Walking on The Grave
Jalan yang jauh tapi “aman”, atau jalan dekat tapi lewat kuburan.
Itu pertanyaan.
Lirik penunjuk waktu di telepon genggam saya sudah hampir jam 11 malam, pintu gerbang perumahan yang saya lewati tadi juga sudah ditutup yang membuat saya harus “molos” gerbang seperti maling. Tentu setelah semua itu dalam hati saya berbicara:
Jalan jauh tapi aman.
Itu jawaban.
Tak berapa lama setelah jawaban yang “logis”, Pikir baru sadar kalau langkah Kaki ternyata tak bergerak berdasar kesimpulan matang yang sudah diputuskan “Logika” tadi. Nampaknya Kaki punya nalurinya sendiri untuk memilih jalan yang dekat, dia tak kenal apa itu kuburan, apalagi setan, itu urusan Si Hati yang kerap kecut dan Otak yang kerap berpikir “terlalu jauh”. Maka begitulah mereka (kedua Kaki), membawa Otak, Hati, dan seluruh bagian Tubuh lainnya menuju jalan yang paling pintas, terus mendekat menuju kuburan.
Sempat Otak berpikir kembali belok ke kanan, kembali arah jalan yang “benar”. Tapi itu artinya sebuah pembelotan yang menyebabkan sebuah jarak sia-sia dikali dua. Kesia-siaan untuk ketakutan yang tak beralasan. Maka ia mengamini Kaki berbelok ke kiri, dan Si Hati pasrah saja untuk hal ini, dua lawan satu. Tak ada lagi yang bisa diajak koalisi. Sang Otak kini lebih berpihak pada Si Kaki, mau tak mau ia harus berani. Kuburan doaaang! Cemeeen!
Kali ini Si Mata mulai unjuk gigi, sementara Si Gigi tak ambil peduli untuk hal ini. (Mie Godhog Jowo Bengawan dan Pempek Pak Raden sudah cukup buat dia bisa tidur enak-enak sampai sahur nanti, toh bihun goreng sudah ada di Si Tangan dengan aman) Ia melihat ke kiri dan kanan, tepat sebelum masuk gang yang akan mengantarnya ke arah kuburan di depan. Hmm… bangku yang biasanya diduduki warga sembari ngerumpi kali ini kosong, pertanda selanjutnya kalau malam sudah cukup larut dan mereka mungkin telah lelap.
Memasuki gang selebar satu meter dengan rumah-rumah petak di kiri dan kanan, mata melihat ke kiri dan kanan, sudah diduga tidak ada sebatang hidung pun warga yang masih di depan rumah. Dan kuburan itu semakin dekat, tak ada alasan sebenarnya untuk takut, toh tiap hari juga lewat situ. Anak kecil aja pagi-pagi ngegulung benang layangan sambil duduk di atas batu nisan. Yah, itu pagi-pagi sih. Waktu itu malem-malem juga sempet kaget liat sesosok bayangan hitam besar di atas kuburan. Udah kaget dan melotot, pas udah deket tau-taunya bapak-bapak lagi nelepon diatas kuburan, mungkin karena gak pake kaos, jadi tampak lebih seperti genderuwo dan sejabatnya :p, yah intinya udah gak perlu takut lagi laaah. Tapi kenapa semakin dekat rasanya aliran darah ke kepala semakin tersumbat ya? Rasanya seperti hampir kesemutan, tak bisa saya pungkiri, ini memang pertanda kalau saya sedang ketakutan sepersepuluh mati. Tapi kenapa? Si Otak mulai bekerja. Ini hari apa? Ia bertanya. Kemarin saya bilang hari selasa tapi Kang Dony teman kantor saya bilang “Bukan, Jap, ini hari Rabu”. Dan saya yang lemot baru bisa mengambil kesimpulan, kalau kemarin bukan hari selasa, berarti hari ini bukan hari Rabu. Kata Kang Dony kemaren hari Rabu, berarti sekarang hari….
KAMIS!!!
Giliran ini cepet deh mikirnya, Kamis = Malam Jumat!!! Jriiit… Kuburan tinggal sepuluh langkah di di depan. Balik lagi ke jalan yang “benar” berarti kesia-siaan jarak tiada tara, yang tak akan bisa dimaafkan sampai akhir jaman. Baiklah, mari kita tetap istiqomah berjalan terus dengan pandangan tetap lurus ke depan…
Sepuluh, sembilan, delapan, tujuh, enam, lima, empat, tiga, dua, satu, blaaaasss…..
Pemandangan pekuburan yang tak asing lagi bagi saya sudah terpampang dengan indah, lengkap dengan pohon bambu yang menjuntai di tengah-tengah kuburan dan jalan setapak yang berkelak kelok gemulai menghindari makam demi makam di kiri dan kanannya, bahkan ada bagian jalan setapak yang tercoak oleh badan makam, sehingga saat saya melangkahinya sensasinya seperti “walking on the grave”.
“Assalamualaikum ya ahlil kubur, assalamualaikum ya ahlil kubur”
Terus menerus saya ucapkan dalam hati, seiring dengan aliran darah ke kepala yang rasanya makin tersumbat, kepala saya semakin terasa hampir kesemutan, beginikah rasanya orang terkena gejala stroke? *berlebihan*.
Harap-harap cemas saya menanti suara embikan domba-domba yang selalu mengembik setiap saya lewat di malam hari. Dimulai dari suara domba yang agak ngebass, “Embe”, lalu disusul oleh yang bersuara normal “Embeee” dan kemudian domba bersuara cempreng yang juga turut aksi “EmbeeeeeeEE”, (suaranya domba yang ini paling menyebalkan di antara yang lainnya) lalu kemudian kembali ke domba bersuara agak ngebas, dan demikian seterusnya sampai jarak tertentu, dimana makam Gerry Rimbawan dan koloni pohon-pohon bambu sudah saya lewati, baru mereka diam. Itu biasanya… tapi tidak saat tadi, mereka tidak bersuara sama sekali, sudah tidur barangkali…
Pandangan saya tetap lurus kedepan, makam Gerry Rimbawan dan koloni pohon-pohon bambu saya lewati tanpa saya lirik sedikitpun. Mata terus melihat ke satu titik di depan, jendela rumah warga dengan lampu temaramnya, berharap ada sesosok yang masih bercengkrama di teras depannya. Nyatanya tidak ada. Malahan yang datang sembari berlari ternyata bukanlah sesosok orang. Tapi sesosok yang kerap saya panggil Si Bos tiap kali saya lewat jalan setapak yang sempit itu dan ia sering kali dengan santainya tengah terlentang menghabiskan satu lebar jalan setapak untuk orang lewat. “Misi Bos” ucap saya sebelum melangkahinya dan ia tampak tetap santai, terus telentang bagai di pantai. Malam ini ia berlari dengan santainya mendekati saya, dalam hati saya berkata “Akhirnya ada ‘makhluk hidup’ juga….”, lalu kembali saya dapat berjalan dengan tenang, darah kembali lancar mengalir ke kepala, langkah meninggalkan petak-petak kuburan di belakang yang esok akan dijumpai lagi.
Entah mengapa di saat-saat tertentu diri masih tak mampu hilangkan rasa ngeri, toh disana juga sudah tak ada siapa-siapa lagi. Hantupun bukan lagi yang harus ditakuti di era teknologi.
Dan tentang “malam jumat”? Plis deh jap! Hari giniii….. hahaha….
Nyatanya mitos dan klenik masih bisa meraja di otak dan hati… mari kita batasi!
Salam
-japs-
Filed under: ocehan | 15 Comments

wahahahaa….Japeeeeeeee…
kirain teh ketemu apaaaaa gitu…
Baca postingan yang ini jadi inget kalo pas naek gunung malem2, suka mendadak takut & parno bakalan ketemu makhluk dunia lain….hiiiiiyyy…
padahal kalo ngga mikir macem2 mah biasa aja…bahasa kerennya mah ” sieun ku polah sorangan”
japs :
hahaha, tapi gak ada yang ngalahin satu jam terpanjang menuju suryakencana kan ca? hehehe
ih japs, ini khan bulan puasa..
katanyah setan-setan dipenjara.. mungkin hantu-hantu juga lagi ambil cuti…
*sok gaya.. padahal kalau ikutan jalan juga paling udah terkencing-kencing bari babacaan ayat kursi*
japs :
hekhekhek, yang dibelenggu teh bukan setannya bukan, tapi nafsu kita yang lebih sadis ti setan? hehehe… tapi sekarang mah udah gak bulan puasa dan ngelewati kuburannya juga bareng si maman, set set set…. edaaan… mantap….
wakakakakakk ngakak malem2, sebenernya klo menurut gue sereman ketemu begal yg masih bernyawa japs drpd ketemu yg udah tak bernyawa.Yang udah gk bernyawa paling bikin shock tapi gk akan bikin kita terluka heheheh.
mmm…meski gitu gue jg amit2 klo ketemu wkwkwkwk
japs :
hehehe, begal mah biasanya di jalur bus malam cha, ndak ada yang nongkrong di kuburan. :p
wikikiki….. biasanya kan ada penunggu gerbang rumah tuh yang nggak keliatan, kenapa nggak minta tolong ama dia ajeh>
japs :
penjaga gerbang rumah yang gak keliatan? itu mah temennya juga… hahaha
Hadooooh
saya juga masih ketakutan deh kalo lewat kuburan..
apalagi makin parah aja pilem2 horror di Indoensia yg settingannya kuburan hahha
japs :
saya juga masih bingung ya, Mba? apa yang harus kita takutin dari kuburan? hahaha…
tapi tetep aja suka merinding kadang2… hehehe
Japs, udah come back ke blogsphere ya? Sejak Maret, baru sekarang nongol lagi …
Hiiyy … jalan malam sendirian di kuburan? Kalau saya, sudah pingsan duluan …
Untung nggak disapa penghuni kuburan ya Japs. Kalau ada yang njawil, atau ngintil di belakang, mungkin seumur-umur Japs nggak bakal berani lagi lewat situ … hihihi …
japs :
masi on off mba tuti, belum kembali sepenuhnya hehehe…
sekarang udah semakin biasa lewat kuburan malam2, tapi sekarang semakin asyik lagi, karena pakai sepeda… wooohoooo….
mampir ke rumah abang yang lama tertinggal……….
pa cabar?
salam hangat selalu
japs :
kabar baik, salam kembali…
gimana abang tak akan paham tujuan akhir post blue secara abang kan sudah di generasi pertamax………..jadi sudah makan sam garamnya ciri khas blue dech ehhehe……
pa cabra hari ini om
salam hangat selalu
japs :
salam kembali, blue…
bener-bener menegangkan!! ikut deg-degan!
japs :
hehehe, lihat responnya kok aku keinget sama respon2 di dvd film horror ya, Mba? hehehe
japsss jujur aku g ngerti euy, mungkin gara2 kondisi juga lagi g bisa dimengerti kali ya jadi g konsen bacanya.
. met lebaran japs. mohon maap lahir n batin yeuh.
japs :
wah, kok ndak ngerti Jee… bacanya pelan-pelan aja, hehehe… tapi mungkin tulisannya emang bikin pusing ya? hehehe… maaf….
met lebaran juga Jee, padahal udah mau lebaran haji ni…. :p salam
Sepuluh, sembilan, delapan, tujuh, enam, lima, empat, tiga, dua, satu, blaaaasss…
sekarang kita ketemu lagi di blog,,,, tapi Dikau tak lagi dipanggil Om Japs, Dikau akan dipanggil Nanda Japs… Karena yang datang ini bukan lagi sebagai bocah cilik yang dslalu dikau sapa dengan sebutan Daffa, tapi kali ini datang sebagai seorang Kakek Reyot, tuarenta dan Kelabu,,, hahaa,,,
Nanda Japs : Say Haswardi Hasan ( Opanya Daffa ),,, senang membaca dan mengurut-urut tulisanmu kata demi kata,,,
TQ..
japs :
apa kabarnya Daffa? mudah2an baik2 saja dan tambah pintar.
owalaaah, blass nya yang ini lebih blass dari pemandangan pekuburan malam itu Opa Daffa…
Daffa udah ndak nulis lagi ya?
senang bisa ketemu opa daffa langsung dan menjalin tali silaturahmi via blog…. nanti saya mampir2 Opa…
hay Jap
apa kabar niyyy
Udah lama gak chatting semenjak kejadian memalukan itu…wekekekek…iya kejadian temenmu pasang status aneh di ym mu..wakakakakakakak
japs :
hai Mba Yes! Kabar baik, sudah pindah ke Bandung lagi ni, meninggalkan temen iseng saya di kantor Jakarta. hahaha, biar gak ada yang isengin lagi.
padahal kita belum sempet kopdar ya mba? apa kabar? Tangguh makin besar dan tanggung saja pasti ya?
salam
kunjungan dimalam hari… pa kabar nih?
japs :
kabar baik, Mas… maaf pas kunjungannya kesini gak ada siapa2….
Japraaaaa……….
muncul disini rupanya….. ^___^
hehehehe
japs :
Hey, Wid…
hehehe, iya ini udah lama sebenernya, cuma sekarang jarang diurus. :p
ya.. kalo ketemu parno nya ya parno ya.. asal jangan ketemu parto aja.. tar malah ngocol.. hehe.. salam
japs :
nah, parno itu siapanya parto ya mas? hehehe… salam