuri oleh kita semua. Karena ratusan ribu nyawa taruhannya. 

Beberapa perahu inilah yang mengantarkan mereka ke Kepulauan Riau. Bayangkan puluhan penumpang menempati perahu sekecil ini, dan terombang-ambing berbulan-bulan di Laut Cina Selatan.

Perahu-perahu tersebut diangkut ke kamp dan dijadikan monumen peringatan oleh Pemerintah Otorita Batam. Kondisi perahu sudah sangat parah, konon perahu tersebut dihancurkan oleh para pengungsi agar mereka tidak diusir dari Kepulauan Riau seperti yang terjadi pada negara-negara sebelumnya. Namun sumber lain menyebutkan perahu tersebut dihancurkan sebagai bentuk protes para pengungsi yang tidak berhasil lulus uji kewarganegaraan baru pada tahun 1996. Sehingga 5000 orang pengungsi harus dipulangkan ke negara asalnya. Para pengungsi yang berhasil uji kewarganegaraan dapat memilih kewarganegaraanya kepada PBB. Kebanyakan dari mereka memilih Amerika Serikat sebagai negara baru mereka.

Setelah turun dari bis, bangunan yang pertama kami temui adalah bangunan penjara. Penjara ini dibangun untuk menahan para pengungsi yang berusaha kabur atau melakukan tindak kriminal seperti pencurian atau pemerkosaan. 

Pengungsi dikonsentrasikan di satu kamp untuk memudahkan pengawasan dan penjagaan keamanan, selain untuk menghindari penyebaran penyakit Vietnam Rose yang banyak dibawa oleh beberapa pengungsi (Sumber : www.wisatamelayu.com). Dengan konsentrasi tersebut, sekitar  250.000 pengungsi harus tinggal dan bertahan hidup terisolasi di lahan seluas 80 hektar. Ketika saya memasuki satu bangunan yang diperuntukan sebagai museum temporer pada kamp ini, banyak cerita yang merangsek masuk melalui sensor mata, menuju otak, yang seketika memengaruhi seluruh rasa, munculah simpati dan perasaan takjub akan semangat para pengungsi untuk tetap bertahan. Ribuan wajah dalam foto-foto tertempel itu menceritakan sendiri-sendiri emosi dan kisah hidup mereka di pengungsian. Beberapa foto memperlihatkan kegiatan-kegiatan mereka di kamp, sekilas terlihat raut bahagia, namun entahlah, saya merasa ada suasana lain yang mencekam didalamnya. Hanya panah rasa saya saja yang hampir selalu salah menerka. 

Didalam museum tersebut juga terdapat beberapa koleksi peninggalan pengungsi saat tinggal disana, seperti perabot rumah tangga, atau patung-patung kepercayaan masing-masing pengungsi. Selain itu ada juga lukisan dan fot0-foto suasana pengungsian pada masa itu. Sayang koleksi masih dipamerkan seadanya, mungkin karena masih temporer. Sebenarnya museum ini bisa menjadi museum yang menarik dan berpotensi menjadi objek wisata yang juga menarik banyak wisatawan. Kisah ini merupakan potensi sejarah suatu kawasan yang tidak boleh disia-siakan. Yang bisa menjadi pelajaran bagi seluruh dunia dalam memandang peristiwa ini dari sudut pandang kemanusiaan. 

Dari ratusan ribu kepala itu sebagian berhasil meraih kehidupan barunya di negara baru, sebagian harus kembali ke negara asalnya, dan sebagian harus meninggalkan jasadnya di Pulau Galang, di pemakaman Ngha Trang beserta beribu kenangannya. May God bless you all

<<< [Sebelumnya : Batam, Dalam Catatan - Satu]

[Selanjutnya : Batam, Dalam Catatan - Racauan] >>>

 

sumber lain :
http://wisatamelayu.com
http://taufikjalanjalan.blogspot.com
http://indosiar.com
http://kampoengmanik.multiply.com

 

 



About these ads

10 responses to “Batam, Dalam Catatan – Pulau Galang, Kamp Pengungsi Vietnam

  • Batam, Dalam Catatan - Satu « japswords

    [...]  [Selanjutnya : Batam, Dalam Catatan - Pulau Galang, Kamp Pengungsi Vietnam] Possibly related posts: (automatically generated)Yogyakarta Sebuah Catatan Perjalanan – Sendratari RamayanaAboutBATAM (6)Berpijak di Negeri Seganti Setungguan Filed under: perjalanan   |   Tags: batam, jembatan barelang, perjalanan [...]

  • albaar

    Wah baru tau nih ada tempat seperti ini di Indonesia. Mungkin sampai sekarang masih ada jejak keturunan para pengungsi yang masih betah tinggal di Pulau Galang. Tapi sangat disayangkan, kenapa warga kok susah sekali yah warga asing untuk jadi WNI, padahal mereka kan sudah tinggal puluhan tahun di Indonesia.

    japs :
    sepertinya sih seluruh pengungsi sudah dikembalikan ke negara asalnya atau pindah kewarganegaraan Bang Baar. di Pulau Galang sendiri tidak terlihat ada perumahan penduduk soalnya. masih seperti daerah kosong walaupun sudah ada jambatan yang menghubungkannya dengan Pulau Batam. Daerah pemukiman masih terpusat di Batam yang ramai. Kalau cerita cinta ada di link yang ini bang baar hehehe… kisah seorang wanita vietnam yang jatuh cinta pada pria lokal, pegawai kontraktor di Pulau Galang. Yang akhirnya menikah dan memiliki dua anak, setelah disusul ke Vietnam dan akhirnya menikah di Tanjung Pinang. Ah, romantisnya. hehehe

  • Batam, Dalam Catatan - Racauan « japswords

    [...] hingga ke Pulau Galang, pulau tempat kamp pengungsi vietnam yang penuh dengan cerita. (baca : Batam, Dalam Catatan – Pulau Galang, Kamp Pengungsi Vietnam). Perjalanan dari Pulau Batam menuju Pulau Galang menghabiskan waktu kurang lebih 1 1/2 jam, [...]

  • sadam7

    Om Japs, dulu taon 60 an, Opa sering lewat pulau Galang kalo bolak bailk pekanbaru Tanjung pinang pake kapal lautkan mesti lewat Selat Galang, selatnya sempit dan arusnya airnya berputar dan kencang. Waktu itu pulau Galang cuman pulau kecil tanpa penghuni/penduduk. :D sekarang wuahhh…. bener…

    japs :
    Wah wah wah, kalo tahun 60an, bahkan para pengungsi Vietnam juga belum nyampe kesana tuh Daffa, berarti Opa udah lebih dulu nyampe sana ya? walaupun cuma sampai selatnya saja. salam -japs

  • Ikkyu_san

    wahhh japs….kok bisa dikaw sampai di sini?
    aku tahu ttg pulau ini hanya lewat berita, ternyata bagus dan terpelihara juga ya.
    Cuma apakah itu karena dijadikan obyek wisata?
    ahhhh pasti perasaan nano-nano kalau ke sana ya….
    coba bayangkan kalau kita yang jadi pengungsi …. duhhhh
    anyway, thanks for sharing japs… sorry aku online di plurk cuman pagi dan malam
    (cuman jaga karma jangan turun aja hihihi)
    ogenki?

    EM

    japs :
    itu dibawa sama pihak travelnya mba, aku malah belum pernah denger sama sekali sebelum dibawa kesana, kuper sekali ya? hehehe…. Lumayan terpelihara, karena memang sudah dijadikan objek wisata oleh pemerintah Batam, hanya saja belum maksimal. Semoga bisa menjadi lebih baik lagi, menyongsong Visit Batam 2010 nanti. amien

    Sama-sama Mba, gak papa, terlalu banyak plurking memang tidak baik untuk kesehatan :p . Genki Desu. (betul gak jawabannya?)

    salam
    -japs-

  • Gelandangan

    wahhhh baru tau nih informasinya
    terima kasih yah
    Salam kenal

    japs :
    terima kasih kembali mas, senangnya bloggin kan kita bisa bertukar informasi. :)

  • yulism

    Di US dan CA banyak sekali orang Vietkong ini Japs. Bahkan populasi masyarakat Vietnam bisa dikatakan sebagai populasi ras Asia terbesar ke-2 setelah cina di North America. Banyak keturunan dari mereka yang sudah lahir dan berkarir di negara ini. Ada cerita seorang teman dekat yang juga pelarian dari Vietnam dan sedih sekali mendengar cerita mereka. Ketika berada di laut bukan hanya ancaman badai dan ombak besar tetapi juga ancaman para bajak laut dan juga nelayan dari Thailand yang sering kali mengancam hidup merka. Menurut cerita dari teman saya ada beberapa OKNUM nelayan Thailand yang bertemu dengan manusia perahu ini justru tidak membantunya malah membunuh kaum pria dan mengambil harta yang ada, menempatkan kaum wanitanya dipulau terpencil dan menjadikan mereka budak nafsu untuk dikunjungi setiap kali mereka berlayar. Sedih jika mendengar cerita mereka. Tetapi banyak juga yang sudah berhasil di North Amerika profesi yang paling terkenal dikalangan warga Vietnam ini adalah “nail designs” dan juga restoran vietnam yang sangat terkenal dengan soupnya yang nikmat itu. Thanks

    japs :
    Sejarah Vietnam dan Amerika memang tidak bisa terpisahkan ya Mba, mungkin karena Vietnam Selatan ini dibela oleh Amerika Serikat yang akhirnya kalah oleh Vietnam Utara (Vietcong) yang dibela Soviet kala itu, sehingga banyak pengungsi dari Vietnam Selatan yang memilihi berkewarganegaraan Amerika Serikat. Bahkan di salah satu sumber yang saya baca, penulis bertemu dengan pengungsi Vietnam dari Galang yang sudah menjadi supir taksi di Hawaii, ia mengucapkan terimakasih pada penulis yang kebetulan orang Indonesia karena dulu pernah memberikan tempat berlindung di Pulau Galang.

    Soal perjuangan mereka bertahan hidup di perahu kecil memang luar biasa berat ya Mba, saya malah baru dengar soal mereka dibajak dan para wanita diasingkan di pulau tertentu. Ya Tuhan, kejam sekali manusia-manusia itu. Semoga sekarang ini sudah punah “species” (tak sudi menyebut manusia) yang berperilaku macam itu dari dunia. *geram*

    terima kasih, Mba

    -japs-

  • Meitya

    Ngeliat postingan diatas, jadi bikin bengong dan mengucap syukur “alhamdulilah, ga jadi seorang pengungsi dan harus berjuang bertahan hidup sekeras mereka. Alhamdulilah ga harus survive dengan naek kapal seiprit tapi orangnya sampe 100 *soalnya aku mabok laut*”, alhamdulilah alhamdulilah, alhamdulilah”

    Dan baru tau ternyata di Riau ada kamp pengungsian orang Vietnam. Hooooo….

    japs :
    Iya, Alhamdulillah sekali Met, kita tidak perlu lari dari negeri sendiri. Dan berlayar entah kemana untuk mencari daratan tempat berlindung. salam -japs-

  • tutinonka

    Aku masih ingat ketika peristiwa pengungsi ‘manusia perahu’ itu dulu terjadi. Tragedi kemanusiaan yang sangat menyayat hati. Betul Japs, kita patut berbangga, bahwa negara kita telah memberikan perlindungan kepada mereka. Pada waktu itu, ada juga yang tidak setuju, karena rakyat Indonesia sendiri masih banyak yang sengsara, kenapa mengurusi orang asing. Tetapi kalau melihat penderitaan manusia-manusia perahu ini, memang sangat benar tindakan pemerintah kita menerima mereka.
    Wah, perjalanan wisata (eh, dinas ya?) yang ini rada miris juga ya Japs ….

    japs :
    dulu pasti ramai yah mba, waktu masa2 itu? sayang saya dulu gak denger beritanya (ya iya lah hehehe). betul mba, melihat foto-foto dan peninggalan mereka saja sudah terasa menyayat, apalagi kejadian sebenarnya dulu ya? bersyukur pemerintah kita bersedia menampung mereka di Pulau Galang.
    salam -japs-

  • andik

    nimbrung lagi ah (males bikin post sendiri…:)

    Pengalamanku waktu ke pulau galang, mobil kita tiba2 ndak bisa distarter dan kemudian ada aroma kamboja menyeruak memenuhi mobil. Salah seorang temanku tiba-tiba terdiam dan memegangi temanku yg lain yg cewek. Bau itu baru hilang saat kita keluar dari kompleks dan baru temanku yg terdiam itu kemudian mulai berbicara…

    Selidik punya selidik ternyata waktu itu ada salah satu arwah penasaran yg ikut mobil kami dan berniat memasukin tubuh dari temanku yg cewek itu. Sempat terjadi pergumulan non fisik dan akhirnya dimenangkan temanku itu.

    Menurut penjaga situs itu ada satu pohon yg namanya body tree tempat dulu orang2 vietnam itu hobi menggantung dirinya dsana, dan kawasan ini masih penuh dibumbui cerita2seperti itu. Yang paling kurang ajar adalah waktu reality show UKa…uka mengambil lokasi syuting disanam, ternyata dia tidak memulangkan arwah yg dipanggilnya untuk acara itu. AKhirnya bapak penjaga itu harus menghadapi kemarahan penghuni gaib pulau itu. Sepanjang 2 minggu pintu2 digedor-gedor, meja dibalik-balik dan suara2 aneh muncul sepanjang hari. Gangguan itu berhenti setelah diadakan sembahyang buat para arwah di pekuburan daerah situ. Belum lagi cerita2 tentang kehidupan para pengungsi vietnam sewaktu di kamp. Mereka makmur juga lho karena mereka dapat uang dan pelatihan dari UNHCR, dan banyak yang menolak dipulangkan waktu tahun 95 Batam mo dibangun. Kebetulan bapak penjaga itu yang cerita kepada kami adalah saksi hidup situs itu.

    Bener Jap, negara kita tuh kaya dengan situs2 menarik yg potensial banget buat dikembangkan. Tapi lagi-lagi selalu lemah dalam manajemen dan promosi wisatanya. Hayo promosikan situs pariwisata Indonesia via blog…:D

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: