Archive Page 2

sepatu bututku

Tertuang salam ucapan terima kasih melengkapi tuangan kata Sahabat semua di cangkir 2008 yang penuh cita rasa. ‘Kan saya sruput pelan di senja tahun ini. Seteguk demi teguk: catatan, balasan, pengalaman, perkenalan, hingga persahabatan… yang mengalir tenang mengisi relung dan tabula yang masih kosong. 

Membiarkan cangkir ini kosong kembali, untuk lagi dan lagi kita isi

di tahun 2009
tahun perjalanan.

 

salam harap semua kawan dilingkupi kebahagiaan,

 

-japs-


Wastukencana

21Dec08

wastukencana1


Meringkuk sendiri di pinggir jalan, bersandar pada parapet jembatan.
Di Jalan Wastukencana, diatas Sungai Cikapundung.

Mencoba membuang segala pikir yang mengganggu.
Mencoba merasakan angin dingin melapis melilit kulit.
Mencoba membiarkan kelebatan cahaya terus lewat,
melewati saya yang mengemper damai di trotoar jalan.

Tapak2 kaki sesekali lewat melangkahi, begitu tinggi…
Tak saya ambil pikir apa yang mereka pikir,
tentang seorang meringkuk dengan telepon genggamnya,
yang alunkan “lilin-lilin kecil” lewat earphone lalu masuk ke telinganya.
“Orang yang aneh” mungkin saja pikir mereka.

“Hei!!! Saya tidak aneh. Hanya saja saya pikir semua orang di dunia ini memang aneh, kecuali saya tentunya”

(ini mengikuti perkataan seorang teman di kantor tentang arti “gila”)

Dan bersandar bersama irama & lirik melodius itu menjadi begitu nyaman… Sejenak terlupa semua pikiran usil yang terus mengacau. Surga buku-buku yang saya datangi tadi tak cukup dapat mengalihkan pikir, begitu juga dua buku yang saya beli. Justru di jembatan ini saya menjadi begitu asyik dengan diri sendiri… Bermain dengan kamera dan musik di telepon genggam, mengambil gambar kelebatan cahaya-cahaya lewat itu… membiarkan setiap langkah yang lewat berlalu dengan cemas membatin “Orang stres apa ya?”.

Silakan, panggil saya aneh, stres, atau kurang kerjaan, karena sempat-sempatnya mengambil gambar ini jam 9 malam, sendirian:

di trotoar

Di Trotoar Jalan
Wastukencana

salam

-japs-

seru lho… mau ikut (aneh) ?


“What’s in a name? that which we call a rose. By any other name would smell as sweet”

Shakespeare – Romeo and Juliet (1595)

Japraaaaa!!! Teriak seorang kawan dari luar angkot yang sukses membuat saya gak pengen nengok tapi takut dia terus-terusan manggil nama panggilan saya itu berulang-ulang kalo saya gak nengok. Sukses membuat saya ingin terbenam di dalam angkot itu… (ah berlebihan kau, Japs!). Karena saat itu saya belum beranggapan bahwa nama itu cukup kece (sekarang sudah, jangan ada yang protes!!!), dan masih teringat komentar seorang ibu kawan saya tentang nama teman anaknya :
“Telepon dari siapa, Ang?”
“Dari Japra, Mah…”
“Japra? Kok namanya kaya bandar narkoba gitu”
Saya (diujung telpon sambil gigit2 kabel telepon) : “^#%@%%$#”

Atau ibu teman saya yang lain (berdasarkan cerita teman tersebut) :
“itu tadi siapa namanya, De…”
“Japra, Mih…”
“apa? eh, maksud mamih siapa?”
“Japra”
“ah, becanda kamu…..”
“yeee… beneran kali, Mih”
“nama kok Japra???!!!”

Tambahan OOT :  sukses dibilang bandar narkoba oleh Nyokap si “Ang” tak membuat karir saya berhenti disitu.
“Ang, Mama jadi penasaran ama yang namanya Japra”
“nih Ma” *memperlihatkan foto bareng temen-temen jaman SMA”
“Tuh kan, Ang!!! Orangnya kurus banget gitu, Mama yakin dia pasti make (narkoba) deh.
Gue (setelah diceritain Ang) : *ngelus-ngelus dada*
Temen2 gue yang ikutan dengar : *ngakak*

Argghhhh teman2 kulang ajal kalian semua!!!! kok malah ngakak si???#@&$#*^^%#^$!!!!!”

[Lanjutkan baca]


Langit kemarin sore begitu dahsyat,
lembayungnya meledak jingga di ufuk barat.
Menembakkan setiap sinarnya ke arah timur, kepada setiap bidang yang menantangnya.
Ke atap-atap rumah, ranting-ranting pohon, dan dinding-dinding putih yang menjadi kanvas besar bagi lukisan bayang-bayang si pohon.

Saya berjalan memunggungi “ledakan”,  melangkah menuju timur,
menikmati setiap tembakan sinarnya di bidang yang menantang itu.
Ah… Galau kemarin sore, masih bisa saya ingat…
Begitu juga dengan sinar jingga yang hangat,
masih lekat-lekat menempel di sel otak.

Dan di pertengahan malam, sebuah pesan masuk…
Terkirim sebuah puisi sederhana dari seorang kawan tentang langit jingga tadi sore…
Tentang hawa dingin Kota Bandung yang bertentang dengan hangatnya sinar jingga…
Tentang perjalanan pulang yang sedemikian sederhana namun mencairkan rasa bahagia seketika itu juga…
Dan saya pun bahagia membacanya…

Yeap! This simply and beautiful life is too good too pass up.

Salam,

-japs-


Hmm… tiada yang hebat/ dan mempesona/
ketika kau lewat/ dihadapanku/
biasa saja… 

Alunan irama keyboard sebagai intro musik yang khas 70′an ini membuat saya melayang kembali ke era tahun-tahun itu… Era dimana film-film drama dalam negeri masih menjadi raja di negeri sendiri. Dan seketika terbayang oleh saya sebuah adegan film drama era 70′an akhir atau 80′an awal dimana Rano Karno atau Yessy Gusman menjadi bintangnya, warna film itu terlihat pudar dengan teknik pengambilan gambar yang sederhana, namun tak mengurangi kesan syahdu juga romantisnya kisah dua sejoli berseragam putih abu-abu (yang longgar dengan lengan kemeja dilipat sebagai penanda anak gaul dimasa itu). 

Berboncengan sepeda kala pulang, atau adegan buku jatuh lalu pandangan mata pun beradu saat meraih buku yang telah terserak. Ah…. saya rindu sekali menikmati film-film masa itu… Galih dan Ratna, Badai Pasti Berlalu, atau film-film lainnya… 

waktu pertalian/ terjalin sudah/
ada yang menarik/ pancaran diri/
terus mengganggu…

mendengar cerita sehari-hari/
yang wajar tapi tetap mengasyikkan

Hmm.. tiada kejutan/pesona diri/
pertama kujabat/ jemari tanganmu/
biasa saja…

masa perkenalan/ lewatlah sudah/
ada yang menarik/ bayang-bayangmu/
tak mau pergi…

dirimu nuansa-nuansa ilham/
hamparan laut tiada bertepi..

kini terasa sungguh/
semakin engkau jauh/ semakin terasa dekat/ 
akan kukembangkan/
kasih yang engkau tanam/ di dalam hatiku

menatap nuansa-nuansa bening/
tulusnya doa bercinta…

Dan lagu Keenan Nasution inipun terus berulang di pemutar mp3 saya…

salam 

 

-japs-

Untuk semua yang sedang dilanda nuansa bening…
Untuk semua pecinta era 70 dan 80′an…
Dan untuk kamu… ya! kamu… :-)

Terima kasih untuk Keenan Nasution dan Insan Perfilman Indonesia.


keraton-kasepuhan

Sudah pernah ke Cirebon? Ke Keraton-keratonnya yang menjadi saksi sejarah panjang Kota Cirebon mulai dari abad ke-13 hingga sekarang? Kalau sudah pernah, mari berbagi cerita dan pengalaman. Kalau belum pernah, mari kita kesana melalui “jasa transportasi” kata-kata di apakatajapra ini, hehehe…. siap? Berangkat!!!

Kali ini saya hanya ingin mencoba menulis tentang potensi-potensi yang dimiliki oleh keraton-keraton di Cirebon. Sebenarnya ini tulisan satu setengah tahun lalu waktu saya diminta membuat resume setelah seharian survey ke keraton-keraton di Cirebon. Jadi maaf kalo tulisannya bakal jadi kaya tulisan di laporan (yang ancur) yang diedit-edit dikit (dan malah jadi tambah kacau), hehehe…. di postingan berikutnya nanti saya coba nulis yang lebih santai ala catatan perjalanan kaya yang di tulis mba tutinonka deh. hehehe…

Keraton-keraton yang berada di Cirebon telah menjadi saksi sejarah panjang Kota Cirebon sejak abad 13 hingga sekarang, mulai dari terbentuknya Kesultanan Cirebon hingga terbagi menjadi empat kepemimpinan seperti sekarang. Sejarah tersebut dapat terceritakan kembali secara detail saat kita mengunjungi setiap keraton yang terdapat di Cirebon. Setiap situs yang tertinggal di keraton-keraton ini memiliki falsafah yang luhur yang (semestinya) mampu menjadi potensi filosofis sebuah kota untuk maju dan berkembang. Namun sangat disayangkan, pada saat ini daerah kesultanan justru menjadi daerah yang tertinggal dalam hal pengembangan kota. Keraton menjadi sebuah tengaran (landmark) hanya dalam pengertian tengaran dalam sejarah panjangnya, namun dalam pengertian fisik bangunan tengaran di dalam kota, Keraton tidak cukup kuat lagi keberadaannya. Tertutup oleh bangunan-bangunan lain yang menyembunyikan keberadaan keraton yang dulunya pusat sebuah kota bernama Cirebon.  (Keraton Kasepuhan tertutup oleh bangunan-bangunan perumahan yang mengelilinginya, Keraton Kanoman tertutup oleh besarnya Pasar Kanoman yang juga sekaligus menjadi gerbang masuk utama menuju Keraton Kanoman). 

Perkembangan perkotaan yang dirasa semakin tidak terkendali semestinya dapat dibatasi dengan perencanaan yang turut mendasarkan perkembangan beberapa bagian wilayah kota pada studi sejarah dari masa Kesultanan Cirebon hingga menjadi Kota Cirebon seperti sekarang. Kekuatan dan potensi sejarah mampu menjadi alur  yang kuat untuk membawa pengembangan fisik Kota Cirebon menjadi objek wisata budaya misalkan seperti Yogyakarta yang mapan dengan Keraton, budaya dan sejarah lokalnya. 

 

Keraton

Jika dilihat dari pengertian keraton sebagai wadah institusional kesultanan, Cirebon sebenarnya memiliki empat buah Keraton, yaitu Kasepuhan, Kanoman, Keprabonan, dan Kacirebonan. Namun, jika keraton dilihat dalam pengertian arsitektural, yang  cocok disebut sebagai (bangunan) keraton hanyalah Keraton Kasepuhan dan Keraton Kanoman, karena hanya kedua Keraton tersebut yang memiliki bagian-bagian bangunan yang seharusnya ada dalam sebuah komplek keraton, seperti alun-alun, masjid agung, siti inggil, dll (CMIIW). Sementara kedua keraton yang lain (dalam pengertian arsitektural) lebih tepat dibilang sebagai bangunan ndalem. Keempat keraton tersebut memiliki potensi dan kekurangannya masing, hal-hal tersebut dapat menjadi pertimbangan untuk pengembangan lingkungan sekitar keraton selanjutnya, akan dibawa kemanakah pengembangan fisik lingkungan sekitar keraton-keraton ini selanjutnya.

[Lanjutkan baca]


Selamat malam semua.
Sekalian ngetes posting pake quickpress dari dashboard di kantor tercinta di malam senin, saya cuma mau ucapin makasiiiii banget buat semua yang dah sering main kesini, dan maaf kalo postingannya suka ndak penting dan gak mutu, hehehe… (kaya ada yang mutu aja postingannya, hehehe).

Maaf juga kalo sampe seminggu belum ada update, dan bikin bosen yang udah bolak-balik kesini isinya masih itu-itu aja. Weleh… padahal udah pengen nulis banyak, ini itu, tapi ndak sempet terus euy… Kaya hari minggu ini yang ternyata kepake buat lembur dari pagi dan belum pulang sampe sekarang (jam 11 malam), hiks…

Mudah-mudahan besok bisa update, kebetulan udah mulai ngumpulin bahannya sih (tsaah, gaya banget lu jap! kaya mau bikin tesis aje pake ngumpulin bahan segala, hahaha). Ah, ngga kok, saya cuma ke perpustakaan aja bentar tadi nyari2 data sekunder, sekalian wawancara terstruktur dan survey kuantitatif. (halaah, makin minta dipentung pake palu godam gini si japra).

Eh, baru liat ada award dari Eruhaku, hehehe… makasi ya. Padahal saya berharapnya dapet Piala Citra di FFI kemarin. Tapi kalah sama Vino G. Bastian… arrggghhh!!! padahal saya udah akting total di film “Cintaku Bertepuk Pramuka” arahan sutradara Rudi Hartono. *makin lama makin gak jelas… maafkan….*. Saya jadi penasaran dengan film Radit dan Jani-nya si Vino yang juga memenangkan pemeran wanita terbaik, Fahrani pemenangnya. Untuk sutradara terbaik dimenangkan Mouly Surya, sutradara muda yang menyabet penghargaan karena menyutradarai film Fiksi (pemenang film terbaik). Yeaaah… katanya FFI tahun ini banyak dimenangkan oleh generasi muda yang menandakan regenerasi dalam dunia perfilman berputar dengan baik. Hidup Perfilman Indonesia!!! Bangkitlah kembali, lahirkan magma-magma baru perfilman kita. Layaknya Meriam Bellina di era film Taksi dulu… hehehe, saya suka sekali film itu. :D

Ini awalnya mo bikin quickpress kenapa jadi panjang dan lama begini? hehehe… Emang penyakit gak bisa nulis pendek… fiuh. Baiklah kalau begitu, terima kasih sekali lagi buat yang masih sudi membaca sampai kalimat ini… hehehe… Kalo ke Bandung nanti saya kasi hadiah cireng isi ayam pedas… hmmm… enak lho… :)
*kembali berkutat lagi dengan pekerjaan*

Selamat Malam,

-japs-


Menuju Mu

Teriring salam serta doa saya kirimkan ucapan selamat Hari Raya Idul Adha untuk kawan-kawan semua yang merayakan.

Suara takbir pertama kemarin sore demikian indahnya hingga membuat saya ingin berada di kampung halaman bersama saudara-saudara tercinta. Dan suara sepupu-sepupu di telepon tadi membuat saya membayangkan seharusnya saya berada di sana bersama mereka rebutan ketupat dan sayur pepaya muda.

Dan saya pun belum bisa kabulkan permintaan kakak tercinta untuk pulang mengurus kambing di mushalla. hehehe… Miss You, Teh…

Dan saya berharap semoga Sahabat semua berbahagia di hari raya ini.
Sebahagia kami, empat anak kostan ini yang diundang makan besar ketupat dan lauk pauknya di lantai bawah oleh ibu kost :D . Semoga setiap yang berkurban mendapatkan ridho-Nya, yang menunaikan haji menjadi haji mabrur (amien), dan yang mendapat rezeki daging kurban ayo beli arang dan tusuk sate sekarang, sebelum kehabisan, hehehe… 

Sekali lagi, Met Idul Adha Kawan…

Wassalam

 

-japs-


suis-butcher-frame

Seporsi tenderloin steak,  segelas hot lemon tea dan kalimat-kalimat filosofis yang berjejalan masuk, yang bersusah payah menjadi satu gagasan baru dalam pikiran yang dihantar sebuah buku berjudul Dunia Sophie telah membuat saya merasa “hidup” kembali. 

Sebut saya berlebihan, tapi tiga minggu didera beberapa penyakit sekaligus telah benar-benar memenjara saya dari dunia luar. Bubur, nasi tim, regal, teh manis panas, jaket, selimut dan sekotak kamar 4×4x2.75 menjadi teman sehari-hari yang semakin lama semakin menjenuhkan. Bahkan terasa amat melelahkan begitu demam datang kembali saat dua hari sebelumnya tes darah telah membuktikan bahwa saya sudah “bersih” (thanks to Mba Ade atas culikannya di malam hari menuju UGD RS. Sentosa yang Holiday Inn banget itu). Gejala Typhus, sembuh sesaat, sakit kepala, sembuh sesaat, hasil cek darah oke, tenang, istirahat pemulihan, dan ternyata masih demam juga benar-benar melelahkan saya, dan membuat malam tadi seperti sebuah perjuangan yang berat menurunkan panas yang tinggi dengan sebutir panadol, jaket, dan selimut karena panas gak reda-reda. Perjuangan baru berhasil saat saya mencoba menahan nafas sampai batas kemampuan dan rasanya seperti mau semaput (megap2, saya hanya kuat 2 menit). Keringat bercucuran dan suhu badan kembali normal. Alhamdulillah demam itu hilang.

Maka hari ini saya bertekad tak mau mengungkung lagi diri ini di dalam kosan, meski keputusan pulang ke kampung halaman lebaran haji ini harus saya batalkan karena demam semalam. Meski mual masih sedikit terasa, hal itu tak jadi alasan untuk menahan saya menghirup udara luar dan nikmati makanan selain bubur dan sejawatnya.

[Lanjutkan baca]


karena bintang itu jatuh bukan untuk dirilo, cahayanya juga bukan lagi buat sinarin dirilo.
But it’s your fault kalo bintang itu jatuh, dan kini menjauh…

Mari kita bernostalgia, (kita? elu aja kali japs!) haha, ya iya lah namanya juga apakatajapra…
ini ada tulisan (gak pantes dibilang puisi, dan karena emang bukan puisi) waktu jaman cinta pertama dulu (gak mau bilang cinta monyet walaupun itu cinta waktu jaman SMP, dan karena saya emang bukan monyet). Alkisah saya pernah jatuh cinta, namun karena sebuah kebodohan (saya), cinta itu terpaksa harus bertepuk pramuka (hehe, sebelah tangan deng) dan pil pahit hati yang patah harus saya lumat hingga lumer dan membuat air mata meleleh (saking pahitnya). halah lebay *ditimpuk*

Dan kebodohan saya itu berujung pada tolakan manis seorang wanita manis diujung telponnya. Saya masih ingat suaranya menggigit buah apel saat iya menolak saya dan berkata
“Jawabannya pas tahun gajah aja ya…” ucapnya setengah bercanda…
Dan saya yang bodoh itu tetap menunggunya hingga sampai kelas 3 SMA, sembari terus bertanya dalam hati.
“Emangnya tahun gajah itu kapan ya???”
Tiga tahun kemudian, begitu tahu bahwa harapan itu hanyalah kesia-siaan belaka, diatas genteng rumah saya yang dulu, saya yang mellow semellow barry manillow, betharia sonata dan penyanyi-penyanyi lagu cengeng tahun 80-an pun menuliskan sebuah tulisan tentang isi hati yang luka setelah menanti terlalu lama (halah, mendadak mual sama tulisan sendiri).

[Lanjutkan baca]