Hari ini kali kedua saya menonton 3 Idiots, dan masih, saya tertawa dibuatnya. Dan masih, mata saya sedikit basah di beberapa adegannya. Di tulisan sebelumnya, saya tak katakan adegan mana yang paling menguras air mata saya. Haha, saya tak malu katakan air mata saya terkuras, saya rasa karena memang sangat menyentuh.

Adegan itu adalah adegan dimana Farhan akhirnya memberanikan diri mengatakan kepada ayahnya bahwa ia tidak ingin menjadi Insinyur di hari ia akan melakukan wawancara kerja di akhir masa kuliahnya di sekolah teknik. Ia berusaha memberi tahu kepada ayahnya yang begitu menginginkan anaknya menjadi insinyur bahkan menentukannya di menit pertama kelahiran sang anak di dunia, ia berusaha memberi tahu kepada ayah yang mengorbankan satu-satunya AC di rumahnya dipasang di kamar sang anak agar dapat belajar dengan tenang, dan ia berusaha memberi tahu kepada ayah yang rela hanya memiliki motor, bukan mobil, untuk membiayai pendidikan sang anak, dan semua itu hanya untuk satu alasan: “Sang anak hidup terpandang menjadi seorang insinyur”.

Farhan berjuang melawan ketakutan yang sangat besar yang dimiliki seorang anak atas keinginan orang tua yang begitu besar dengan segala pengorbanannya.
“Ayah, jika aku menjadi insinyur, selama hidupku aku akan mengutuki hidupku, selama hidupku aku akan menyesalimu”
“Jika aku menjadi fotografer, mungkin gajiku lebih kecil, rumah dan mobilku juga, tapi aku akan mengerjakannya dengan sepenuh hati. Dan aku tak ingin menyesalimu, Ayah. Lebih baik aku sesali diriku.”

Farhan membuka dompetnya keitka ibunya menangis dan khawatir Farhan mengikuti hal yang dilakukan Raju sahabatnya, mencoba bunuh diri dan melompat saat kehidupan menekannya. Farhan berlutut di depan ayahnya, menunjukkan gambar ayah dan ibunya yang tersenyum di dalam dompetnya.
“Lihat ayah, Rancho temanku yang ayah sebut mempengaruhiku itu yang memintaku memasang foto ayah dan ibu”
“Ia memintaku untuk melihat foto ini setiap pikiran buruk itu datang, ia berkata: Apa yang akan terjadi dengan senyum ini jika kau melakukan hal bodoh itu? membunuh dirimu?”
Saat itu rasanya mata saya hendak leleh, perang batin antara keinginan baik sang ayah untuk kehidupan anaknya dengan kehidupan yang diimpikan anak itu sendiri, kasih orangtua, dan kekuatan persahabatan meremas-remas perasaan dan mengaduk-aduknya dengan emosional.

Sang ayah berjalan meninggalkan Farhan menuju laptop yang baru saja dibelinya sebagai hadiah bagi anaknya yang akan segera lulus dan menjadi insinyur kebanggaannya.
“Berapa harga sebuah kamera? Kamu jual laptop ini, Nak, kalau kurang bilang ayah”
Farhan merangsek memeluk ayahnya dalam haru dan mata yang leleh, ia berhasil meyakinkan ayahnya, bukan sekedar hanya untuk satu pekerjaan yang diminatinya. Ia berhasil meyakinkan ayahnya, untuk hidupnya.

Hidup yang bagaimana lagi yang bisa kita banggakan selain hidup yang sesuai dengan panggilan jiwa kita? Hal ini benar-benar seperti menjungkir balikkan semua hal yang acap kali kita lihat di dalam hidup ini. Yang banyak kita seringkali lupa. Terlalu banyak Farhan-Farhan yang menyerah pada dunia yang disodorkan, yang mengorbankan harapan untuk selamanya hanya menjadi impian yang perlahan-lahan abu-abu dan hilang tergerus kehidupan.

Farhan, Raju, dan Rancho. Tiga bersahabat yang bersama-sama menjalani kuliah dalam kampus teknik nomor satu di India. Dengan sistemnya yang dianggap sangat kaku dan tidak mengarahkan mahasiswa untuk mengejar ilmu melainkan nilai dan prestasi belaka. Bertiga mereka menghadapi kehidupan kampus tersebut dengan permasalahan dan karakternya masing-masing. Farhan yang sebenarnya ingin menjadi fotografer fauna dan terjebak karena keinginan sang ayah, Raju yang menjadi tulang punggung keluarga sehingga begitu terbebani dan ketakutan dalam persaingan yang begitu ketat di dalam kampus. Sementara Rancho? Ia berbeda, sosok yang amat mencintai dunia teknik, menyukai mesin, dan menganggap kuliah bukan sekedar persaingan mengejar nilai sebaik-baiknya kemudian kembali bersaing mendapatkan perkerjaan terbaik. Ia menganggap kuliah adalah tempat kita melahap sebanyak-banyaknya ilmu yang ia sukai, untuk selanjutnya dapat melakukan yang terbaik dengan ilmu tersebut. Selanjutnya, maka kesuksesan itu sendiri yang akan menghampiri. Rancho menjadi sosok yang berpengaruh bagi kedua sahabatnya. Bagi Raju untuk keluar dari ketakutannya, bagi Farhan untuk keluar dari mimpi-mimpi ayahnya. Dan bagi seluruh dunia, dalam setiap pesannya:

Chase excellence, and success will follow

Amien

Film ini begitu positif dan saya tak merasakannnya berkurang bahkan saat menonton kedua kalinya di bioskop. Aamir Khan, seorang aktor berusia 40sekian tahun, dan membuat saya tidak bermasalah melihatnya memerankan karakter berumur 18an, tentu saja karena kemampuan akting yang brilian. Kareena Kapoor, bagaimana mungkin ada wanita secantik itu?  Ah! Film ini terlalu menghibur.