Sejak beberapa tahun terakhir jumlah perumahan berpola gated community semakin berkembang. Bahkan, bisa dikatakan hampir seluruh perumahan yang didirikan sekarang menggunakan konsep “komunitas berpagar” tersebut. Pagar yang biasanya menjadi batas kepemilikan lahan milik individual, kini justru menjadi pemisah lahan tempat komunitas tertentu dengan lingkungan sekitarnya. Sejak tahun 1980, Fenomena ini sebenarnya sudah terjadi di Amerika Serikat. Wacana yang dituliskan Gated Community Research Group (GCRG) dari UII, Yogyakarta menuliskan jutaan keluarga telah tinggal pada komunitas ini di Amerika Serikat. Dan kini (IMCO) mungkin saja jutaan warga Indonesia juga telah menjadi komunitas yang hidup dalam pagar tersebut, khususnya masyarakat di perkotaan.

Gated community digunakan sebagai respon terhadap kondisi sosial lingkungan sekitar yang dirasa kurang kondusif terhadap komunitas tertentu. Isu keamanan menjadi alasan dari penggunaan pagar mengelilingi sebuah perumahan. Akibat dari hal tersebut perumahan tidak dapat dipenetrasi oleh orang-orang yang tidak berkepentingan, jika sudah begitu perumahan yang permeable didalam sebuah struktur kota tinggallah harapan. Sistem satu pintu dengan penjagaan ketat menjadi satu-satunya akses masuk bagi penghuni dan pengunjung perumahan. Pada satu kesempatan ekskursi perumahan di Tangerang, salah seorang pengembang mengatakan “Tidak ada yang mampu menjamin tidak akan terjadi riot lagi di Jakarta”. Maka menurutnya gated community tetap dibutuhkan untuk faktor keamanan bagi warga perumahan tersebut.

Sementara itu, mengutip wacana yang dituliskan Gated Community Research Group dari UII, Yogyakarta, alasan terbentuknya komunitas ini menurut Blakely dan Snyder dapat diklasifikasikan menjadi tiga jenis, yaitu: Gaya Hidup, Prestise, dan Keamanan. Menurut saya di Indonesia faktor keamanan menjadi faktor utama digunakannya sistem gated community, setelahnya baru faktor prestise mempengaruhi, dan gaya hidup masih belum menjadi faktor utama penggunaannya. Jika di Amerika sana gated community telah menjadi sebuah “rekayasa spasial” pembentukan komunitas, di Indonesia hal tersebut masih sebatas pengelompokan hunian-hunian tertentu (disadur dari GCRG, menurut Leisch). Hal tersebut dikarenakan tidak terlihat signifikansi perbedaan interaksi antara masyarakat yang tinggal di dalam maupun di luar gated community. Lebih jauh lagi Leisch mengemukakan gated community di Indonesia lebih menyerupai ghetto hanya saja penghuninya yang orang-orang kaya.

Namun begitu hal tersebut tetap menjadi potensi bagi berbagai permasalahan baru bagi lingkungan, baik dari segi sosial maupun spasial. Segregasi sosial seperti ekonomi, ras dan budaya ibarat bom waktu yang sewaktu-waktu mungkin meledak karena pemicunya sudah diciptakan. Alih-alih menciptakan komunitas yang aman dari kerusuhan, gated community justru diperdebatkan mampu menjadi salah satu potensi terjadinya kerusuhan yang lebih besar di masa depan. Pendapat tersebut subjektif menurut saya pribadi dan masih sangat dapat diperdebatkan, namun bukan berarti tidak perlu direnungkan.

Segregasi spasial lingkungan kota juga semakin lama semakin terlihat dampak buruknya akibat sistem kantung yang diciptakan setiap pengembang saat membangun satu perumahan baru. Kantung perumahan-perumahan disebuah jalur utama kota menjadikan beban sebuah jalan sedemikian berat karena semua warga perumahan bermuara ke satu jalan. Semakin lama sistem struktur dan jaringan kota tersebut semakin menggurita (sprawling). Sistem struktur kota yang integratif dengan hierarki jalan yang ideal semakin sulit untuk dicapai.

Penelitian terhadap permasalahan ini masih bisa dibilang minim. Sampai sekarang permasalahan gated community masih tetap berada di tataran wacana. Setiap dampak negatif yang diciptakannya masih menjadi perdebatan. Jikapun ternyata dampak negatif itu benar adanya, tetap bukan menjadi hal yang mudah untuk membatasinya, karena seperti tidak ada solusi lain untuk keamanan lingkungan komunitas tertentu selain sistem pagar tersebut. Lagipula tidak ada yang bisa menjamin tidak akan terjadi kerusuhan tanpa perumahan sistem gated tersebut, jadi kenapa harus mengambil resiko yang sedemikian tinggi untuk hal terpenting dalam sebuah perumahan?

un-gated community

Jika kita melihat ke belakang, yaitu era sebelum tahun 90an. Perumahan-perumahan mewah maupun sederhana dibangun tanpa harus membangun pagar disekelilingnya. Perumahan dibangun di tengah kota sebagai bagian dari struktur kota. Segregasi spasial antara perumahan mewah dan sederhana dilakukan dengan sistem desain yang baik, yaitu dengan membuat sistem layout perumahan yang secara spasial terpisah namun secara jaringan tetap terhubung. Sebagai contoh yaitu perumahan pemerintahan Belanda di sekitar Gedung Sate hingga Gempol. Pola radial perumahan yang mengelilingi gedung sate dibuat menjadi beberapa lapisan, lapisan terdekat dengan Gedung Sate merupakan perumahan bagi pegawai dengan golongan lebih tinggi. Sementara semakin menjauhi Gedung Sate perumahan diperuntukan bagi pegawai dengan golongan yang semakin rendah. Dan di daerah Gempol merupakan perumahan untuk pegawai pribumi golongan bawah. Pemisahan spasial yang dilakukan tidak terlalu terasa bila kita melewatinya saat ini, karena jaringannya terhubung dengan baik.

Contoh lain adalah Perumnas di Depok Satu. Perumnas pertama di Indonesia ini cukup berhasil menciptakan lingkungan perumahan yang aman dan nyaman untuk tipe perumahan sederhana. Perumnas Depok satu mampu menciptakan perumahan yang aman meskipun tanpa pagar. Perumahan ini menyatu dalam struktur ruang kota, menciptakan ruang-ruang terbuka bersama yang dapat dinikmati siapa saja yang tinggal disekitarnya, menciptakan perumahan yang begitu permeable dengan jalan dan gang-gang yang hidup oleh setiap orang yang melewatinya.

Contoh lain yang berhasil menciptakan lingkungan yang aman tanpa harus membuat pagar yaitu perumahan di Kebayoran Baru hasil perancangan kota taman oleh Moh Soesilo. Kebayoran Baru merupakan kota taman pertama yang dirancang oleh arsitek lokal (Adolf Heuken dan Grace Pamungkas, 2001), sebelumnya kota-kota taman di Indonesia dirancang oleh Arsitek asal Belanda (Thomas Karsten). Seorang Moh. Soesilo mampu menciptakan Kebayoran Baru, sebuah lingkungan yang senyaman dan seaman garden city buatan Karsten, tanpa pagar. Tetapi mengapa kini semua mendadak tidak mungkin atas dasar kondisi sosial yang tidak sama dan tak sekondusif dimasa Moh. Soesilo merancang Kebayoran Baru, ataupun masa dibangunnya Perumnas Depok Satu. Pertanyaan tersebut masih menjadi tanda tanya, dan menanti untuk segera dijawab. Demi lingkungan kita yang lebih baik.