pulang kantor tadi kondisi saya sudah lemas, nafas payah karena hidung tersumbat hingga mengeluarkan bunyi seperti asma jika saya menarik nafas, kepala berat dan sakit, suhu badan hangat melewati batas normal, dan perut mual, namun saya tetep bertahan menjaga capcay hangat enak makan malam tadi agar tidak terbuang sia-sia. dengan kondisi seperti itu perjalanan pulang di angkot terasa lama sekali, membuat saya terus menyandarkan kepala di jendela angkot, dan terus menarik nafas dengan susah payah, berharap segera sampai di kosan agar bisa berbaring beristirahat. jangan harapkan wajah menyenangkan penuh senyum dari raut saya karena kombinasi semua rasa itu benar-benar membuat saya bermuka seperti orang yang sudah tidak tahan ingin ke wc, asem, sepet, ancur lah (emang udah dari sananya kali jap. hehe).

tapi diseberang kursi saya tiba-tiba masuk seorang mahasiswi yang segera mengenali seorang perempuan yang duduk disebelah saya, rupanya ia temannya. bukan, bukan karena ia wanita berparas manis yang membuat saya terus memperhatikannya, namun raut dan pembawaannya ketika mulai menyapa dan berbicara dengan temannya itu yang menarik perhatian saya. ia tidak henti tersenyum setiap berbicara dan menatap kawannya, setiap tegur, setiap kata setiap gesture saya rasakan begitu ingin ia membuat temannya tersebut nyaman, dan iapun nyaman dengan caranya.

saya yang sepet setengah mampus karena pening, bengek dan mual sekaligus seketika itu juga merasakan energinya mulai merambati diri. seketika saya ingat raut tidak menyenangkan saya mungkin telah mempengaruhi teman sebelah meja saya seharian ini karena saya yang terus menerus menahan kepala yang sangat berat. saya lihat senyum perempuan itu, terus menyungging, kadang seperlunya dan tiba-tiba dikembangkannya saat ia melemparkan gurauannya. semoga ia tidak terganggu oleh pandangan saya yang tidak terjaga ini, tiada maksud tidak sopan, hanya seketika merasa tenang dan damai oleh sebuah senyum tulus orang yang sama sekali tidak saya kenal, bahkan jelas-jelas senyum itupun tidak ditujukan untuk saya.

cukup sudah raut masam di hari ini, pikir saya. kemudian saya memalingkan wajah saya kearah luar pintu angkot yang berada tepat di depan saya, tersenyum, dan tiba-tiba segalanya menjadi lebih ringan, oke tidak segalanya karena nafas saya masih terasa berat namun sakit kepala sedikit berkurang, dan perasaan tiba-tiba ringan. bahkan begitu sampai kamar saya membatalkan rencana langsung berbaring, meringkuk dan mengasihani diri sendiri yang gigil. tapi saya disini, menulis tulisan ini yang kini sedang dibaca oleh anda sekalian, berharap energi positif sebuah senyum di hari ini bisa merambat hingga ke paras anda semua.

salam 

 

-japs-