Minggu lalu (dijalan pulang dari toko lampion)

“Halo” “ya…” “Bisa bicara dengan Pak Nana?” “Ini dari siapa” “Saya mau beli lampion Bu, tapi kok tokonya tutup ya?” “Disana nggak ada yang lagi cuci motor?” kok malah nanya cuci motor ya? “Nggak ada, Bu. Kira-kira bukanya kapan ya?” “Mas mau kesitu sekarang?” “Nanti saya kesana lagi agak siang mungkin” “Jam berapa?” “Jam satu kira-kira, Bu” “Oh, iya iya” “Sekalian mau tanya, Bu. Ada yang lampu meja ngga lampionnya” “Ngga ada, cuma ada yang digantung aja” “Oh, ya udah kalo gitu”

Siang ini (tadi di depan toko lampion)

“Halo” “ya…” “Dengan Pak Nana” “iya” “Saya mau beli lampion, Pak. Tapi kok tokonya tutup ya” “Oh, nggak ada yang jaga ya disana?” “Nggak ada, Pak? kira-kira bukanya jam berapa ya?” “Biasanya sudah buka” “Soalnya dari kemarin saya kesini tutup terus, Pak” “Oh, kalau nanti sore ada yang jual martabak, bisa langsung ke dia aja” “Nanti sore ya, Pak? Jam 4 sudah buka, Pak?” “Sudah, kalo begitu nanti jam 4 saya kesana” “Baik, Pak… terima kasih”

Sore ini ( tadi di depan toko lampion)

“Yang jaga tokonya gak ada, Mas?” “Oh, mas yang mesen lampion ya? ” “Iya, saya mau beli”. Mas penjaga toko pulsa itu sebelah saya lihat langsung menelpon pemilik toko lampion bahwa ada yang hendak membeli. Saya duduk di bangku keramik depan toko pinggir jalan tersebut, mengeluarkan kotak berisi lampu duduk sebagai penyangga kap lampion bulat yang hendak saya beli. kemudian mengeluarkan kertas kado, gunting, double tape, dan selotip, lalu berprakaryalah saya dipinggir jalan layaknya atraksi keterampilan umum bagi setiap orang yang lewat. Tak berapa lama sebuah motor berhenti didepan saya, pengendaranya menoleh dan seketika tersenyum seperti mengenali yang jika diterjemahkan mungkin: “Mas yang tadi nelpon mau beli lampion ya, mari…”

Terbeli lampion bulat kecil sebagai kap lampu duduk yang saya beli kemarin untuk langit. Melanjutkan menyelesaikan membungkus kado, Pak Nana duduk disebelah dan mengajak mengobrol saya yang terus mengernyit karena bungkusan kado yang gak rapih-rapih. “Sudah lama Pak bikin lampion?” “Sudah sepuluh tahun” “Wah lama juga ya? biasanya pada pesan dulu ya, Pak” “Iya, kalau buat acara biasanya pesan dulu. Kalau di tipi-tipi pake lampion itu saya yang bikin”. Bungkusan saya buka lagi, kurang rapi, dilipat ulang tapi malah jadi tambah berantakan, grrr, sementara bapak itu terus memperhatikan saya yang berulang kali lipat lepas, lipat lepas, lipat lepas, sampe bingung kenapa ini lipetan kaga rapih-rapih ya? malu ama si bapak. Ah, akhirnya selesai juga. “Pak, makasih ya lain kali saya butuh lampion pasti kesini lagi” “Iya, kalo pagi-pagi kesini cari aja tukang cuci motor, kalo malem-malem cari tukang martabak” katanya, “Baik, Pak. Hatur nuhun, mangga” Saya lalu berjalan turun meninggalkannya.

Malam Ini (tadi)

“Kayanya aku harus pasangin lampionnya deh, soalnya kalo gak dipasangin, kap lampu duduk yang berfungsi cuma sebagai penyangga tapi motif kap-nya love-love itu bakalan ‘ganggu’ banget”

Dan sebuah lampu duduk berbentuk bola lampion kecil itu bersinar temaram dengan hangatnya menyinari kami berdua di malam ini. Selamat Ulang Tahun, Langitku.

salam

-ja-