Perjalanan Pulang Petang Ini
Langkah kaki tergegas keluar dari bis dan pintu itu kembali bergeser tertutup. Bus melaju lagi, juga langkah kaki ini, segera kembali bergegas menuju luar halte yang bernama Tosari.
Lari… lari dan terus berlari… terlihat gedung-gedung itu mencakar langit begitu tinggi dari rendahnya trotoar merah mulus ini. Sementara itu alas kaki terus menerus hendak terlepas. Naik turun nafas terengah, hampir habis ditengah gegas diri yang terus melaju…
Bisa kulihat stasiun itu, Stasiun Sudirman, masih 2 kali lemparan batu untuk sampai sana. Namun tak dapat kuhalangi pandang mata ini terus menarik ke arah puncak gedung-gedung nan tinggi, yang terasa begitu harmonis dengan gegas kaki ini, yang terasa begitu klop dengan waktu yang melesat seperti tak pernah mampu dan dapat dikejar.
Kali ini aku benar-benar harus mengambil nafas, kulihat penunjuk waktu di telepon genggam. ”Ah… sudah lewat tiga menit” rasanya aku sudah ketinggalan kereta senja…
Tapi setitik asa masih tersisa ”Ini kan Indonesia… Kereta telat bukan hal aneh disini… jadi, masih ada harapan untuk si komuter ini”
Ku kembali berlari, dan alas kaki terus saja hendak terlepas yang kadang sempat membuatku geram dan ingin melepasnya saja. Ah, tapi apa jadinya jika berlari hanya dengan kaus kaki saja? Tanpa kaus kaki mungkin lebih baik, namun waktu yang dibutuhkan tuk melepas rasanya membuang waktu lebih banyak lagi. Dan akhirnya kupilih terus berlari sembari menahan sepatu agar tak terlepas.
Aku sampai stasiun itu, tak pernah kulihat antrian loket kereta Jabotabek sepanjang ini, seperti antrian bioskop saja rasanya. Huff… sudah telat, antrian pun tak dapat ditolak, kereta itu bisa jadi sudah lewat, tapi hati terus berharap bersama pandang mata yang selalu mengarah ke peron, bertanya ”kereta ekonomi ac itukah disana?”
”Ekonomi AC Depok sudah lewat, Pak?”
“Manggarai” Jawab penjaga tiket singkat dan datar, ekspresi macam ini sudah jamak kudapatkan di kota ini, tak sedikit orang yang tak suka sedikit berbasa basi ataupun ramah sedikit saja… yah, mungkin kerasnya ibukota yang membuat beberapa orang malas mengayun turunkan nada bicara atau membuang senyum, sedikit saja…
“Manggarai, kereta yang seharusnya berangkat pukul 17.30 itu masih di Manggarai?”
Kabar buruk bagi mereka yang datang tepat waktu, namun baik bagi yang gopoh gapah telat 5 menit seperti saya. Saya tunggu kereta di peron satu yang sudah penuh sesak orang, bagai cendol tanpa air… padat!!! Kami semua bersentuhan, begitu rapat. Saya menunggu kereta telat itu sampai saya lihat arah kereta ke arah Depok bukan di peron ini… Peron seberang! Ah! Saya harus kesana… rapatnya manusia tak terelakan harus diterobos, harus naik tangga penyebrangan, tas terjepit dan isinya keluar ”alamakjang!”, terpaksa saya harus menunduk-nunduk mencari-cari kunci yang jatuh diantara kaki-kaki, dan kembali berlari menaiki tangga penyebrangan menuju peron 2. Gopoh gapah…
Tubuh berhenti, peluh langsung mengalir deras… hawa panas seketika itu juga membungkus diri…Saya lihat wajah-wajah pekerja ibukota… ramai mewarnai stasiun kereta. Saat kereta menuju Tangerang sampai di peron seberang, saya lihat wajah-wajah itu berdesak masuk begitu jelas berusaha sekeras mungkin mendapat kursi di kereta kosong yang datang. Sementara itu waktu sudah menunjukkan pukul enam kurang lima, dan kereta itu masih belum datang juga. ”Tertahan di stasiun Manggarai”, begitu kata petugas informasi lewat pengeras suara. Informasi semacam ini sangat membantu, karena tidak membiarkan penumpang menunggu lama tanpa kepastian (digantung begitu saja).
Akhirnya kereta tiba, saya masuk dengan tenang, tak perlu berebut tempat duduk karena memang sudah tak bersisa dan berdiri pun sudah cukup nyaman bagi saya asal kereta sampai di Stasiun Depok Baru saja, karena makanan sudah disiapkan di rumah oleh kakak tercinta, menyempurnakan perjalanan pulang petang ini.
Satu perjalanan pulang di senja hari yang saya suka,
begitu sederhana namun sarat makna.
Saya suka Jakarta…
Saya suka naik kereta…
Saya suka naik kereta di Jakarta…
Hidup Komuter!!!
Salam
-japs-
Filed under: ocehan | 28 Comments
Tags: ibukota, jakarta, Kereta, komuter, transportasi

Benar-benar menggambarkan perjuangan komuter di ibukota.
Jadi inget beberapa taun lalu pas diriku masih tinggal di Buitenzorg jadi Roker, ga beda lah… Hidup kereta!
Hey Japs…lama banget ya kamu baru kembali
jadi ini kehidupanmu sekarang?…sedang di Jakarta?
Kelak…diantara sesak dan penuh manusia Jakarta yang hedonis…mungkin kita bersenggolan Japs…
Kalu kau mengenali wajahku..sapa ya
Terus semangat ya Bro…:) Sukses selalu…!!!
hidup komuter!!!!
itulah sebabnya saya malas berlama-lama tinggal di Jakarta….
Tenang Japs…seperti itulah saya dulu…berebut bis kota, kadang kereta….
Tak terbayang kalau suatu ketika nantinya berkeluarga bagaimana? Ternyata lama-lama pandai mencari triknya…hupp jadilah warga kota Jakarta tercinta, dan udah 29 tahun an.
kaluk memang sudah kerasan di kereta dan akrab dengan sesama komuter, bentar lagi pasti mas japs usul untuk dibentuk arisan diantara para komuter!,
yaaaaah..
saya ngga ngerti komuter itu apa ya??
di Bandung kayaknya ngga ada..
Baca postingan ini rasanya kaya’ beneran ikut naik komuter dengan segala romantikanya..
*jadi ngelamun*
)*
*ingat pernah sekali naik komuter, katro’..
Enjoy your trip Japs !!
Baca postingan ini rasanya kaya’ beneran ikut naik komuter dengan segala romantikanya..
*jadi ngelamun*
)*
*ingat pernah sekali naik komuter
Enjoy your trip Japs !!
Konon, menurut cerita pakde, menjadi komuter di Jakarta itu kita bisa memilih tarif kereta yang akan dinaiki berdasar fasilitas tempat duduknya jap.. 1500 – ga dapet kurs (pake berdiri), 5000 – 1/2 kursi (pantat hanya terakomodasi setengah bahkan seringkali seperempat oleh kursi), sampai 10000 – full seat. Sayang, sekarang saya udah jarang naek kereta lagi jap, jadi udah ga tau lagi kenaikan tarifnya.
Hahaha… iyah. Perjuangan kalo ngejar kereta emang kadang bisa jadi pengalaman tak terlupakan. Hahaha… Udah ngejar cepet2, ternyata kereta masih di Manggarai *kalo aku lari dari Dukuh Atas* Beuh, itu kadang bikin agak bete juga. Untung banyak yang jualan disekitar situ. Langsung balas dendam makan bakwan ato pempek di sana. Hahaha *betewe, enak loh Japs. Cobain deh skali2*
Setujuh! Kereta is the best dibanding bis. Aku cinta keretaaaa!!! Oya, sapa tau suatu waktu kita bisa papasan di stasiun sudirman tercinta itu. Rute perjalanku pulang juga naek kreta dari sana. Haha…
coba di harapan indah-cakung ada kereta yach…:) biar tiap hari ndak macet…..:)
Tapi..yach..macet dank macet…ya nikmatin aja….hidup memang harus penuh warna…:) bukan begitu bukan…?hehehe:) enjoy ajaaaa……
nggak tahu gimana rasanya naik kereta desek2an. wong kerja di rumah… hehehe.
wah,,di surabaya juga ada komuter..
tapi blm pernah naik.. :p
sudah pindah ke jakarta yaa..semoga betah..
waduh japs bikin ngiriiiiii…
aku lum pernah naik kereta hahaha. secara di padang kereta baru eksis lagi dua tahun ini.
hmm kayaknya seru ya naik kereta, desak2an. pasti dapat banyak cerita dibaliknya.
terus semangat japs !
satu suara dari masyarakat komuter…
seru ya japs, banyak romantikanya. saya waktu kuliah harus jadi bagian masyarakat komuter jakarta-depok tiap hari, meskipun cuma 2 tahun awal.
ati-ati copet bos…
*korban 2 kali kecopetan hape
Jakarta, itu mimpi saya
Enakkah di jakarta?
oke kah Jakarta?
Jakarta suatu saat aku akan mengunjungimu
hmmm, nice posting mas,
Salam kenal ya..
kebayang sih kondisi perkereta apian jakarta, emang masih blum memadai banget, wkatu itu magang sih di manggarai, naik dari sudimara pagi dan pulang dari manggarai, ,kalo mau enak dan nyaman 8000 kalo mau irit,,,, ya rasakan panas, sempit, tidak aman dan sebagai nya..
ayo pak foke,, serahkan pada ahlinya..
itulah jakarta…tapi merupakan satu2nya transportasi yang bikin hemat…
jakarta-bogor bisa perbedaan harga sampai 8 ribu rupiah klo naik kereta ekonomi…pulangnya siang2aja dan hindari jam2 menjelang masuk kantor klo mau ke Jkt…dan hindari jam2 menjelang pulang kantor jika menuju bogorr..
senang baca tulisan ini…
sumprit mas, gak bo’ong.
biasanya setelah mengalami hari ato momen yg gak enak, kebanyakan orang bakal mengumpat, marah-marah, atau sedikit ngedumel.
tapi di akhir tulisan ini sampeyan tetap bisa bersuka-suka en memaknai perjalanan sampeyan.
*kok saya salut ya sama sampeyan…:p*
Hallo Japs, lama banget nggak dengar suaramu (emang pernah denger? qiqiqi …
maksud saya kabarmu, gitu loh …). Lama banget beranda saya menunggu seorang Japs mampir. Oh, rupanya lagi sibuk menikmati jadi komuter toh …
Japs, kalau boleh, kirim dong alamat dimana sesuatu bisa dikirim untukmu (pastinya bukan terminal atau stasiun ya …
). Via emailku aja, soalnya kalau dipublish di blog bisa-bisa rumah Japs rubuh dibanjirin kue dan karangan bunga oleh para pembaca blog …
japs, entah kenapa aku pengen ngasih tau aja hehe.
ada senja diblogku. coba lihat !
Japs, kenapa ya, kok aku malah terharu baca tulisanmu ini. Awal-awal aku migrasi ke Jakarta ini, setiap hari, setiap nafas, rasanya selalu mengingatkan, kalau Jakarta hanya sebuah persinggahan yang masih kucari bentuknya, apakah sebuah oase atau sebuah benteng pertahanan. Kalau oase rasanya kok belum berdamai, kalau pun sebuah benteng pertahanan, apakah benar demikian? Akhirnya kesimpulanku, Jakarta tak ubahnya terminal transit. Ya sudah itu. Tahu-tahu delapan tahun aku di sini.
*Pakai sepatunya jangan yang kegedean dong Japs*
tidak jauh beda dengan komuter di tokyo kok japs….
EM
japs
Mba, tahu ndak?
aku ngerasa seperti di berada di Dorama Jepang waktu berlari-lari dan melihat gedung2 itu mencakar langit. hehehe… Ternyata memang ndak jauh beda ya Mba, hanya saja disana sistem transportasinya sudah mumpuni banget.
Tetep cinta Jakarta dengan semua hiruk pikuknya
Hahaha Jap.. gw kayak menyatu sama cerita elo, karena that’s what I felt when I tried to catch the train at Gondangdia. Kadang gw sengaja jalan lewat Medan Merdeka pengen ngeliat gedung-gedung atau lewat Kebon Sirih karena iseng menyusuri jalan-jalan.
Yeah, biar kata kereta itu sucks, suka telat, gak perkeriwanitaan (karna paling kesian cewek-cewek).. tapi gw cinta mati sama kereta. Mungkin karena pengalaman-pengalaman gw melintasi pegunungan waktu kecil ke Garut.
Yay! gw jadi curhat gini wakakak
`perkeriwanitaan` bah bahasa apa ini!
DEPOOOKK
hehe~
japs :
iya depok, yang semakin panas dan gersang saja, Er….