“Strip away all the ego in architecture and all the design theory, the hype, and the hot magazine articles, all we do is provide shelter. If you can´t do that, you can´t call yourself an architect.”

Cameron Sinclair

Sebuah mata kuliah dengan nama sama dengan judul tulisan ini telah membuat saya melabuhkan minat saya pada sebuah bidang keahlian, turunan dari bidang keilmuan (arsitektur) yang saya pelajari selama di masa kuliahan. Perumahan Permukiman.

Saya selalu tertarik dengan isu-isu yang dilemparkan oleh dosen mata kuliah yang saya ambil saat tingkat tiga itu. Ia berbicara tentang permasalahan perumahan dan permukiman mulai dari dasar-dasar pengertian, isu-isu, permasalahan, hingga solusi-solusi yang memungkinkan untuk dapat menjawab permasalahan-permasalahan tersebut.

Yang paling saya ingat sampai sekarang adalah, saya seketika jatuh cinta pada bidang tersebut saat itu juga, saya ingin melanjutkan studi saya berkenaan hal tersebut, dan mudah-mudahan bisa berbuat sesuatu pada akhirnya dalam bidang perumahan permukiman yang telah saya pilih itu. Amien. Karena saat ini langkah menuju kesana masihlah panjang, ilmu yang tertampung bahkan tak mencapai setetes airpun yang dibutuhkan tuk basahi kekeringan yang ada. Dan sementara ini saya hanya bisa terus bergerak, biar perlahan asalkan saya masih tahu, dimanakah utara berada.

Hidup di negara berkembang ini sudah menjadikannya jamak bagi kita melihat banyak saudara-saudara kita sudah dengan “nyamannya” tinggal di daerah-daerah yang (menurut kita) kurang layak untuk ditinggali. Berjalan ke jakarta pemandangan permukiman sepanjang sungai itu entah sudah berapa kali menjadi objek foto human interest yang masuk ke dalam surat kabar nasional. Demikian juga dengan pemandangan perumahan kumuh di kolong jembatan, atau yang selalu saya ingat : rumah-rumah dari kardus dan seng bekas yang dengan ajaibnya bisa menjadi tempat berlindung bagi sebagian orang, tak perduli panasnya Jakarta Utara yang bertambah dahsyat akibat radiasi seng yang digunakannya. Semua bukan karena sudah nyaman, namun bagi sebagian orang, kami memang tidak diberikan pilihan sebanyak orang-orang yang tinggal di perumahan di atas pulau baru yang direklamasi di pantai sana. Pilihan kami hanya tanah (yang juga bukan milik kami ) ini, seng, dan kardus. Dan pada saat lahan satu-satunya tempat kami bernaung akan digusur, tiada yang bisa dilakukan selain demo, marah dan akhirnya kalah serta terusir. 

Sebuah realita yang pedih, namun entah kenapa semakin lama semakin menjadi biasa. Berita penggusuran yang memperlihatkan seorang ibu yang berteriak histeris dengan sebuah panci di tangan kiri dan anak kecil di tangan kanannya kini mungkin menjadi berita sehari-hari yang hampir luput dari perhatian akibat bombardir berita-berita mutilasi atau bahkan hukuman mati para bomber yang sempat meresahkan itu. (catatan: perhatikan penggunaan kata “mungkin” yang menjelaskan paragraf ini sebatas opini, bukan fakta).

Affordability, atau keterjangkauan akan sebuah rumah yang layak masih menjadi isu dan permasalahan bagi sebagian besar masyarakat. Rumah yang layak semakin sulit dijangkau oleh masyarakat kecil, belum lagi lokasinya yang pasti jauh dari pusat kota dan tempat bekerja yang akan semakin membebani biaya transportasi setiap harinya. Dulu ada proyek RS (Rumah Sederhana) dan RSS (Rumah Sangat Sederhana) yang sampai melahirkan guyonan RSSSSSSS (Rumah Sangat Sederhana Sampai-Sampai Selonjoran Saja Susah), hehe, yang lumayan membantu beberapa masyarakat kurang mampu. Namun kini gaungnya kurang terdengar lagi. Pemerintah sekarang tengah giat membangun 1000 menara rumah susun yang optimis akan terbangun kurang dalam tiga tahun. Pembangunan rumah susun bersubsidi ini memang diharapkan untuk dapat mengatasi beberapa permasalahan perumahan permukiman, namun apabila harganya mencapai 144 juta untuk tipe 36, dan 125 juta untuk tipe 30 dengan pembeli yang paling tidak harus memiliki gaji diatas 2,5 juta, tentu saja tetap kurang terjangkau (bagi mereka yang belum seberuntung itu). Untuk pembeli dengan gaji kurang dari 1,7 Juta perbulan akan disediakan rusunawa (rumah susun sederhana sewa) yang lebih terjangkau. Besar harapan saya program ini dapat benar-benar membantu masyarakat yang kesulitan memiliki rumah yang layak. Amien. 

Hehe, ini bukan tulisan serius artikel mengenai perumahan permukiman di Indonesia, hanya racauan lain dari seorang japs yang bodoh dan pingin banget bisa pintar dalam hal ini supaya bisa melakukan sesuatu nantinya. Satu hal lain yang membuat saya bertanya adalah, tidak adanya sebuah konsultan atau asosiasi perancangan khusus perumahan sosial, perumahan terjangkau, atau apapun namanya yang secara khusus melakukan riset dan perancangan untuk kategori perumahan bagi masyarakat menengah ke bawah. Entahlah, itu hanya pertanyaan bodoh lain dari saya? Mungkin memang tidak menjanjikan keuntungan melimpah layaknya merancang real estate atau apartemen mewah, namun bukankah saat ini jauh lebih banyak lagi yang membutuhkan perumahan murah namun layak dan sesuai standar dibandingkan villa mewah di tepi pantai yang ternyata hanya sering ditempatinya para pekerja rumah tangga itu? Ah, entahlah, saya selalu pusing memikirkannya… 

Saya belum melakukan pencarian yang mendalam, tetapi di LA mereka punya Michael Pyatok dengan Pyatok Office-nya yang mengkhususkan diri untuk riset, perancangan, dan pengembangan komunitas affordable housing. Menyenangkan sekali melihat proses desain yang partisipatif antara, perancang, masyarakat, dan pemerintah yang memberikan subsidi, demi sebuah tempat tinggal yang layak bagi komunitas tertentu. Mimpi saya di masa depan, hehehe… Seperti hal Cameron Sinclair dengan Architecture for Humanity-nya kurang lebih. Konon di London pun ada beberapa housing associate yang melakukan hal serupa, yang sampai saat ini belum saya temukan di negara ini, entah mengapa. Mungkin suatu saat nanti, semoga saja… 

salam,

-japs-



12 Responses to “Perumahan Permukiman”  

  1. Ya ya, rumah kita rumah kedamaian jiwa. Mudahan Samoeyan dapat memicu rumah damai, damai di rumah, damai hati yang pounya rumah di rumah kedamaian. Amin.

    japs :
    amien, terima kasih Mas Ersis, rumah memang bukan cuma produk, tapi proses kehidupan yang berlangsung didalamnya. Dan proses tersebut membutuhkan kedamaian jiwa yang super tenang. Hidup pun menjadi lebih tenang dan sehat. Berawal dari rumah yang damai tersebut. amien. salam -japs-

  2. ikut berdoa..

    suatu saat nanti…

    You knw what japs???

    I really love the way you wrote anything lately..

    Smart
    Touchy

    But never ever judging…:)

    And this one is really encouroging :)

    japs :
    thanks for the wishes mba… sangat berarti sekali.
    semakin banyak yang mendoakan, jalan akan semakin ringan.

    gak pernah berani nge-judge sesuatu mba, karena kadang yang terlihat hitam dan putih pun, nyatanya dia abu-abu (tua atau muda). hehehe. nah, kalo baca tulisan mba yessy baru tuh seru, karena kocak dan gokil gila, kadang ngeluarin sisi saya yang kaya gitu susah. saye terlalu pemalu *kabur sebelum dijitak*

    thanks ya Mba, -japs-

  3. Pembangunan Perumahan yg terjangkau tidak bisa berdiri sendiri, harus didukung oleh industri bahan bangunan (alternatif bahan bangunan yg murah), pembatasan kepemilikan lahan oleh Negara (mencegah spekulan2 tanah mempermainkan harga) ,pembiayaan yg terjangkau dan manusiawi (pembiayaan secara syariah, tanpa bunga yg mencekik) serta pembangunan sistem transportasi massal yg efektif dan efisien .

    ayo berbuat sesuatu Japs!

    japs :
    iya mas, semua aspek harus terintegrasi secara mantap, salah satunya kurang baik membuat segala sesuatunya sulit tercapai secara optimal. wah yang terakhir penting banget tuh mas, transportasi masal yang efektif dan efisien… karena di transportasi masal itu juga kita belajar menghargai sesama, gak ada yang namanya miskin dan kaya, pejabat dan rakyat, semua sama. manis kaya kue lapis, warna-warni… hehehe

    mohon doanya selalu, Mas Salman
    salam -japs-

  4. 4 owbertku

    wah great post….
    karna kaRya adalah jiwa
    karna karya adalah DEDIKASI
    terus berkarya dan memperhatikan “mereka”

    japs :
    wah, setuju mas, hanya sesuatu yang dibentuk sepenuh jiwa yang paling pantas disebut jiwa. maka sebuah proses yang tak lekang itu kita sebut dedikasi. sama-sama mas, sampai sekarang masih belum berbuat apa-apa… hanya bisa ngeracau aja nih… hehehe. salam -japs-

  5. Semoga suatu saat mimpimu menjadi kenyataan Japs. Terus terang, pemuda idealis seperti dirimu sudah langka sekali. TEtapi aku yakin jika kemampuan dan kerja keras selalu diikuti dengan moral aku yakin pasti akan maju dan menuju jalan yang diharapkan. Semoga semua cita-cita luhurmu akan menjadi nyata Japs. Jaga kesehatan juga sehingga kamu bisa berkarya dengan maksimal.. :) Thanks

    japs :
    amien…. semoga tidak berhenti menjadi sebatas mimpi ya mba… gak idealis mba, soalnya postur tubuh saya kurus dan gak ideal. hehehe :p. anyway makasih mba, atas dukungannya, kerja keras, kerja keras, kerja keras….. amien… Iya nih, gak boleh maen ama flu dan kawan2nya terus, bisa-bisa gak bisa kerja dan berkarya. hehehe… salam -japs-

  6. Kalau Indonesia memang belum memiliki sosok seperti Michael Pyatok, jadilah Pyatoknya Indonesia. Manfaatkanlah ilmumu untuk mengembangkan tempat tinggal yang layak huni bagi mereka yang kurang mampu. Mudah-mudahan passion yg japs miliki bisa memberikan manfaat bagi orang banyak. Amin. :-D

    japs :
    Amien, bang… hehehe. Untungnya Indonesia juga sudah punya banyak arsitek2 yang peduli akan kebutuhan rumah layak, hanya saja mungkin tidak terekspos, dan yang nekad bikin konsultan khusus untuk itu masih belum ada (atau sudah tapi saya gak tau aja ya? hehehe). Makasih Bang, karena ilmu memang hanya akan manjadi sebatas ilmu saat belum memberikan manfaatnya bagi diri dan lingkungan sekitar. salam -japs-

  7. Di Yogya ada kawasan di tepi kali Code yang dulu dikembangkan oleh (alm) Romo Mangun. Kawasan yang semula kumuh ini diubah oleh Romo Mangun menjadi hunian yang rapi, artistik, tanpa meninggalkan ciri khas rumah kampung. Penduduk dilibatkan penuh dalam penataan hunian mereka, sehingga ada rasa memiliki (kata orang Jawa : handarbeni). Setelah Romo Mangun eninggal, entah bagaimana nasib pemukiman di bantaran kali Code ini. Mudah-mudahan ada penerus yang memeliharanya, dan terus memberdayakan masyarakat miskin untuk bisa menata pemukiman mereka sendiri menjadi hunian yang nyaman …

    japs :
    Romo Mangun, salah satu idolaku Mba. waduh luar biasa sekali, tulisannya, pemikirannya, rancangannya, sikap hidupnya, kebersahajaannya. Dan Kali Code selalu jadi preseden baik untuk program perbaikan lingkungan yang partisipatif. Amien, mudah2an terlahir Romo Mangung Romo Mangun baru… Kali Code saya belum kesana lagi, tapi jika sudah ada rasa memiliki dari masyarakat biasanya akan senantiasa terjaga dan terawat. amien. salam mba -japs-

  8. menggugah banget nih tulisannya. jadi menyadarkan saya. padahal, saya sendiri berkecimpung di dunia ‘perumahan’ nih.. :P

    Billy K.
    http://iamthebilly.wordpress.com
    http://bersambung.wordpress.com

    japs :
    wehehehe, wah asik dong mas, berkecimpung di dunia perumahan? “property” maksudnya? hehehe… senang bisa ada yang mengapresiasi tulisan saya… salam -japs-

  9. (*termenung inget tadi pagi nglewatin pojok deket pulo gadung)….harus bagaimana ya biar yg miskin tidak semakin miskin..yg kaya bisa membantu yg miskin…(*mikir…sambil nyruput kopisus)

    japs :
    response yang singkat dan sederhana tapi membutuhkan pemikiran yang hebat untuk bisa menjawabnya…. hehehe… saya belum sanggup nih, mba… *mikir ampe jidat berkerut*

  10. Japs…betul yang diungkapkan mbak Tuti itu…kita membutuhkan arsitektur yang memanusiakan hunian di pemukiman kumuh…sehat dan tetap indah dipandang walau rumahnya sangat kecil. Tapi tetap sehat dan manusiawi…

    japs :
    arsitektur yang memanusiakan hunian di pemukiman kumuh… iya bu. seperti Romo Mangun. Karena banyaknya pemukiman kumuh seperti di Jakarta kurang manusiawi dan layak untuk ditempati. Namun mereka tiada pilihan lain. Semoga ditemukan solusi tepat untuk permasalahan permukiman kumuh macam ini. amien. trima kasi Bu Enny -japs-

  11. ow japs..

    bolehkah… meminta dirimu hadir sebagai teman seperjuangan lagi… ^_^

    di Jakarta beberapa manusia seperti kamu sedang berusaha mewujudkan impian (melihat mereka-mereka yang susah punya tempat tinggal layak bisa hidup di bawah naungan yang bisa disebut rumah, rumah yang mengayomi dan terayomi di negara kesatuan Republik Indonesia ini).

    manusia-manusia itu tergabung dalam forum permukiman yang sekarang udah punya studio di dinas perumahan, deket stasiun jatinegara… ^_^

    manusia-manusia yang berkumpul di sana seperti kamu juga, masih belajar, masih meraba namun berusaha keras mewujudkan kota untuk semua…merangkul pemerintah, masyarakat, arsitek profesional, arsitek pendidikan, mahasiswa dan juga smua untuk membangun Indonesia yang ‘juga’ ramah pada warga negaranya sendiri.

    kamu diundang ke sana..

    mereka pasti membutuhkan “hati emas” mu di sana.

    salam

    wandaws

    japs :
    Wanda,
    ini yang dinamakan *pucuk dicinta ulam tiba*, kebetulan aku juga lagi nyari studio yang fokus dengan perumahan dan permukiman. biar bisa belajar dan menyalurkan minat.

    aku pasti penuhi undangannya, undangan yang amat berharga ini… :) thanks a lot, wan… sudah lama kita ngga kerja bareng… mari kita berjuang bersama, kawan.

    salam

    -japs-

  12. SALAM KENAL

    japs :
    Salam Kenal juga, Mba…


Leave a Reply