Sore itu saya ikut kawan-kawan yang hendak mengisi pensi sebuah SMA negeri di Bandung. Keberangkatan dipercepat karena mereka harus tampil pukul setengah tujuh, maju setengah jam dari jadwal semula. Karena pemberitahuan yang mendadak, seluruh kru band dan tim segera bertolak dari kostan saya ke lokasi tempat mereka akan manggung di Jalan Dago. Kami berangkat sekitar pukul enam kurang lima belas, konvoi menggunakan tiga mobil. Mobil yang saya tumpangi berjalan paling depan dan bertugas memandu dua mobil lainnya.

Rasanya semua masih terkendali, dan waktu juga masih mungkin terkejar, SMU itu berjarak tidak begitu jauh dari kostan saya. Begitu pula saat adzan maghrib terdengar di mobil kami yang masih berada di Jalan Tamansari sebelah ITB, kami masih tenang karena dari tempat itu kira-kira dalam 10 menit kami bisa sampai di lokasi, “Masih keburu lah”. Namun, itu semua sebelum saya: si (hampir) penghancur pensi orang ini melakukan kebodohan.

Saat mobil melewati jalan ganesha dan hendak berjalan lurus di jalan tamansari menuju pasupati, saya malah mengarahkan mobil berbelok di jalan gelap nyawan dan menuju jalan dago. Mengapa? Peta kognisi saya sebagai pejalan kaki sejati menganggap jalur terdekat menuju sma negeri tersebut adalah lewat jalan dago, karena dengan berjalan kaki, kita bebas menyebrang melewati separator menuju lokasi yang berada di sebelah kanan jalan. Tapi kalo naik mobil??? Tentunya kita harus cari lubang U-Turn yang ternyata tidak ada sama sekali… dan saya benar-benar tidak memikirkan hal tersebut. Bodooohnyaaa….

Saya baru sadar saat mobil memasuki jalan dago, disebalah kanan memang sma negeri tujuan, tetapi saya lihat separator yang memisahkan jalur kiri dan kanan itu melintang dengan gagahnya (halah). “Sebenernya lebih enak lewat jalan tadi” ucap seorang kawan yang sebelumnya mengarahkan ke jalan yang benar, sebelum saya sesatkan ke jalan dago yang macet ini. “Iya, gue salah, disini gak ada puteran ya? aduh maap”. Dan untuk menghindari kemacetan di depan hanya untuk mencari U-Turn, saya memutuskan membelokkan mobil ke arah kiri setelah RS. Borromeus. Jalan Hassanudin, kemudian belok kanan ke Jalan Kyai Gede Utama, belok kanan lagi ke Jalan Dipati Ukur yang akan kembali bermuara di jalan dago sebelah bawah (pasupati). Mengapa? Karena (lagi-lagi) peta kognisi pas-pasan pejalan kaki sejati, saya menganggap dari persimpangan dipati ukur dengan jalan dago saya bisa langsung belok kanan kembali ke arah atas, lokasi sma negeri tujuan. Wrong Way!!! dari dipatiukur, kendaraan dibuang ke kiri, artinya harus terus ke arah Gasibu. Dan anda tahu? di Gasibu sedang ada ajang festival distro dan clothing besar-besaran, Kickfest 2008. Singkat kata saya membawa saudara dan kawan-kawan saya yang hendak manggung sebentar lagi untuk menutup pensi sebuah sma negeri ke daerah yang macet dan sebagian jalannya ditutup!!! Kawan saya berulang kali ditelpon panitia. “Iya, ini kita salah jalan”. “Ca, jalan yang gak macet lewat mana ya?”. Saya membeku, membayangkan kesalahan bodoh ini, otak seketika menumpul dan berhenti bekerja, tidak mampu berpikir cepat, dan akhirnya mobil harus masuk daerah macet gasibu.

Rasanya badan ini menyusut, mengecil, dan lenyap, karena segumpal perasaan bersalah dan kebodohan tak perlu. Tapi itu hanya perasaan saja, karena pada kenyataannya saya sama sekali tidak menyusut, mengecil dan lenyap, seperti yang paling ingin saya inginkan saat itu, lenyap dari sana dan muncul2 udah di mexico (untuk lari dari kenyataan, hahaha).

Ah, berlebihan, mobil terus berjalan, memang macet tak seberapa tapi , kami haru memutar cukup jauh dan signifikan sekali, kalo dibanding melewati jalan benar yang seharusnya tidak saya kacaukan. hiks. Dering handphone itu bunyi lagi. Nampaknya dari panitia lagi “Iya bentar lagi kami sampai, sudah deket” ucap seorang kawan yang sama, sebelum ia menutup telepon dan setengah berteriak “****** kita telaaat!!”. Kali ini saya rasakan badan saya seperti hendak meledak berdifusi menjadi partikel-partikel atom terkecil, dan berfusi kembali menjadi seorang brad pitt (halaahh makin aneh aja). “Gawat, gue bikin telat penutup pensi orang, gawat… gue jangan-jangan bikin acaranya rusak. Aaaarghh… bagaimana ini” gue cuma bisa bengong duduk di mobil, semua juga diem, gak ada yang ngomong apa-apa. “nanti sampe sana langsung setting alat ya!”. Bener-bener hancur hati gue saat itu (ini lebay pisan dari tadi kata2nya….).

Sesaat begitu kami semua keluar mobil: “Kok kita jadi muter2 gitu tadi?” tanya seorang kawan (drummer band) yang tadi ikut di mobil belakang. Gue dengan lemas menjawab “Iya, gara-gara gue, tadi salah nunjukin jalan, Maaf banget ya”. “Oh… gapapa…” jawabnya santai sambil ketawa nepuk bahu saya.

Dan kehancuran itu semakin menjadi saat saya melihat mereka sibuk ngurusin alat. Wara-wiri lari-lari karena waktu mepet dan harus ngurusin hal teknis, mulai dari masang alat, masang laser, dll. Sementara saya yang emang cuma diajak kesana buat nonton ngga ngerti apa-apa soal alat, jadi gak bisa bantu apa-apa, blah…. Kawan macam apa ini? udah diajak, bikin telat, trus disana gak bisa bantu apa-apa pula. Cuma ngerasa bersalah sambil ngeliatin mereka sibuk bolak-balik kesana kemari, terus bengong dah di pojokan ngeliatin abege sma yang pada ajojing karena disuguhin lagu-lagu dugem (mungkin salah satu strategi buat mengisi waktu yang kosong)

Seorang kawan lainnya, vokalis yang merangkap gitaris mendekati saya yang diri sendiri di pojokan. “Ca, ngapain disitu? sini” ajaknya masuk ke tenda pengisi acara. “Ini, lagi liat yang pada ajep-ajep” saya ngeles dah kaya bajaj, heu. “Oh, pada rame ya dikasi laser” “iya, langsung pada teriak gitu dikasi laser”. Band kawan saya ini memang membawa laser sendiri buat pertunjukannya, kebetulan pas abege2 itu lagi ajojing, lasernya dipasang biar sekalian dicek, tapi begitu laser nyala disangkanya bagian dari skenario ajep2 saat itu, jadi mereka tambah gila aja jogetnya, hehe. “Lil, sorry ya gara-gara gue jadi telat tadi”, “Ah, gapapa, nyantai-nyantai, lagian juga belom telat ternyata”. Emang si, ternyata abis ajep-ajep itu masih ada jaipongan segala, jadi jadwalnya mundur juga, gak tau deh persisnya gimana, tapi band temen saya akhirnya baru mulai manggung jam 7. Saya ngerasa harus minta maaf sama semua tim band ini ni, “maaf ya cho, tadi gue bikin jadi muter2” ucap saya minta maaf sama temen saya yang tadi harus nyetir muter-muter gasibu dulu sebelum bisa nyampe lokasi. Dan lagi-lagi dijawab “gapapa”, ah, untungnya semuanya bae-bae…jadi bisa ngerasa sedikit tenanglah.

Merekapun manggung, saya terus motret-motret buat ngilangin pikiran2 yang tadi. Akhirnya pensi itu ditutup dengan sukses, tidak jadi hancur (hahaha….) . Mungkin hal itu bisa terjadi kalo gue mengarahkan mobil itu ke arah Pasteur dan Sukajadi. hahaha…

Melalui tulisan ini saya hendak memohon maaf lagi kepada semua teman-teman saya, karena kemarin jadi panik dan jadi buru-buru buat nyiapin alatnya, maaf beribu-ribu maaf, punteeen pissaaaan. Gak lagi-lagi…๐Ÿ˜€

Selain itu saya juga memohon maaf kepada panitia yang merasa pensinya sedikit banyak saya kacaukan disaat menjelang akhir acara, maaf atas kepanikan yang terjadi karena pengisi acara yang tak kunjung datang, melainkan muter-muter dulu ke kickfest di gasibu. Sungguh, tidak ada sedikitpun maksud saya memboikot, apalagi menggagalkan acara kalian. hehehe… acara kalian bagus ko… tagline-nya juga oke. Mantap lah.

And Guys, kalo tiba-tiba nyasar, nemu, dan baca tulisan ini. Thanks buat semua kebaikan kalian, juga traktiran nonton midnight di “Blaitz” buat si penyesat jalan ini. Bukannya didenda malah ditraktir, emang T.O.P banget dah kalian semuai. Thanks juga buat kaos gratisnya. Sampai ketemu lagi!!! Sukses buat kalian semua… Amien.

-japs-