“Dicintai itu anugrah, tetapi mencintai itu adalah kekuatan…”

Walaupun mata mengantuk, hati menjerit, tubuh meronta, urat-urat menegang, dan darah telah mengalir lambat wujud nyata tubuh ini meminta haknya untuk rebah setelah seharian dipekerjakan, tak lupa otak yang walaupun lemah tapi tetap dipaksa berkerejap (bahasa apa ini) memercikkan ion2 elektriknya untuk terus dapat mengomandoi seluruh tubuh ini dengan segenap akal… (panjang amat kalimat majemuknya, parah!) tetapi saya tetap nekad, nekad menulis demi satu tulisan yang dapat dipersembahkan untuk dunia (mulai berlebihan)… untuk para kawan-kawan di dunia maya yang saya hati-i (maksudnya cinta-i, tapi bosen pake kata itu)

 

Oke, jadi sekarang mau nulis apa ya? (gubrakkk), sebenarnya ada beberapa topik yang belakangan yang harusnya sudah saya tuliskan disini, seperti pengalaman ke batam kemarin, pengalaman berharga berurusan dengan para birokrat “yang terhormat”, perjalanan “pernafasan” ke Bantul kemarin, pengalaman berharga lainnya berurusan dengan birokrat lain “yang sangat cinta jabatannya”, dan beberapa ide tulisan lain yang sudah terlupakan saking tidak segera dituliskan.

plurking

Maaf beribu maaf, saya tergoda untuk selalu plurking tiap pagi, dan malam… Pengalaman ber-micro blogging sekaligus social networking disana memberikan sensasi yang lumayan seru dan menyenangkan disamping berkesan kerjaan-gak-penting-nulis-nulis-hal-yang-gak-kalah-pentingnya itu (pusing ya dengan kalimatnya? maaf, sudah jam 12:28 dini hari). Jadilah saya menghabiskan sisa waktu sepulang les tiap malamnya bersosialisasi dengan teman-teman baru disana, kawan dari filipina, singapura, malaysia, amerika, dan lain-lain bersatu padu mengomentari terus menerus setiap status pendek yang kita tulis. Walaupun (misalkan) tulisan itu hanyalah :

Japs (sedang) mencuci baju

namun, bisa jadi satu kalimat itu membuahkan 50 lebih komentar disana, bisa dibayangkan kalau setiap orang menulis 5 kalimat saja dalam 15 menit, berapa komentar yang dihasilkan? belum lagi kalimat dari kawan-kawan lain, yang bisa jadi lebih memancing komentar karena nadanya yang sangat memancing, membuat diri ini ter”paku” di meja depan monitor berjam-jam dalam pesona buaiannya (kalimat yang aneh). Jadilah plurking satu fenomena di dunia maya yang menggebrak kehidupan para pecinta internet sejagad raya…

Google Chrom

Pagi ini saya dikejutkan oleh banyaknya tulisan, di plurk tentu saja, mengenai sebuah browser baru bernama : Google Chrome. Entah apa yang buat orang-orang pagi itu seperti demam Google Chrome si browser baru itu, setelah saya coba install dan pakai, alamak… ternyata dia melesat jauh lebih cepat dibandingkan FireFox. Mengunduh Podcast 12 mega yang biasanya menghabiskan waktu lumayan lama dengan FireFox, dapat dilakukan dalam waktu hanya 2 menit saja. Membuka New Yahoo Mail yang kadang lambat sekali di FireFox, di Google Chrom ternyata bisa dilalui dalam sekejap mata untuk membuka perhalamannya. Konon, begitu juga dengan penggunaannya pada YouTube. Hanya saja saya belum mencobanya. Biarkan saya sisakan pengalaman itu untuk beberapa hari ke depan. Yang jelas saya sudah hapus shortcut FireFox dan menggantinya dengan Google Chrome. Entah akan bertahan sampai kapan, yang jelas saya sedang menghati-i-nya saat ini, seperti tulisan ini yang pertama kali saya tulis dengan browser terbaru dari Google … Google Chrome, kawan berselancar baru di dunia maya…🙂

Do i love my job?

Sedikit lagi… saya masih mau bercerita, walaupun jadinya tulisan ini gado-gado. Maaf beribu maaf kalau jadi bikin pusing dan berbau sampah… kadang memang butuh untuk “menyampah” saat perlu sesuatu yang “dibuang”… 

Malam ini kelas TOEFL saya makan malam bersama, kami sepakat tidak “membuka” kelas hari ini, bersama sang guru kami semua makan di restoran khas Aceh di seberang tempat les kami. Saya tidak akan membahas kuliner dan review restoran tempat kami makan, tetapi tentang obrolan yang kami lakukan malam itu yang cukup mengilhami saya. Terutama cerita sang guru tentang dirinya dan pekerjaannya. 

Beliau bercerita dalam bahasa inggris, namun saya tak sanggup menuliskannya kembali tetap dalam inggris di malam yang semakin larut ini. Bahkan tulisan dibawah inipun murni interpretasi saya, bukan persis seperti apa yang dia katakan (saya tidak bawa alat perekam).

“Saya sangat mencintai pekerjaan saya” katanya.
“Saya senang mengajar dan memotivasi orang lalu melihatnya bisa berhasil, itulah mengapa saya senang mengajar, bahkan tanpa dibayar sekalipun”
“Karena bagi saya seseorang yang mampu membayar sangat mahal tidak lebih membutuhkan bantuan untuk bangkit dan maju dibandingkan seseorang yang tak mampu membiayai pendidikannya sendiri. Jadi bagaimana saya bisa berharap selalu mendapatkan bayaran untuk jasa mengajar saya? Maka saya pilih tetap mengajar walaupun tanpa dibayar”
Kawan saya kemudian bertanya “Lalu bagaimana dengan diri anda sendiri?”
“Saya menempatkannya di posisi yang kedua”
kami serentak berdecak “ooooo….” persis seperti respon simpati terhadap seorang tokoh pada drama-drama televisi amerika.
“Saya seorang yang workaholic, saya bekerja 7 hari seminggu, bahkan dalam 4 tahun terakhir, saya tidak pernah mengambil cuti libur sekalipun, saya hanya mengambil paling lama 2 hari libur saja…”
“Bagaimana kamu bisa melakukannya?” Tanya saya
“Karena pekerjaan saya adalah hobi saya, mengajar adalah hobi saya”
“Itu semua karena saya sangat mencintai pekerjaan saya, saya senang berbagi ilmu dan pengetahuan saya pada orang lain untuk membuat mereka bisa menjadi orang yang lebih baik lagi”
“Dan pada saat kalian mengerjakan apa yang benar-benar kalian cintai, energi itu akan keluar dengan sendirinya, karena sumber energi itu berasal dari sini” Ucapnya sambil menepuk dada.

Saya jadi ingat sebuah ungkapan:

“Dicintai itu anugrah,
tetapi mencintai itu adalah kekuatan…”