Kurang lebih tiga setengah jam waktu yang saya butuhkan untuk berpindah dari Candi Budha, Borobudur ke Candi Hindu, Prambanan. Perjalanan ini menggunakan satu buah bus antar kota, tiga bus Transjogja, dan sekian banyak langkah kaki. Juga sekaleng Pocari Sweat dingin yang dibeli di Alfamart depan terminal Jombor, Yogyakarta (Akhirnya…). Perjalanan yang patut dicoba bagi para wisatawan pecinta bus kota๐Ÿ™‚

Beberapa menit sebelum Ashar saya sudah sampai di areal Prambanan yang telah ramai dengan ribuan turis. Toko-toko oleh-oleh saya lewati sebelum mencapai loket. Tentu saja tanpa menoleh sedikitpun karena tidak ada anggaran untuk yang namanya oleh-oleh, kenang-kenangan, atau semacamnya. Setelah melalui petugas pemeriksa karcis saya berjalan menuju pusat informasi, menanyakan informasi mengenai Sendratari Ramayana. “Permisi,Mas, Mba. Saya mau tanya jadwal Sendratari Ramayana” “Oh silakan lihat di brosur, Mas” Saya lihat deretan tanggal pada jadwal panggung terbuka di bulan Juli. Disana tercetak angka 28 (menandakan hari ini) dan warna oranye dibelakang angkanya (menandakan cerita penuh). Jadi malam ini di panggung terbuka Prambanan akan dipertunjukkan Sendratari Ramayana dengan cerita penuh yang dipersembahkan oleh 200 penari. Waaw! Sudah lama sekali saya ingin menonton sendratari ini, dan sebenarnya hal ini tidak masuk dalam rencana perjalanan, karena seharusnya malam ini saya sudah naik kereta kembali ke Bandung, hanya saja tiket habis sampai lima hari ke depan. Jadi saya memutuskan menginap sehari lagi di Jogja sebelum pulang ke Bandung esok sore dengan bus malam.

Tanpa pikir panjang saya memesan satu tiket untuk malam ini. “Masnya sudah ke Candi?” “Belum Mas” “Kalau begitu Mas ke Candi saja dulu, nanti kesini lagi. Masnya titip uang saja dulu, biar saya cek dulu apa masih ada bangku kosong, kalau masih ada langsung saya belikan, soalnya memang harus cepat sebelum keduluan” Saya memberikan selembar uang dari beberapa lembar yang tersisa di dompet, otak langsung menghitung biaya penginapan malam ini, uang makan dan transportasi sampai besok, juga tiket bus ke Bandung. “Oh, masih cukup. Ngepas lebih tepatnya” Nekad, tapi sesuatu yang beresiko kadang lebih menarik ketimbang cari aman dan akhirnya pulang gak dapet pengalaman apa-apa *pembenaran si boros*.

Candi Prambanan berdiri dengan anggunnya, hanya saja masih “cedera” akibat gempa tahun 2006 lalu. Beberapa bangunannya masih disangga stager sehingga hanya beberapa candi saja yang boleh dimasuki oleh pengunjung. Tujuan utama saya memang belajar motret (terlalu keren kalo bilang hunting foto), maka sedari awal kerjaan saya disitu ya cuma motret. Walaupun banyak yang gagal, namanya juga belajar ya/ *pembelaan kedua*. Matahari sudah semakin condong ke barat, waktu menunjukkan pukul 1/2 empat, tak satupun bangunan yang luput dari bidikan kamera, Candi Brahma, Shiva, Vishnu lambang trimurti, juga Candi Nandi dan candi-candi kecil lainnya (fotonya masih belum disortir *malas mode on*, jadi mudah-mudahan setelah jurnalnya beres baru di post). Menikmati candi sendiri, merekamnya dalam memory card kamera, sampe nungging, tengkurep, jungkir balik, kayang, tiger sprong, juga foto narsis pake timer rasanya menyenangkan sekali. Satu pengalaman yang baru pertama kali saya rasakan. Namun demikian, rasa aneh sendiri di keramaian datang lagi, kesepian tidak dapat disanggah kenyataannya. Kehampaan mungkin satu kata yang dapat menjelaskan perasaan aneh tersebut. Kenyataan bahwa malam ini saya akan menonton pertunjukkan yang paling ingin saya saksikan selama ini memang amat meluapkan ketidaksabaran saya agar malam cepat tiba. Namun kesadaran bahwa saya akan menyaksikannya seorang diri menimbulkan perasaan aneh tadi, rasanya semakin tepat kalau saya sebut itu kehampaan.

Izinkan saya menuliskan sesuatu diluar topik: Mengapa kesendirian menjadi hal yang segitu pentingnya saya ciptakan dalam perjalanan ini, sebenarnya saya sendiri kurang paham dengan keinginan dan tujuan saya melarikan diri dari semuanya. Hanya saja saya selalu ingat dulu saya pernah bermimpi dalam tidur saya, mimpi itu mengatakan “Satu waktu nanti dalam suatu periode hidupmu kamu akan merasakan yang namanya kesendirian, kesendirian tanpa ada satu orang pun yang menemani”. Ketika saya terjaga saya tetap mengingatnya dan pikiran tersebut terus merasuk dan membayangi. Semakin lama sedikit demi sedikit saya mulai memercayainya, karena beberapa saat kemudian saya mulai kehilangan satu per satu orang yang paling saya cintai di dunia ini. Yang paling saya cintai melebihi semua orang di dunia ini. Yang sebenar-benarnya merupakan tempat saya bersandar saat saya lelah… (ah, saya tidak sanggup melanjutkannya). Seelah itu mimpi tersebut layaknya ramalan yang mulai terbukti kebenarannya. Seorang teman pernah menasihati “Jap, pada dasarnya kamu (orangnya) ngga bisa sendiri. Jadi cepet lulus, cari kerja, trus langsung nikah”. *tertohok* Walaupun saya amat sangat berat mengakuinya, tapi harus saya katakan yang ia bilang benar. Saya pada dasarnya memang ngga bisa sendiri. Nah, karena dua hal bertentangan tersebutlah saya orangnya sering aneh-aneh, sering tiba-tiba pengen sendiri, sering tiba-tiba kesepian di keramaian, sering tiba-tiba ngerasa “sendiri” di dunia ini, terus bengong, ngerasa hampa sampe gak tau mau ngapain. Sebut saja saya memang orang yang aneh. Jadi anggap saja perjalanan mencari sepi ini salah satu latihan saya kalo suatu waktu hal itu benar-benar terjadi dan saya benar-benar sendiri. Tapi saat ini rasanya saya sudah tidak takut lagi, karena sebenarnya saya tidak akan pernah sendiri. Saya punya Tuhan, saya juga masih punya keluarga dan sahabat-sahabat.๐Ÿ™‚

Kembali ke Prambanan, matahari semakin condong ke barat, rencananya saya mau motret siluet prambanan waktu matahari terbenam, tapi tiba-tiba display kamera memunculkan teks “change the battery pack” , aaah, sial banget. Padahal tujuan utamanya kesini kan buat matahari terbenam. So i looked for place to recharge my battery. “Oh, di pusat informasi aja, sekalian ambil tiket buat ntar malem”. Tiket berhasil didapatkan, dan baterai akhirnya menemukan sumber listrik untuk mengisi kembali dayanya. Sementara itu saya harus menunggu sampai baterai penuh sebelum kembali ke candi motret siluet prambanan di lembayung senja.

Sambil menunggu saya berjalan kearah taman dimana saya bisa melihat candi prambanan secara keseluruhan dari jarak yang cukup jauh. Saya duduk dibawah sebuah pohon, bersandar melepas lelah, kemudian mengeluarkan notebook dan pulpen dari dalam kertas. Lalu terciptalah prosa picisan ini:

Senja ini, saat mentari tenggelam di balik Prambanan,
diri terduduk sepi, tersinari hangat mentari
terlindungi rindangnya tajuk pohon
terlewati puluhan orang asing yang tak dikenal
berjalan menuju megahnya prambanan

Pun kemegahan itu tersuguh didepan mata
pun segala keindahan dunia itu layaknya tersaji hanya untuk diri
nyatanya tak mampu membuat hati bahagia
nyatanya hanya mampu mencipta hampa
saat tak satupun nama dapat disebut ketika diri memuji keindahan ini
saat tak satupun dapat berbagi ketika diri terkagum kemegahan prambanan
kemegahan ini semuanya, tak seindah saat diri punya seseorang untuk berbagi.

Keajaiban dunia-pun nyatanya tak mampu mengalahkan keajaiban anugerah memiliki saudara, sahabat, atau siapapun yang dapat dengan nyaman kau sebut namanya saat kau mau.

-japra-

saat kesendirian itu begitu menyelimuti

Cukup untuk drama mehek-meheknya, saya kembali lagi ke pusat informasi untuk mengambil baterai lalu berlari kearah candi untuk memotret siluet prambanan. Matahari berwarna jingga sudah hampir tenggelam dimakan cakrawala, susunan batu-batu itu membentuk siluet yang semakin memperjelas geometrinya yang menguncup keatas lambang transedensi kepada Sang Pencipta. Beberapa gambarpun sempat terabadikan. Maka, misi Prambanan saat matahari terbenam terpenuhi, yeah!dan tiba-tiba seorang ibu-ibu memanggil saya: “Mas-mas… Foto keliling bukan?” “…” “Bukan Bu, maaf” Andai saja kamera saya polaroid, tentu saya akan bilang “Iya Bu, gratis deh kalo buat Ibu mah”

Azan Maghrib berkumandang saat saya berjalan keluar area candi, langit membiru, suasana ramai tadi sekejap menjadi sepi dan gelap. Saya terus berjalan menuju masjid, shalat, lalu keluar kawasan Prambanan dan menemukan tulisan “WC Umum, Kamar Mandi”, “wah kebetulan banget, badan rasanya dah lengket dan bakalan gak nyaman banget kalo gerah gini nonton sendratarinya. Maka masuklah saya kedalam wc umum itu melalui pintu yang mirip seperti pintu garasi, begitu masuk langsung terlihat innercourt dengan jejeran kamar mandi di pinggirnya, tiba-tiba muncul seorang bapak “Permisi, Pak, mau ikut mandi” “Oh iya silakan, kok sendirian aja, Mas?” mungkin biasanya yang mandi disini rame-rame gak ada yang sendiri “Iya, Pak” Jawab saya yang tidak menjawab pertanyaanya, lalu menghilang ke dalam kamar mandi.

Badan segar, tapi perut lapar. Saya masuk ke tenda angkringan, saya lihat seorang ibu penjualnya sedang duduk didalam. Tudung makanan saya buka lalu mulai memilih makanan, dua bungkus nasi tahu bacem dan ati ampela jadi menu makan saya malam ini, dilengkapi segelas teh manis hangat, mantap. Tiba-tiba, “Kok sendirian aja tho, Mas?” hehehe… pertanyaan of the day kayanya “Iya ni Bu” jawaban standar tidak menjawab seperti biasa, dan ibu itu kembali menggoreng untuk kemudian kembali bertanya “Kok ya sendirian toh Mas?” nampaknya memang harus dijawab “Iya nih Bu dari Bandung” jawaban gak nyambung, heu. “Mas kesini dagang atau apa?” Hehehe tampang wiraswata sekali tampaknya penampilan saya, tadi disangka tukang foto keliling, sekarang pedagang dari luar kota. Kereeeen! hahaha. “Ngga, Bu jalan-jalan aja” Dan pembantaian pun dimulai: “penyerangan yang brutal terhadap eksistensi seorang lonely backpacker” haiyaaah bahasanya, lebayyyy!!!

Ibu : “Mbo ya jangan sendiri tho Mas”

saya : “…”

Ibu : “Mbo’ ya sama temen-temen gitu, Mas”

saya : “Lagi pengen sendiri aja, Bu” *jawaban memelas*

Ibu : “Ya, tapi ajak siapa gitu, Mas”

saya : “…” *ngunyah atiampela sama tahu bacem*

Ibu : “Masnya pasti dah punya pacar tho? Mbo ya diajak gitu lho Mas”

saya : “hehehe” *hati membatin kapan selesainya ya pembantaian ini*

Ibu : “Sudah punya pacar tho, Mas?” *agak memaksa*

saya : “udah, Bu” *berharap jawaban ini cukup untuk membuatnya puas dan ganti topik*

Ibu : “Nah! Ya diajak Tho Mas!!!!” *wrong answer… wrong answer* nasib nasib….

Entah apa penyelamat yang akhirnya membuatnya berhenti membombardir saya, rasanya bau tempe bacem yang mulai hangus di penggorengan itu. Terima kasih, Tuhan. Terima kasih juga tempe bacem.๐Ÿ˜›

Akhirnya saya berjalan juga menuju panggung terbuka Sendratari Ramayana yang saat itu menjadi pertunjukan yang paling saya pengen tonton di dunia ini melebihi teater Broadway di Newyork (soalnya gak mampu juga kesana, heu).

Pertunjukkan Sendratari Ramayana, berikutnya di Japswords. (so’ gaya lu Jap!)

bersambung