Hari ini saya jadi kurir, misi utamanya mengambil data berharga dari dinas tata kota sebuah ibukota negara. “apa?” “jakarta?” “yaaah… kok kamu tau siii…tau dari mana?” hahaha. *mulai gila tampaknya*. Ya! saya ke Jakarta untuk mengambil data. Pergi kesana tepat pukul 12 naik “dijamin-calik-nyalira-travel”. Sang supir berhasil membawa 6 penumpangnya sampai ibukota hanya dalam waktu 2 jam 15 menit. “Oke, tampaknya janji sampai di DTK (bukan Dunia Tanpa Koma) sebelum jam 3 bisa ditepati” batin saya, melajulah saya dengan transjakarta dari Halte Gelora Bung Karno hingga Halte Bank Indonesia, dilanjutkan dengan taksi *manja mode on* padahal jaraknya dah deket banget, tapi karena terikat janji jadi hantam saja bleh, ongkos jalannya cuma 250 rupiah, karena 5000 sebelumnya adalah biaya buka pintu. weleh weleh…

menuju lantai lima tempat sang pamberi data berada,

“Wah Mas yang tadi nelpon ya? eee… datanya masih saya gabung2 dulu Mas, gimana ya? Mas mau tunggu atau?”

“Oh gakpapa saya tunggu aja, kira-kira berapa menit yah mas?” sengaja saya gunakan kata menit biar dia tidak meminta saya menunggu satu jam atau lebih dari itu.

“Mungkin 1/2 sampai satu jam, Mas”

saat itu pukul 3 kurang 15, dan saya sudah memesan travel untuk kembali ke Bandung pukul 4. maka saya harus membuatnya selesai lebih cepat.

“Jam 1/2 4 kali yah Mas?” pertanyaan yang sebetulnya adalah pernyataan yang kurang ajar hehehe… maaf yah mas…

“………” “nanti kalau saya sudah selesai saya telepon masnya aja”

yah, posisi menunggu telepon adalah posisi lemah yang bisa digantung ampe jam lima kalo kerjaannya gak selesai selesai. dalam hati saya: “ya udahlah”. pasrah, namanya juga kurir. Turunlah saya dan makan siang yang tertunda pada pukul 3 sore. Setelah makan duduk menunggu di depan masjid, menunggu telepon sekalian menunggu adzan ashar beberapa menit lagi, saya berencana menjama’ dzuhur saya.

masjid ramai dengan para pekerja gedung kantor tersebut yang akan shalat ashar berjamaah, saya ikut ashar berjamaah dengan niat langsung menjama’ takhir dzuhur setelahnya. sampai “tragedi” itu terjadi.

saya yang shalat di shaf terdepan sudah dapat memperkirakan bahwa orang-orang akan mengira saya melakukan shalat sunah setelah ashar yang hukumnya dilarang tersebut. Padahal sebenarnya saya shalat dzuhur jama’ takhir. Kebetulan setelah shalat Ashar tersebut seluruh jamaah tidak ada yang langsung keluar masjid karena ada kultum. Maka semakin mencoloklah saya yang masih melanjutkan empat rakaat lagi setelah Shalat Ashar tersebut, pikir saya biarkan orang berpikir macam-macam yang penting saya shalat dzuhur, dan benar saja… ketika saya akan keluar masjid, seseorang menarik saya dan dengan wajah seriusnya ia menampakkan wajah bertanya-tanya.

“Maaf Mas, sebentar saya mau tanya” “Tadi Mas shalat sunah setelah Ashar?… eeeu..” ahhh saya sudah bisa menduganya ia akan menanyakan hal ini, maka sebelum ia menyelesaikan kalimatnya saya pun langsung menjelaskan.

“Bukan Mas, tadi saya shalat jama’, bukannya ngga ada shalat sunah setelah ashar?”

“oh, kenapa nggak tunggu kultumnya selesai dulu? soalnya tadi menimbulkan fitnah,dibelakang”

*gubrakkk….!* fitnah? yang terbayang oleh saya, ketika saya shalat jama tadi, orang-orang langsung membicarakannya *geer mode on* dan menganggap ada seorang dengan “aliran” lain melakukan hal yang dilarang, oke berlebihan mungkin, tapi kata “fitnah” benar-benar membuat saya berimajinasi liar…

“bukankah kita sebaiknya langsung menyambung shalat jama’ setelah salam tanpa melakukan aktivitas lain ya mas? makanya saya langsung berdiri dan shalat lagi tadi”

“oh, iya mas. saya kira tadi mas shalat sunah, ternyata jama, makasih mas” katanya, lalu iapun berlalu. Raut mukanya terlihat sedikit lega. Saya tidak tahu artinya apa.

Pelajaran: kalo mau shalat jama’ takhir diawali dengan shalat ashar berjamaah, jangan pernah berdiri di shaf paling depan. heu…..

Jam 3.40, ternyata ada miscall dari bapak baik hati pemberi data di lantai 5, sayapun langsung nelponnya.

“halo, tadi Mas nelepon ya?”

“iya, ini datanya udah selesai”

“oh, baik Mas saya keatas sekarang”

Mission accomplished, data diterima. “dijamin-calik-nyalira-travel” jam 4 tetap tidak terkejar, terpaksa berkhianat dan membelot pada “pelopor-ontime-shuttle” karena lokasinya lebih dekat dan ada keberangkatan pada jam 4.30. Sebenarnya ada sesuatu yang harus dikejar makanya saya buru-buru mau ke Bandung lagi, tapi ternyata ngga terkejar juga kalo begini. Dan tertidurlah saya di perjalanan kembali ke Bandung mambawa “si data berharga”. “Begini ya rasanya jadi kurir?”

salam

-japs-