Perjalanan memiliki makna yang berbeda-beda bagi setiap orang.
Anda misalnya, yang memaknainya sebagai sebuah pelarian, atau dia yang duduk di bangku reyot itu yang sedang memandang langit dengan senyuman, berpakaian sederhana, bersepatu robek, dan tas punggung yang nampak penuh itu menganggap perjalanan adalah segalanya, perjalanan adalah hidup matinya. Tapi tidak bagi wanita cantik berkacamata sebesar hampir seperempat mukanya itu, baginya perjalanan adalah hiburan semata. Sementara simbok pedagang sayur yang baru pulang dari pasar itu? Ia akan berceloteh panjang lebar bahwa perjalanan adalah kepergian. Ah pantas saja… Ia telah kehilangan anaknya yang konon hendak mengadu nasib dan menempuh perjalanan ke pulau seberang namun tak kunjung pulang sampai sekarang. Satu lagi, bagi seorang ibunda pelajar kelas dua SMA kesayangannya yang sedang naik sepeda itu, perjalanan adalah pemborosan, hehehe…. katanya “Lebih baik kamu beli buku dan belajar di rumah, lupakan jalan-jalan ke Bali bersama teman-teman yang membuatmu melamun setiap hari.”

Ahhh… Betapa beragam arti sebuah perjalanan bagi setiap pribadi. Begitu juga bagi saya, perjalanan memiliki arti yang sedemikian dalam. Bagi saya, kini, perjalanan adalah rumah saya. Tiada tempat berpulang selain perjalanan itu sendiri. Saat ini rumah saya di Bandung, kemarin di Depok, Jogja, Jakarta, dan mungkin besok di Bali, pedalaman Kalimantan, atau malah Bromo (saya sedang sangat ingin ke Bromo karena cerita seorang kawan yang baru saja dari sana😛 ).

Teringat sebuah lagu Kings of Convinience berjudul Homesick. Salah satu liriknya:
Homesick, cause i no longer know, where home is
Saya mendengarkan lagu tersebut dalam fase homesick karena tidak tahu dimana rumah saya saat itu, tidak tahu harus pulang kemana. Semenjak seorang ibu pergi menyusul seorang ayah yang berpulang dua tahun sebelumnya, saya tidak pernah lagi merasakan satu hal yang namanya pulang. Bersyukur saya masih mempunyai seorang kakak, namun semuanya berbeda, pun rumah yang ia tempati masih rumah yang sama ditempati ayah dan ibu dulu. Saya tidak lagi merasakannya sebagai tempat berpulang. Tidak ada lagi unsur terpenting yang membentuk satu rumah-tempat-tinggal menjadi rumah-tempat-berpulang.
“Maybe it’s still my house, but it’s no longer my home.”
“I no longer know, where my home is”

Dan entah kapan, saya lupa tepatnya, saya menemukan sesuatu, bahwa perjalanan ini adalah rumah saya sekarang. “my home is my journey”. Kapanpun saya merasa ingin pulang saya tidak akan berbalik pada suatu tempat, namun saya akan terus berjalan, karena itu adalah rumah saya. ) Mungkin memang agak aneh, tapi hal ini yang saya rasakan, semakin saya melihat dunia, semakin saya ingin menjelajahinya. Berdiam dan melihat kebelakang selalu membuat saya termenung dan bersedih. Itu mengapa perjalanan selalu membuat saya optimis dan terus melihat kedepan. Kesedihan membuat saya ingin berpulang kembali pada perjalanan. Perjalanan yang mungkin akan sangat melelahkan, tetapi paling tidak saya nyaman didalamnya. Perjalanan melihat dunia seluas-luasnya, perjalanan bertemu orang sebanyak-banyaknya, perjalanan mendengar cerita sebaik-baiknya, perjalanan berbuat setulus-tulusnya. Perjalanan mencari arti dan makna hidup sedalam-dalamnya. Apalagi yang lebih nyaman untuk pulang dari untaian langkah kehidupan ini bagi saya?

Jadi selamat datang di rumah saya Kawan, karena blog ini adalah bagian dari perjalanan seorang saya.

Salam Terhangat,

-japs-