Kami terus berjalan kaki,
walau roda-roda terus halangi…
Bersama anak-anak jalanan yang berelegi,
kami nikmati jalanan ini…

Kami terus berjalan kaki,
walau kaki reklame menghunjam bumi.
Sisakan sempit bagi yang tak berdasi,
bersama harum bau polusi…

Kami terus berjalan kaki,
biarkan tapaknya terus bernyanyi…
Sisakan jejak di urat nadi
Kota Bandung tercinta ini…

Akankah bisa bertahan terus begini?
Jika tak satupun berpihak pada kaki kami???

* prosa ini ditulis spontan siang tadi, ketika sumbang ide, tulisan ataupun tagline
bertemakan pejalan kaki untuk poster kantor di kegiatan Re-Inventing Bandung.