“Apalagi yang kita tunggu? Mengapa tidak sekarang saja?!!”
“Apakah kita harus menunggu kemerdekaan itu diberikan sebagai hadiah?”

“Jadi Saudara mengatakan bahwa Saudara telah siap dan sanggup untuk memproklamasikan kemerdekaan?”
“Mengapa Saudara tidak memproklamasikan kemerdekaan itu sendiri?”

“Revolusi berada di tangan kami sekarang?!! Dan kami memerintahkan Bung, Kalau Bung tidak memulai revolusi, malam ini juga , lalu kami…”

“Laalu aapa!!!”
“Yang paling penting dari peperangan dan revolusi adalah saatnya yang tepat.”

Cuplikan skenario trailer “Jangan Lupakan 16 Agustus”- Sampoerna Untuk Indonesia. Sebuah karya yang mengangkat satu peristiwa di tanggal 16 Agustus. Sebuah peristiwa yang menjadi titik balik nasion ini, yang semulanya adapun negara yang terjajah sekian lama, menjadi negara merdeka yang berdaulat akan dirinya sendiri. “Jangan lupakan 16 Agustus” menjadi tagline dari video ini.

Jangan lupakan 16 Agustus, merupakan sebuah pesan moral dan sosial bagi kita semua, Bangsa Indonesia, yang selalu demam dan euphoria hari kemerdekaannya di tanggal 17 Agustus. Tanggal diproklamasikannya Negara Indonesia, tanggal dirgahayu-nya Indonesia, tanggal semua mendadak nasionalis dalam setiap jargon dan slogan, dalam setiap balutan dwi warna, merah dan putih.

Tanpa mengurangi sedikitpun nilai dari tanggal 17 Agustus 1945, sebaiknya  dikenang pula tanggal 16 Agustus 1945. Hari dimana tekad akan kemerdekaan tersebut diperjuangkan, diperdebatkan untuk akhirnya berhasil dibulatkan. Hari dimana nasionalisme segolongan pemuda tidak hanya berupa jargon dan slogan cuma-cuma. Hari dimana perseteruan bukan demi membela kepentingan pribadi. Hari dimana pertikaian terjadi demi menghargai setiap darah dan nyawa yang tumbang sebelumnya, dan demi ribuan nyawa lainnya yang saat itu rindu kebebasan dan kemerdekaan. Bukan dengan cara yang mudah, juga bukan atas hadiah, tapi dengan darah dan perjuangan.

Membaca cuplikan diatas atau menikmati karya seni videografi “Jangan Lupakan 16 Agustus”, begitu menggambarkan dengan jelas perbedaan pendapat kaum muda dan golongan tua akan waktu yang tepat untuk sebuah pemroklamasian kemerdekaan. Kaum muda yang menganggap waktu yang tepat adalah waktu yang secepat-cepatnya, serta golongan tua yang menganggap waktu yang tepat adalah waktu yang ditentukan oleh PPKI. Keduanya berdebat akan pendapat masing-masing yang dianggap benar. Yang berbuah sebuah teks proklamasi keesokan harinya, teks yang mendeklarasikan hadiah terbesar dan terindah bagi negeri ini, sebuah kemerdekaan.

Tanpa mereka, akankah kita merdeka?
sebuah pertanyaan retoris yang tak memerlukan jawaban
sebuah pertanyaan yang lebih membentuk pernyataaan,
sebuah ungkapan syukur akan sebuah keberanian:

terima kasih pemuda Indonesia

Jangan Lupakan 16 Agustus :
sebuah karya yang hebat, wujud cinta pada nasion ini, yang juga kan jadi satu jargon dan slogan lagi. Bila hanya berakhir dalam ungkapan kata, tanpa wujud perbuatan nyata.
Dapatkah kita stop bilang aku cinta indonesia? dan memulai berkata dalam wujud nyata cinta yang sesungguhnya? berbakti untuk Ondonesia?

*tulisan ini hanya berupa renungan semata, tiada maksud menggurui atau apapun diksi lainnya. Hanya sebagai cermin bagi diri pribadi, diri kita atau mereka yang masih menggerogoti kedaulatan dan kemerdekaan dari dalam tubuh negeri ini, dari setiap sudut dan sisinya*

Video Sumber | Sampoerna Untuk Indonesia