Bandung, 25 Agustus 2005

01.25

Dini hari ini aku duduk dan mencoba menulis, mengenai catatan satu hari kemarin, setelah diri ini kembali tenang. Setelah diri ini kembali mampu menggerakan tubuh dengan perlahan dan penuh perasaan di setiap gerakan shalat, setelah sebelumnya entah mengapa selalu tergesa. Setelah mandi sebelumnya dan tadarus setelahnya. Entah apa yang membuat diri ini kembali sedikit merasa percaya bahwa segalanya akan kembali membaik, setelah satu hari sebelumnya yang amat sangat sulit dimengerti. Satu hari dimana diri terus bertanya “mengapa” dan “mengapa”, “mengapa aku begini” dan tiadapun yang ditanya mampu menjawab. Entah apa yang kembali membawa diri kembali ke jalur yang seharusnya, yang sudah kesekian kali biasanya oleng lagi ke jalur yang tak seharusnya. Diri ini labil? Mungkin. Diri ini sulit sekali berpegang? Kadang. Maka teramat berbahayalah saat segala sesuatu yang tak terkontrol dan mala mendekat padanya semudah ia mengikuti itu semua dengan rendahnya.

Sekali lagi entah apa yang membuatnya kembali, mungkin saja karena memang ia butuh kembali. Mungkin saja karena tak ditemukannya apa yang dicari. Mungkin saja karena sesungguhnya ia mendamba tetap berjalan lurus tak berpaling. Entahlah, tapi kurasa mungkin ada juga pengaruh sebuah film yang kutonton bersama dua orang kawan malam ini sepulang lembur mengerjakan sebuah proyek. Film bertajuk cin(T)a yang mengisahkan cinta segitiga sepasang manusia yang berbeda agama dan Tuhan. Sebuah film yang mengusung tema yang sedemikian mentransenden dalam pertanyaan-pertanyaan yang timbul di dalamnya.

“kalau Allah ingin disembah dengan satu cara, kenapa Allah menciptakan kita berbeda-beda?”

Salah satu pertanyaan yang sudah cukup membuat terhenyak sejak saya melihat potongan film ini di Youtube. “Tuhan, Engkau mencintai Cina dan Annisa (kedua karakter pasangan berbeda agama di film tersebut), namun sejak mereka menyebut Kau dengan nama yang berbeda, mereka tak dapat saling mencintai.” Satu bentuk kalimat yang ternyata mampu menuai berbagai opini dan tanggapan. Isu religi menjadi isu yang teramat sensitif, dan hal tersebut yang membuat begitu banyak silang pendapat akan tema film ini. Isu sinkretisme beragama lah, isu sekularisme lah, isu propaganda religi tertentu lah, dan lain dan lainnya. Namun lain dari itu justru apa yang saya rasakan hanyalah sebuah pertanyaan wajar insan akan sesuatu yang seolah-olah diluar nalar, diluar kuasanya sebagai hamba.

Memilih antara cinta kepada kekasih dan Kekasih menjadi masalah yang sudah sedemikian klasik, namun selalu menjadi onak dalam beberapa kasus pasangan yang berbeda keyakinan. Mudahnya, jelas setiap ajaran agama mengajarkan (dan mewajibkan) mendahulukan cinta pada Kekasih, ketimbang kekasih. Maka ada nasihat diawal hubungan, jangan bermain api dengan hubungan beda agama, karena sejak kau memulainya, saat itu juga kau menyalakan bom waktu yang siap meledak suatu saat.

“Kalau begitu bagaimana kalau Kau pindah saja ke Agamaku?” Cina
“Kamu yakin masih mau menerimaku saat itu” Anissa
Cina terdiam
“Tuhanku saja aku khianati, apalagi kamu?” lanjutnya

Nyatanya, memang hal itu tak semudah itu, cinta pada Kekasih, tak serta merta menghilangkan cinta pada kekasih yang (sayangnya) berbeda keyakinan. Toh Tuhan juga yang menciptakan cinta dan perbedaan ini? Lalu harus bagaimana? Sementara setiap kami menganggap-Mu sebagai Yang Paling Benar, setiap kami mempercayai-Mu hanya Satu dan itu Kamu, satu Kamu bagi saya, satu Kamu bagi dia, dan satu, satu, satu Kamu lagi untuk mereka. Maka dalam pikiran bebal yang durhaka, kamu tidak lagi menjadi Satu, tapi Banyak. Demikian jika diteruskan pertanyaan-pertanyaan dalam diskusi antar agama akan menjadi semakin menakutkan, karena tak pernah ada titik temu, semua merasa yang paling benar. Dan toleransi menjadi pagar.

Maka benar adanya jika seorang Dee mengatakan hal-hal tersebut hanya menjadi benang kusut yang semakin berpilin-pilin kacau tak mampu terurai.

Kembali, jika saya ditanya apa yang saya dapat dari film ini, saya hanya bisa menjawab : Pertanyaan. Ya film ini menawarkan pertanyaan yang setiap pribadi, suku, golongan, dan agama dapat menyimpulkan jawabannya masing-masing. Tak saya rasakan kesan ataupun pesan terselubung yang dikhawatirkan beberapa (atau kebanyakan?) orang yang menganggap terdapat nuansa sinkretisme beragama di film ini, namun hanya pertanyaan dan pertanyaan.

Dalam dialog-dialog cerdas yang beruntun keluar, dalam plot cerita yang lambat namun perlahan menuju konflik yang yang kian tak terpecahkan, dalam adegan demi adegan entah mengapa jantung saya mulai berdebar lebih kencang, posisi duduk menegak, pandangan memusat dengan raut muka yang terasa semakin kaku, larut terbawa dalam kecemasan karakter-karakter dalam film. Sampai akhirnya saya merasa 79 menit adalah waktu yang pas untuk film ini. Bisa gila saya berdebar-debar, berpikir dan bertanya-tanya selama 2 jam di dalam kelindapan.

“Akhir cerita yang aman” ujar teman saya seraya kami berjalan pulang dan seperti biasa membahas setiap hal yang menarik pada film yang kami tonton. Ya, akhir yang di tengah-tengah menurut saya, tidak sedih, namun juga bukan Hollywood ending yang bahagia. Untuk pastinya, silakan menontonnya saja…

Dan disini saya menulis pengalaman saya menyaksikan film ini, sesaat sebelum sahur hari keempat di Bulan Ramadhan, dengan kata demi kata yang semakin melenceng dari garis perdebatan tema film ini, namun demikian hanya itu yang dapat saya simpulkan dengan segala keterbatasan pikir dan pengetahuan. Dan semakin melenceng lagi berikut status yang saya tulis di sebuah situs microblogging kesayangan saya :

“cin(T)a, film yang mendapat berbagai opini miring tentang sekularisme, sinkretisme agama, propaganda, dan sebagainya justru membuat saya berpikir… sejauh mana saya sudah mengenal Tuhan saya? Agama saya? Dan sejauh manakah pengalaman saya menuju-Nya?”

Karena aku tak ingin menjadi penyembah-Mu yang buta, aku ingin mencintai-Mu karena pengalaman-pengalamanku akan kasih-Mu. Hingga suatu saat nanti aku akan menjadi sangat rindu ingin segera bertemu dengan-Mu, Kekasih Sejatiku.

Amien

japs

03.54