Tidak pernah saya bayangkan sebelumnya, segelas kopi Circle-K dalam gelas kertas ukuran small itu bisa memberi sedikit rasa tenang pada diri saya. Tak mengerti teori endorphin dalam coklat yang jugakah ada dalam segelas kopi, namun apapun itu ternyata segelas kopi bisa membuat saya kembali bersyukur masih berada di kota ini.

Circle-K juga ada di kota lain, Jap“. Atau “kalau mau segelas kopi di gelas kertas ribuan kota dunia ini juga punya. Tidak harus di Bandung, Kawan“.

Saya tidak suka kopi, apalagi black coffee atau espresso yang pahit tanpa gula. Tapi toh saya membelinya malam ini dan berjalan sambil menyeruputnya dalam perjalanan pulang di udara dingin yang nyaman dirasakan saat badan terbungkus jaket, saat kaki melangkah gontai di bawah hidupnya pohon-pohon yang berusia ratusan tahun, saat diri bergerak lambat dengan rasa aman hingga tak perlu merasa harus terburu sampai di rumah, saat jarak dan waktu amat bersahabat untuk hidup yang amat sangat harus dinikmati, saat mimpi dengan mudah diresapi untuk ditindak lanjuti menjadi langkah demi langkah ke depan,

saat sendiri bukan jadi hal yang terlalu penting untuk dihindari.

Kan terus melangkah meski tanpa segelas kopi,

Kan terus melangkah meski tanpa pohon-pohon yang melindungi,

Kan terus melangkah meski udara tidak lagi bersahabat, saat waktu terus menjerat, dan jarak semakin membatasi.

Pasti ku kan merindu udara ini, pasti ku ingin kembali lagi kesini. Tempat dimana nanti mati bukan lagi hal yang patut tuk ditakuti, karena janji dan mimpi tlah ditepati. Berbakti sampai mati.

Bandung, 3 Oktober 2007

Reza Prima