3 Idiots, Kali Kedua

25Mar10

Hari ini kali kedua saya menonton 3 Idiots, dan masih, saya tertawa dibuatnya. Dan masih, mata saya sedikit basah di beberapa adegannya. Di tulisan sebelumnya, saya tak katakan adegan mana yang paling menguras air mata saya. Haha, saya tak malu katakan air mata saya terkuras, saya rasa karena memang sangat menyentuh.

Adegan itu adalah adegan dimana Farhan akhirnya memberanikan diri mengatakan kepada ayahnya bahwa ia tidak ingin menjadi Insinyur di hari ia akan melakukan wawancara kerja di akhir masa kuliahnya di sekolah teknik. Ia berusaha memberi tahu kepada ayahnya yang begitu menginginkan anaknya menjadi insinyur bahkan menentukannya di menit pertama kelahiran sang anak di dunia, ia berusaha memberi tahu kepada ayah yang mengorbankan satu-satunya AC di rumahnya dipasang di kamar sang anak agar dapat belajar dengan tenang, dan ia berusaha memberi tahu kepada ayah yang rela hanya memiliki motor, bukan mobil, untuk membiayai pendidikan sang anak, dan semua itu hanya untuk satu alasan: “Sang anak hidup terpandang menjadi seorang insinyur”.

Farhan berjuang melawan ketakutan yang sangat besar yang dimiliki seorang anak atas keinginan orang tua yang begitu besar dengan segala pengorbanannya.
“Ayah, jika aku menjadi insinyur, selama hidupku aku akan mengutuki hidupku, selama hidupku aku akan menyesalimu”
“Jika aku menjadi fotografer, mungkin gajiku lebih kecil, rumah dan mobilku juga, tapi aku akan mengerjakannya dengan sepenuh hati. Dan aku tak ingin menyesalimu, Ayah. Lebih baik aku sesali diriku.”

Farhan membuka dompetnya keitka ibunya menangis dan khawatir Farhan mengikuti hal yang dilakukan Raju sahabatnya, mencoba bunuh diri dan melompat saat kehidupan menekannya. Farhan berlutut di depan ayahnya, menunjukkan gambar ayah dan ibunya yang tersenyum di dalam dompetnya.
“Lihat ayah, Rancho temanku yang ayah sebut mempengaruhiku itu yang memintaku memasang foto ayah dan ibu”
“Ia memintaku untuk melihat foto ini setiap pikiran buruk itu datang, ia berkata: Apa yang akan terjadi dengan senyum ini jika kau melakukan hal bodoh itu? membunuh dirimu?”
Saat itu rasanya mata saya hendak leleh, perang batin antara keinginan baik sang ayah untuk kehidupan anaknya dengan kehidupan yang diimpikan anak itu sendiri, kasih orangtua, dan kekuatan persahabatan meremas-remas perasaan dan mengaduk-aduknya dengan emosional.

Sang ayah berjalan meninggalkan Farhan menuju laptop yang baru saja dibelinya sebagai hadiah bagi anaknya yang akan segera lulus dan menjadi insinyur kebanggaannya.
“Berapa harga sebuah kamera? Kamu jual laptop ini, Nak, kalau kurang bilang ayah”
Farhan merangsek memeluk ayahnya dalam haru dan mata yang leleh, ia berhasil meyakinkan ayahnya, bukan sekedar hanya untuk satu pekerjaan yang diminatinya. Ia berhasil meyakinkan ayahnya, untuk hidupnya.

Hidup yang bagaimana lagi yang bisa kita banggakan selain hidup yang sesuai dengan panggilan jiwa kita? Hal ini benar-benar seperti menjungkir balikkan semua hal yang acap kali kita lihat di dalam hidup ini. Yang banyak kita seringkali lupa. Terlalu banyak Farhan-Farhan yang menyerah pada dunia yang disodorkan, yang mengorbankan harapan untuk selamanya hanya menjadi impian yang perlahan-lahan abu-abu dan hilang tergerus kehidupan.

Farhan, Raju, dan Rancho. Tiga bersahabat yang bersama-sama menjalani kuliah dalam kampus teknik nomor satu di India. Dengan sistemnya yang dianggap sangat kaku dan tidak mengarahkan mahasiswa untuk mengejar ilmu melainkan nilai dan prestasi belaka. Bertiga mereka menghadapi kehidupan kampus tersebut dengan permasalahan dan karakternya masing-masing. Farhan yang sebenarnya ingin menjadi fotografer fauna dan terjebak karena keinginan sang ayah, Raju yang menjadi tulang punggung keluarga sehingga begitu terbebani dan ketakutan dalam persaingan yang begitu ketat di dalam kampus. Sementara Rancho? Ia berbeda, sosok yang amat mencintai dunia teknik, menyukai mesin, dan menganggap kuliah bukan sekedar persaingan mengejar nilai sebaik-baiknya kemudian kembali bersaing mendapatkan perkerjaan terbaik. Ia menganggap kuliah adalah tempat kita melahap sebanyak-banyaknya ilmu yang ia sukai, untuk selanjutnya dapat melakukan yang terbaik dengan ilmu tersebut. Selanjutnya, maka kesuksesan itu sendiri yang akan menghampiri. Rancho menjadi sosok yang berpengaruh bagi kedua sahabatnya. Bagi Raju untuk keluar dari ketakutannya, bagi Farhan untuk keluar dari mimpi-mimpi ayahnya. Dan bagi seluruh dunia, dalam setiap pesannya:

Chase excellence, and success will follow

Amien

Film ini begitu positif dan saya tak merasakannnya berkurang bahkan saat menonton kedua kalinya di bioskop. Aamir Khan, seorang aktor berusia 40sekian tahun, dan membuat saya tidak bermasalah melihatnya memerankan karakter berumur 18an, tentu saja karena kemampuan akting yang brilian. Kareena Kapoor, bagaimana mungkin ada wanita secantik itu?  Ah! Film ini terlalu menghibur.



12 Responses to “3 Idiots, Kali Kedua”

  1. 1 sez

    ditawarin nonton 3 idiots tapi yang bahasa hindi..
    hiks.. bakal ngerti ga ya? :p

    japs :
    Yang saya tonton juga bahasa Hindi, di dubbing jadi bahasa jerman maksud kamu? Bukannya udah pasti ada teks inggrisnya buat yang ditayangin di luar India? Heu.

  2. Katanya film ini memang bagus ya….
    Saya sempat nonton My name is Khan…bagus sekali….sendirian lagi…jadi mengeluarkan air mata pake malu-malu…sama tetangga kiri kanan.

    Apa kabar Japs? Udah lama tak kesini

    japs :
    Bagus bangeeet, Bu…. Kalau Khan, banyak bercerita kemanusiaan, kalau 3 Idiots banyak bercerita pendidikan dan persahabatan. Mata saya juga basah, dan untungnya juga sendirian.

    All is well, Bu… iya sudah lama tak meng-update blog ini. :)

  3. gw lupa, apa ada film lainnya yang bisa bikin gw nangis sesaat langsung setelah gw ngakak.
    film ini luar biasa keren dan jadi refleksi yang jernih, hehe… *buat gw sih begitu*

    dan kata-kata rancho : “chase excellence, and success will follow”, sekali panggilan jiwa bersuara, sekali kita mendengarnya, dan untuk selamanya kita nggak akan bermain-main dengan panggilan jiwa itu… mungkin nantinya, di masa depan, akan menjadi seperti tiga sekawan itu…

    *dohhh…pengen nulis jadinya*

    japs :
    kayanya kok gue belum pernah nemuin ya film yang bikin ngakak nangis bolak balik begini, Bu? hehehe..
    menjadi refleksi yang jernih, dan mengalirkan sesuatu, menggerakkan sesuatu yg terdiam.

    Dan, panggilan jiwa… sesuatu yang sederhana sekaligus rumit itu, mari…. :)

  4. ah, kenapa siiihh. seperti hanya gw yang berpikir aneh ttg film ini.
    coba japs, begini,
    Gw kok malah terkesan sm Chatur di film itu.
    Kalo Rancho bisa nolongin Raju, knp dia ngga nolongin Chatur?
    Kenapa Chatur punya mimpi seperti itu disalahkan, dijadikan bulan-bulanan?
    Hei, atuhlah, dia sanggup menghapal buku teks dan mengahapal pidato dalam bahasa yang ngga dia kuasai, artinya sebetulnya dia istimewa juga kan? Siapa tau dia punya photographic memory. Kan, engga salah juga untuk punya mimpi sebatas ‘lulus dengan nilai baik’ dan kemudian ‘bekerja di perusahaan yang mapan’, siapa tau latar belakang hidupnya membuat dia akhirnya berpikiran demikian hanya sekedar untuk memperbaiki nasib. Gw mah kasian, da.

    Hahaha, gw mengkomplikasikan film yang sesederhana ini ya..?
    Ini kan cuma supaya filmnya rame makanya dikasih yang antagonis ya, haha.

    Tapi emang baguuuuusss. Aamir Khan ganteeeenngg :D

    japs :

    Hehehe, sudut pandang yang menarik Tip…
    Gue mah gak kepikiran sama sekali da, iya juga si Chatur karunya juga kalo dipikir2 mah.
    Tapi balik lagi, yeap this is a movie that needs a negative character to make the positive one even more shimmering siganamah, hahaha…

    Seharusnya gak ada yang salah ya dalam memutuskan tujuan hidup atau kuliah mah.
    Tapi angger we saya lebih stuju kalo belajar itu bukan perkara nilai, lulus, dan untuk dapet kerjaan yang mapan, belajar itu ya kehidupan itu sendiri, ini bisa dibolak balik putar puter dan gak beres2 sbnrnya kalo diterusin, jadi mari kita berpegang pada keyakinan masing2 saja. *halah*

    Dan rada2 memper hal diatas ya, bertolak belakang, gue malah setuju ama satu tweet seseorang yg mengomentari semangat : “Your Job Is Not Your Career” yang lagi rame2nya dibahas. Tweet-nya begini:

    Ur job is not ur career? Oh f*ck off with all this passion talk: if u have kids, u will eat shit every day if it means security for them

    I’m with this statement. ;p

    • i’m with that statement since i was in highschool, haha.
      betul sekali, makanya jadi ngerti perasaannya Raju, Walaupun betul banget juga bahwa kuliah bukan perkara nilai bagus, i’m over with that sejak kuliah ketemu pak widjaja :D

      aih,
      manapun yg kau lakukan deh,
      semoga ngga bikin rugi orang lain, atau menyakiti orang lain, atau ngga dijalani dengan ikhlas.
      gitu kali ya?

      gatau ah. hehe.

      japs :
      Now I’m with your statement, Tip. Hehehe.
      Anyway, since you were in highschool??? Sementara waktu sma yang gue pikirin cuma buah buni sma gue yang enak itu. :p
      Life is well… life is well…. :p

  5. 6 jee

    aku blm sempat nontonnya tapi kaset (bajakan)-nya udah ada di depan mata. aku nonton yang lain, billy elliot.

    *sejak kapan japs aktif ngeblog lagi? aku merasa ditipu hiks*

    japs :
    Ayo ditonton dulu Jee, nanti komentar lagi ya abis nonton. :) Billy Elliot aku belum nonton, bagus kah?

    *aktif ngeblog lagi sejak bulan lalu kok. merasa ditipu? waduh… aku nipu apa nih??? hehehe*

  6. 7 jee

    ketipu, kukira japs belum aktif lagi. habis lama kali hehehehe. eh pas iseng2 mengunjungi rumah japra ternyatahhhhh… udah banyak posting barunyaa… :D

    billy elliot bagus, sama bagusnya kayak august rush (taukah?). filmnya ttg anak laki2 yang dilatih jadi petinju ama bapaknya tapi ternyata dia lebih senang menjadi pebalet. pkoknya filmnya cocok buat orang tua yang bingung ttg perkembangan bakat anaknya. :D

    japs :
    Baru-baru ini aja kok aktifnye, Jee jadi gak ketipu2 amat lah. :p

    Tampak menarik ceritanya, August Rush juga belum nonton nih, makin banyak antrian film bagus yang harus ditonton berarti. Trims buat rekomendasinya, ya… hehehe

  7. 8 eka

    Hei.. Aku udah nonton.

    Seru.. kerenn. Idenya riil banget… Aku nangis pas adegan Raju melompat. Perjuangan Farhan dan Rancho buat nyembuhi Raju.

    Hahhah… nonton Film ini bela-belain ke Bandung, PVJ. maklum, temanku takut ketinggian. Di PP kan lantai atas…* g’ nanya ya..

    Hahah, lam kenal sebelumnya ya… aku dapat link blog-mu dari se jee… noh, diatas dia ngasih koment.

    Jeeeeee… aku udah nonton. *Pamer

    japs :
    Luar biasa, karena takut ke lantai 6 Pacific Place, sampai bela-belain menempuh 128Km jarak Jakarta – Bandung? Luar biasa…

    Indahnya persahabatan ya? Dan saya yakin hal seperti itu bukan hanya ada di film. Itu ada disekitar kita… mari kita nikmati indahnya… hehehe… Hallo semua… :D

    Terima kasih udah mampir ya… Salam -japs-

  8. Hahhhaah.. sekalian jalan2 juga sih ke Bandung…

    ucapan rancho yg kereen itu, kira2 seperti ini bunyinya : bukan menjadi berhasil tapi menjadi berguna…”

  9. 10 jangaero

    Sepakat, filmnya bagus… sangat menginspirasi… :)

    Oh ya kemaren saya nonton di metro tv dokumenter tentang orang indonesia yang ceritanya mirip ama 3 idiot. Seorang bapak dengan hidup sederhana ngajarin guru dan anak2 sekolahan teknologi dengan pake roket dari air dan peswat dari gabus .. trus juga bikin pesawat “aneh” dengan 3 baling2… persis kayak yang di terbangin si Ranchodas :)

    ini trailer nya :

    Group Fb
    http://www.facebook.com/group.php?gid=148041015224394

    Blog
    http://www.habibieselokanmataram.blogspot.com

  10. wah harus cari nih film 3 idiots kayaknya dari ceritanya bagus deh. thanks untuk kupasannya, mas. kalau ada yang bagus lagi di shared lagi yah, mas. heheheheh

  11. iyaaa….pilmny bagus banget…aq jadi merasa seperti Raju…hhhaaa


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.