Sorotan sinar projector menerangi seluruh permukaan fasada Museum Fatahillah dengan intensitas yang cukup tinggi, ciptakan efek menyala. Sorot sinar proyeksi itu berkerejap seperti listrik kekurangan daya. Terang, gelap, terang, gelap, terang, gelap dalam selisih waktu sepersekian detik. Sorotnya  menjiplak tampak bangunan museum itu dengan cahaya, outline sinar biru mengeliling bingkai setiap jendela museum, hal itu menampakkan wajah Museum Fatahillah yang tampak berbeda dengan efek flourescent menyala, dan sampai pada satu titik dimana Museum Fatahillah itupun roboh, pecah berkeping-keping dalam efek visual proyeksi video di fasada bangunan. Ribuan penontonpun berdecak kagum, riuh dalam kekaguman.

Setidaknya itu yang saya rasakan kala menyaksikan satu scene video mapping 3D pada acara Jakarta Creative City Festival, malam minggu,13 Maret 2010, kemarin. Tentunya scene tersebut yang paling dahsyat karena efek visualnya yang paling canggih diantara scene-scene lainnya. Menggabungkan antara fasade bangunan museum, dengan teknologi video 3D. Kreatif dan brillian, alias Krellian, halah!

Sejak awal dimulainya video 3D ini, pandangan saya tertarik pada penunjuk tahun yang tersorot pada tengah kepala bangunan, deret angka tahun yang bertambah dan berkurang menandai periode tahun. Petunjuk tahun itulah yang menyampaikan bahwa video mapping 3D ini berusaha menampilkan wajah Kota Jakarta sejak masih bernama Sunda Kelapa, Batavia, Jayakarta hingga Jakarta. Sejak masih berupa rawa-rawa dengan ancaman wabah malaria, sampai berupa hutan-hutan beton dengan ratusan mal yang nyata-nyata masih menyisakan sedikit sekali ruang kreatif bagi warganya.

Karya kreatif ini menjadi awal dari satu tujuan menjadikan Kota Tua Jakarta sebagai pusat industri kreatif di Jakarta. Sesuai slogan : “Kota Kreatif, Jakarta Punya”. Tentunya perwujudan dan pengembangan komunitas kreatif dalam suatu kota tidak semudah dan seinstan penciptaan slogan diatas, namun kegiatan ini menjadi satu langkah awal yang akan membuat kemungkinan-kemungkinan menuju “Jakarta Kota Kreatif” semakin terbuka. Bayangkan, bila banyak orang bisa menikmati suguhan kreatif setiap minggunya di Taman Fatahillah sebagai ruang kreatif seperti malam minggu kemarin. Dan banyak orang lainnya menikmati suguhan kreatif lainnya di Taman Menteng, Silang Monas, Taman Ayodya, Taman Surapati, Jalur Pedestrian Thamrin, Pantai Ancol, Parkir Timur Senayan, dan tempat-tempat lainnya. Apresiasi terhadap satu karya kreatif akan semakin berkembang, budaya kreatif dalam kota pun seiring akan tumbuh. Tak perlu lagi film-film komedi dan horor picisan berbumbu “penyedap” berlebihan itu untuk hiburan rakyat, tak perlu lagi sinetron-sinetron pengasong mimpi ke tiap-tiap rumah lewat kotak yang bernama televisi.

Saya merindukan suatu saat nanti ketika saya ke Jakarta, saya menjadi bingung diantara banyak ajakan yang sama menariknya, seperti: Ayo, nonton lenong Betawi, Jap! Nonton ondel-ondel, aja! Gimana kalo nonton pertunjukan tanjidor? Ayolaah, nonton tari topeng betawi! Mending nonton rampak kendang, kali! Atau, kita nonton pertunjukan kreatif sineas indie aja! Ayo nonton pantomim! Eh, nonton video mapping lagi yok, kali ini di Gedung Arsip lho….! Ayo buruaaan, jangan kelamaaan mikir yang mana, Jap!!!!

Wah wah wah…. sebelum itu sih kayanya emang harus duluan ada ajakan:

“Ayo! Rebut ruang kreatif kita!”

Terima kasih buat Seniman Multimedia D-Fuse, Sakti Parantean, Adi Panuntun, dan tim untuk sebuah karya seni yang menghibur publik Jakarta dan warnai Kota Tua Jakarta dalam satu semangat kreatif yang luar biasa.

salam

-japs-