Seandainya saya seorang ayah dengan anak lelaki berusia diatas 6 tahun, saya akan mengajaknya hari Minggu ini untuk menyaksikan film ini berdua dengannya. Kenapa cuma berdua? kenapa nggak sekeluarga? Karena menurut saya film ini pas sekali jika ditonton oleh ayah dan anak lelakinya.

Berkisah tentang Hiccup si Anak Viking yang dilahirkan berbeda dengan orang-orang Viking pada umumnya. Hiccup kurus, kecil, berwajah culun, sangat kontras dengan perawakan orang Viking yang gemuk, dan berwajah sangar. Demikian pula dengan ayahnya sang pemimpin Pulau Berk, tempat masyarakat Viking tinggal. Ia berwajah super sangar, berbadan super besar, dan berjenggot super lebat yang di kepang menjadi beberapa bagian, khas Viking. Hiccup dan sang ayah tidak pernah bisa berbicara sejalan, saat Hiccup ingin menjadi pembunuh naga seperti semua orang Viking,  ayahnya mengatakan bahwa bertarung melawan naga bukanlah sesuatu yang dapat dilakukan anaknya yang kurus, kecil dan ceroboh ini.
“Kau bisa menjadi apa saja asal bukan menjadi pembunuh naga.”

Namun ketika Hiccup berubah pikiran tidak ingin membunuh naga, justru ayahnyalah yang paling memaksanya untuk mengikuti latihan melawan naga. Hiccup dan ayahnya kembali beradu pendapat. Kali ini dengan pendapat keduanya yang berputar 180 derajat, namun satu hal yang tidak berubah, ayahnya tetap memaksa dan tak mau mendengar yang Hiccup katakan.
“Ayah, nampaknya diskusi ini sangat berat kepada satu sisi saja”. Sisi ayahnya yang keras dan otoriter itu tentunya.
“Dengan kapak ini kau akan menjadi petarung”. Lempar ayahnya menjatuhkan perintah yang tak mungkin dapat ditolak.

Ada dua hal yang menarik perhatian saya di film ini. Satu adalah hubungan ayah dan anak yang begitu apa adanya. Kedua adalah setiap ekspresi dan gestur karakter Hiccup di film ini. Hiccup adalah karakter anak yang humoris, anak yang cerdas sekaligus memiliki kebodohan-kebodohan kecil yang membuatnya jenaka. Ekspresi dan gestur seorang Hiccup jauh sangat menghibur saya melebihi cerita dan keindahan gambar di film ini, saya tidak merasa seperti melihat sebuah hasil modelling 3 dimensi, saya seperti melihat film manusia biasa. Tokoh 3D di film Avatar mungkin jauh lebih menyerupai makhluk yang benar-benar hidup, namun tokoh Hiccup jauh lebih hidup bagi saya. Hiccup lebih hidup karena ekspresi malasnya, gaya “ngeles“-nya, gestur kikuknya, laga sok-asiknya, juga ekspresi muka bloonnya. “He has a big heart”, kicauan seorang teman saya di Twitter. Atau “I love Hiccup, too.” kicau teman Twitter saya yang lain. Untuk keberhasilan tokoh Hiccup ini tentu saya harus berikan sembah takzim kepada seniman 3D dari Dream Works dan pengisi suara si kecil Hiccup, yaitu Jay Baruchel. Melihat karakter 3 Dimensi begitu hidup dalam ekspresi dan gestur yang wajar ternyata satu celah hiburan yang menyenangkan buat saya.

Hiccup yang selalu diremehkan karena kekurangan dan kecerobohannya ternyata mampu menyadarkan penduduk Berk bahwasanya naga yang selalu menyerang mereka tidak seperti yang mereka pikirkan. Satu persatu rahasia tentang Naga terbuka disaat Hiccup melatih Toothless, seekor naga yang berhasil ditangkapnya namun ia malah tidak tega membunuhnya, dan akhirnya naga itu menjadi sahabatnya. Kali ini hubungan anak manusia dan naga mulai menarik perhatian selain hubungan ayah dan anak.

Everybody would kill him, then why didn’t you?”
“I saw his eye, and he saw mine. I saw his fear in his eye, and so did he. I saw myself in him”

Cerita film ini begitu ringan, kekuatannya justru pada kesederhanaan cerita dan karakternya. “Sangat ringan tapi ternikmati seluruhnya” lagi-lagi saya dapatkan pendapat ini dari kicauan teman Twitter saya. Durasi filmnya, sekitar 90 menit, bisa dibilang cukup pendek dan teman saya benar, ternikmati seluruhnya.

Jadi, untuk para ayah, silakan nikmati popcorn Anda bersama si jagoan kecil, dan dengarkan bersamanya satu kalimat yang semoga tidak akan pernah keluar dari “Hiccup” kecil Anda.

Dad! for once in my life, please listen to me!!!

Salam

-japs-

Maaf kalo akhir-akhir ini isinya cuma cerita tentang film-film yang saya tonton, energi untuk menulis belum pulih untuk menulis sesuatu yang lebih serius. alesan :p