Malam ini tadinya berminat blogwalking sebentar sebelum menulis lanjutan “Yogyakarta, Sebuah Catatan Perjalanan”. Ternyata saya malah nyangkut di salah satu blog yang menulis artikel tentang Mekah sebagai pusat bumi. Tulisan yang menurut saya menarik yang mengatakan Mekah sebagai pusat bumi, menurut penelitian dan data-data saintifik para ulama dan ilmuwan muslim. Bukan Greenwich dengan GMT(Greenwich Mean Time)-nya. Dituliskan pula disana seorang pakar geologi menemukan bahwa Mekah berada di titik lintang yang tegak lurus dengan titik magnet di kutub utara, jadi tidak persis seperti garis lintang lainnya. Bukti-bukti saintifik lain yang menguatkan silakan dibaca di blog yang saya “link” diatas.

Saya tertambat pada komentar-komentar terhadap artikel tersebut, dimana setiap pertanyaan dari blogwalker yang lewat senantiasa dijawab sebaik mungkin oleh penulis, dengan segenap ilmu yang diketahuinya beserta sumber-sumber yang digunakannya. Saya sangat salut dan berterimakasih kepada penulis blog tersebut (Mas Haniifa) yang berkenan membagi pengetahuannya kepada dunia. Saya cukup termangu dibuatnya, semakin membaca semakin merasa diri ini begitu banyak ketidaktahuannya, semakin membaca semakin diri ini merasa bodoh dan harus belajar lebih banyak lagi tentang hidup, dunia dan fenomena lingkungan di sekitar saya.

Dan ternyata ketermanguan itu belum mencapai puncaknya, karena saat saya terus membaca komentar-komentar pembaca hingga kebawah ternyata terdapat komentar yang berpendapat berlawanan dengan penulis. Ia menuliskan kesangsiannya akan kebenaran saintifik Mekah sebagai pusat bumi. Tidak sekedar mendebat, tidak setuju, lalu pergi, ia justru menjelaskan bantahannya dengan perhitungan dan data-data yang saintifik pula. Saya sangat menghargai juga kagum akan usahanya menjelaskan pemikiran dan pendapatnya. Maka terjadilah persilangan pendapat, persilangan perhitungan matematis, persilangan pernyataan akan kebenaran secara geologis, geografis, dan lainnya mengenai posisi Mekah tersebut. Yang semakin saya membacanya, semakin saya ingin mengetahuinya, namun otak yang kecil ini masih belum sanggup menjangkaunya, betapa kerdil diri ini menciut melihat begitu banyak persamaan dan perhitungan matematis yang semakin abstrak itu. Namun begitu banyak wawasan yang didapat melalui satu artikel tersebut. Saya merasa beruntung bisa menemukannya karena sekali klik saya bisa mendapatkan wawasan baru dalam bidang matematika, fisika, geologi, geografi, dan tak ketinggalan teologi. Syukur Alhamdulillah bisa diingatkan dan dipecut untuk selalu belajar lagi dan lagi berkat pengalaman blogwalking di satu malam.

Ternyata merasa bodoh merupakan satu kenikmatan yang membuat kita bersemangat mengejar ketertinggalan, dibandingkan ketenangan semu merasa pintar yang hanya mampu mengeraskan hati yang sombong. Terima Kasih yang tertulus untuk Mas Haniifan. Dan setiap orang yang dengan ikhlas menyumbangkan ilmu pengetahuannya demi kebaikan di muka bumi ini (halah, bahasanya, Jap!). Kalian semua pahlawan tanpa tanda jasa juga🙂. Salam tulus juga buat semua guru… Hormat Saya Untukmu… Saya akan berusaha rajin belajar dan tidak sering2 main playstation lagi, biar tidak bodoh seperti ini lagi…

amien😀

-japs-