suis-butcher-frame

Seporsi tenderloin steak,  segelas hot lemon tea dan kalimat-kalimat filosofis yang berjejalan masuk, yang bersusah payah menjadi satu gagasan baru dalam pikiran yang dihantar sebuah buku berjudul Dunia Sophie telah membuat saya merasa “hidup” kembali. 

Sebut saya berlebihan, tapi tiga minggu didera beberapa penyakit sekaligus telah benar-benar memenjara saya dari dunia luar. Bubur, nasi tim, regal, teh manis panas, jaket, selimut dan sekotak kamar 4x4x2.75 menjadi teman sehari-hari yang semakin lama semakin menjenuhkan. Bahkan terasa amat melelahkan begitu demam datang kembali saat dua hari sebelumnya tes darah telah membuktikan bahwa saya sudah “bersih” (thanks to Mba Ade atas culikannya di malam hari menuju UGD RS. Sentosa yang Holiday Inn banget itu). Gejala Typhus, sembuh sesaat, sakit kepala, sembuh sesaat, hasil cek darah oke, tenang, istirahat pemulihan, dan ternyata masih demam juga benar-benar melelahkan saya, dan membuat malam tadi seperti sebuah perjuangan yang berat menurunkan panas yang tinggi dengan sebutir panadol, jaket, dan selimut karena panas gak reda-reda. Perjuangan baru berhasil saat saya mencoba menahan nafas sampai batas kemampuan dan rasanya seperti mau semaput (megap2, saya hanya kuat 2 menit). Keringat bercucuran dan suhu badan kembali normal. Alhamdulillah demam itu hilang.

Maka hari ini saya bertekad tak mau mengungkung lagi diri ini di dalam kosan, meski keputusan pulang ke kampung halaman lebaran haji ini harus saya batalkan karena demam semalam. Meski mual masih sedikit terasa, hal itu tak jadi alasan untuk menahan saya menghirup udara luar dan nikmati makanan selain bubur dan sejawatnya.


Dan disanalah saya berada, disebuah resto steak yang sangat digandrungi di Kota Bandung di Jalan Setiabudi, saat saya mendengar lagu lawas The Everly Brothers itu mengayun begitu damai…

“Dreaaaam…. dream dream dream…. dreaaaam…. dream dream dream….when I want you in my arms, when I want you and all your charms….whenever i want you all I have to do is dream….”

Disaat saya sempat menghabiskan bab mengenai Filosof Locke dan Hume dari Dunia Sophie saat menunggu pesanan datang. Disaat sebuah kenikmatan begitu terasa indahnya saat saya telah melalui masa penahanan akan sebuah nafsu lahiriah beberapa saat lamanya demi alasan kesehatan. Bukan, bukan hanya karena steak itu memang besar, lezat, dan empuknya, atau hot lemon tea itu begitu sederhana nikmatnya (saya harus memeras dan mengucurkan air lemonnya kedalam teh yang membuatnya terasa lebih segar) yang membuat saya amat bersyukur atas karunia di makan siang saya hari ini. Namun ada sebuah letupan rindu yang meletup dahsyat ketika saya mulai menikmati potongan daging dengan saos sambal yang haram saya makan seminggu yang lalu. Saya bersyukur atas semua rindu yang telah terbayar. Saya rindu ketupat sayur Padang, saya rindu Indomie rebus telor pake rawit yang banyak, saya rindu baso di depan Gelael yang laku itu. Ah… tapi steak hari ini rasanya sudah cukup mengobati kangen saya akan makanan “normal”, juga salad segar dengan saus thousand island yang saya pesan di pertengahan makan (kalo ini judulnya doyan apa maruk? hehehe).

Dan berlari di bawah hujan deras seketika turun dari angkot pulang itupun terasa begitu indah di setiap langkahnya. Pun genangan air yang seketika pecah saat saya injak dengan begitu kencang. Ah… saya merasa “hidup” kembali… 

Alhamdulillah

salam 

 

-japs-