Seru juga nonton semifinal Djarum Indonesia Open Super Series malam ini, dimulai dengan menonton partai ganda putra Chandra Wijaya/Tony Gunawan melawan pasangan malaysia Hoon Thien How/Ong Soon Hock. Pasangan bulutangkis Indonesia/Amerika Serikat ini akhirnya memenangkan pertandingan dengan skor 23-25, 21-15, 21-15. Seperti biasa, atraksi backhand dari Chandra Wijaya menjadi tontonan yang menarik dan menghibur.

Sony menang atas Chunlai

Partai selanjutnya yaitu pertandingan antara Sony Dwi Kuncoro (Indonesia) melawan Bao Chun Lai (Cina). Sempat memimpin 8-5 tidak membuat sony meraih kemenangan di set pertama dikarenakan banyak kesalahan sendiri yang dilakukan. Sony kalah 15-21 pada set pertama. Ada apa dengan Sony? menjadi pertanyaan komentator di set pertama pertandingan. Namun demikan posisi berbalik di set kedua, Sony nampaknya mampu mengontrol irama permainannya, sementara itu Bao Chunlai tidak tampil prima seperti biasanya, di set kedua Chunlai lah yang sering melakukan kesalahan-kesalahan yang menguntungkan Sony hingga akhirnya kalah 21-13. Kemudian di set ketiga Sony bahkan sempat unggul 15-5 atas Chunlai, posisi matchpoint 20-16 menjadi saat-saat yang menentukan bagi Bao Chun Lai, pukulan smashnya yang sejajar dengan bidang net membuatnya gagal memasuki babak final. Sony Dwi Kuncoro menang dengan skor akhir 15-21, 21- 13, 21-16. Saya dan seorang kawan yang menyaksikan melalui pesawat televisi pun dapat kembali tersenyum puas.

Sejarah bagi Maria Kristin

Pertandingan selanjutnya lebih menarik menurut lagi, yaitu pertandingan antara Maria Kristin Yulianti (indonesia) melawan Zhang Ning (Cina). Menarik karena sebelumnya Maria Kristin telah bermain all out mengalahkan lawan-lawan yang berat, dan kini ia dihadapkan pada juara Olimpiade Athena tersebut. Maria Kristin yang menduduki peringkat ke-34 dunia itu ternyata memang bermain cantik dengan penempatan-penempatan bola yang akurat pada dropshot-nya sehingga seringkali menyulitkan Zhang Ning. Pukulan-pukulan silang dan lob-lob yang kencang namun akurat mampu menghasilkan angka bagi Maria. Pada set kesatu Maria unggul 21-14. Namun di set kedua Zhang Ning mulai menemukan irama permainannya, dropshot-dropshot yang kencang dan tajam mampu dihasilkan oleh tubuhnya yang jauh lebih tinggi dan besar dari Maria. Maria sedikit kedodoran pada set kedua, staminanya mulai terkuras sementara pemain senior cina berumur 31 tahun tersebut tetap mampu mengatur permainan, skor menjadi amat ketat dan Maria sempat memimpin 20-19, matchpoint, satu angka lagi untuk mengukir sejarah bagi Maria Kristin masuk babak final Indonesia Open. Namun pada posisi kritis Zhang Ning yang lebih senior mampu tetap berkonsentrasi dan membalikkan keadaan memenangkan set kedua dengan skor 22-20. Set ketiga menjadi set yang menegangkan karena kedua pemain menyuguhkan permainan terbaiknya, stamina Maria yang semakin menurun membuat kami yang menonton semakin tegang melihatnya, sementara Zhang Ning tetap fit dengan badan besarnya. Kali ini Maria yang tertinggal matchpoint 20-18. Ketegangan memuncak, karena satu angka lagi bagi Zhang Ning berarti tertundanya sejarah bagi Maria memasuki final Indonesia Open. Namun permainan yang luar biasa selanjutnya menunjukkan kegigihan dari seorang Maria Kristin, bahwa sebelum tertulis skor 21 tidak boleh ada kata menyerah, Maria pun mampu memaksakan skor menjadi 20-20. Setelah berjuang keras selama satu jam lebih di lapangan, pada akhirnya sejarah itu tercatat juga, Maria Kristin Yulianti memasuki babak final Indonesia Open 2008 dengan skor 22-20. Kamipun kembali tersenyum lega, selega Maria yang langsung disapa pelatihnya Marlev Mainaky dipinggir lapangan, segempita seluruh penonton di Istora yang bersorak sorai dengan gemuruhnya. Selanjutnya Maria akan melawan Unggulan pertama Cina, Zhu Lin, yang berhasil masuk ke final setelah mengalahkan Pi Hongyang dari Perancis dengan skor akhir 17-21, 21-16, 21-16.

Sementara itu partai ganda putri dimenangkan oleh Liliana Natsir/Vita Marissa atas Wei Yili/Zhang Yawen 21-15, 14-21, 21-18. Saya tidak sempat menonton sampai akhir, dikarenakan pada pertengahan babak kedua siaran langsung harus dihentikan, digantikan kejuaraan motoGP. Cukup melegakan mendengar hasil akhirnya, karena dengan begitu Indonesia berhasil memasuki final pada tiga nomor dengan memastikan salah satu partainya merupakan “all Indonesian final” yaitu pertandingan antara Sony Dwi Kuncoro melawan Simon Santoso yang berhasil masuk final mengalahkan Kenichi Tago (Jepang) 16-21, 21-13, 18-21.

Mari berdoa untuk ketiga nomor tersebut bagi Indonesia, mari berdoa bagi seluruh pejuang medali kehormatan bagi bangsa. Mari ikut berjuang dalam setiap bidang yang kita geluti. Demi Indonesia.

salam olahraga

-japs-

sumber dari:

  1. http://tempointeraktif.com
  2. http://antara.co.id
  3. http://indonesiaheadlines.com