Langit kemarin sore begitu dahsyat,
lembayungnya meledak jingga di ufuk barat.
Menembakkan setiap sinarnya ke arah timur, kepada setiap bidang yang menantangnya.
Ke atap-atap rumah, ranting-ranting pohon, dan dinding-dinding putih yang menjadi kanvas besar bagi lukisan bayang-bayang si pohon.

Saya berjalan memunggungi “ledakan”,  melangkah menuju timur,
menikmati setiap tembakan sinarnya di bidang yang menantang itu.
Ah… Galau kemarin sore, masih bisa saya ingat…
Begitu juga dengan sinar jingga yang hangat,
masih lekat-lekat menempel di sel otak.

Dan di pertengahan malam, sebuah pesan masuk…
Terkirim sebuah puisi sederhana dari seorang kawan tentang langit jingga tadi sore…
Tentang hawa dingin Kota Bandung yang bertentang dengan hangatnya sinar jingga…
Tentang perjalanan pulang yang sedemikian sederhana namun mencairkan rasa bahagia seketika itu juga…
Dan saya pun bahagia membacanya…

Yeap! This simply and beautiful life is too good too pass up.

Salam,

-japs-