Renungan Shalat Jumat Hari Ini – Kenapa Harus Shalat?

Setiap minggu para muslimin tentu pergi Shalat Jumat dan mendengarkan khutbahnya sebelum shalat dua rakaat. Sudah ratusan kali saya shalat jumat dalam hidup ini, yang artinya sudah ratusan kali pula mendengarkan khutbahnya khatib. Namun demikian bisa dihitung dengan jari beberapa khutbah yang masih teringat dengan jelas apa yang diungkapkan oleh khatib. Biasanya khutbah-khutbah yang selalu teringat adalah topik yang sangat menarik, yang penyampaiannya juga menarik. Padahal sebenarnya setiap khutbah itu menarik, paling tidak ada bagian yang menarik. Hanya saja kadang penyampaiannya ada yang bikin ngantuk, bikin mengernyitkan kening, dan akhirnya bikin kurang tertarik (sering lihat yang pada tidur gak? bukan saya, saya cuma nunduk bentar :P). Namun demikian saya tetap berpikir sebenarnya setiap khutbah itu memang menarik, layaknya manusia sekembar apapun selalu ada ciri khas yang membuat pribadi dia unik, dan otentik. Hal tersebut yang membuat saya sejak dulu berniat menuliskan setiap keunikan dari khutbah yang baru saya dengar di shalat jumat (selain itu bisa memaksa saya agar tetap terjaga selama khutbah berlangsung :P). Jadi saya mulailah keinginan itu di renungan pertama ini:

Saya tidak akan menulis khutbah secara runtut, namun saya hanya akan menulis apa yang membekas di hati dan pikiran saya saat itu. Jadi maaf kalau tulisan ini menjadi sedemikian tidak metodologis dalam pemikiran dan penyampaian. Hal yang membekas di hati dan pikiran saya dari khutbah tadi adalah mengenai: “Mengapa Allah menyuruh kita shalat?”. Seketika saya teringat pertanyaan transedental seorang teman mengenai hakikat Tuhan menciptakan manusia untuk menyembah-Nya, teman saya itu pernah bertanya “Kenapa Tuhan menciptakan manusia untuk menyembahnya, kurang Mahanya-kah Ia hingga harus menciptakan “sesuatu” untuk menyembah-Nya?”

Pertanyaan kawan saya tadi sedikit bertalian dengan khutbah jumat hari ini, mengapa Allah menyuruh kita Shalat? Mewajibkan kita bertakbir berulang kali didalamnya, membaca ayat-ayat suci, ruku, i’tidal, hingga sujud merendahkan diri dan hati (yang memang sungguh rendah ini) serendah-rendahnya dihadapannya yang Maha Tinggi lagi Maha Agung? Mungkin kawan saya tersebut akan bertanya kembali. “Kurang Tinggi dan Agungnya-kah Ia hingga mewajibkan kita merendahkan diri bersujud pada-Nya minimal 34 kali sehari?”

Sedikit banyak khutbah jumat hari ini menjawab pertanyaan tersebut. Kenapa kita harus shalat? Kurang Agungnyakah Ia? Butuhkah ia disembah?
Khatib menjelaskan “Tidak, sesungguhnya ia tidak butuh disembah.” “sesungguhnya tatkala semua manusia menyembahnya, hal itu tak akan mampu menaikan Keagungan-Nya, begitu pula tatkala semua manusia tak ada yang menyembah-Nya, hal itu tak akan mampu mengurangi Keagungan-Nya. Maka ia tak butuh kita sembah” Lalu untuk apa ia menurunkan kewajiban shalat lima waktu pada saat Nabi Muhammad SAW menjalankan Isra dan Mi’raj? “Hal tersebut tak lain dan tak bukan untuk kepentingan manusia sendiri” “Sesungguhnya manusia sendiri yang membutuhkan Shalat”. Saya seratus persen bisa menerima walaupun masih harus belajar, mencari dan membaca buku mengapa kita betul-betul butuh shalat. Yang bisa saya rasakan adalah, saya memang butuh shalat, karena dengan shalat saya senantiasa diingatkan hakikat hidup saya ini (ini subjektif saya loh ya?), dan gak mesti seketika itu selalu jadi lempeng, kadang pas shalat juga malah tarik-menarik gak jelas karena baru sadar tadi saya ngelakuin dosa, trus sekarang saya shalat dan akhirnya nanya sendiri “Mau lo tuh sebenernya apa sih, Jap? Ngelakuin dosa iya, shalat iya” tentunya refleksi demikian amat sangat diperlukan semua manusia tanpa kecuali. Kita butuh refleksi.

Ya! saya butuh shalat. saya butuh berkomunikasi dengan-Nya. Saya butuh diingatkan dan dijauhkan dari segala hal buruk dalam hati yang senantiasa bersarang didalamnya. Yang dapat dibersihkan dengan shalat (ini pribadi saya lagi ya…). Saya lelah mendengki, saya lelah menjadi sombong, saya lelah pemarah. Dan dengan shalat saya seperti menemukan pitstop, beristirahat sejenak, memperbaiki kerusakan, untuk melaju lebih cepat dan baik lagi dan berusaha tak mengulangi “kerusakan” yang sama. Walau pada prakteknya saya masuk pitstop, dan yang rusak masih spare-part yang itu-itu lagi. Kenapa bisa terjadi?

Khatib menjelaskan: “Karena kita selama ini shalat hanya sebatas pada saat kita shalat” Dalam arti kata: kita shalat sebatas melakukan gerakan dan membaca bacaan yang diwajibkan [ada saat itu, padahal sesungguhnya shalat itu ya sepanjang kita bernafas. Kita terus shalat. Bingung? sama saya juga *pegangan dulu*. Maksudnya setelah selesai shalat seharusnya kita tetap mengamalkan apa yang tersirat dalam gerakan, bacaan, dan filosofi shalat itu sendiri. “Allahuakbar” pada saat shalat tidak berhenti saat kita selesai takbir, namun senantiasa terucap dalam hati pikiran dan perbuatan sehari-hari, hal tersebut tentu akan mencegah kita berlaku sombong (semestinya).

Namun ada satu hal yang amat sangat amat sangat amat sangat (sampe tiga kali karena saya suka banget) saya sukai dan cintai pada saat saya shalat selain Allahuakbar (yang lain juga, tapi yang ini berasa banget buat saya), yaitu: Salam terakhir: “Assalamualaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh” sembari menengok ke kanan, lalu “Assalamualaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh” sembari menengok ke kiri. Saya selalu berusaha kembali khusyuk di salam terakhir tersebut, karena salam ke kiri dan ke kanan tersebut mengandung makna memberi salam kepada seluruh umat manusia didunia, yang berarti saya akan tulus mencintai dan menebar kasih kesetiap manusia di kiri dan kanan saya. Subhanallah. Indahnya dunia dan hidup ini kalo aja filosofi salam terakhir itu diresapi, dimaknai, dan diamalkan seluruh umat manusia di dunia. Oleh setiap koruptor pencuri uang rakyat, oleh setiap pembunuh yang berdarah dingin, oleh setiap teroris pembom bunuh diri, dan oleh setiap pelanggar serta penginjak hak-hak asasi manusia lainnya.
Ironis, saat kita mengetahui pelaku ketidakbenaran tersebut adalah orang-orang yang juga shalat.

Maafkan setiap kebodohan penulisan, saya hanya mencoba merenungi , belajar dan terus mencari arti hidup ini.


12 responses to “Renungan Shalat Jumat Hari Ini – Kenapa Harus Shalat?

  • rangga

    hmm.. *mikir dulu, si japra akhirnya serius juga..hehehe..piss ah..*

    Ah, artikel yang menarik, sayang tempat ini terlalu sempit untuk berkomentar panjang-panjang. hmm.. perkataan khatib itu mengingatkan gue pada buku yang pernah gue baca. Disitu, dijelaskan tentang hakikat keimanan pada Allah SWT, merunut pada sebuah ayat di Al-Qur’an :

    “Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu adalah suatu kebajikan, akan tetapi kebajikan itu adalah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi, dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musha-fir, orang-orang yang meminta-minta, memerdekakan hamba sahaya, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan orang-orang yang menepati janjinya apabila berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan, dan peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya), dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa” (Q.S al-Baqarah [2] : 177)

    Artinya, shalat tidak semata-mata hanya sebuah gerakan zahir (fisik) saja atau sebagai simbol semata (bahwa kita ini seorang muslim), namun shalat adalah sebuah ‘pengingat’ bagi kita untuk senantiasa beriman, bertaubat, dan bertawakal kepada-Nya. Jadiiii, seharusnya semua gerakan, tingkah laku, sikap, dan tutur kata kita dalam kehidupan sehari-hari haruslah mencerminkan bahwa kita adalah seorang muslim yang lurus. Nah, para koruptor, teroris, tukang mutilasi, dll itu mungkin lupa, bahwa shalat adalah tiang agama. Jika mereka membangunnya diatas pondasi yang lemah, maka, mereka tidak bisa menyalahkan Allah SWT atau orang lain jika di akhirat nanti, tiang yang mereka bangun itu akan hancur dalam sekali tiupan.

    Science without religion is lame, and religion without science is blind. – Albert Einstein. Ah.. perkataan yang menarik dari oom albert, marilah kita bersama-sama bantu-membantu dalam kebajikan. Thanks for the article, jap. It reminds me about this. :) Sori, komennya kepanjangan. Mhehehehe..

  • japspress

    Wahaha… gue emang orangnya serius lagi, Rang. heu :P. Huwaahh… panjang beut… mantap. Thanks for ur appreciation and comment. Ternyata lu serius juga Rang. hehehe…
    Komen panjang gapapa, nanti tagihannya beda… :P U’re welcome… artikel refleksilo juga jadi reminder yang nendang… -japs-

  • realylife

    semua tergantung individu
    bagaimana memaknai sholat yang dilakukan
    nyang penting mari berdoa semoga tujuan amar makruf nahi mungkar bisa sama2 kita capai
    amin

  • japspress

    @ realylife : Setiap individu punya makna sendiri2 tentunya ya Mas? Amien…

  • weibullgamma

    terima kasih Mas…seperti biasa…setiap baca blog mas, selalu ada sesuatu yang bisa saya bawa..
    ntah itu cara belajar photoshop, hikmah yang bisa kita ambil dari berbagai kejadian yang ada disekitar kita,,bahkan sampe komentator Uber Cup di Trans 7 yang saya kira cuma saya yang berpikiran seperti itu…sekali lagi terima kasih…

  • japspress

    @ weibullgamma : alhamdulillah, seneng banget kalo apa yang ditulis dan dibaca bisa membawa hikmah. baik buat diri sendiri juga buat kawan-kawan disekitar kita. saling berbagi dan belajar. :) saya yang berterima kasih dah sering dimampirin :D

  • yulism

    Mas Reza,
    Terima kasih tulisannya menyentuh kalbu saya yang selama ini selalu bolong sholatnya, dan kadang melupakan-Nya. Saya sejujurnya dalam hati sangat bangga dan beruntung menjadi seorang muslim, tapi takut mengungkapkan di hadapan orang lain karena tingkah laku dan kehidupan saya yang jauh dari Islami. Saya senantiasa berusaha menjadi lebih baik sebatas kemampuan saya. Terima kasih banyak atas tulisannya.

    japs : Mba Yulis, sejujurnya saya juga merasakan hal yang sama, masih harus sedemikian “juggling“-nya supaya bisa lebih baik dan lebih baik lagi. Harus sedemikian berlari untuk mengejar ketertinggalan… Senang mendengar saya tidak sedang “juggling” dan berlari sendiri, jadi ada yang selalu mendukung baik secara langsung maupun tidak. Terima kasih kembali, Salam dan jabat erat -japs-

  • mashen27

    terharu membaca tulisan anda. Saya makin menyadari bahwa sholat bukan hanya mendekatkan diri dengan khaliqnya, tp juga mempererat hubungan manusia dengan manusia yang lain. Shalat berjamaah membuat kita hidup memiliki banyak saudara.. thx atas tulisannya.

  • Adli Azhari

    buat para mas-mas terima kasih buat renungan Jumatnya smoga dapat bermanfaat bagi kami semua, amin ..

  • sandy

    Kalo orang makin banyak nulis yang kayak gini dan di baca oleh orang laen
    mudah2an jagat ini agak tenang deh. salut dg anda semoga makin banyak lagi tulisan laenya ….

  • adul

    Alhmdulillah.. Mdh2an ma’na ibadah yg ssungguhnya akn sgra trlihat mulai pada masa skarang ini, pda sa’at ini masih jaln di belankang tabir, karna mnurut saya ibadah itu bukanlah sbuah gerakan ritualitas tanpa ma’na. Tp hrs nyata dan trasa. Misi ibadah itu adlah rahmatalil’alamiin.. Mengabdi kpd alam, krna amanah dri allah swt, hakikatnya demi kebruntungan kita sendiri. Lalu bentuknya ibadah sprti apa? Jka kita tdk bsa mencgah prbuatan keji dan munkar, khusus untuk pribadi dan umumnya kpd orang di skrtar kita? otomatis msih merusak alam, boro2 ibadah namanya, blm ada usaha/jihad, “jihad bukan hnya dgn tnaga tp harta dan nyawa trmasuk sarana yg di tuntut allah untk jihad?. Marilah kita br’sama2 mmbuktikan ma’na ibadah yg ssungghnya, smg allh swt, snantiasa menuntun kta kejalan yg lurus.. Amiin..

  • Clara Roro Jonggrang

    ya ya baguus mari kita belajar untuk mensucikan hati kita semua agar kita tau,di mana kita akan pulang kelak di kemudian hari

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: