Ini yang saya rasakan di hari pertama bekerja di Jakarta:
Sudah berangkat jam 1/2 6 pagi dari rumah, dan baru sampai di kantor pukul 1/2 8! 2 jam perjalanan dari Depok ke Bilangan Blok-M? Saya pikir nambah 1/2 jam lagi, saya sudah sampai di Bandung dengan travel langganan. Jakartaaaaaaaaaaaaa!!!

Jadi begini ceritanya, saya naek kereta ekonomi, tapi turun di Pasar Minggu buat naik P 75 jurusan Ps. Minggu-Blok M. Bodohnya saya nggak tau kalau jalur buncit yang dilewatin sama bis itu bakalan jadi petaka di pagi hari. Ditambah lagi hujan yang bakal bikin kemacetan tambah akut. Dan benar saja, Kawan. 1/2 jam saja dari Depok ke Ps. Minggu. Tapi, dari Psr. Minggu ke Blok-M nya 1 1/2 jam! Saya bisa tidur lagi di bis metromini itu…. hehehe.

Sampai kantor sekitar jam 1/2 9, saya sms teman saya yang sudah sebulan lebih dahulu bekerja bertanya nanti saya harus ke ruangan mana dan ketemu siapa. Ternyata dia juga terjebak macet dan kemungkinan baru akan sampai di kantor jam 10. Huwahahah. Dia sms balik, langsung ke lantai 2 aja, disana Bos Kami (yang selanjutnya akan saya panggil Nyonya) sudah disana.

Saya buka pintu ruang kerja itu, nampak meja sekretaris didepan ruang kepala divisi yang masih kosong, ia belum datang, saya berbelok ke kiri, terlihat deretan meja menghadap tembok, dengan sirkulasi orang lewat tepat di belakangnya. Disana sudah ada Nyonya bersama seorang kawan satu tim saya akan bekerja, namanya Nancy. Nyonya memberikan pekerjaan pada saya, sebuah file presentasi/paparan yang harus saya edit. Ia menunjuk laptop yang sudah terbuka di sebuah meja di ruangan kerja dengan 3 barisan meja. Saya di meja baris pertama.

Itulah kali pertama saya bertemu dengan teman seperjuangan saya di kantor ini, kelak nanti saya akan memberinya nama: Gundam.  Tugas saya pagi itu adalah : 1. Memperbaiki catatan notulensi suatu acara dengan mendengarkan rekaman acara tersebut. 2. Memperbaiki paparan seorang pengisi acara, di acara berikutnya. Karena pekerjaan yang kedualah yang lebih diburu waktu, maka saya diminta untuk mengerjakan yang itu dulu.

Saya belum merasa nyaman bekerja di tempat kerja ini, wajar masih hari pertama. Mungkin juga karena kantor ini terlalu besar dibandung kantor diman saya bekerja di Bandung. Saya hanya belum bisa merasa nyaman. Wajar… hari pertama. Saya bertanya kepada Nyonya yang saya lihat sudah mulai sedikit sibuk. “Bu, kira-kira dua kerjaan ini harus selesai kapan? hari ini apa besok?”.  Dengan intonasi keras dan tidak terduga ia menjawab. “Ini bukan MAIN HARI, ini MAIN JAM!!!”. Oke, ini hari pertama saya bekerja di Jakarta, dan pertama kalinya pula diteriaki seperti itu di dalam kantor. Muahaha…. Awal yang cukup mamacu adrenalin. Dan saya bekerja secepat mungkin pekerjaan yang sudah diberikan pada saya tadi…. karena ini main jam…

Seharian itu diwarnai dengan naik turun, lantai, karena revisi paparan yang saya buat harus diasistensikan dengan kepala divisi di lantai 6. Oh ya, saya harus ceritakan dahulu, sebelum diasistensikan saya cetak dulu file itu, untuk mencetak kami menggunakan mesin printer yang terhubung dengan laptop Nancy, jadi kami harus meminta tolong padanya untuk dapat mencetak file. Nancy mengambil USB saya, mengcopy file ke laptopnya, dan membuka file yang saya mau cetak.

“Ini boros tinta, lu benerin lagi deh lay outnya”
Deangan intonasi yang tidak lebih ramah dari Nyonya barusan ia memberikan instruksi sebelum mau mencetakkan file itu. Baiklah, siap laksanakan. Saya mengubah layoutnya dan template file paparannya menjadi lebih hemat tinta. Setelah dicetak, saya lari naik tangga (tak gunakan lift) ke lantai 6, untuk memberikan file paparan pada seorang asisten kepala divisi. Tentunya saya harus bolak-balik dulu untuk tahu dimana divisi seorang asisten kepala ini, seperti sudah saya bilang. kantor ini terlalu besar buat saya. Saya tanya pada sekretarisnya yang berbadan kecil dan menggunakan jilbab, ah ternyata si Bapak sedang rapat, saya tanya kapan ia ada di ruangan. Katanya jam 1. Oke nanti saya akan kesini lagi.

Saya kembali ke meja, Nancy bertanya, saya jawab, lalu saya kembali meneruskan pekerjaan. Pekerjaan nomor 1 tadi, revisi catatan notulensi. Aha hari ini sepertinya kerjaan saya revisi-revisi. Mendengarkan rekaman, lalu memperbaiki tulisan yang salah. Teman saya yang sudah sebulan lebih dahulu bekerja itu datang, ia manyampaikan salah satu “kondisi” di ruangan ini,, dan harap maklum untuk satu hal itu. Saya tersenyum dan kembali bekerja. Jam 1 saya kembali ke lantai 6, ternyata pak asisten kepala itu sudah kembali pergi. Saya terpaksa titipkan file paparan tercetak itu pada sekretarisnya.

Di bawah Nancy kembali bertanya, saya jawab si asisten kepala itu sudah tidak ada. “Kamu terlambat?”. Dia tersenyum, senyum yang aneh. Saya tidak menjawab.

Di sore hari Nyonya meminta pekerjaan revisi notulensi saya segera di cetak, sementara beberapa hal belum saya selesaikan karena memang belum keburu. Ia mengatakan agar tidak seluruhnya dulu di revisi, bagian akhir saja yang menyatakan kesimpulan. Oke dan ia baru memberitahunya saat ini, saat ia mulai panik dan minta di print. Saya segera mengarahkan rekaman ke bagian akhir dan berusaha menemukan kesimpulan. ketemu? Ketemu. tapi tidak semudah itu karena kesimpulan dibacakan dengan perlahan dan panjang, tapi Nyonya melihat dari belakang dan meminta saya segera mengetikkan kesimpulannya. Bagaimana mungkin? saya tidak ikut acaranya dan kini harus mengetik lebih cepat dari rekaman?! Luar biasa.

Hari ini hari pertama kerja yang luar biasa. Impresi pertama begitu “menggoda”, selanjutnya? Kita lihat esok hari! hahaha

Salam

-japs-