Baru saja semalam saya bercerita hal remeh temeh kecil yang tak terduga dan terrencana selalu membuat hidup saya lebih hidup. Jika kemarin malam hal remeh kecil itu terjadi di omprengan, maka pagi tadi hal remeh kecil itu terjadi di dalam sebuah gerbong kereta ekonomi ac jurusan Jakarta Kota.

Satu hal yang menarik perhatian saya adalah, begitu banyak bayi dan anak balita di dalam gerbong itu. Hampir semuanya di dalam gendongan ayah atau ibunya. Dan satu gerbong menjadi semerbak harum bayi-bayi habis mandi, hahaha… Saya lihat bayi lelaki kecil di gendongan ibunya yang tenang, saya lihat kakaknya yang masih balita di gendongan ayahnya lebih aktif menunjuk2 dengan senyuman dan tawa yang hanya dia dan Tuhan yang tahu maksudnya, senyum dan tawa dalam dunianya sendiri. Tak jauh dari keluarga muda kecil itu ada bayi lain yang juga tertidur tenang, berbalik kanan, saya melihat lagi-lagi bayi di gendongan, melirik ke arah yang lebih jauh, juga sama, bayi lagi… bayi lagi… ada apa dengan gerbong kereta ini di siang hari ini? Kenapa begitu penuh dengan bayi… dan bayi??? Saya pikir ini adalah “Family on the train time”. Minggu siang yang cerah, waktu yang tepat untuk berjalan-jalan membawa si kecil naik kereta ekonomi tapi ber-ac ini. Tak sedikit bayi yang bukannya senang malah menangis dan gelisah di dalam. Ada yang berhasil ditenangkan sang ibu, ada juga yang menangis menjerit tiada henti.

Stasiun Cawang, tempat saya akan turun sebentar lagi kereta ini sampai. Saya mengambil posisi di depan  pintu kereta, di kanan saya si bayi yang terus menangis, sementara di sisi kiri saya balita lain di gendongan ibunya, tatapnya melihat ke arah saya, saya “godain” dia tanpa sepengetahuan si ibu, dia bingung dan untungnya nggak nangis. “Tuh liat tuh, ade yang itu nangis tuh, kesian ya… cup cup cup” Ucap ibunya pada anak sembari menunjuk ibu lain yang kewalahan dengan anaknya yang terus menangis, berteriak dan terus menerus menangis”

Dan sesaaat kereta perlahan berhenti lagu Louis Armstrong yang di bawakan Buble di iPod saya secara tak terduga sampai di bait:

I hear babies cry… I watch them grow… They’ll learn much more, than I’ll ever know…

senyum  saya tersungging, “hal remeh kecil ini… ” batin saya.

And I think to myself… What a wonderful world…

Pintu kereta terbuka, saya melangkah keluar, berhenti di atas peron, terpaku dalam bauran rasa yang aneh, serta kecamuk pikiran. Mulut saya masih tersenyum, namun mata saya terasa sedikit berair.

Yes I think to myself…  What a wonderful… w o r l d

Saya kembali berjalan keluar stasiun dengan setumpuk rasa bahagia tiba-tiba. Lagi-lagi, karena satu hal remeh kecil yang tak terduga.