masih dalam alunan nada yang sama, kali ini di sore yang jingga.
saat matahari siap tenggelam di ufuk, tuk menyinari bagian lain planet beruntung ini.
saat rembulan siap menggantikan tugasnya meski meminjam pantulan sinar sang mentari.

angin bergerak pelan, terlihat dari daun yang bergeletar seperti kedinginan di luar sana.
sulur-sulur ranting yang selalu menggoda tetap kokoh dalam kekakuannya,
sampai angin tak lagi berhembus dan semuanya berubah menjadi potret diam dalam seluruh kekakuannya, benar-benar membeku dan tak bergerak.

dua yang meraja terus bergerak saat ini,
meskipun begitu pelan…

matahariku,
yang terus tenggelam dalam kedamaiannya
semakin ia hilang, semakin jingga senja dibuatnya.
meraja dalam sinar dan warnanya. meraja dalam pelan kepergiannya.

musik minorku,
yeng terus membahana,
bergerak pelan dalam bentuk gelombang merasuki telinga hingga ke hati.
meraja dalam getarannya, membius dan menenangkan.

segala kekakuan daun dan ranting diluar sana,
setiap kelembutan sang mentari di luar angkasa,
serta setiap alunan biola dan denting piano ini di kamarku sore ini,
menjadi kawan setia bagi diri yang juga sedang berjalan pelan,
bagi hati yang sedang merinding sepi,
bagi jiwa yang menahan pilu, bagi asa yang berusaha terajut kembali dalam cita.

hanya dua teman yang meraja tersebut yang bergerak dalam kecepatan yang sama dengan diri.
temani diri, obati hati… bantu hidupkan lagi semua yang bergerak pergi…
biarkan pelan, bahkan dalam tempo larghissimo sekalipun.
asal masih dapat hidup ini mengalunkan nada.

mengumpulkan not demi not, satu per satu…
demi berjalan dalam tempo andante,
berlari mengejar allegro,
bermimpi meraih puncak tempo kehidupan yang melesat tercepat menggembirakan,
prestissimo.

biarkan mendayu sekarang, biarkan…
semua pun kan membaik walau perlahan.
percaya hati pada diri,
bagai suami kepada istri dalam kesetiaannya.

biar kan berjalan pelan, biarkan…
asalkan ku masih punya teman…
tidak sendirian tanpa iman.

biarkan…

Bandung, 17 Mei 2008

Manusia Bumi