Perjalanan dinas yang memberikan banyak pelajaran sekaligus cerita, bahwa dunia tidak selalu seperti apa yang kita pikirkan. Dan makanan selalu menjadi teman terbaik dalam situasi apapun… hahaha…

Kali ini saya akan bercerita perjalanan saya di Batam secara acak (baca : meracau), mengenai apa saja yang saya lihat, rasa, dengar, dan terutama adalah apa yang saya makan. Hehehe. Jadi, mari kita mulai (lagi) jalan-jalan di Batam. 

Seperti tertulis di postingan pertama seri Batam ini. Hari pertama saya habiskan berjalan-jalan ke Jembatan Barelang, menyebrangi pulau-pulau hingga sampai ke Pulau Galang, pulau tempat kamp pengungsi Vietnam yang penuh dengan cerita. Perjalanan dari Pulau Batam menuju Pulau Galang menghabiskan waktu kurang lebih 1 1/2 jam, perjalanan yang cukup panjang dengan jalan yang begitu mulus. Sehingga sangat nyaman untuk bisa tidur di bis, hehehe.

Bisa tidur nyaman karena perjalanan yang lumayan panjang, dan kami baru sampai kembali di hotel jam lima sore. Jadwal shopping sore ini terpaksa dibatalkan karena sudah terlalu senja.  Anda mungkin mulai bertanya-tanya, dimana perjalanan dinasnya? dari pagi sampai sore kerjanya cuma jalan-jalan. Sayapun kaget dengan jadwal yang tiba2 berbeda dengan jadwal di briefing terakhir, lebih kaget lagi karena karena masih ada jadwal shopping di sore hari pertama (yang gagal total karena perjalanan ke Pulau Galang ternyata lebih lama dari yang diharapkan). Padahal seharusnya hari pertama ini kita survey awal Kota Batam sebagai kawasan studi banding proyek yang kami kerjakan, sebelum esok harinya kita berdiskusi dengan Pemko Batam. Namun kendali jadwal acara program studi banding ini tampaknya bukan kuasa kami para konsultan. Namun mereka yang tidak boleh disebut namanya.

Lupakan dulu racauan diatas, sesampainya di hotel, saya dan bos saya (kami sekamar) masih sempat istirahat sejenak menunggu maghrib dan mandi menyegarkan tubuh dengan air hangat. Selanjutnya kami diantar kembali oleh pihak travel ke Golden Prawn Resto, restoran seafood  terapung di suatu daerah yang saya lupa namanya. Menu makan malam ini : Kepiting Asam Manis, Cumi Goreng Tepung, Cah Kangkung, Dan sejenis kerang yang dagingnya harus diambil dengan tusuk gigi, saya lupa namanya. Kepitingnya enak, walau saya tidak terlalu suka makan kepiting, repot! hehehe. Sejauh ini sih Restoran Kediri tadi siang masih lebih enak daripada makanan di sini. Tapi karena gratis (dibayarin kantor), apapun enak! hehehe.

Keesokan harinya (di pagi hari), ini dia yang saya tunggu. Menu buffet pada saat sarapan yang selalu menggugah selera perut yang kosng, hehehe… omelet hangat, susu murni dan orange juice, selalu jadi menu wajib andalan, untuk selanjutnya menghajar makanan berat lainnya :p. 

Jadwal hari ini adalah kunjungan ke Pemerintah Kota Batam untuk studi banding. Dan terjadilah ketidak mulusan jalannya rencana rombongan yang membuat saya belajar sesuatu hal darinya. Salah satunya adalah : Profesional Judgement. “We are consultant!” ujar seorang bapak dengan tegasnya, dan tugas kita adalah mengerjakan tanggung jawab kita sebagai seorang konsultan, bukan untuk hal lain yang diluar ranah kita. Wejangan tersebut saya simpan baik-baik untuk pengalaman berikutnya agak tidak larut dalam sistem yang kerap abai terhadap profesionalitas sebuah profesi.  

[skip]

Kamipun bergerak menuju restoran padang di dekat kantor pemko (makan lagi, makan lagi, maaf, hahaha). Saya ingat saya makan Ikan bakar dengan potongan acar bawang dan rawit diatasnya, sedap sekali. hehehe. Jadwal shopping yang tertunda kemarin diganti menjadi siang ini, namun karena satu dan lain hal (yang kacau seperti tersirat diatas) jadwal itu terpaksa tertunda kembali, digeser menjadi sore hari. Saya berpikir dan mulai bingung. Tujuan ke Batam ini untuk survey dan studi bandingkah? Lalu kenapa shopping dan golf menjadi utama melebihi tujuan sebenarnya pergi ke kota ini. Tanya kenapa???

Singkat kata akhirnya jadwal shopping itu jadi juga, walau dibatasi hanya satu jam saja di satu toko serba ada yang disana biasa disebut collection. Di satu collection  tersedia mulai dari baju, parfum, barang elektronik, sampai oleh-oleh kecil seperti gantungan kunci, asbak, atau makanan ringan, bagi yang mau beli oleh2 tapi dana mencekak seperti saya. hahaha… Nama collection itu Italian Collection kalau tidak salah, terletak di daerah Nagoya. Saya sendiri tidak begitu menikmati acara belanja-belanji ini (baca : boke tak sanggup belanja), jadi setelah membeli beberapa snack saja, saya keluar dan… “ahaaa” saya melihat Restoran Sup Ikan Batam Yong Kie yang terkenal itu. Kawan saya pernah berkata kalau kamu ke Batam kamu harus coba sup ikannya. Sebentar saya bertanya pada guide kami, Natasha namanya, keturunan chinese asal jakarta, berparas manis sekali :p (penting banget ya?)
Itu restoran sop ikan yang terkenal itu bukan Mba?”
“Iya Mas, Yong Kie, itu yang paling terkenal disini”
“Masih lama nggak Mba disini? Saya mau makan sop ikan dulu di seberang”.
“Masih cukup waktunya Mas, Mas makan aja dulu nanti kalau mau berangkat saya miscall”
,
setelah memberikan nomor hp, sayapun menyeberang lalu memasuki restoran yang ramai itu, sendiri. “Tinggalkan saja para shopper itu disana, mari kita makan sop ikan!” batin saya.

mau pesan yang cumi, spesial atau apa Mas” tanya pelayan.
saya pesan yang biasa aja Mas, minumnya Teh Botol
Dan beberapa menit kemudian semangkuk sup ikan sudah tersaji di depan saya bersama irisan cabe rawit dan lada pada piring sambal kecil. Rasa supnya segar sekali, dengan daging ikan yang amat segar, ditambah irisan rawit yang bikin semakin segar dengan pedasnya. “mantap!” Namun tetap saja, makannya diburu-buru waktu, takut tiba-tiba dimiskol Natasha pada saat makanan masih banyak, hehehe… Terpaksa jurus makan kunyahan minimalis dilakukan, dan dengan segera sop ikan sudah ludes saya sikat. Saya lupa harganya, kurang lebih 18000an. Harganya sebanding dengan rasanya saya rasa. Recommended.😀

Ketika saya kembali ke toko oleh2 itu, ternyata mereka masih juga shopping, “duh”. Saya sendiri masih penasaran dengan daerah Nagoya Hill yang sering disebut-sebut, yang konon katanya superblock di daerah Nagoya. Namun karena tidak ada jadwal kesana (rombongan akan langsung ke hotel setelah dari collection), saya memutuskan memisahkan diri dari rombongan dan pergi kesana sendiri naik ojek, setelah meminta izin pada guide. Rupanya tempatnya tidak terlalu jauh, bayar ojek 5000 saja dan sayapun sudah sampai di Nagoya Hill. Tidak seperti yang saya bayangkan, ini bukan superblock seperti SCBD atau Mega Kuningan di Jakarta. Tapi ini hanya Sebuah Mal yang dikelilingi oleh ruko. Duh, tertipu saya, hehehe, penggunaan kata superblok ternyata hanya menjadi emblem semata bukan satu bentuk tipologi yang sebenarnya. Yaah, paling tidak saya kini tahu Nagoya Hill yang sering disebut oleh orang-orang itu. hehe…

Saya naik ojek untuk kembali lagi ke hotel, di tengah jalan sang supir ojek bertanya.
Sudah punya temen, Mas?“.
Sudah“.
Dalam hati saya
Aneh banget pertanyaanya“.
Lalu ia kembali melanjutkan
Kalau misalkan belum, nanti saya carikan“.
Kayanya saya mulai ngerti nih maksud pertanyaannya apa.
Sudah Bang, sudah ada“,
dalam hati saya emang udah ada bos saya di kamar. hahaha…
Kalo butuh yang nemenin, bilang saya aja, Mas
lanjutnya yang tidak saya jawab lagi, bingung juga mau jawab apa. Seturun dari ojek, saya ketawa sendiri sembari berjalan ke kamar, “ah, ada-ada aja“. Sesampainya di kamar saya langsung mandi lalu mempersiapkan beberapa file di laptop, malam ini ada meeting (akhirnya ada juga hal yang berbau dinas pada akhirnya), tetapi…

[skip]

Meeting baru selesai pukul 12 malam, sedangkan esok paginya saya sudah harus kembali bertolak ke Bandung, sementara beberapa “turis” lainnya akan melanjutkan perjalanan ke Singapura. Maka saya putuskan untuk segera tidur saja agar esok bisa pulang dengan badan bugar.

Perjalanan dinas yang memberikan banyak pelajaran sekaligus cerita, bahwa dunia tidak selalu seperti apa yang kita pikirkan. Dan makanan selalu menjadi teman terbaik dalam situasi apapun… hahaha…

 

salam, 

 

-japs-

[sebelumnya : Batam, Dalam Catatan – Pulau Galang, Kamp Pengungsi Vietnam]