garis senja, menelisik tekstur di serat bambu. senja begitu hangat, namun mengapa ia identik dengan kemurungan yang siap menjemput?

adakah karena sang surya siap tinggalkan ibu bumi dalam lindap dinginnya malam?

geus ashar meureun…

ucap seorang ibu dengan isak dan suara penuh duka melihat laku tak biasa kekasih hidupnya dalam dekapan penyakit keras..

Ashar, sore, senja, menjadi kias jemputan akhir akan kehidupan



9 Responses to “Ashar, Sore, Senja…”  

  1. 1 eca

    japeeeee….kok gue sedih bacanya
    huhuhuhu

    japs :
    kenapa sedih cha? hehehe…

  2. 2 icha

    iyah gue pernah baca di buku agama ashar itu pertanda berakhirnya kehidupan.
    Japs gue berlinangan T_T

    japs :
    ada yah cha di buku agama? gue berarti yang males baca buku waktu sekolah :p

  3. 3 nu abdi

    depend on situation meureun nya japs?
    jika saatt itu lo lagi sedih, mungkin senja akan menjadi pengantar kesediha,
    tapi jika saat senja menjelang lo dilimpahi kebahagiaan, mungkin justru senja itu akan berwarna cerah?

    :)

    japs:
    iya, nu… its depend on the situation and how we appreciate it :p
    but mostly what i feel about the dusk is more likely an ending, a sadness, and sorrow, though it doesn’t make it less beautiful.

    kebahagiaan di saat senja, kebahagiaan yang siap dirundung gelap malam, rasa berbeda dengan kebahagiaan yang hadir di awal hari, dimana cerah warna tak sebentar lagi berhenti menjadi hitam, dimana daun masih berwarna hijau sehijau-hijaunya hijau… cuma pandangan subjektif pribadi saya aja, nu. :)

    • 4 icha

      analisa loe bener juga japs, kebahagiaan disaat senja seolah terlalu singkat karena setelah itu pekat yg datang. Berbeda dengan kebahagiaan yg datang di waktu matahri terbit…nice nice…love ur analyst :)

      japs :
      hehe, cuma racauan sesaat cha. bukan analisis ataupun pemikiran mendalam. i didn’t make any analysis at all. gak secanggih itu :p sankyuu -japs-

  4. Bener kata Nu…
    tergantung sikon waktu melihat senja..

    japs :
    iya mba, itu pandangan subjektif, yang setiap pribadi dalam setiap suasana akan mempunyai kesannya masing2. :)

  5. iya ya Japs… mirip ama yang selalu gw rasa di setiap menjelang sore. saat-saat paling galau, sekaligus bahagia. bahagia sudah melewati satu hari dan bahagia akan ada satu hari baru yang lain yang akan datang. bahagia yang menakutkan, karena harus melewati kegelapan langit malam sebelum dan sesudahnya. (halahh.. kenapa ini gw.. -_-”)

    japs :
    persis bu… memang ada kesan lain disaat senja, kesan yang romantis sekaligus mistis dalam satu pesan warna jingga yang terlalu kuat dan hangat dalam sorotnya.

  6. 7 okita

    waahh..mas japs..akhirnya nulis lagi..
    sudah lama ditunggu2.. :)

    tapi kok jadi sedih ya bacanya..

    japs :
    inipun gak sengaja nulisnya kit, yang disengajain nulis malah gak jadi-jadi. hehehe…
    wah makasih lhooo… :)

    akhir dan perpisahan selalu identik dengan kesedihan memang, Kit (sepertinya)

  7. 8 jee

    ini posting pertama setelah lama nggak posting japs ? kok sedih :( . tapi judulnya jee suka hehehe

    japs :
    sedih ya jee? hmm… agak sedikit gelap memang, senja kan udah mau malam…. hehehe….

  8. 9 nu abdi

    yeup setuju japs,
    pendapat manusia itu adalah subjektif, jikapun sebuah pendapat itu dianggap benar, mungkin itu adalah pendapat subjektif yang dapat diterima secara massal.
    sementara kebenaran hakiki hanya milik Yang Satu.
    IMHO.

    wess, dah rajin lagi nulis om,?
    jakarta bikin mati ide dan mati waktu ya?
    hehehe

    Nice posting

    japs :
    yoi nu, objektifitas kan konon gosipnya subjektifitas yang disepakati bersama. hehehe…


Leave a Reply