Melihat manusia dari sudut mata Khan. Adalah Rizwan Khan, seorang anak muslim yang menderita Asperger’s Syndrom namun mendapatkan pelajaran hidup dan kemanusiaan yang sangat berharga dari seorang ibu yang luar biasa. Seorang wanita yang paling mengerti dirinya. Dalam satu waktu terjadinya perselisihan antar agama Hindu dan Islam di India, sang ibu mengatakan satu hal yang “menunjukkan dunia” pada sang anak.

“There are only two type of person. Good person who does good things, and bad person who does bad things”

Bukan karena agama Hindu baik, dan Islam jahat, ataupun Islam baik dan Hindu jahat. Yang ada hanyalah manusia yang baik karena melakukan hal yang baik, dan yang jahat karena melakukan hal jahat. Bukan masalah agama, tetapi masalah kemanusiaan. Rizwan tenggelam dalam pelukan sang ibu, ia dapatkan pelajaran yang tak pernah ia dapatkan di sekolah.

Rizwan cerdas dan memiliki kelebihan dalam memperbaiki mesin dan barang-barang selain memiliki sindrom yang membuatnya sulit berkomunikasi dengan baik di lingkungan sosial. Perhatian lebih dan ilmu kehidupan yang diberikan ibunya membuatnya menjadi sosok yang berhasil melawan keterbatasan dan menerobos masuk kehidupan yang normal. Perhatian lebih itu pula yang membuat sang adik cemburu dan meninggalkan ia dan ibunya untuk tinggal dan hidup di Amerika.

“Peluk ibu, anakku…”
Rizwan menggelengkan kepalanya
“Ayolah, 2 menit saja…” Rajuk sang ibu sembari menunjukkan kedua jarinya.
“Dua menit?” Tanya Rizwan sembari juga menunjukkan kedua jarinya.
Rizwan melihat kepada jam tangannya, kemudian memeluk tubuh orang yang paling dicintainya.
“Pelukan itu hanya dua menit, namun mampu bertahan hingga 6 bulan … hari 7 jam”.
Panutan hati itu pergi setelah sebelumnya meminta Rizwan berjanji untuk mengejar hidup yang bahagia seperti adiknya.

Cerita berlanjut ringan dan humoris, menceritakan kehidupan Rizwan di San Francisco bersama sang adik, hingga akhirnya menikah dengan Mandeera, seorang Hindu India. Bersama Sameer anak tirinya mereka hidup bahagia. Rizwan menepati janjinya kepada sang ibu, ia meraih hidup bahagianya. Hingga peristiwa itu terjadi, peristiwa yang menjadi satu penanda dalam peradaban bagi umat beragama didunia, peristiwa 9/11.

Hidup umat muslim di Amerika mengalami perubahan yang signifikan pasca peristiwa 9/11. Tak terkecuali keluarga Rizwan, Mandeera, dan Sameer yang kini melekat sebuah nama di belakangnya, Khan. Sepertinya sudah jadi kewajiban saya untuk menyampaikan bahwa inti cerita film ini adalah perjuangan seorang Khan, untuk bertemu Presiden Amerika dan mengatakan sesuatu agar disampaikan kepada seluruh rakyat Amerika:

My name is Khan, and I am not a terrorist.

Dalam perjalanannya bertemu presiden, simak hubungan manis antara Khan, Muslim India dan keluarga Mama Jenny, seorang Nasrani Afro-America di Georgia, yang lembut mengkritisi hubungan antar ras dan agama yang begitu rentan di negara ini. Juga negara kita?

Memang benar, ini bukan film tentang terorisme atau peristiwa 9/11. Ini film tentang cinta kasih, tentang hubungan antar manusia, antar umat beragama. Film yang penuh cinta dengan satu sudut pandang paling indah dalam melihat manusia. Dan Khan mengajarkan kita cara melakukannya.

Hahaha bukan review yang  bercerita tentang filmnya keseluruhan, maaf ya, Tapi Kajolnya cantik! Sinematografi ciamik!

And, Shakrukh Khan, we’re not worthy bow for ur great act!

Salam

-japs-