Hmm… tiada yang hebat/ dan mempesona/
ketika kau lewat/ dihadapanku/
biasa saja… 

Alunan irama keyboard sebagai intro musik yang khas 70’an ini membuat saya melayang kembali ke era tahun-tahun itu… Era dimana film-film drama dalam negeri masih menjadi raja di negeri sendiri. Dan seketika terbayang oleh saya sebuah adegan film drama era 70’an akhir atau 80’an awal dimana Rano Karno atau Yessy Gusman menjadi bintangnya, warna film itu terlihat pudar dengan teknik pengambilan gambar yang sederhana, namun tak mengurangi kesan syahdu juga romantisnya kisah dua sejoli berseragam putih abu-abu (yang longgar dengan lengan kemeja dilipat sebagai penanda anak gaul dimasa itu). 

Berboncengan sepeda kala pulang, atau adegan buku jatuh lalu pandangan mata pun beradu saat meraih buku yang telah terserak. Ah…. saya rindu sekali menikmati film-film masa itu… Galih dan Ratna, Badai Pasti Berlalu, atau film-film lainnya… 

waktu pertalian/ terjalin sudah/
ada yang menarik/ pancaran diri/
terus mengganggu…

mendengar cerita sehari-hari/
yang wajar tapi tetap mengasyikkan

Hmm.. tiada kejutan/pesona diri/
pertama kujabat/ jemari tanganmu/
biasa saja…

masa perkenalan/ lewatlah sudah/
ada yang menarik/ bayang-bayangmu/
tak mau pergi…

dirimu nuansa-nuansa ilham/
hamparan laut tiada bertepi..

kini terasa sungguh/
semakin engkau jauh/ semakin terasa dekat/ 
akan kukembangkan/
kasih yang engkau tanam/ di dalam hatiku

menatap nuansa-nuansa bening/
tulusnya doa bercinta…

Dan lagu Keenan Nasution inipun terus berulang di pemutar mp3 saya…

salam 

 

-japs-

Untuk semua yang sedang dilanda nuansa bening…
Untuk semua pecinta era 70 dan 80’an…
Dan untuk kamu… ya! kamu…🙂

Terima kasih untuk Keenan Nasution dan Insan Perfilman Indonesia.