Ayah!
Iya kenapa, Nak?
Ayaaah! kesini!
Iyaaa, sebentar…
Ayaaaaaah!
Kenapa, Nak?
Ayaaah! pokonya cepetan kesini, aduuu, ayaaAAh!

Suara melengking ketakutan seorang anak perempuan itu perlahan menghilang saat saya terus berjalan melewati rumah yang didepannya tadi terlihat seorang lelaki sedang mengoprek motor bebeknya.

Ah…
teriakan itu, jawaban itu, lengkingan itu, interaksi itu, suasana itu. Sudah lama sekali saya tidak merasakannya.

Saat itu batin saya berkata “saya rindu keluarga saya, pun hanya untuk merasakan sebuah pertengkaran didalamnya…”