Alarm HP saya berbunyi, seketika itu juga saya terbangun, mendapati diri masih terbungkus selimut katun putih itu dan suara kipas angin yang menderu. Saya lihat HP, masih pukul 04:30, dan langsung melompat menuju kamar mandi, mandi, lalu wudhu. Selepas shubuh saya bersiap memasukkan semua barang-barang ke dalam tas. Bersiap-siap check-out untuk kemudian beranjak menuju Borobudur, salah satu tujuan utama di hari ini. Sementara itu diluar langit masih gelap, pohon-pohon besar didepan kamar masih berwarna hitam membentuk siluetnya terhadap sang fajar. Saya keluar, mengunci pintu kamar, dan berjalan melalui koridor kamar-kamar yang masih sepi menuju lobby.


Check-out di pagi buta, di meja receptionist pun tak ditemukan seorangpun pegawai. Namun akhirnya ada seorang penjaga yang membantu saya menyelesaikan urusan administratif ini. Saya lalu pergi sebelum mendapat sarapan penginapan di pagi hari… Semua demi bisa memotret Candi Borobudur di pagi hari tanpa kepala-kepala turis yang mengganggu frame.πŸ˜›

Kembali saya melalui jalan mobil yang sepi itu, kali ini di pagi hari. Ujung candi kembali terlihat di depan langit yang mulai terang. Seketika saya melihat kilatan cahaya berkali-kali menembak dipuncak candi tersebut. “Itu pasti Blitz kamera” “Berarti sudah ada yang masuk dan mulai motret disana” Segera saya berlarikarena tidak mau ketinggalan momen sang-candi-di-pagi-hari yang mulai dicuri oleh para fotografer diatas sana. Sembari repot memegang tas kamera dan satu lagi tas selempang, saya sprint ke arah gerbang Borobudur. Namun baru sampai 3/4 jalan nafas sudah terengah-engah dan kecepatanpun berkurang sampai akhirnya kembali berjalan kelelahan. Sesampainya di depan loket saya dapati tak satupun loket sudah buka. “Lalu darimana orang-orang itu bisa masuk?” “Ah, pasti itu paket wisata travel tertentu” Saya hanya bisa sabar menanti loket buka dibalik jeruji pagar menuju area candi. Saya lihat seorang penjaga berada di dalam. “Permisi, Pak. Bukanya jam berapa ya?” “Jam enam mas, sebentar lagi, tunggu saja” “Kalo yang sudah masuk itu darimana ya, Pak masuknya?” “Oh, itu dari pintu sana, Mas. Bayarnya lebih mahal, seratus ribu lebih” “Oh, jadi masuknya dari sebelah sana ya, Pak” Saya tidak menyesal, karena membayar seratus ribu untuk masuk borobudur saat ini luar biasa pemborosannya, tiket biasa hanya 9000 rupiah!. Lain kali saja kalau mau masuk dan motret Borobudur lebih pagi, saat tabungan perjalanan lebih bersahabat dari saat iniπŸ™‚.

05:30 : Di depan loket hanya saya sendiri yang menunggu Loket segera buka, masih tenang

05:40 : Mulai datang beberapa anak kecil “menemani saya” duduk di depan pintu masuk, saya berdiri

05:45 : Saya lihat gerombolan anak sekolah (tampaknya sedang study tour) berjalan beramai-ramai menuju ke tempat saya. Luar biasa banyaknya, sepertinya 3 bus sudah (atau lebih?) yang telah membawa para turis lokal abege ini kesini. Membuat saya panik karena harapan memotret stupa dan budha dalam ketenangannya tanpa kepala-kepala turis hancur berantakan.

Obrolan, tawa canda, teriakan, dan bahkan sedikit saja gerakan para remaja itu mendekati loket membuat saya merasa semakin terancam (haha). Maka dengan perlahan, dan posisi palang-penghalang. Saya berusahamenempati posisi orang pertama yang akan beli tiket untuk langsung berlari sebelum “gerombolan2 si berat” ini naik ke atas. Loket buka, saya maju, membuka dompet, meraih tiket, menuju pintu masuk, melewati gerombolan tersebut, tiket dirobek, dan … Ya! Saya masuk sebagai orang pertama! Kembali berlari, kali ini seperti maling dikejar massa. Massanya banyak sekali, ada yang membawa gitar, ada yang berkacamata hitam, ada yang bersyal belang-belang, yang jelas semua merasa-paling-gaya-sedunia. Ahhh… apapun itu, ancaman bagi saya.

Borobudur semakin dekat, tangga pertama menuju pelataran saya lalui berjalan cepat sambil memotret candi sekenanya. Target saya adalah memotret di puncak sesegera mungkin, mengabadikan keseluruhan candi dari bawah saya taruh di jadwal terakhir, “nanti saja sekalian turun”. Mendaki anak-anak tangga yang curam dengan berlari membuat saya dengan cepat sudah berada di teras melingkar teratas Candi Borobudur. Dan benar, diatas sana sudah ada banyak turis asing. Cuaca tidak terlalu bagus untuk motret, langit mendung, berawan, membuat warna gambar kurang “keluar” karena minimnya cahaya. Walau demikian saya terus memotret, objek favorit tentu saja patung Budha, baik di teras melingkar kedua, maupun teras melingkar ke tiga. Karena banyak juga yang memotretnya terpaksa harus bergantian mengambil gambarnya. Belum lagi kesulitan mengambil gambar yang “bersih” dari badan dan kepala orang yang lewat. Kadang komposisi harus dikorbankan untuk menutupi hal tersebut. Hari ini hari belajar lagi fotografi, setelah sekian lama tak pernah hunting. Sekian lama tak bermain rana dan kecepatan, komposisi dan cahaya, hari ini permainan itu saya mulai lagi sendiri dengan mengasyikkan. Waktupun jadi terasa berjalan begitu cepat.

Cukup lama waktu saya habiskan di teras melingkar, tidak terasa sudah jam sembilan dan saya masih terus berputar-putar mencari objek menarik untuk difoto, mulai dari tiada sinar matahari langsung hingga akhirnya muncul sedikit di balik awan, yang segera saya manfaatkan untuk memotret siluet. Lagi-lagi Sang Budha yang terus menerus saya bidik, karisma-nya membuat saya memotretnya lagi dan lagi. Ketenangan yang terapresiasi dengan baik oleh pematung. Mahakarya seni yang agung.

Semua bisa dibilang datang berkelompok, rasanya hanya saya sendiri yang sibuk motret tanpa seorang kawan. Gerombolan turis Jepang dengan guidenya yang fasih berbahasa Jepang dengan logat jawa, Keluarga turis dari Belanda bersama anaknya yang takut ketinggian yang saya lihat kemarin di situs Taman Sari, atau gerombolan si berat 3bus tadi yang saya lihat di bawah, yang semakin merajalela diatas sini, semua silih berganti, naik dan turun, sementara saya masih tetap disana, sendiri mengabadikan mantan salah satu keajaiban dunia ini. Sendiri, awalnya saya merasa biasa saja, saya menikmati setiap momennya tanpa ada satupun yang mengganggu. Menikmati menjadi bisu karena tak ada seorangpun yang bisa diajak bicara, lebih banyak mendengar, melihat, dan merasakan. Juga berpikir. Berpikir saya berada di salah satu lokasi paling banyak dikunjungi dan saya seorang diri, berpikir apa yang sebenarnya saya cari dalam hidup ini? Semakin lama pikiran itu akan semakin melebur dalam perasaan yang sulit untuk dijelaskan. Dan saat ini adalah awal dari peleburan berikutnya yang semakin kental.

Saya terus menuruni dan mengitari setiap tingkat undakan dari candi ini, tak saya lewatkan setiap hal yang saya anggap menarik untuk segera disimpan dalam memory kamera. Menuruni tangga yang tadi, saat ini kearah bawah dapat saya lihat barisan ribuan manusia bergerak dari bawah menuju keatas. Semakin lama semakin banyak saja yang datang. Sementara matahari semakin terik, keringat mulai bercucuran, air mineral sudah habis, perut lapar karena belum sarapan, dan baru sadar kalau kaki pegal setelah terus berputar di candi dari jam 6 hingga “Ya ampun, udah jam 11, aja”. Waktunya keluar dari sini, cari makan, karena lapar, beli minum karena dehidrasi, dan sesegera mungkin bertolak ke Prambanan.

Nikmatnya jadi turis, walau sendiri semua tetap terasa sangat indah, begitu juga saat saya keluar gerbang Borobudur yang langsung disambut barisan pengamen dengan perkusi-perkusinya yang rancak. Mereka membawakan lagu baru band Wali berjudul “Dik” menjadi sangat dinamis dan manis. Lagu mellow pelan itu menjadi ceria dan upbeat. Ah, sebut saja saya sedang bahagia dengan suasana liburan ini. Tapi jujur suasana ramai lokasi wisata dengan backsound perkusi dan paduan suara pengamen yang ramai memang mantap benar. Lagu itu mengiringi saya keluar tempat yang saya cari-cari dari kemarin dengan senyum senang dan lebar.

Lamat-lamat paduan suara perkusi dan vokal pengamen yang manis tersebut terdengar semakin menjauh :
Ku akan manjagamu, di bangun dan tidurmu
Di semua mimpi dan nyatamu
Ku akan menjagamu, tuk hidup dan matiku
Tak ingin, tak ingin kau rapuh

Rasa ini bercampur saat saya keluar dari borobudur : senang, puas, sepi, nyaman, lelah, antusias, lapar, haus, kapanasan, sedikit cemas, tapi yang jelas sangat sangat bahagia….πŸ˜€

Mungkin ini agak kurang masuk akal, tetapi saat haus dan kepanasan seperti ini saya sangat rindu membeli Pocari Sweat dingin di Indomaret. Membayangkan penyejuk udara yang dingin serta kaleng minuman yang begitu dipegang, yakin dan mantap seratus persen bahwa kesegaran luar biasa akan direguk kerongkongan yang kering ini. Namun jalan beberapa ratus meter bolak-balik saya tak menemui Indomaret yang kemarin sore saya lihat plang-nya. Sempat mengira sebuah toko adalah indomaret, ternyata bukan, baru sadar karena tidak merasakan penyejuk udara didalamnya, dan begitu membeli minuman, ternyata tidak dingin karena kulkas-nya rusak. “Itulah mengapa saya keukeuh mencari indomaret dari tadi”. Saya lalu menyebrang memasuki warnet yang kemarin. “Koneksinya lagi putus, Mas” kata penjaga warnet pada saya “Saya cuma mau copy data, boleh ikut mas?” “Oh silakan”. Saya lalu mengcopy foto-foto di Borobudur tadi agar bisa memotret Prambanan tanpa khawatir memory sudah habis nanti. “Berapa jadinya Mas?” “Sudah, gak usah, Mas” “Oh, makasih, Mas”. Baik sekali.

“Lapaaar… makan apa ya?” Ada restoran Padang, tapi begitu lewat depannya saya terus berjalan, tak berminat untuk masuk. “Ah, ada warung gudeg” saya makan disana: Gudeg, Kerecek, dan Telor Pindang, ditemani Es Teh Manis, yang benar-benar dingin. Mantap!!! cuma 7000 rupiah sajaπŸ™‚

Kali ini saya mau cari ojek, selain karena sudah lelah dan hari sangat panas, saya mau tahu jalan lain ke sini dari terminal kemarin. Maka saya mencari ojek di gerbang masuk Borobudur. “Kemana Mas?” “Ke terminal, Mas” dan meluncurlah saya ke arah lain (bukan ke arah jalan yang saya lalui menuju kesini kemarin). Di kiri saya lihat Indomaret, setelah itu alfamart (waw). Tidak berapa lama, saya langsung mengenali tempat ini, dan ojek langsung menepi. “Ini Terminal”. Jadi lewat jalan ini jarak Borobudur dengan terminal cuma sekitar 300 meter!!! Sementara kemarin saya berputar arah menuju jalan 1,5km karena jawaban mba-mba warung atas pertanyaan saya: “Mba, kalo mau ke Borobudur dari sini kemana ya” tapi dijawab “Biasanya naik andong mas, tapi sekarang udah sore, udah gak ada“. Apanya yang naik andong? orang udah sedeket ini kok? kenapa gak bilang aja: “kesana Mas, udah deket”. Mencoba positive thinking, dia gak tau jalan ke Borobudur. “Alamak. Parah betul kalo emang begitu”. Yang jelas jawaban dia membuat saya berputar berjalan 3,5 km untuk menemukan Borobudur, padahal sebenarnya sudah 300m lagi dari terminal. Huahahaha. Bersyukur karena dia perjalanan menemukan Borobudur jadi sedikit lebih seru, karena kalau langsung nemu “Catatan Perjalanan : Mencari Borobudur” yang di-post sebelumnya gak akan bisa seseru itu (kaya yang seru aja, hahaha… seru, buat saya).

Bagaimanapun, sekarang waktunya kembali ke Jogja untuk meluncur ke Prambanan. Saya melompat masuk ke dalam bus Borobudur-Jogja. Duduk di samping pintu, dan tertidur karena kali ini tak perlu lagi menghapalkan jalan yang saya lewati, peta buta saya sudah menghubungkan Jogja dan Borobudur kemarin. Sekarang saya bisa tertidur dengan tenang di bis, membayangkan berada di Prambanan pada saat matahari terbenam di sore ini.

Bersambung