karena bintang itu jatuh bukan untuk dirilo, cahayanya juga bukan lagi buat sinarin dirilo.
But it’s your fault kalo bintang itu jatuh, dan kini menjauh…

Mari kita bernostalgia, (kita? elu aja kali japs!) haha, ya iya lah namanya juga apakatajapra…
ini ada tulisan (gak pantes dibilang puisi, dan karena emang bukan puisi) waktu jaman cinta pertama dulu (gak mau bilang cinta monyet walaupun itu cinta waktu jaman SMP, dan karena saya emang bukan monyet). Alkisah saya pernah jatuh cinta, namun karena sebuah kebodohan (saya), cinta itu terpaksa harus bertepuk pramuka (hehe, sebelah tangan deng) dan pil pahit hati yang patah harus saya lumat hingga lumer dan membuat air mata meleleh (saking pahitnya). halah lebay *ditimpuk*

Dan kebodohan saya itu berujung pada tolakan manis seorang wanita manis diujung telponnya. Saya masih ingat suaranya menggigit buah apel saat iya menolak saya dan berkata
“Jawabannya pas tahun gajah aja ya…” ucapnya setengah bercanda…
Dan saya yang bodoh itu tetap menunggunya hingga sampai kelas 3 SMA, sembari terus bertanya dalam hati.
“Emangnya tahun gajah itu kapan ya???”
Tiga tahun kemudian, begitu tahu bahwa harapan itu hanyalah kesia-siaan belaka, diatas genteng rumah saya yang dulu, saya yang mellow semellow barry manillow, betharia sonata dan penyanyi-penyanyi lagu cengeng tahun 80-an pun menuliskan sebuah tulisan tentang isi hati yang luka setelah menanti terlalu lama (halah, mendadak mual sama tulisan sendiri).


Keesokan harinya, tulisan itu saya tulis kembali dengan sandi2 pengecoh cemen jaman SMA yang kurang lebih kaya contohnya kaya gini nih kalo kita ngomong: “haidenlotpor! aidenpaiden kaidenbaidenres? kotporkes sentringengaiden petperresnaidenhes sentringenutpurmesputpurles sih?”
yang aaartinya:
“halo! apa kabar? kok nggak pernah ngumpul sih?”. cemen kan? emang! hehehe…
Nah, justru karena dibikin sandi biar gak ada yang baca, anak2 kurang ajar itu malah bersemangat menterjemahkan. Dasar sableng! hehehe… alhasil terterjemahkanlah tulisan mehe-mehe itu kebeberapa baris di depan dan belakang kelas. Dan beberapa oknum wanita menangis dibuatnya (waduh! gak ikutan deh). Katanya “japra… menyentuh banget” “hiks, japra… ini gue bangeeeet” *towew* hahaha… ada-ada aja… mungkin iya juga ya? soalnya saya juga nulisnya bener-bener udah desperate banget sama cewe yang bikin saya gak ngelabain cewe lain di jaman SMA, jaman2 keemasan itu! masa-masa saya lagi bersinar-bersinarnya! *melindungi kepala dari bakiak2 yang dilempar semua pembaca*. Pokonya dimasa-masa dimana kita harus berjuang demi sebuah cinta dan harga diri (halah lebay lagi). Dan tragisnya, masa-masa asmara dalam mimpi itupun harus hanya diakhiri oleh sebuah tulisan, hiks… Dan paska tulisan itulah baru saya mulai inspeksi ke “negara” lain, yang sayangnya “udah telat japs! udah kelas tiga! waktunya bimbel oy! bimbel!”

Tapi tekad memanfaatkan waktu yang tersisa sebaik-baiknya tidak boleh saya sia2kan. Target pertama seorang wanita kecil dan lucu berinisial DL, hahaha… (ini sih judulnya buka aib nih saya, tapi gak papa lah, semoga si langit disana gak cemburu trus mutusin hubungan :p ). Serangan dilancarkan, sayapun nelpon dia, langsung tanpa tedeng aling-aling, padahal kenalan aja belom (ah, itu kan bisa di telpon) *sok playboy padahal pengalaman minus*. Begitu masuk wartel (maap, dulu belom rame pake hape, nelpon dirumah pasti dikuping sama nyokap or si teteh) rasanya udah mau pengsan (alah cuma lewat telpon doang gitu lho jap!), tapi terus maju sampe kedalam bilik telpon. Didalam :
“Halo….”
“Iya…” (suaranya terdengar kecil banget, aduh salah wartel! malah bikin grogi aja!)
“Bisa bicara dengan ***”
“Apa? gak kedengeran?” (dasar ini wartel emang dodol banget)
“Bisa bicara dengan ***” kata saya lebih keras, dan lebih deg-degan
“Iya, ini gue. Siapa nih?”
“Apa? gak kedengeran?” (kayanya saya bener2 salah milih wartel, keburu panik dah jadinya)
“Iya, ini gue. Ini siapa?”
Dan jawaban memalukan saya ketika itu tidak sampai hati saya tuliskan disini. (aiiib aiiiib)
“Apaaaa?….” tanyanya dengan suara keras.
“………….” diem seribu bahasa, dan dunia seakan meleleh bersama gue yang ikutan menguap…
*jebret suara telpon ditutup*
hancur hati ini, berkeping-keping jadinya, lagi-lagi karena kebodohan dan kedodolan sendiri…

Target kedua, kali ini wanita manis berinisial MS. Kebetulan kelasnya hampir berseberangan dan bersilangan dengan kelas saya. Kelas saya agak bawah, kelas dia agak atas. Jadi jalur pandangan yang saya lepaskan bisa melesat meninggi dari saya ke arah sana, sementara balasan dari dia yang kadang suka tiba-tiba memalingkan wajahnya saat tahu saya sedang mengamatinya (SMA banget si? hahaha) akan menukik menghunjam sampai ke hati saya yang paling dalam (yang sayangnya jarang banget!). Seringnya saya doang yang ngelempar trus dia pura2 gak liat aja. *sigh*. Tapi biar bagaimanapun posisi itu tetap saya nikmati, terutama apabila pelajaran kimia mulai merajalela, atau fisika mulai bengis dengan rumus entah2nya… ah… saya ini memang murid yang kurang ajar.

Pagi itu di lapangan jogging track Universitas Indonesia, tempat sekolah kami biasa latihan olahraga. Saya lihat dia berlari sendiri didepan saya “kejar? jangan? kejar? jangan???” “kejar!!!” Hahahaha, asal jangan sampe pengsan aja begitu nyampe sana jap! “Halo… ” ucap saya sembari menebarkan senyuman termanis sepanjang masa. Perkenalan pun terjadi dalam keadaan lari-lari kecil, lancar walau saya tetap grogi… “Nanti saya boleh telpon-telpon ya?” ucap saya mengakhiri pembicaraan sembari melanjutkan lari, kali ini sprint biar terlihat gagah, sporty dan berwibawa (kok kaya tagline Daihatsu Taruna?) meninggalkannya dan berharap ia akan berhenti berlari, lalu melihat lelaki ini berlari menjauhinya dan berteriak “ya, amppuuun… doi keren bangeeeet” *dan sang lelaki tiba-tiba keserimpet, gelebret, jebret, jatuh, gubrak!* (oke, ungkapan sang wanita dan kejadian terakhir hanya bayangan saya saja, karena itu cuma akan ditemukan di sinetron remaja cupu di televisi anda, hehehe). Akhirnya target kali ini setidaknya merespon, mulai dari telpon2an (tetep pake wartel, tapi gak di wartel itu lagi, trauma!), mengumpulkan pasir dan batu2an waktu kepantai untuknya (yang katanya begitu ditaro dikamar malah jadi bau, karena kerangnya pada busuk, doh! ada ada aja!), sampe pengalaman cari kado ke Mal Taman Anggrek (catat : rumah saya di depok!), tapi gak nemu, lalu lanjut ke pasaraya (semua menggunakan angkutan bus, applause pada diri sendiri) dan akhirnya nemu juga sebuah boneka beruang besar lucu yang khusus dibeli untuk ulang tahunnya, untuk dia gadis manis dengan kawat gigi itu. hehehe…

Karena semua berjalan lancar, tembakan pun segera disiapkan untuk kemudian diluncurkan. Dengan harapan masa-masa paling indah ini akan menjadi semakin indah. “Cie Japra… akhirnya ada kenangannya juga nih masa SMA lu” ucap seorang teman, padahal gak ada hubungannya tembakan ini ama masa SMA harus pacaran, kalo emang hati sudah jatuh apalagi yang dilakukan selain melabuhkannya di hati yang lain. Segenap rasa pun diungkapkan, berikut ajakan melanjutkannya ke hubungan yang lebih serius. Dan lagi-lagi kali ini jawabannya harus lewat telepon juga. Duh saya masih trauma nerima jawaban dari telepon, sejak ditolak dari telpon juga, 3 tahun yang lalu itu (halah) hehehe….

Kali ini saya tidak ingat bagaimana ia memulai pembicaraan. Saya lupa bagaimana ucapannya, yang jelas ia tidak bisa menerima ajakan saya dan menggunakan status pacaran karena satu dan lain hal. Karena satu alasan tertentu saya juga tidak bisa menjelaskannya lebih lanjut disini. Yang jelas saat itu, saya, DITOLAAAAK!!!! hahaha… Saya pun lupa bagaimana ia mengakhiri percakapan, rasanya sih layaknya wanita-wanita kalo menolak cowo, seperti “kamu gak marah kan?” atau “tapi kita tetep temen kan?” haiyah…. ayooo.. kalian para cowo (yang sering ditolak), akuilah! pasti sering dapet jawaban ngeles kaya gitu? iya kan? hahahaha!!! Ingatan saya akan kalimat-kalimat sakti perontok hati itu lemah, namun saya jelas ingat bagaimana saya langsung menjatuhkan badan ke sofa di rumah nenek saya yang berwarna coklat itu dan menutup kepala dengan bantal sekeras2nya, gak mau denger apa-apa lagi!!! gak mau angkat telpon lagi!!! gak mau jatuh cinta lagi!!! (dasar abege!!! gitu aja pundung! hahaha) Yang jelas saat itu saya benar-benar PATAH HATI… dan itu indah… (ternyata) saat dikenang🙂

Sebelum tulisan ini terus memanjang dan meleset dari tujuan awalnya yang hanya ingin merepost tulisan saya kala patah hati pada cinta pertama (jijay sendiri mendengar kata cinta diulang2 mulu dari tadi), lebih baik saya langsung tulis lagi saja. (saya tulis lagi, bukan copy paste, karena kali ini saya tidak akan memberikannya dalam bentuk sandi seperti yang saya tulis di blog friendster saya.)

Untuk kamu, seorang yang pertama kali nyelonong masuk ke relung saya, mengambil sebagian paruhannya untuk kau bawa dan tak kunjung kembali. Terima kasih untuk rasa terindah selama tiga tahun lamanya saya menanti, dan untuk pelajaran bahwa penantian sekian lama yang berakhir tragis justru memberikan keindahannya dari sisi yang lain.

Untuk Langkitku, ini cuma kisah masa lalu… hehehe… gak ada maksud cinta lama bersemi kembali… hehehe… peace ^_^v

Bintang Jatuh

Dari dulu gue ngga ngerti,
dan sampe sekarang pun gue masih bingung.
Kalo dulu pintu itu terbuka,
tapi bodohnya gue yang sia-siain kunci yang kini udah kadaluwarsa.

Kalo sekarang masih ada jendela yang kebuka,
semua itu cuma sebuah lorong omong kosong yang udah waktunya tamat.
Kepura-puraan yang bikin gue ngegantung di rantai kebingungan udah waktunya
gue abisin.

Tapi…
tiap gue mo buka halaman baru, yang kebuka selalu halaman lama yang seharusnya udah gue tutup buku.
Tapi…
gue ngga bisa, gue ngga bisa, gue ngga sanggup.
Atau jangan-jangan gue belum rela lupain masa lalu?

Biar sekarang itu ngga ada artinya, kenapa gue masih bermimpi asa kecil itu bisa tumbuh dan berbuah sekarang? Jelas itu mustahil!!!
“semua itu ngga sesimple make a wish pas ngeliat bintang jatuh, Jap”

Karena bintang itu jatuh bukan untuk dirilo, cahayanya juga bukan lagi buat sinarin dirilo.
But it’s your fault kalo bintang itu jatuh, dan kini menjauh.

japs, 2001

Yah, kira-kira demikian racauan patah hati saya di masa SMA. Iya… iya.. emang cemen berat! gak usah sampe guling2an gitu dong. Hehe. Namanya juga abege patah hati yang sok pengen nulis, jadinya ya.. giitu deh.😛
Sekian ajang bongkar aib saya malam ini, sampai jumpa di kesempatan yang akan datang.
Oh iya, saya punya filosofi baru semenjak kena tipes:
“semakin kurus orang. semakin gansteng dia” (filosofi orang yang susah banget naekin berat badan)
*kabur sebelum diamuk massa*

salam 

 

-japs-