Tapak kaki ini terus melangkah melewati jembatan Sungai Opak yang gelap. Tak dapat saya lihat permukaan sungai itu di kanan saya, terlalu gelap. Sementara di kiri saya deru kendaraan melaju cepat menambah kengerian berjalan di tepi jembatan gelap yang pembatasnya hanya sebatas lutut itu. Saya takut terjatuh, takut menghilang di kegelapan sana. Maka saya percepat langkah ini menuju pertunjukkan kolosal itu. Sendratari Ramayana.

Sendratari Ramayana, seni drama dan tari yang mengangkat cerita Ramayana. Sebuah legenda yang terpahat indah pada Candi Siwa, salah satu candi di komplek Candi Prambanan. Kalau kita ke Candi tersebut lalu berputar searah pradaksina (searah jarum jam) kita bisa ikuti cerita Ramayana melalui reliefnya disana. Sayang tadi Candi Siwa masih ditutup karena sedang direnovasi, jadi saya hanya bisa melihatnya dari jauh. Rasanya tidak jadi masalah karena sebentar lagi saya bisa mengikuti ceritanya melalui seni pertunjukan spektakuler yang konon katanya indah dan memukau, diperankan ratusan penari, berlatarkan Candi Prambanan dan beratapkan langit yang tak berujung itu. Ahhh, saya sudah tidak sabar lagi, tapi kenapa jalan masuk menuju panggung terbuka itu terasa jauh sekali? Di kiri dan kanan jalan hanya ada pohon yang begitu lebat tanpa penerangan sama sekali, gelap. Kalau begini kondisinya bagaimana turis bisa merasa aman jalan disini? Ah, saya lupa, hanya saya turis yang berjalan kaki ke teater ini. Selebihnya naik mobil pribadi, mobil travel, atau bis pariwisata bersama rombongan besar lainnya. Ya.. ya.. ya.. pantas saja kalau jalan masuknya setidak pedestrian friendly ini.

Akhirnya sampai! Dari jauh saya lihat tulisan “Welcome to the Ramayana Ballet“, terliha juga crane-crane tinggi untuk lighting system, wah tampaknya bakal hebat setting panggungnya. Di loket langsung saya tukarkan kuitansi pembayaran tadi sore dengan selembar tiket serta voucher untuk minuman ringan, kemudian membayar tiket untuk izin memotret dan masuklah saya menuju pelataran teater terbuka Sendratari Ramayana. Suasana sudah sedemikian ramai dan hidup, saya lewati mas-mas pemeriksa tiket berpakaian beskap itu. Begitu masuk kesan selamat datang sangat terasa, seakan menyambut dalam suasana area-penerima-teater dengan berbagai aktifitas pendukungnya: beberapa penjual kerajinan tangan di sebelah kanan, kedai minuman disebelah kiri, serta bapak-bapak dan ibu-ibu para pemain gamelan didepan saya dengan alunan tembang Jawa-nya yang syahdu, semakin menghidupkan suasana pertunjukan seni yang besar. Ah, saya yang turis kere ini semakin merasa semakin dimanjakan saja.

Langkah demi langkah saya lemparkan perlahan pada saat menuju balkon. Saya rasakan setiap sensasi keterpukauan ini, akan suasana ini, akan kesempatan ini, bahkan akan setiap detil dan bagian yang menarik dari bangunan pertunjukan terbuka ini.

Terus saya naiki tangga menuju balkon tempat saya duduk, namun masih belum terlihat panggung itu. Saat mencapai satu titik dimana sebuah dinding saya lewati, terlihatlah set panggung dengan pemain gamelan nun jauh di ujung panggung sana berjumlah belasan sudah dalam posisinya. Latar panggung berwarna hitam dan cukup sederhana, berupa tangga di tengah-tengah latarnya (tampak seolah-olah menuju prambanan) serta dengan seperangkat gamelan berwarna merah dan emas dikiri dan kanan tangga (satu-satunya yang berwarna selain hitam), dan dibelakang sana, dibelakang sana, berdiri dengan megah dan anggunnya Candi Prambanan yang menyala terang oleh lampu sorot berwarna kekuningan.

Candi Prambanan sebagai Background Panggung

Menjelang Pertunjukan Dibuka

Sungguh, setting panggung yang cukup sederhana ini memang sudah cukup untuk menjadi foreground yang memunculkan sang candi di belakang, juga ratusan penari nantinya. Saya terpukau, ditambah lagi melihat begitu banyak penonton lain yang menonton malam ini. Saya memang suka suasana festive yang riuh, sekaligus senang melihat kesenian daerah diapresiasi semeriah iniπŸ˜€ . Maka duduklah saya dengan hati senang, membuka kaleng softdrink dingin. Lalu mempersiapkan kamera tercinta teman sejati saya di perjalanan ini. Pertunjukan pun dimulai. (Bila hendak lebih terasa suasananya, bisa coba dengen menyalakan speaker anda, masuk ke web ini, lalu lanjutkan baca kembali. Jika masih berkenanπŸ™‚ – terimakasih untuk www.yogyes.com sebelumnya )

Paduan bunyi kenong, gambang, saron kendang, dan sesekali gong menggetarkan setiap rongga pencipta rasa didada ini, begitu syahdu, dinamis, “mistis” dan seimbang dalam tempo dan ritmenya. Saya tidak pandai menuliskan apa yang saya rasa, mungkin antara kagum, senang, bangga, terpukau, dan sedikit rasa cemas, entah karena apa. Yang jelas bagi saya alunannya membius begitu dalam, mencipta imaji, suasana, dan nuansa. Nuansa yang mampu membawa kami semua menuju sebuah dunia, Dunia Ramayana.

“Good Evening, Ladies and Gentlement, welcome to the Ramayana Ballet.”
Suara berat seorang pemandu acara wanita menyambut seluruh penonton yang telah hadir di teater terbuka. Sepasang pemandu acara pria dan wanita itu memberikan kata pembuka dan sambutan bagi penonton, sebelum diakhiri kalimat selamat menyaksikan dan seluruh lampu set panggung mati dalam sekejap, menyisakan Prambanan di ujung sana menyala lebih terang didalam kegelapan.

Tiba-tiba lampu menyala menyoroti panggung, beberapa penari keluar dan mempertunjukan tarian dalam adegan perdana di babak pertama ini. Kemudian dari atas tangga, keluarlah dua orang dayang membawa sebuah busur panah emas, diikuti seorang putri cantik memakai kemben hijau berjalan dengan gemulai dan ayu menuruni tangga, dialah Shinta, putri dari Prabu Janaka yang sedang melaksanakan sayembara untuk menentukan siapa pendamping putrinya. Rama Wijaya memenangkan sayembara tersebut dan berhasil mendapatkan Shinta. Dan ceritapun terus mengalir, disampaikan melalui gerak tari yang diiringi oleh musik gamelan. Setiap gerakan penari menceritakan setiap bahasa yang berusaha diungkapkan setiap tokoh. Saya terhanyut didalamnya. Gerak gemulai shinta yang kemayu, yang selalu mengibaskan kain panjangnya yang menyapu lantai itu dengan kakinya. Gerak Rahwana yang kasar namun jenaka, mengayun-ayunkan pundaknya dengan keras seirama dengan tabuhan kendang yang menyatakan wataknya yang keras yang selalu bertindak sesuka hati. Atau gerak Rama dan Laksmana yang begitu tenang sebagai sosok protagonis. Juga Hanoman, Subali dan prajurit kera kecil-nya yang diperankan oleh anak-anak kecil berpakaian kera warna-warni, bergerak jumpalitan tak tentu arah, begitu jenaka. Semua menyampaikan karakter dan cerita dari drama tari ini.

Rama dan Laksmana

Tarian Gemulai Shinta di Kerajaan Alengka

Rasanya anda harus menyaksikan sendiri karena setiap kata memang tidak pernah mampu mengalahkan kesan yang sebenarnya. Saya yakin anda juga akan jatuh cinta pada pagelaran seni ini.

Selain itu banyak atraksi-atraksi mengibur dan sangat teatrikal yang menambah greget dari pertunjukan ini, seperti atraksi Rama atau Laksmana memanah dari jarak jauh dan benar-benar tepat kena sasaran. Selain itu yang paling hapenning adalah atraksi api pada saat Hanoman akan dibakar di Kerajaan Alengka. Puluhan obor dan bola api mewarnai panggung saat Hanoman hendak dibakar hidup-hidup. Hanoman berhasil melawan, dan alih-alih dibakar, ia justru berhasil membakar seluruh Kerajaan Alengka, lalu atraksi apa yang dipertunjukkan di panggung? Hanoman berlari-lari membawa obor lalu membakar atap jerami di kiri dan kanan latar panggung bagian atas sehingga terciptalah kobaran api dihadapan candi prambanan yang terus menyala. Kebakaran di Alengka, scene terbaik pada pertunjukan ini.

Dengan dibakarnya Alengka, berakhir sudah babak pertama dari pertunjukan ini, maaf saya tidak menceritakan jalan cerita utuh sendratari ini, akan menjadi terlalu panjang bila saya tuliskan. Karena saya akan tergoda untuk menulis seluruh detilnya yang membuat saya terduduk di depan monitor berjam-jam tanpa henti dan tulisan ini tak akan kunjung selesai. Jadi, bagi yang mau baca ringkasan ceritanya bisa baca di www.yogyes.com. Sekalian muter-muter baca artikel menarik lainnya disana.

Di babak satu tadi, menjelang Hanoman hendak membakar Alengka, dengan “pintar, lucu, dan imutnya” kamera saya bilang “sorry bro gue cape” change the battery pack“. Aaah, sial banget, kenapa pas di scene yang paling bagus baterenya mokat? Maka waktu istirahat babak pertama saya mencari-cari steker di area-penerima-teater. Dan akhirnya dapet juga colokan di kios bapak-bapak yang jualan batu akik. Sebenernya nge-charge batere lithium ini harus ampe full, tapi daripada gak bisa motret sama sekali di babak kedua, mending nekad di charge sebentar aja dengan resiko batere bocor. Ah, batere bisa dibeli, tapi kesempatan motret saat ini gak ada kedua kalinya, cuma saat ini saja. Maka mulailah batere kamera saya bocor dan sering ngedrop sejak malam itu.

Babak kedua. Dibabak ini diceritakan Rama berhasil mengalahkan Rahwana, dan Shinta berhasil dibawa keluar dari Alengka oleh Hanoman. Namun Rama tidak mau menerimanya karena tidak mempercayai bahwa Shinta masih suci (haiyah, udah diperjuangkan setengah mati, tapi begitu dapet malah dicurigai, ini yang bikin kening saya agak berkerenyit dari ceritanya). Karena hal tersebut Shinta hendak membakar dirinya untuk membuktikan bahwa ia masih suci. Karena kejujuran dan kesuciannya Shinta tidak terbakar oleh api, ia diselamatkan oleh Brahma.
Finally, Rama and Shinta live happily ever after.

Selepas acara selesai, para penonton diperbolehkan naik ke panggung untuk berfoto bersama para pemain, lha wong saya pergi sendiri, mau minta tolong moto sama siapa?, hehehe. Jadi saya curi-curi motret Shinta aja, lagi lagi dan lagi, sambil moto komentar dalam hati “Uuuaaayu tenannn eee….” Saya potret terus sampai yang difoto ngerasa dan saya beringsut mundur, pelan… pelan… karena gak enak. hehehe…. Maaf ya Mba.

Nonton pertunjukan ini worth it every rupiahs, apalagi buat yang senang kebudayaan tradisional, seni pertunjukan, tari, gamelan, stage photography. Juga buat yang sedang menikmati liburan di sekitar Prambanan, Jogja, dan Solo, sempatkanlah melihat pertunjukan ini. Mari kita dukung budaya tradisional Indonesia. Semoga pertunjukan Sendratari Ramayana ini bisa menjadi lebih besar dan maju, mampu membuat pertunjukannya jauh lebih memukau lagi, dan bisa mensejahterakan seluruh pendukung acaranya. Karena mereka suka dan rela menjaga warisan budaya bangsa, karena mereka salah satu pahlawan budaya Indonesia. Salam untuk semua pendukung Sendratari Ramayana.

Ngebayangin jalan pas tadi masuk serem amat, kebayang harus keluar lewat jalan serem itu lagi, juga jembatan Sungai Opak yang gelap berpembatas hanya sebatas lutut, bikin ngeri jatuh dan menghilang di kegelapan. Pesan moral: Kalo ke Sendratari Ramayana malem-malem, sendirian, dan jalan kaki jangan lupa bawa senter!!!.

“Malem ini tidur dimana ya?” Tadinya mau tidur di Jogja aja, biar besok bisa jalan-jalan lagi di kota. Tapi ternyata Trans Jogja udah gak ada, “gimana ini?” Akhirnya saya nelpon salah satu nomor penginapan yang saya lihat plang-nya di jalan, Prambanan Indah. Tempatnya deket Prambanan, jadi saya tinggal jalan sedikit dari gerbang masuk Prambanan. Begitu nemu front office langsung check-in, dan seperti biasa, cari kamar yang paling murah. “Mau dilihat dulu, Mas?” “Gak usah, Mba”. Saya langsung diantar menuju kamar oleh mas-mas roomboy, tidak berapa lama saya langsung tertidur, lagi-lagi dengan hembusan kipas angin dan selimut tipis yang nyaman.

Matahari terbit di Borobudur, matahari terbenam di Prambanan, angkringan di waktu petang, Sendratari Ramayana di malam hari, semuanya sudah lebih dari cukup untuk mengucap syukur akan nikmatnya hidup di hari ini, sudah lebih dari cukup untuk membuat wajah dan hati ini tersenyum sesaat sebelum terlelap disapu gelombang mimpi.

Selamat Malam Dunia.