Yogyakarta

Dan Stasiun Lempuyangan menjadi titik awal perjalanan saya di kota tempat Kerajaan Mataram berpusat beberapa abad yang lalu, di kota pelajar dengan 137 universitas itu (penting banget, heu), di kota gudeg dan banyak makanan lezat lainnya, di kota yang pernah jadi ibukota republik tercinta. Ya! Yogyakarta, saya sudah sampai didalamnya. Dan suara medok tukang-tukang becak yang menawarkan jasanya semakin memperjelas imaji suasana spasial saya dalam merasakan kota ini. Mari kita mulai perjalanan, Kawan!

Trans Jogja Busway-nya Jogja

Beberapa ratus meter berjalan dan bus kota yang kami tunggu tak kunjung lewat, kamipun berjalan terus hingga melewati SMUN 3 Yogyakarta, dan bus kota itu juga masih belum terlihat. Yang terlihat justru sebuah halte kecil transparan dengan tiang-tiangnya berwarna merah. “Itu Halte Busway, Jap!” kami berdua bergerak mendekatinya. Dan ternyata benar itu halte busway Trans Jogja. Rasanya cukup menyenangkan mengetahui ada transportasi publik yang nyaman di Jogja.Karena dengan adanya transportasi nyaman dengan rute yang jelas serta petugas yang akan selalu dengan senang hati menjelaskan bis mana yang harus diambil, sangat memudahkan bagi kaum pengunjung seperti saya yang buta arah dan orientasi tempat. Semoga saja proyek ini bisa sukses, karena menurut Mas Petugas saat ini proyeknya masih proyek rugi, alias proyek percobaan.

Perbedaan yang signifikan antara Trans Jakarta dan Trans Jogja yang saya rasakan adalah sistem sirkulasinya. Trans Jakarta jalurnya didominasi dengan jalur bolak-balik, seperti jalur kereta, sehingga kita bisa naik bis arah sebaliknya jika kita melewati stasiun yang seharusnya kita turun disana. Lain dengan Trans Jogja, sistem jalur dibuat melingkar/looping, tidak bolak balik. Sistem tersebut akan menyulitkan jika kita melewati sebuah halte, karena kita terpaksa harus mencari jalur dan bus lain yang melewati halte yang terlewat tersebut. Maka siaga-lah selalu di Trans Jogja karena tidak akan ada suara Mba-Mba “pemberhentian selanjutnya Halte Malioboro, perhatikan barang-barang bawaan anda dan hati-hatilah melangkah“.

Tujuan kami kearah selatan, petugas halte memberikan kami keterangan bus yang dapat dinaiki: “kalau naik 2B cukup sekali, tapi muter, jadi kira kira nyampenya sejam, Mba” waduh… “kalau mau cepat harus lompat-lompat (pindah-pindah), dari sini naik 2A, transit di Bethesda naik 1A, transit di Malioboro naik 3A, turun di (saya lupa nama haltenya) naik 2B, lalu turun di UNY” (Hmm, sebaiknya siapkan kertas dan pulpen bagi yang kurang “hobi” menghapal seperti saya, heu). Singkat kata kami pilih yang cepat tapi “lompat-lompat”, karena malas berputar-putar sejam baru sampai tujuan.

5 menit menunggu, bus 2A datang, kami naik dan merasakan nyaman yang luar biasa duduk di kursi empuk dengan kesegaran pengondisi udara. 11 jam di kahuripan membuat kami sangat bersyukur bisa naik bus nyaman ini. Kami turun di bethesda untuk transit naik bus 1A, ternyata lama baru datang. Begitu juga di Malioboro, kami masih harus menunggu, dan lagi-lagi di halte setelahnya. Dan ternyata, kami baru sampai di halte tujuan satu jam dari halte pertama kita naik tadi.

Transit Sejenak, Nikmati Permainan Electone Sang Kawan

Rumah sang kawan terletak di kampung kota yang nyaman dengan gang-gang kecil nan hidup. Ibu-ibu yang sedang duduk mengobrol dipinggir gang memberikan senyuman manisnya setiap kami lewat. Menyenangkan. Saya mandi lalu pergi ke Pasar Legi dengan kawan saya untuk membeli gudeg. Rasanya enak sekali, gudeg pasar yang satu ini beda dengan gudeg yang biasa saya makan, rasanya mantap lengkap dengan kerecek yang pedas menggiurkan dengan cabe rawit merahnya yang panas. Maknyuss Saudara-Saudara, heu.

Selepas makan kawan saya hendak mandi, namun saya todong ia untuk memainkan electone-nya. Dan bermainlah ia dengan alat musik tekannya tersebut. Mata yang mengantuk dan badan sedikit lelah terasa sangat rileks mendengar dentingan lagu-lagu yang dimainkannya. Ah, tenangnya mendengar denting electone, nikmatnya jika bisa bermain piano.

Keraton Yogyakarta

Pukul 9 kami berangkat menuju Keraton, melewati sebuah benteng Belanda dan Pasar Ngasem. Suasana masih terasa lengang, tidak terlalu padat, kami menikmati perjalanan di trotoar samping pertokoan Pasar Ngasem yang hangat dengan sinar matahari. Penjual burung, rempah-rempah, dan sebagainya menarik walau hanya untuk sekedar dilihat dan dilewati. Menjadi turis memang selalu melihat segala sesuatunya berupa keindahan. Semua di foto… moto teruuus… hehehe. Sampai pada suatu tempat kami memotret sebuah gapura, dibawahnya duduk seorang pengemis. Keahlian motret yang minim membuat saya “metering” agak lama mengatur bukaan dan speed. Tiba-tiba terdengar suara “Bletaaaaak!!!”, suara batu sebasar bata menghempas permukaan jalan di dekat saya keras sekali. Saya melihat bapak tua itu sudah membelalakan matanya melihat saya, spontan saya menunjuk ke ujung gapura sambil menunduk-nunduk berarti kurang lebih “Saya motret itu Pak, bukan Bapak”, *bahasa isyarat orang kaget dan ketakutan*. Tapi ia terus melotot, dan saya beringsut perlahan pergi meninggalkannya dengan perasaan shock. Jika saja lemparannya tepat sasaran.

Dengan mudah perasaan shock itu hilang setelah beberapa langkah menghilang dari bapak-bapak tersebut. Seperti biasa semua hal menjadi indah bagi seorang turis, pedagang kaki lima, pedagang souvenir, pedagang Teh Botol, semuanya tampak seperti atraksi urban pembuat meriah suasana liburan di Yogyakarta. Mooto lagi!! Begitu juga setelah di dalam Keraton foto-foto tanpa henti, Siti Hinggil, Bangsal Kencana, dan lainnya. Tanpa pemandu, karena benar-benar perjalanan low budget. Namun demikian cukup puas, jadi teringat perjalanan ke Keraton Cirebon setahun yang lalu…

Matahari terik dan jalan mulai ramai, jiwa petualang (baca: kere) membuat kami tetap pilih berjalan kaki menuju Taman Sari. Yang artinya harus melewati bapak pelempar batu sebesar bata tadi. “Kayanya kita jalannya nyebrang dulu aja, Pe”. Dan kamipun (saya aja sih sebenernya) berjalan di trotoar seberang sembari memalingkan muka berpura-pura bersiul agar tidak terlihat olehnya, sungguh tindakan yang aneh. heu. Kami melewati lagi Pasar Ngasem, dan tertegun melihat burung-burung didalam sangkar yang dijual, sebentar berhenti untuk motret-motret lagi. Gak papa toh? Tuuurisss!!! hahaha…

Istana Air Taman Sari

Dan dari ujung gang Pasar Ngasem saya sudah dapat melihat ujung bangunan sisa-sisa Taman Sari itu. Semakin mendekat, semakin tenggelam bangunan itu dibalik perumahan, dan baru terlihat kembali saat saya sudah berada di depannya. Bangunan pertama yang saya lihat adalah salah satu sisa-sisa bangunan kompleks Taman Sari, Gedhong Kenongo, yang merupakan bangunan terbesar di kompleks Taman sari bagian satu (menurut Wikipedia Taman Sari terbagi jadi empat, untuk jelasnya baca disini). Jadi Gedhong Kenongo ini tadinya terletak di Pulo Kenongo, sebuah pulau buatan yang terletak di tengah Segara. Segara sendiri merupakan danau buatan yang sangat besar dan dahulunya merupakan tempat paling indah dan eksotis di komplek ini. Bayangkan dahulu Sultan bisa bersampan di atas danau besar buatan yang sekarang telah menjadi permukiman penduduk. Dahulu Gedhong Kenongo tampak seperti bangunan besar yang terapung di atas Segara, “indahnyaaa”. Selain dengan bersampan, untuk menuju Pulo Kenanga bisa juga melalui terowongan bawah air yang terletak di selatannya. Sejajar dengan terowongan tersebut terdapat beberapa bangunan berjajar rapih (Tajug) yang merupakan ventilasi udara dan cahaya bagi terowongan tersebut. Luar biasa! Jadi terowongan yang saya lewatin itu dulunya dibawah air?! WaaauW! “Pe!! berati kamu megal-megol di bawah air, Pe!!” “kalo dimasa lalu tapi” heuheu…

Melewati terowongan tersebut, muncul-muncul kami sudah di ujung selatan, meninggalkan si Gedhong Kenanga di utara, “coba masih ada aernya… bisa kesini pake sampan kali ya? hehehe.” Selanjutnya kami bergerak ke arah jalan setapak membawa kami (gak tau harus kemana maksudnya, heu). Dan ternyata jalan tersebut membawa kami ke Umbul Pasiraman atau Umbul Binangun yang merupakan kolam pemandian bagi sultan, para istri dan putri-putrinya. Bangunan inilah sisa dari seluruh bangunan yang masih terjaga dengan baik, dan jadi bagian yang paling sering dikunjungi wisatawan. “Di atas menara tersebut itu tempat Raja melihat para permaisuri mandi di kolam ini” jelas seorang pemandu, dan tiba-tiba seorang anak berkata: “Kalo gitu, Rajanya ngiiintip dong, Ma? Kan gak boleh ya ngintip? ya Ma?” “Tapi kan itu selirnya, istrinya de’, jadi ngga papa” huaduh, silakan persiapkan jawaban yang tepat bagi para ibu yang mau mengajak anaknya🙂

Akhir Catatan yang Ke-2

Hari ini hari Jumat jadi saya shalat dahulu di Masjid Sokotunggal sebelah barat Umbul Binangun. Tidur yang kurang efektif di lantai kereta, serta perjalanan hari ini yang benar-benar “jalan” membuat suara khatib seperti lagu Nina Bobo bagi saya yang akhirnya tertidur lalu terjaga, lalu tidur lagi, hehehe… parah. “Maaf Pak…”. Selesai shalat janji bertemu dengan Nope di Alun-alun, artinya saya harus melewati rute yang tadi untuk ke tiga kalinya, Pasar Ngasem, tukang burung dan bapak-bapak pelempar batu. Lagi-lagi jalan kaki. “Dasar turis pelit!!!” “eeu, maaf… tolong bedakan antara kata pelit dan kere, terimakasi”🙂 Bertemu nope di alun-alun dan lanjut makan siang. “kalo di Malioboro harganya suka mahal Japs, jadi mending fastfood aja” Jadi jalanlah kami menuju Mal Malioboro, perjalanan di arkade Malioboro dengan deretan batik dan barang dagangan lainnya memang selalu menyenangkan. Cuma ada di Jogja! Tujuan utama kami adalah KFC. hahaha… konon katanya membeli barang yang ada di tempat lain di tempat kita berwisata adalah pemborosan, ah tapi gak papa… peduli amat. Anggep aja KFC-khas-Jogja *ngeles*. Di Malioboro Mal: Sesaat mau naik escalator, jiwa pecinta mie saya tertegun melihat tulisan Mie Menteng. Oke, kami gak akan makan KFC, tapi Mie Menteng Khas Jogja, hahaha.

Di dalam Trans Jogja jalur 2B: saatnya berpisah dengan kawan sekaligus pemandu wisata gratis saya di Jogja. Saatnya berkata “Borobudur! Aku dataaaang!!!”. Selamat datang kesendirian, selamat bermain wahai kesepian, waktunya tuk diskusi dalam hati. Sendiri.

Next on Japsword: Lonely Backpaking to Borobudur.

Bersambung