Langkah kaki terus tergegas menyusuri aspal jalan Gatot Subroto karena tak tersisa lagi tempat untuk berjalan kaki di atas trotoar, demikian juga dengan waktu saya, tak tersisa terlalu banyak untuk mendapatkan tiket film 3 Idiots di Blitz Pacific Place malam itu. 30 menit lagi tersisa sebelum film itu dimulai, itupun belum tentu masih ada tiket yang tersisa ketika saya di depan loket nanti. Kabarnya sejak kemarin tiket film tersebut laris manis. Dan benar saja, sesampainya di depan loket saya lihat tiket 3 Idiots untuk pukul 20.10 tertulis dengan warna merah: ‘sold out’. Sedikit kecewa, tapi untuk menonton yang pukul 22.00 artinya saya harus batalkan travel ke Bandung pukul 11.45, dan memesan kembali yang …. pukul 02.00?

Entah apa yang membuat saya ‘maksa’ harus nonton film ini sebelum pulang ke Bandung, mungkin review banyak orang yang bilang film ini keren. Atau cerita tentang pantai pada akhir filmnya yang membuat beberapa orang yang nonton ingin kesana? Entahlah, yang jelas saya tetap antri di depan loket, berharap ‘sold out’ tidak berarti seluruhnya terjual, tapi ada kursi-kursi sisa untuk satu orang yang menurut mereka tak mungkin lagi terjual, toh saya hanya nonton sendiri. Dan benar saja, diantara informasi tiket ‘sold out’ dan keajaiban nonton film sendiri, mba-mba penjaga loket mengatakan : “Kalau untuk satu orang masih ada”. “Yes!!!” Saya teriak dan jumpalitan dalam hati. Mendapatkan kursi di ujung paling atas teater. Kursi nomor A15! Tiketnya sudah di tangan. Satu keberuntungan.

Duduk di sebelah saya, pasangan bapak dan ibu yang tengah ngomel-ngomel karena anaknya membelikan banyak tiket untuk teman-temannya yang tidak jadi datang, “Buat apa itu?!!!” geramnya. Pada saat sendiri, mulut tidak memiliki teman diskusinya, dan telinga memang selalu jadi bekerja lebih keras.

Seorang bercerita tentang seorang teman yang ingin melakukan sesuatu dengan membuat film. Menyampaikan pesan-pesan yang ingin disampaikannya untuk kebaikan yang dia harapkan untuk bangsanya. Menurutnya film salah satu media yang paling mudah menyampaikan pesan-pesan atau bahkan propaganda pada masyarakat, terutama di negara di mana buku belum menjadi jendela dunia yang terlalu digemari untuk dibuka daun-daunnya. Dengan kata lainnya, film mampu ikut mengembangkan, melestarikan atau justru menjerembabkan budaya bangsa. Film dengan cerita dan visualisasinya mampu menghipnotis atau merasuk pikiran setiap penontonnya. Itu pendapat subjektif saya, setelah beberapa film yang saya tonton seperti tak mau pergi dari pikiran hingga hampir seminggu lebih, selama itu pula ia terus merasuk dan hantui pikiran. Terakhir film cin[T]a, dan kini 3 Idiots.

Dalam hantaman komedi yang membombardir ruangan teater dengan gelak tawa seluruh penonton, termasuk saya yang sampai mengangkat kaki saking ngakak-nya ketawa-tawa tanpa memedulikan bapak ibu galak (sepertinya) di sebelah saya, terselip tragedi-tragedi pada cerita tiap pemeran utama film tersebut. Ada satu teman lain yang berpendapat kalau komedi dan tragedi adalah dua sisi dalam satu keping mata uang. Dalam komedi sesungguhnya juga ada tragedi. Dalam hal ini saya merasakan hal lain, tidak hanya komedi yang juga merupakan tragedi di sisi lainnya. Namun tragedi, kesedihan, duka, tangis, atau apapun itu padanannya akan jauh lebih terasa torehannya saat kita telah rasa lebih dahulu komedi, kesenangan, ria, tawa atau apapun itu padanannya. Dan begitulah saya, setelah tertawa puas dengan kaki terangkat seketika mampu dibuat berkaca-kaca. Komedi-tragedi, keriaan-kesedihan, tawa-tangis, datang silih berganti dalam 165 menit durasi standar film india, lengkap dengan lagu dan tariannya yang masih terus bertahan di film-film India hingga tahun 2010 ini. Komedi-tragedi, keriaan-kesedihan, tawa-tangis, datang silih berganti terselip pesan besar dalam sebuah film yang terinspirasi oleh novel Chetan Bhagat berjudul ‘5 Point Someone’. Rajkumar Hirani, sutradara film ini dengan apik mampu menyampaikan pesan apa yang Chetan Bhagat sampaikan di novelnya. Dalam Komedi-tragedi, keriaan-kesedihan, tawa-tangis yang silih berganti terumbar kritik pada dunia pendidikan di India, terumbar penolakan pada sistem pendidikan yang berorientasi pada nilai, bukan pendidikan itu sendiri, terumbar penolakan pada tradisi orang-orang tua di masyarakat di India yang kerap menentukan jalan hidup dan profesi anaknya untuk sebuah status. Menjadi menarik saat film ini menyoroti fakta tingginya kasus bunuh diri pada mahasiswa india karena tekanan-tekanan tersebut.

Chase excellence, success will follow” salah satu tagline dan pesan besar film ini yang menjawab isu pendidikan di India. Kita boleh sebut pesan tersebut basi, tapi berapa banyak pelajar kita yang masih akan memikirkan berapa nilai yang didapatkan dalam pelajaran tertentu ketimbang seberapa jauh kita sudah memahami materinya? filosofinya? Seberapa banyak yang masih berpikir untuk berlomba-lomba mendapatkan pekerjaan yang menjamin kehidupan meskipun itu bukan yang disukainya? Film ini keras menyentil, yang membuat saya berpikir seandainya saja klan India pencipta sinetron-sinetron di Indonesia itu menciptakan hal-hal yang sebaik Chetan Bhagat dan Rajkumar Hirani, rekan sebangsanya. Chase excellence, rating will follow

Tentu hidup tidak semudah cerita dalam film ini yang bagaikan cerita dongeng dengan akhir bahagianya. Namun, film ini sampaikan satu mantranya saat cobaan menentang dalam sebuah perjuangan di dunia nyata: “Aal izz well…

Watch it! Definitely recommended!

*dan pukul 11.20 saya kembali bergegas di atas trotoar Sudirman Central Business District mengejar waktu yang tersisa 20 menit lagi sebelum travel ke Bandung itu meninggalkan saya di ibukota.