Masih ingat salah satu pemandangan di film Earth? Dimana disana dilukiskan hamparan pohon-pohon berdaun jarum yang amat luas. Luar biasa luasnya sampai-sampai hutan ini menjadi hutan yang terluas di muka bumi. Luasnya melebihi seperempat luas daratan bumi, dan Bioma Taiga pun menjadi bioma darat terluas di bumi. Saya selalu ingat narasi di film itu, bahwa hutan ini merupakan salah satu pemasok oksigen terbesar di planet yang beruntung ini : Bumi.

Izinkan saya sedikit berlebihan : “Hutan ini memberikan separuh nafas bagi bumi, bagi kita semua”. 

Komentar Mba Ely kemarin disalah satu tulisan saya mengingatkan saya kembali pada bayangan hutan taiga, hutan konifer yang terletak di belahan bumi utara, yaitu di kawasan Amerika Utara dan Eurasia.

Mba Ely bilang ia sering bersepeda diantara pohon pinus, melindasi biji-biji pinus yang berserakan di dasar hutan, saya bayangkan barisan pohon-pohon pinus itu manjadi latar belakang seorang wanita yang sedang bersepeda. Namun sampai sekarang saya masih bertanya-tanya dimanakah sebenarnya ia tinggal. Di Kanada kah? Alaska? Rusia? Swedia? Finlandia? Norwegia? atau tempat lain dibelahan utara sana? Ah, inginnya saya bermain kesana, meminjam sepedanya lalu mengayuh kencang di jalan setapak hutan konifer itu.
 
Disana saya akan sandarkan sepeda di pohon, memperhatikan biji (pinecone) pinus yang berserakan itu, juga yang masih menggantung di pohon Pinus mercusii, Pynus sylvestris ataupun jenis lainnya, apakah menutup ataukah telah terbuka yang berarti ia siap menjatuhkan biji (seed) dari sela-sela sisiknya meluncur menuju tanah.

Melihat burung-burung yang hanya datang di musim panas yang pendek, sebelum bermigrasi ke daerah tropis pada saat musim dingin yang panjang datang. Melihatnya memakan satu biji(seed) dari pinecone pinus dan membiarkan biji(seed) lainnya tetap disana untuk nantinya jatuh ketanah dan  berbenih disana, semua seperti sudah ada yang mengaturnya dalam kaidah alam yang menakjubkan pada saat kita amati dan pelajari. 

Tidak pernah saya sadari sebelumnya mengapa pohon-pohon itu berdaun jarum, ternyata bentuknya yang menyerupai jarum akan memudahkannya meneteskan salju yang turun, lapisan berlilin tebal dan permukaan yang amat kecil membantunya bertahan dari suhu yang rendah dan mencegah penguapan air yang berlebihan. Satu hal yang amat sangat penting untuk bertahan di daerah dengan air yang selalu membeku hampir sepanjang tahun. Maka proses fotosintesispun akan terus berlangsung bahkan disaat temperatur jatuh hingga dibawah nol derajat celcius. Hijaunya hutan ini abadi sepanjang tahun, baik di musim panas maupun di musim dingin di iklim yang keras itu. Satu hal yang sulit dilakukan oleh pohon-pohon berdaun lebar.

Saya ingin ke Hutan Taiga, menikmati tanaman lain yang tidak terlalu banyak jenisnya, yang tak sebanyak tanaman-tanaman di Hutan Tropis yang memiliki lebih dari 90% jenis spesies tumbuhan yang ada di bumi. Disana saya ingin menikmati cemara, ingin menikmati tanaman lumut yang beragam, mulai dari moss sampai lichen, yang juga penting sebagai makanan hewan-hewan herbivora. Untuk manusia sendiri hampir tidak ada tanaman layak makan disana, kecuali anda mau mati keracunan makan daun yang salah seperti Christopher John McCandles, si petualang into the wild  itu. Burung-burung datang hanya di musim panas selain karena biji-biji tumbuhan yang mulai bertumbuhan, tetapi juga karena dalam waktu seketika jumlah serangga meningkat pada suhu dan kelembaban di musim panas, waktunya makan besar bagi burung-burung. Juga bagi hewan-hewan lainnya, seperti beruang yang sudah puas hibernasi berbulan-bulan. Ngomong-ngomong kalau sudah bicara binatang karniforanya saya mulai jiper ke hutan taiga, hehehe… karena hewan-hewan lainnya seperti si kecil Bobcat (Felis rufus), mungkin bahasa indonesianya kucing kutub, atau si besar Siberian Tiger (Panthera tigris altaica) mungkin sudah menunggu disana. Walaupun tetap ada si kelinci lucu Snowshoe Hare (Lepus americanus) yang berkaki lebar untuk memudahkannya berjalan di salju, serta bulu-bulu coklatnya yang segera rontok digantikan bulu-bulu putih yang tumbuh sesaat akan musim dingin agar membuatnya tak terlihat oleh pemangsa karena saru dengan warna salju. Contoh lain keajaiban alam di hutan taiga. Kali ini dari seekor kelinci lucu bernama Snowshoe Hare. Yang semakin membuat saya ingin kesana…

hewan-taiga

Namun dapatkah saya kesana? mengingat koordinat saya sekarang yang berada di belahan bumi yang terbelah garis katulistiwa, mengingat perjalanan kesana tentu membutuhkan persiapan dan dana yang direncanakan, mengingat hutan taiga kini tengah terancam keberadaannya oleh pemanasan global yang kini terjadi, oleh penebangan hutan yang terus dilakukan (di Siberia penebangan hutan terus terjadi sejak soviet jatuh, dan di Kanada hanya sebesar 8% saja bagian hutan yang dilindungi, sementara luas hutan yang dialokasikan untuk usaha penebangan kayu mencapai 50% dari seluruh luas hutan) untuk kepentingan manusia. Kita butuh kayu untuk membangun bangunan, membuat kertas, mebel dan lain-lainnya. Namun dapatkah kita menikmatinya jika oksigen yang selama ini disediakannya habis begitu saja? Mungkin keserakahan saya dan umat manusia lainnya akan membawa petaka ini pada anak dan cucu kami di masa depan.

Dan ternyata masih ada ancaman lain yang malah merupakan ancaman terbesar bagi keberadaan Hutan Taiga (selain pemanasan global). Yaitu usaha eksplorasi dan pengembangan minyak dan gas bumi yang disinyalir terendap di dasar tanah Hutan Taiga berdiri. Dari Alaska ke Kanada hingga Rusia diestimasikan memiliki sumber minyak bumi dengan jumlah yang sangat besar, semua itu terdapat dibawah hutan ini. Eksplorasi ini dilakukan karena keadaan yang tidak stabil di negara penghasil minyak di timur tengah, efisiensi energi yang (konon katanya) lebih tinggi pada suhu rendah, serta permintaan bahan bakar minyak yang terus meningkat. Eksplorasi dan pengembanganpun mulai merambah daerah yang sebelumnya mustahil untuk dieksploitasi. Dan kelestarian pohon-pohon berdaun jarum itu semakin tidak terjamin.

Bukti-bukti menunjukan kerusakan tundra dan taiga akibat pemanasan global mengakibatkan gas-gas rumah kaca (methana dan karbondioksida) yang terlepaskan ke udara meningkat. Gas-gas tersebut terlepaskan saat tumbuhan itu membusuk (please CMIIW). Kondisi tersebut menyebabkan pemanasan global bahkan semakin parah dari sebelumnya. Hal ini menjadi lingkaran setan yang seperti tak memiliki ujung pangkal. Alam sudah memiliki keseimbangannya, dan manusia dengan segala kebutuhannya (atau keserakahannya?) senantiasa menimpangkan keseimbangan itu. Saya (masih junior) arsitek, dan selalu ingat ucapan teman kalau bidang usaha perusak lingkungan nomor dua adalah bidang arsitektur (nomor satu adalah pertambangan, lagi lagi CMIIW). Semoga saya senantiasa diberikan kesadaran ini saat nanti akhirnya berhasil menjadi arsitek sungguhan, yang akhirnya juga bisa ke Hutan Taiga (kalau masih ada). Amien. Selamatkan Bumi, Selamatkan Hutan Kita!

salam 

 

-japs-

sumber :
1. http://marietta.edu
2. http://kambing.ui.edu
3. http://en.wikipedia.org/wiki/Taiga
4. http://en.wikipedia.org/wiki/Scandinavian_and_Russian_taiga
foto 1 : http://suiri.tsukuba.ac.jp
foto 2 : http://en.wikipedia.org/wiki/Scandinavian_and_Russian_taiga
foto 3 : http://marietta.edu
foto 4 : http://marietta.edu