Dunia yang Sunyi
Tadi, di pinggir jalan, saat saya berhenti sejenak untuk mengisi perut yang lapar di tengah pekerjaan, saya lihat dua orang tengah bercakap-cakap di sebelah saya. Seorang lelaki berumur kira-kira 30-an dan seorang siswi SMU yang masih mengenakan seragamnya. Butuh waktu hingga makanan di dalam mangkuk saya habis untuk sadari bahwa sedari tadi tiada sama sekali suara yang terdengar dari kedua orang yang tengah bercakap-cakap tersebut. Lalu bagaimana saya bisa mengambil kesimpulan sejak awal, lalu merasa ada dua orang yang tengah bercakap-cakap di samping saya? Entahlah. Yang terjawab adalah pertanyaan mengapa tiada suara sama sekali disana. Ah, ternyata mereka tengah asyik bercakap-cakap dengan bahasa isyarat. Saya sebentar terpana, percakapan yang akrab dan asyik itu tidak mengeluarkan sedikitpun suara. Komunikasi terjalin melalui bahasa tubuh dan ekspresi wajah yang mereka pertunjukkan. Saya temukan indahnya komunikasi disana. Disana riuh dan bisingnya mobil yang lalu lalang tak ganggu sedikitpun pembicaraan mereka.
Saya sejenak bayangkan dunia mereka disana, tiada suara, begitu sunyi. Saya bayangkan lagi andai semua orang di dunia melakukan hal yang sama, tentu dunia akan menjadi begitu sunyi. Karena setiap huruf yang menjadi kata, tak lagi memiliki dimensi lain yang menyentuh telinga. Mereka menjadi sama seperti barisan huruf yang kita lihat disini. Berdiri sebagai sesuatu yang diam, sunyi, dan tak bersuara. Namun demikian, meski tanpa suara barisan huruf ini dan bahasa tubuh itu tetap mampu berbicara. Dan mungkin saja, jauh lebih “terdengar” meski tak miliki suara.
Salam
Filed under: ocehan, renungan | 5 Comments

ya, aku sering melihat kejadian begitu karena dekat rumahku ada sekolah untuk anak LB, termasuk tuna rungu. Indah mungkin ya. Kalau tidak salah ada juga film jepang yang mengetengahkan cinta sepasang tuna rungu
apa kabarnya japs? Masih di Bandungkah?
EM
iya, indah mba. setiap gerak dan isyarat memiliki maknanya.
Film Jepang yg pernah saya tonton ttg seorang tuna rungu judulnya Orange Days. saya suka sekali dorama itu. hehe.
Kabar baik Mba Imel. Iya nih, masih di Bandung saya. Semoga disana jg baik2 aja ya mba.
iya Jap, rasanya sih emang lebih tenang “mendengar” deretan aksara yang diam ya. mungkin sama juga dengan bahasa tubuh. tapi kadang suka nggak peka aja untuk “mendengar” yang diam itu.
akhirnya posting lagiii
karena heningnya mungkin ya?
dan kemudian bahasa tubuh menjadi lebih bermakna… *OOT*