Perjalanan ini memang perjalanan mencari sepi, perjalanan diri pribadi, perjalanan saat-saat termangu sendiri menjadi kegiatan paling sering dilakukan. Persis seperti yang saya lakukan saat ini, di bus Jogja-Borobudur, bus ukuran sedang seukuran metromini di Jakarta. “Mba, ini bus ke Magelang?” tanya saya pada seorang perempuan sebelumnya, saat bus masih di Terminal Jombor. “Ke Borobudur, Mas” jawabnya. “Oh, ya pas banget” kata saya dalam hati. Melajulah bus tersebut ke arah utara, ke arah yang mungkin saya tak akan tahu lagi jejaringnya terhadap Jogja, center point perjalanan saya.

Perjalanan Bus Jogja – Borobudur

Saya tak berani terpejam, walau mata sudah sedemikian kantuk. Saya terus perhatikan setiap plang toko yang biasanya tertulis nama jalan disana. Terus saya pantau nama jalan yang saya lewati: Jalan Raya Magelang Km 12,5 lalu Km 14 dst hanya untuk memasukkan jejaringnya pada peta buta milik saya, antisipasi jika tersesat suatu waktu nanti. Bus terus melaju, penumpang naik dan turun. Ketika saya lihat keluar tertulis kata Muntilan pada sebuah plang toko, “Oh saya sedang di Muntilan” salah satu kecamatan di Magelang. Bus sempat ngetem di Terminal Muntilan, supirnya meninggalkan bus begitu saja. Sementara itu penumpang terus masuk, kursi sebelah saya yang kosong kini terisi oleh seorang Mbok dengan rambut dicepol serta membawa bakul berisi sisa dagangan, sepertinya hendak pulang sehabis jualan. Ia masuk bersama satu mbok lain yang duduk di kursi paling depan, sebelah supir. Mereka berdua tampak sedang melakukan transaksi barang dagangan yang masih tersisa. Si Mbok sebelah saya hendak membeli sesuatu dari Mbok satunya seharga Long ewu ( dua ribu, bener gak tulisannya, heu), tapi mbok tersebut tetap bertahan di harga dua ribu empat ratus. Transaksi apakah gerangan? Sepertinya sih gorengan, tapi saya tidak tahu gorengan apa, bentuknya kurang jelas, seperti goreng tape, tapi bukan juga. Apapun itu, yang jelas perdebatan mereka berdua dengan bahasa Jawa yang saya tangkap sedikit-sedikit dan kemungkinan besar banyak salahnya, cukup menarik perhatian saya di posisi belakang kursi supir dan samping jendela itu. Cukup lama mereka tawar menawar, logat mbok-mbok dengan suara melengking dan pitch naik turun sangat khas sekali, sampai akhirnya mbok penjual menyerah dan menjual “gorengan” itu pada mbok sebelah saya. Sudah cukup lama bus berhenti tetapi supirnya belum juga kembali, sekarang mbok-mbok tadi mulai ramai karena kesal bus belum jalan-jalan juga. Ternyata si supir sedang asik tidur sore di bangku pasar di bawah pohon. “Huh, penumpang bus udah penuh dan nunggu lama-lama, eh taunya dia malah tidur-tiduran”.

Waktu menunjukkan pukul 16.30, sementara saya berencana sampai di Borobudur sebelum gelap, karena tidak tahu medan dan harus sudah mendapatkan penginapan. Tersesat di malam hari dan tidak tahu harus kemana dalam gelap haruslah dihindari. Selain itu saya berencana ke Borobudur dahulu sore ini untuk menanyakan kemungkinan naik ke Borobudur sebelum matahari terbit esok harinya. Saya mau hunting sunrise di Borobudur, mantap!! hahaha. Akhirnya Pak Supir datang juga dan mengendarai busnya keluar dari terminal, sinar matahari sudah mulai meredup, dan saya mulai merasa sedikit tidak tenang.

Marka penunjuk jalan menginformasikan arah lurus menuju Magelang, belok kiri menuju Borobudur. Bus berbelok ke kiri, entah mengapa saya merasa lega, takut bus malah menuju ke Magelang padahal jelas-jelas ini Bus Jogja-Borobudur bukan Jogja-Magelang. Sesaat yang sama saya melihat billboard bertuliskan Borobudur, World Heritage Site – UNESCO. Tertulis disana jarak masih 5 Km lagi, “Hmm, taruhlah bus tiba-tiba berputar dan tidak bersedia melanjutkan rutenya hingga Borobudur. 5 Km jalan masih jauh gak ya?” “Ah masih lumayan. Hm… Tapi kalo keburu gelap? males juga.”

Deg… deg… deg…

Saya lihat kedalam bus, merasa sedikit tenang karena masih ada beberapa penumpang. Saya lihat keluar kesisi kiri dan kanan jalan, berharap menemukan banyak penginapan sehingga bisa langsung check in begitu saya tersasar. Deg… deg… deg… “kok sawah semua? mana losmennya? mana fasilitas pendukung daerah wisatanya?” “Ah, mungkin masih disana lagi kali”. Dan ternyata masih tidak saya temukan sebuah penginapan pun di sepanjang jalur bis yang dilewati. Saya melewati Situs Candi Mendhut, tapi tidak ada juga penginapan disekitarnya. Sampai akhirnya saya melihat lagi Billboard besar dipersimpangan jalan bertuliskan “Welcome to Borobudur“. Karena letaknya di persimpangan jalan, tertulis dua keterangan. Ke arah kiri 1,5 Km lagi, ke arah kanan saya lupa tepatnya kira-kira 2Km lagi. Bus yang saya tumpangi berbelok ke arah kanan. Sementara penunjuk arah hotel menunjuk ke kiri, begitu juga penunjuk arah Indomaret (penting banget nih, heu) 1,5km ke kiri. Kali ini bus ini berbelok ke arah yang tidak saya inginkan, “Jap, lo kira lo naek taksi!!!” hahaha… Sempat ragu-ragu turun atau lanjut, akhirnya saya pilih lanjut, toh tadi penunjuk arah juga menyatakan kalau arah ini juga ke Borobudur. Sampailah saya di Terminal Borobudur, begitu kami turun langsung heboh para tukang ojek dan becak menawarkan jasanya. Saya sebenarnya bisa saja langsung menurutinya dan bilang mau kemana dan mereka akan langsung mengantarkan. Tapi beberapa pengalaman buruk membuat saya seringkali menaruh ojek atau becak di tempat wisata sebagai pilihan terakhir. Pasang tampang sok tau mau kemana, tawaran tukang ojek dan becak pun dengan mudahnya saya tolak. “Sok banget… padahal gak tau mau kemana juga.” Di warung sembari membeli Aqua saya bertanya “Mba, kalo mau ke Borobudur dari sini kemana ya?” Dengan tampang tidak meyakinkan dia menjawab “Biasanya naik andong mas, tapi sekarang udah sore, udah gak ada“. “Saya bertanya ke arah mana, kok dijawabnya naik andong?”. Plus tampang tidak yakinnya saya pilih tidak melanjutkan bertanya pada dia. Dan keesokan harinya begitu saya sudah tahu jalan, saya semakin tidak mempercayainya sebagai warga sekitar.

Mencari Borobudur

Alih-alih pilih naik ojek, saya malah nekad menuju persimpangan yang tadi. Sebenernya jauh juga, tapi antipati ama ojek malah bikin saya nekad jalan. Aneh memang. Begitu ada angkot saya stop. “Naaah, kalo angkot mah sobat saya, hehehe” Angkot berhenti jauh di depan karena ngebut sebelum akhirnya berhenti, sayapun berlari membawa Aqua, kamera, dan tas selempang saya, begitu masuk entah apa yang menyebabkan supir langsung bertanya, mungkin seragam “turis gagal” saya. “Mau kemana, Mas?“, “Mau ke pertigaan, Pak“, “Oh, ke XXX” XXX karena saya lupa ia bilang apa. Begitu juga dengan penumpang didalam, sama-sama menyebutkan XXX, nama daerah itu, semua berpikir saya salah jalan sepertinya. “Memangnya mau kemana, Mas?” perhatian sekali bapak ini, tapi saya malah agak canggung jadinya. “Mau ke tempat teman, Pak” jawab saya sekenanya yang akhirnya berhasil menghentikan interogasi tersebut. “Kiri, Pak” Saya turun persis dipersimpangan yang tadi, waktu menunjukkan pukul 17.40 dan saya belum Ashar. Saya terus jalan kearah Borobudur, belokan ke kiri, pilihan 1,5 Km lagi yang tadi, sembari mencari masjid, namun tidak ada seorangpun saya temui. Hanya beberapa bus pariwisata melaju ke arah yang berlawanan dengan saya. Sepertinya Borobudur sudah tutup dan disana sudah tak ada siapa-siapa lagi, karena semua bus bertolak pulang.

Hanya jalan aspal, rumpun bambu, dengan senja yang semakin gelap yang jadi pemandangan di sekitar saya saat itu. Saya terus berjalan hingga akhirnya menemui bapak tua berbaju koko putih dan sarung kotak-kotak coklat sedang duduk sendiri di pinggir jalan. “Permisi, Pak. Disini ada Mushalla?” Ia lalu menunjukkan ke arah gang di kiri saya “Di dalam sana, masuk saja terus, Mas” “Matur nuwun, Pak” Jawab saya dan berlalu kearah yang dia tunjukkan. Tidak berapa jauh berjalan saya lihat seorang bapak lain berjalan ke arah berlawanan dengan saya, kembali saya bertanya dengan maksud sekalian menyapa. “Permisi, Pak. Mushallanya disebelah mana ya?” “Oh, itu disitu ,Mas” jawabnya. Kemudian “Kok, sendirian aja?” tanyanya. “Iya, Pak. Matur Nuwun…Welcome to the lonely backpacker world. Karena pertanyaan tersebut merupakan penanda kamu telah memasuki dunia ini.

Mushalla sepi, tentu saja karena saya shalat Ashar menjelang Maghrib, senja saja rasanya sudah hampir bisa dibilang Maghrib. Saat shalat tadi, mulai saya rasakan kaki terasa sakit saat ditekuk, tampaknya otot dan sendi sudah memberikan peringatan “Sudah waktunya kamu beri saya waktu beristirahat, Kawan” “Maaf Kawan-kawan, perjalanan menuju Borobudur hari ini masih belum selesai. Sampai kita melihat puncak pucuk stupa, maka kita masih harus terus berjalan” Lihatlah sang penyendiri ini, dia mulai menyapa otot dan sendi sebagai kawan, bahkan baru di hari pertamanya dia mulai sendiri.

Perjalanan diteruskan, kali ini ketika saya keluar masjid ada dua persimpangan jalan, ke kiri dan ke kanan. Saya pilih ke kiri, karena saya melihat jalan besar diujungnya. Di depan masjid duduk bercengkerama sepasang suami istri, selebihnya tidak saya lihat orang lain, desa ini begitu sepi. Saya tersenyum pada mereka, dibalas kembali dengan senyuman yang hangat. Sesampai di ujung jalan, tepat didepan jalan besar, saya kembali dibingungkan dengan tiga persimpangan jalan besar tersebut. “Kenapa tiba-tiba jadi banyak persimpangan lagi?”. Sesaat kemudian saya tersadar bahwa saya berjalan kembali ke persimpangan billboard borobudur tempat pilihan 1,5 km ke kiri atau 2 Km ke kanan tadi. Maka kembalilah saya ke titik 0 dari jalur 1,5 Km ke arah Borobudur. Ke tempat dimana hanya ada jalan aspal, rumpun bambu, dan senja yang semakin gelap tadi. Masih ada di pinggir jalan yang sama bapak berkoko putih dan sarung kotak-kotak itu, ia sedang bersama bapak yang tadi menanyakan mengapa saya sendiri saja. “Makasih ya Pak” “Kok, balik lagi?” “Iya, tadi saya pilih jalan yang muter kebawah lagi, Pak” “Memangnya Mas mau kemana?” “Mau ke Borobudur, Pak. Betul jalannya lewat sini, Pak?” “Oh iya betul, lurus saja terus” “Kalo disekitar sini ada peginapan ngga ya, Pak?” “Oh ada, ada, Pondok Tingal itu, sudah dekat sekali. Kalo Borobudurnya masih 1,5 Km lagi” “Oh, iya. Matur nuwun, Pak” kembali saya lanjutkan perjalanan, kali ini dengan langkah sedikit lebih pasti.

Beberapa ratus meter terus berjalan, hingga akhirnya saya melihat pucuk stupa itu. Tak terkatakan bagaimana girangnya saya melihat Sang Candi yang dari tadi saya cari, seketika saya langsung berlari tak peduli jaraknya sebenarnya masih lebih dari satu kilo lagi. Saya kegirangan, dan saat itu pertama kalinya saya senang tanpa tahu harus meluapkan kesenangan itu kepada siapa. Perjanjian pada diri: tidak ada sms keluh kesah atau laporan pandangan mata dan perasaan apapun kepada siapapun di dunia ini, selain diri sendiri. Maka berjalan lagilah saya menuju Sang Candi. Disebelah kanan saya lihat papan nama penginapan “Pondok Tingal”. “Oh jadi ini yang bapak tadi maksud”. Sekilas melihat tampak depannya seperti penginapan bagus, rasanya akan sedikit mahal. Maka saya melanjutkan jalan ke arah candi, siapa tahu ada penginapan lain yang lebih sederhana. Di sepanjang jalan aspal menuju ke arah Borobudur ini awalnya tidak terlalu banyak bangunan, namun semakin mendekati candi semakin banyak bangunan fasilitas pendukung pariwisata, ataupun permukiman setempat seperti restoran, warung makan, minimarket, rental komputer, dan warnet, ya!! warnet!! Mantap, ada Warnet disini, hahaha… Juga ada beberapa losmen yang kelihatan sederhana tapi nampak sangat tidak mengundang untuk masuk (baca: seram) hehe. Ketika saya lihat pintu masuk menuju Borobudur, saya langsung berjalan kearah tersebut, dan mencari-cari jadwal jam berapa candi ini akan buka esok hari. Ternyata baru buka pukul 06.00 dan tutup pukul 17.00. Semantara saat itu waktu sudah menunjukkan pukul 18.00 lebih sehingga yang tersisa di area pelataran hanya para pedagang yang sedang membereskan dagangannya. Saya tidak menemukan tempat untuk bertanya bagaimanakah caranya bisa masuk sebelum matahari terbit, jadi saya memutuskan keluar saja dan mencari penginapan. Langit sudah gelap, sebaiknya segera check in. Keluar dari komplek tiba-tiba tukang ojek menghampiri dan menawarkan jasanya “Ojek Mas, ke Pondok Tingal?” “Mboten Mas”. Entah mengapa sudah tiga orang sejak tadi yang sengaja atau tidak sengaja merekomendasikan Pondok Tingal untuk menginap. Saya sendiri khawatir tempat itu terlalu mahal dan tidak sesuai dengan anggaran, tetapi saya anggap orang-orang yang merekomendasikan saya sepertinya cukup melihat penampilan gembel saya, dan tak mungkin menawarkan hotel yang mahal-mahal amat *kesimpulan ngasal dan kegeeran*. “hantam saja bleh” sebenarnya sih karena saya agak parno dengan wisma spooky lainnya, yang nantinya malah bikin saya ngga bisa tidur semaleman, sendirian pula. “hiiii….” Dengan nekad saya reverse ke arah Pondok Tingal tadi.

Pondok Tingal

Pondok Tingal, Masuk kedalamnya saya menemui bangunan vernakular dengan struktur kayu dan penutup bangunan yang seluruhnya terbuat dari bahan-bahan alami. Suasana lobby temaram dan hangat dengan lampu-lampu tungsten bercahaya kekuningan. Kursi-kursi kayu tertata menghadap sebuah televisi tepat didepan meja receptionist yang kosong. Saya tekan bel dibalik kolom kayu itu, tiba-tiba keluar seorang pria sambil membawa semangkuk makanan. “Maaf Mas, saya sambil makan, ya” “Ya, gak papa Mas. Masih ada kamar, Mas? Saya mau check in” “Oh, masih Mas” katanya sembari mengeluarkan buku daftar kamar. Dari jajaran daftar kamar, dengan cepat saya langsung mencari kamar dengan digit paling sedikit, tanpa buang waktu melihat fasilitas apa yang ada disetiap tipe kamar tersebut. “Yang standar aja, Mas” saya pilih kamar seharga 70.000 rupiah semalam, kamar itu yang paling murah disini. “Yang standar sudah penuh mas, paling yang masih ada yang ini” katanya sembari menunjuk tipe kamar yang saya lupa namanya, seingat saya seperti nama bunga-bungaan, tarifnya 90.000 rupiah semalam. “Ya sudah saya pilih yang itu“, kata saya pasrah. Sudah lelah dan terlalu gelap untuk mencari penginapan lain (sambil berjalan kaki). “tapi besok pagi sudah harus check out mas, karena sudah dibooking dari pagi“. Aneh sekali, dimana-mana check out itu siang, masa harus diusir ama yang check in besok pagi. Tapi karena rombongan itu sudah booking, mau gimana lagi. Take it or leave it. “Ya sudah, gakpapa, Mas” Lagipula besok pagi-pagi benar saya harus sudah ke Borobudur untuk hunting foto. “Mau dilihat dulu kamarnya, Mas” “Nggak usah, langsung aja” “Kalo gitu boleh pinjam kartu identitasnya, Mas. Besok pas check out bisa diambil lagi” Kemudian ia menekan bel yang lain untuk memanggil roomboy, dan ternyata yang keluar adalah seorang ibu paruh baya berperawakan sintal berseragam roomboy. Ia tersenyum manis menawarkan mengantar saya ke kamar. “Ada barang lainnya, Mas?” katanya sembari melihat saya yang hanya bertas selempang kecil dan tas kamera. “Nggak Ada Mba” “Ooh, iya iya” katanya tersenyum mengerti. “Sendiri aja, Mas?” hehehe… pertanyaan sama yang kedua. “Iya, Mba” “Dari mana, Mas?” tanyanya sambil terus mengantar saya melalui kamar-kamar, kamar2 tersebut menghadap ke taman, semuanya telah terisi sepertinya ini kamar standar yang penuh tadi. Kami terus berjalan menuju area belakang, dan sampailah kami di sebuah koridor gelap tempat kamar saya berada, tampaknya tidak ada lagi yang menempati kamar di koridor itu selain saya. Mbak tersebut menyalakan lampu koridor, menjadikan terang deretan kamar-kamar dengan kursi-kursi beserta mejanya di depan tiap kamar. Deretan kamar ini mengarah ke taman dengan pepohonan yang lebat, sedikit spooky, tapi tak apa lah siapa tahu nanti malam ada yang check-in di kamar-kamar sebelah saya ini.

Pintu ia buka, lampu ia nyalakan, terlihatlah sebuah kamar panjang, dengan tiga buah single bed didalamnya. Ya!! betul!!! tiga single bed!! betapa melimpahnya kasur di kamar ini, padahal saya cuma seorang diri. Dinding kamar ditutup gedheg dengan suasana yang temaram, wc-nya bersih dan nyaman, saya langsung ambil air wudhu untuk segera shalat Maghrib. Saat rakaat ketiga pintu diketuk “Mas…” kemudian “Oh, lagi shalat” sepertinya mba yang tadi. Selepas shalat saya buka pintu, ternyata ia masih menunggu diluar membawakan teh manis serta air mineral di atas baki. “Gordinnya belum rapat, Mas” “Oh iya, terima kasih, Mba” kata saya sambil membawa baki masuk, ia pun berlalu dan saya menutup pintu, menguncinya, lalu merapatkan gordin yang masih terbuka sedikit. “Ah… teh manis hangat…nikmatnya.

Penutup Catatan Perjalanan Hari Ini

Belum, catatan perjalanan hari ini belum berakhir. Maaf jika terlalu panjang, karena ini memang proyek dokumentasi perjalanan pribadi. Dengan maksud bisa saya selami lagi dikemudian hari, bahkan di hari tua nanti, bersama anak dan cucu, ditemani sang istri. hehehe….

Selepas shalat Isya, saya berencana makan malam, serta memindahkan foto-foto hari ini ke flashdisc di warnet yang tadi, jadi besok memori card kamera saya bisa “full tank membombardir” Candi Budha Terbesar di Dunia. Jalan menuju warnet dan tempat makan cukup gelap karena tidak ada lampu yang menerangi, kiri dan kanan jalan hanya sawah, sampai akhirnya terang dan ramai di daerah yang sudah dekat dengan gerbang Borobudur. Saya masuk ke satu tenda penjual nasi dan mie goreng, kemudian memesan makanan. Tadinya saya cuma mau makan mie, tapi kemudian tergoda dengan menu aneh tongseng jamur, jadi saya pesan untuk menemani mie dan teh manis hangat yang telah dipesan sebelumnya. Menunggu cukup lama, satu-satunya yang bisa dikerjakan sambil menunggu hanya cek email dari HP, karena tidak boleh sms siapapun tentang keberadaan disini. Isi Email kebanyakan notifikasi dari WordPress, sisanya dari milis beasiswa, dan akhirnya makananpun datang. Sempat difoto dulu baru dimakan, setelah dirasa, aah… rasanya kurang enak, mienya kurang berbumbu dan terasa sedikit gosong. Dan tongseng jamur? rasanya lebih tepat disebut oseng-oseng rebus jamur dengan ayam, karena benar-benar tidak terasa seperti tongseng. Makan malam yang kurang berkesan tapi luar biasa mengenyangkan, Alhamdulillah.

Senang sekali ada warnet disini, paling tidak bisa cek email dan WordPress, sempat buka YM tapi perjanjian dalam hati tidak boleh diingkari. Rasanya ingin segera mengirim foto-foto Taman Sari hari ini pada Widi teman kantor saya yang sedang online malam ini. Tapi akhirnya saya hanya memindahkan foto-foto saja dari kamera ke flashdisc, kemudian offline dan kembali lagi ke kamar. Badan rasanya sudah lelah sekali, tapi mata sulit untuk terpejam, akhirnya saya cek email lagi di HP, dan menerima banyak notifikasi lainnya, kali ini dari Facebook, racun lain di dunia per-internet-an, hehe. Saya terus mencoba untuk tertidur, tetapi, kamar dengan tiga ranjang ini benar-benar sepi, sehingga satu suara kletek dari luar saja sudah membuat saya terjaga lagi. Lumayan ngeri sendirian di satu “bangsal” hotel nan sunyi. Kalau saya keluar kamarpun gak bakal menemukan siapa-siapa. Tapi akhirnya, dengan hembusan angin dari kipas angin, dan selembar selimut yang menutupi hingga kepala, badan yang rontok ini akhirnya terlelap juga. zzZZzz… Berakhir sudah perjalanan mencari Borobudur hari ini, dimulai sudah perjalanan sepi di pertengahan tahun ini. Esok salah satu keajaiban dunia akan kusambangi. Mariiii….🙂

Bersambung