Saya tidak mengerti, apa yang membuat saya tidak diperkenankan menyandarkan sepeda saya pada sebuah bidang batu kali penahan pohon kenari tua yang berdiri tegak di depan bangunan agung baru itu, ‘campus center’ kampus tempat saya kuliah dulu.

Saya tengah membaca  Arok Dedes di atas bidang turap/pot besar  pohon kenari itu, sembari menunggu teman saya datang, hanya untuk memberikan sebungkus abon dan dendeng yang dibekali kakak saya dari Sukabumi. Saya perlu memberikannya kepada teman saya itu agar makanan tersebut tidak mubazir dan terbuang di kosan. Saya hanya memerlukan waktu barang 5 menit untuk menunggu kawan saya datang untuk kemudian akan pergi lagi dengan sepeda saya tanpa meninggalkan jejak kerusakan atau vandalisme di kawasan bangunan agung baru itu.

Tapi entah mengapa pihak keamanan kampus itu tiada memperkenankannya. Ketika saya tanya mengapa sepeda saya sebaiknya tidak berada disitu ia hanya menjawab tegas, keras, dan tidak suka: “Gak boleh!”. Tak terpikir untuk saya melanjutkan pertanyaan selanjutnya yaitu mengapa tidak diperbolehkan? Juga tak terpikir untuk memberikan alasan kecil saya bahwa saya hanya perlu menunggu sekitar lima menit. “Diparkir di luar, baru Mas masuk kesini!” Ucapnya masih dengan tegas, keras, dan tidak suka. “Saya tidak membawa kunci sepeda saya”, jawaban datar saya yang menjadi satu-satunya alasan saya tidak seperti biasanya memarkirkan sepeda itu di tempatnya untuk kemudian dapat meninggalkannya terkunci dengan tenang, dan dapat berjalan kaki ke tempat saya berjanji bertemu dengan kawan saya di taman depan campus center ini. Dengan amarah dalam hati saya mengayuh sepeda keluar kawasan bangunan agung tersebut, melintasi batas demarkasinya yang berupa rantai, batas yang memisahkan “area luar” menurut petugas keamanan tersebut dengan boulevard bebas kendaraan (termasuk sepeda) dan kegiatan apapun kecuali hanya lewat dan berjalan, yang dulunya pernah menjadi tempat kami (mahasiswa saat itu) duduk, berjanji bertemu, berdiskusi, berorasi, belajar, atau sekedar lewat dan berlari menuju ruang kuliah karena telat. Tiada gangguan sedikitpun kami dapatkan di masa boulevard itu justru dilalui oleh mobil juga motor yang dalam dunia urban kerap dipisahkan untuk kenyamanan pedestrian.

Namun lihat apa yang terjadi sekarang pada boulevard agung baru itu, dia semata-mata menjadi “jalur bersih” sirkulasi pejalan kaki yang menuju atau melewati bangunan agung baru itu, yang begitu bersih, putih, bening transparan dengan hampir seluruh bangunannya yang berbalut kaca, yang begitu simetris dan sempurna. Bangunan agung yang bersih dan suci sepertinya juga membutuhkan jalan masuk yang bersih, suci, tiada kotor dan cela apapun, termasuk sepeda yang bersandar ringan pada satu sudut kawasannya.

Tadi saya bertanya dengan amarah: “kenapa?”. Tapi hingga kini pertanyaan tersebut tak kunjung temui jawab, sisakan ‘kenapa’ yang tak lagi ditemani amarah, kini saya bertanya dengan kesedihan yang dalam.

Kampusku rumahku,
kampusku negeriku,
kampusku kebebasanku,
kampusku wahana kami.

Disana kami dibina,
menjadi manusia dewasa,
namun kini apa yang terjadi?
Ditindas semena-mena.