Siang ini 11:45

Turun hujan di Bandung, akhirnya.
Setelah kemarau berminggu-minggu… air itu turun…
Membawa sejuk di udara. membawa bau tanah menyeruak ke atas
yang dapat saya cium saat saya buka jendela disamping meja kerja saya…

Saya lemparkan pandang sejauh mungkin saat jendela sudah dibuka. Tangan menahan, dan kepala menjulur keluar jendela.
Petikan gitar dinamis Depapepe membawakan lagu klasik melodis “Air on The G String – Johann Sebastian Bach” …
Membuat hati dan mulut tersenyum, membuat pikir melambung terlontar tak terarah,
Yang jelas sedikit damai terasa, tidak, tidak banyak, entah kenapa…

Kemana perginya bentuk sejati?
Entah kemana, saya nikmati saja dulu yang ada.
Ada sedikit kontraksi di dada, terus berdegup. Lambat tidak, kencang pun bukan.
Setempo dengan petikan gitar ini? mungkin saja…
Yang jelas paduannya (hujan, musik, dan rasa ini) menjadi begitu harmonis, beriris.

Setiap sesuatu pasti memiliki pesannya sendiri memaknai apa yang dijalani.
Jangan, jangan ambil perduli… biarkan ia maknai sendiri…
Karena takkan pernah kamu mengerti, apa sebenarnya yang ia cari.
Seperti hujan yang memiliki maksudnya sendiri di hari ini.
Saya anggap saja ia datang untuk menyegarkan hari, sebelum mentari kembali menyinari.
Walau mungkin menurutnya sendiri itu lain lagi…

Selamat menikmati hari….

-japs-

(tidak sengaja keterusan berdiksi dengan rima “i”)