Tiga hari yang teramat luar biasa di pertengahan tahun ini, menjadi penutup yang sempurna bagi separuh tahun 2008. Perjalanan yang sederhana tanpa perencanaan yang matang, namun berakhir dengan penuh kesan, padat dengan diskusi dalam hati serta riuh dalam setiap kontemplasi pribadi. Perjalanan mencari sepi, tuk sejenak melarikan diri dari kehidupan sehari-hari. Perjalanan ke Yogyakarta.

Awalnya saya berencana pergi sendiri, tepat di malam setelah saya berprofesi menjadi seorang kurir (Catatan Harian Seorang Kurir). Namun selekas-lekasnya saya berusaha menyelesaikan tugas menjemput data tersebut, kereta akhirnya tetap tak terkejar. Kereta malam itu meninggalkan saya.

Keesokan harinya saya berangkat bersama seorang kawan yang hendak mudik ke kotanya, kota tujuan saya, Yogyakarta, Jogja!!! Berangkatlah kami berdua ke Stasiun Kiaracondong. Di stasiun telah ramai dengan orang yang mengantri di depan loket, lengkap dengan calo-calo yang menawarkan tiket duduk yang katanya sudah habis. “Tiketnya Mas, tiket duduk sudah habis, uang mah bisa dicari, tapi keselamatan???” wah… wah… wah… canggih sekali rayuan calo-calo ini. Tapi sayangnya sepenglihatan saya belum ada yang tergoda, semua berkeras mengantri tanpa membeli tiket mahal si calo. Dan benarlah, ternyata tiket duduk memang habis, saya baru ingat kalau mau tiket duduk memang harus pesan sebelumnya. Ah, tapi biarlah, toh kami memang sudah siap dengan kereta bernama Kahuripan yang lebih senang saya sebut Kahirupan, karena memang sedikit banyak mencerminkan kahirupan (kehidupan) masyarakat umum, saking padatnya kereta tersebut. “Gak papa, Pe? gak dapet duduk?” “Gak papa, Jap.” Katanya sambil mengangguk, memang oke berat teman saya yang satu ini, hehehe. Dan kami pun duduk di lantai menunggu “Kahirupan” itu datang. Masih satu jam lagi.

Kereta datang, hampir separuh lebih kursinya sudah terisi, kami masuk dan mencari “spot” yang nyaman untuk bisa ngampar di lantai, tetapi boro-boro nemu, berjalan saja kami sulit, semua merangsek memenuhi gang antara kursi yang sempit itu. Untunglah kawan saya mendapat sisa satu tempat duduk dari seorang ibu-ibu. Dari empat kursi berhadapan itu, mereka hanya pakai tiga. Istri, sang suami dan adik kecil duduk disisi satu, sementara kawan saya duduk bersama sang kakak di sisi seberangnya. Syukurlah, paling tidak satu diantara kami dapat tempat duduk. Bismillah, kami siap menempuh Kahirupan selama 11 jam yang “penuh” ini.

Kereta berjalan, angin malam menyelusup masuk, saya masih berdiri membaca koran yang sebenarnya dibeli untuk “ngampar” di perjalanan. Dilanjutkan membaca Max Havelaar namun hanya mampu membaca dua bab, dan akhirnya menyerah duduk di bawah dengan alas sebuah koran. Suasana kereta masih “agak” lengang sehingga saya masih mampu tertidur, sampai kereta mulai berhenti di beberapa stasiun dan suara banyak penumpang masuk mulai terdengar, kereta mulai penuh, saya kembali terjaga. Kebetulan kami duduk di bagian ujung gerbong, dekat dengan pintu sehingga terus dilewati setiap penumpang yang baru masuk. Saya lihat di bagian tengah sudah penuh, tidak mungkin diisi lagi, tapi hebatnya pedagang minuman, makanan, cemilan, mainan, bacaan, apapun itu, masih terus bisa bolak balik dengan leluasanya. Hebat? tunggu dulu, ternyata mereka masih bisa jauh lebih hebat dari yang dikira.

Kereta terus berjalan, di satu stasiun saya lihat kereta sudah jenuh sekali, tapi penumpang masih terus masuk, saya jadi ingat kalau sekarang sedang musim liburan sekolah, dan tadi di Stasiun Kiara Condong sempat saya dengar percakapan berikut: “Sabaraha gerbong, ieu?” “Ngan Tujuh” “Euleuh, pantesan meuni pinuh kieu” “Enya, isukan anu dalapan gerbong mah”. Dan sadarlah saya Kahirupan apa yang akan terjadi disini untuk (kira-kira) 10 jam kedepan. Bagian tengah gerbong tidak mungkin dipenetrasi lagi, kali ini beberapa orang bapak-bapak yang masuk terpaksa tertahan di tempat saya terdampar dilantai. Posisi duduk harus diperbaiki, tidak bisa lagi bersila supaya bapak itu bisa duduk, dengan demikian resmi ditutuplah “kawasan saya” bagi penumpang berkarcis duduk di lantai. “Maaf Lantai Habis”.

Mencoba terjaga dengan udara pas-pasan yang direbuti sekian banyak orang disana sama saja dengan menderita. Tidur pilihan bijak yang paling baik bagi diri sendiri, walaupun susah payah juga, posisi kaki berulang kali harus diganti untuk menyeimbangkan rasa pegal di kiri dan kanan, paling tidak lebih baik dari terjaga dan merasakan lamanya perjalanan yang pelit oksigen dan tempat.

Di kursi paling ujung tepatnya di balik kursi kawan saya duduk, ada dua orang bayi yang ikut dalam arus kehidupan yang “kejam” ini. Bisa dibayangkan, suasana kereta yang sumpek, panas, oksigen terbatas, goyangan dari sang masinis yang memabukkan, sampai teriakan pedagang yang tanpa henti bolak dan balik, terus berteriak menjajakan jualannya, tentu bukan kondisi yang menyenangkan untuk seorang bayi. Harap maklum jika mereka menangis, dan sempurnalah keajaiban suasana kereta dengan lengkingan tangisan seorang bayi, kemudian menjadi dua bayi, ditambah sayup-sayup dari ujung sana, ah… sekarang tiga bayi menangis. Kahirupan oh kahirupan…

“Tega kali orangtuanya membawa bayi kedalam kereta sesumpek ini” “Hey, tidak semua orang beruntung dan mampu membeli tiket Lodaya atau Bis Kramatdjati seharga 90.000 rupiah” “hmm” “Mau gimana lagi?” “hmmm… hmmm… Kahirupan…”

Saya salut dengan orang tua-tua itu, sabar sekali menenangkan anaknya. Bisa dibilang sejam sekali anak-anak itu menangis, entah apa yang diinginkannya, tapi saya pikir hanya satu. “Keluarkan saya dari kereta derita ini!!!!”. Sang ibu kadang menenangkan dengan ucapan “itu tuh liat tuh… aada keraeta? iiiyah? kereta? iiyah?… tuu… jalan tuu..” khas seorang ibu menyenangkan hati anak kecil, kadang berhasil kadang juga tetap menghasilkan pekikan yang memekakkan… sang ibupun gagal, “mau ama ayah? ama ayah?” diserahkanlah anak itu pada ayahnya, kadang berhasil kadang tetap pekikan yang terjadi, “Nih ama ibu nih ama Ibu” sang ibu tampaknya mulai kehilangan sedikit rasa sabar, terbukti dengan pertanyaan agak menekan. “mau apa kamu? mau apa?” “uaaaaaaaa” “mau apa bilang mau apa?” “uaaa!!! nyenyennn” “ooh, nenen…”. Glekkk… menyusui?! disini? ahh, sebaiknya saya tidur saja… :p. Kahuripan…

Bisa dibayangkan kalo setiap jam anak itu menangis, dan setiap menangis ia minta disusui, berapa kali ibunya harus menyusui di kereta sepenuh dan sebanyak orang itu???…. Dan pedagang-pedagang masih saja bolak balik berteriak: “Nasi ayam tiga ribu, nasi ayam tiga ribu” atau “kopinya kopi, popmie, aqua”. Sementara itu di kursi sana kawan saya dengan asiknya mengipasi anak ibu yang memberinya duduk dengan Reader’s Digest-nya. Sang anak tampak kepanasan, saya tidur dan bangun, sampai bangun yang keberapa saya lihat sang anak sudah tertidur dengan kepala bersandar dikaki kawan saya. Ia masih setia mengipasinya.

Kereta berhenti, kali ini saya mendengar riuh penumpang akan masuk hanya saja terasa lebih ramai, rasanya sudah memasuki Jawa Tengah, karena logatnya sudah berbeda. Benar, masih ada penumpang yang masuk ditengah malam atau dini hari tersebut, dan lebih banyak lagi!!!??? Kahuripan!!! Kamu ngetop sekaali siiii….! Kali ini yang saya liat merangsek masuk seorang ibu paruh baya berkebaya berlogat Jawa medok, membawa seorang anak kecil dan satu lagi seorang anak gadis yang tak dapat saya lihat wajahnya, posisi saya terlalu rendah dan ia berdiri membelakangi. Sudah dibilang sebelumnya bagian tengah gerbong penuh, tak mungkin dipenetrasi lagi, dan lantai sekitar saya habis untuk duduk. Maka, berdirilah Si Ibu dan Gadis, sementara anak kecil diberi duduk oleh seorang penumpang, masih muat karena badan kecilnya. Sementara Si Ibu dan Gadis? tentu saja berdiri, dan perjalanan rasanya masih sangat jauh. Menghabiskannya dengan berdiri dirasa tak mungkin bagi sang ibu, jurus pun dikeluarkannya, dengan Bahasa Jawa “Bu, bisa geser ndak? saya mau duduk”. Dijawab dengan logat sunda “Aduh, maaf anak saya ini teh lagi tidur, kalo digeser nanti bangun”. Si Ibu keluarkan jurus kedua: “Seddikit aja, geser”. Dibalas sengit “Si Ibu teh meuni maksa pisan, kasian anak saya teh lagi tidur, itu bapaknya aja ampe pindah ke situ (sebelah kawan saya), nanti bangun”. Si Ibu pun menyerah dengan kesal “Peditte…”. Jurus Gagal! Tapi kereta ini mengajari saya hal lain lagi, sang Ibu ternyata masih belum menyerah, ia melirik mencari celah-celah kursi lain yang bisa digeser agar ia bisa duduk. Dan ia melihat selah itu di kursi persis dibalik orang yang tak mau memberinya kursi tersebut. Orang itu ialah si ibu menyusui, bayi yang cengeng dan ayah yang sabar. Jurus yang sama dikeluarkan kali ini pada ayah yang sabar tersebut: “Mas bisa geser ndak, saya mau duduk”, lagi-lagi dengan logat sunda “Aduh, saya bawa anak, Bu. Ini juga nangis terus dari tadi, kalo gak bawa anak mah saya udah diri dari tadi”. Si ibu pun kecewa, tak seorangpun sudi memberinya tempat duduk barang seiiiiprit saja. Sementara perjalanan masih panjang, Ah Kahuripan memang kejam… dan pedagang masih terus berlalu lalang “mizone… mizone… aqua dingin… aqua dingin… permisi… permisi… mau lewat.. maaf mas… mau lewat”. Grrrrr!!!!

Malang benar nasibmu, Ibu. Terlihat dari raut kecewamu itu… sampai sang “pahlawan” itu “datang”. Dia adalah Noviantari! kawan saya… Ia tiba-tiba menggeser duduknya karena anak kecil yang sedari tadi bersandar dikakinya sudah digendong ayahnya dipinggir jendela, jadi kini ada ruang untuk si ibu, sedikit. “Terima kasih sekali mba… terima kasih sekali…” ucapnya senang dan lega, kata ‘terima kasih sekali’ terus diulang-ulangnya, lalu kemudian: “Semoga perbuatan baiknya mendapat balasan yang sesuai, Terima kasih sekaliii”. amiennn…

Si Ibu dapat duduk, namun Si Anak Gadis masih terus berdiri lama sekali. Gelesot di lantai membuat kaki harus sering diinjak setiap orang yang lewat, terutama pedagang-pedagang yang setia bolak dan balik. Kereta ini merupakan kereta dengan kasta terrendah di kelasnya, maka ia harus mengalah setiap ada kereta dengan kasta lebih tinggi yang akan lewat, atau akan menyalipnya. Masa-masa menunggu kereta lain lewat atau menyalipnya itu lah masa-masa penuh cobaan dan ujian kesabaran. Masa-masa kereta diam berarti masa-masa tiada angin yang masuk, masa-masa oksigen terasa semakin sedikit, masa-masa udara menjadi panas, masa-masa bayi-bayi kembali menangis, masa-masa tidak bisa tertidur karena nafas sesak, keringat mengucur, telinga pengang, dan kaki terus diinjak pedagang yang lewat. Masa-masa yang harus dilewati beberapa kali dalam perjalanan Kahirupan ini.

Kahirupan terus berlanjut, dan potret-potret kahirupan lainnya terus berkelebat selama perjalanan. Potret lain adalah seorang ibu hamil yang harus jalan sangat jauh untuk pergi ke toilet di ujung gerbong. Ia susah payah melangkah melewati daging-daging hidup yang bergelesot di lantai. Wajahnya pucat, tampak menahan mual, tangannya memegang perut menjaga si jabang bayi didalamnya. Suaminya mengikuti dari belakang, mereka berdua berjalan tanpa sandal, tampaknya tidak ingin mengotori daging-daging yang mereka lewati. Sampai di ujung gerbong (dibagian pintu keluar tepatnya), mereka masih sulit melangkah karena “kapling” itu juga penuh. Dan ia masih harus menunggu toilet yang sedang terisi sambil menahan mual dan menjaga si jabang bayi.

Karena dekat dengan toilet tempat saya duduk seringkali menghirup udara pesing yang memusingkan, seorang ibu dan anak-anaknya tiba-tiba memaksa merangsek masuk ke gerbong karena tak tahan duduk di dekat pintu toilet, tak peduli di dalam ia tak dapat duduk, asal ia tak mual lagi menghirup udara pesing. “Geus teu kiat aaaah, baau hangseuuur!!!!” Mau bagaimana lagi, cuma kereta ini yang harganya hanya Ro.26.000 untuk perjalanan Bandung-Yogyakarta. Pilihan untuk orang-orang yang tak punya pilihan lain.

Kahuripan, kereta cermin kehidupan. Penuh potret yang memperlihatkan realitas kehidupan masyarakat kelas tertentu. Cermin realitas sosial akan kebutuhan transportasi yang layak masih jauh dari genggaman masayarakat golongan tertentu. Indikasi bahwa sarana umumpun masih berpihak pada orang-orang “punya”. Dan mirisnya transportasi hanya sebagian kecil dari berbagai sarana lain yang juga belum memihak pada golongan kelas bawah. Semoga tidak berhenti sampai disini saja pengembangan sarana dan prasarana publik kita. Cukup bayi sekarang yang harus menangis kepanasan di dalam kereta, cukup sekarang seorang ibu harus berusaha keras untuk bisa duduk di kereta antar propinsi, cukup sekarang manusia harus berjejal di dalam kereta yang sesak kurang dengan udara. Cukup… Yang terhormat Menteri Perhubungan Republik Indonesia, Kepala PT KAI, akankah ini terus begini? Semoga tidak, amien…

Perlahan mendekati Jogja, beberapa penumpang beringsut turun. Namun itupun kurang signifikan, karena sebagian besar memang akan turun di Stasiun Lempuyangan, Yogyakarta. Stasiun tujuan saya. Dan pukul 05.30 kami dapat menjejakkan kaki kami di Jogja, saat langit mulai terang dan udara masih terasa sejuk. Saat saya dalam hati berkata, “Akhirnya Sampai Juuuga…. JogDja!!!”

bersambung