Search

Apaka Tajapra

Cerita dari Jakarta dan kota-kota disekitarnya

Robohnya Museum Kami

Sorotan sinar projector menerangi seluruh permukaan fasada Museum Fatahillah dengan intensitas yang cukup tinggi, ciptakan efek menyala. Sorot sinar proyeksi itu berkerejap seperti listrik kekurangan daya. Terang, gelap, terang, gelap, terang, gelap dalam selisih waktu sepersekian detik. Sorotnya  menjiplak tampak bangunan museum itu dengan cahaya, outline sinar biru mengeliling bingkai setiap jendela museum, hal itu menampakkan wajah Museum Fatahillah yang tampak berbeda dengan efek flourescent menyala, dan sampai pada satu titik dimana Museum Fatahillah itupun roboh, pecah berkeping-keping dalam efek visual proyeksi video di fasada bangunan. Ribuan penontonpun berdecak kagum, riuh dalam kekaguman.

Setidaknya itu yang saya rasakan kala menyaksikan satu scene video mapping 3D pada acara Jakarta Creative City Festival, malam minggu,13 Maret 2010, kemarin. Tentunya scene tersebut yang paling dahsyat karena efek visualnya yang paling canggih diantara scene-scene lainnya. Menggabungkan antara fasade bangunan museum, dengan teknologi video 3D. Kreatif dan brillian, alias Krellian, halah!

Sejak awal dimulainya video 3D ini, pandangan saya tertarik pada penunjuk tahun yang tersorot pada tengah kepala bangunan, deret angka tahun yang bertambah dan berkurang menandai periode tahun. Petunjuk tahun itulah yang menyampaikan bahwa video mapping 3D ini berusaha menampilkan wajah Kota Jakarta sejak masih bernama Sunda Kelapa, Batavia, Jayakarta hingga Jakarta. Sejak masih berupa rawa-rawa dengan ancaman wabah malaria, sampai berupa hutan-hutan beton dengan ratusan mal yang nyata-nyata masih menyisakan sedikit sekali ruang kreatif bagi warganya.

Karya kreatif ini menjadi awal dari satu tujuan menjadikan Kota Tua Jakarta sebagai pusat industri kreatif di Jakarta. Sesuai slogan : “Kota Kreatif, Jakarta Punya”. Tentunya perwujudan dan pengembangan komunitas kreatif dalam suatu kota tidak semudah dan seinstan penciptaan slogan diatas, namun kegiatan ini menjadi satu langkah awal yang akan membuat kemungkinan-kemungkinan menuju “Jakarta Kota Kreatif” semakin terbuka. Bayangkan, bila banyak orang bisa menikmati suguhan kreatif setiap minggunya di Taman Fatahillah sebagai ruang kreatif seperti malam minggu kemarin. Dan banyak orang lainnya menikmati suguhan kreatif lainnya di Taman Menteng, Silang Monas, Taman Ayodya, Taman Surapati, Jalur Pedestrian Thamrin, Pantai Ancol, Parkir Timur Senayan, dan tempat-tempat lainnya. Apresiasi terhadap satu karya kreatif akan semakin berkembang, budaya kreatif dalam kota pun seiring akan tumbuh. Tak perlu lagi film-film komedi dan horor picisan berbumbu “penyedap” berlebihan itu untuk hiburan rakyat, tak perlu lagi sinetron-sinetron pengasong mimpi ke tiap-tiap rumah lewat kotak yang bernama televisi.

Saya merindukan suatu saat nanti ketika saya ke Jakarta, saya menjadi bingung diantara banyak ajakan yang sama menariknya, seperti: Ayo, nonton lenong Betawi, Jap! Nonton ondel-ondel, aja! Gimana kalo nonton pertunjukan tanjidor? Ayolaah, nonton tari topeng betawi! Mending nonton rampak kendang, kali! Atau, kita nonton pertunjukan kreatif sineas indie aja! Ayo nonton pantomim! Eh, nonton video mapping lagi yok, kali ini di Gedung Arsip lho….! Ayo buruaaan, jangan kelamaaan mikir yang mana, Jap!!!!

Wah wah wah…. sebelum itu sih kayanya emang harus duluan ada ajakan:

“Ayo! Rebut ruang kreatif kita!”

Terima kasih buat Seniman Multimedia D-Fuse, Sakti Parantean, Adi Panuntun, dan tim untuk sebuah karya seni yang menghibur publik Jakarta dan warnai Kota Tua Jakarta dalam satu semangat kreatif yang luar biasa.

salam

-japs-

Advertisements

Kesiangan!!!

“Ca, kok belum berangkat? kesiangan ya?”

Samar-sama suara kakak saya membangunkan saya yang lelap. Sempat beberapa detik berpikir lambat sampai akhirnya terbangun dengan panik!

“Apa? Sekarang jam berapa, Teh?” tanya saya sembari terduduk.
“Udah jam 1/2 8”
“Hah!!!” Teriak saya yang kaget dan panik karena seharusnya naik travel ke Bandung jam 5 pagi, karena harus masuk kantor jam 8. Panik dan kaget tidak lantas membuat saya bergegas mandi dan berangkat karena saya tak tahu harus ke Bandung naik apa. Ada pemberangkatan lagi jam berapa, dari mana dan sebagainya. Saya benar2 blank.

“Ya udah sana mandi dulu” ucap kakak saya.
Tapi saya malah bengong, setengah merutuki diri sendiri, melihat kepada handphone yang kelihatannya lupa saya pasang alarm-nya. Atau terpasang namun saya matikan tanpa sadar saat tertidur, entahlah.

Saya mandi lalu putuskan berangkat ke Aya Travel Depok-Bandung, go-show, kalau dapet syukur, kalau ngga saya bakal cari travel ke Bandung yg berangkat dari Lenteng Agung, Cipaganti Travel. Di dalam angkot saya gunakan hape untuk browsing nomor telepon Cipaganti di Lenteng. Saya dapat nomornya, namun tak bisa dihubungi. Angkot berjalan perlahan karena kemacetan dan saya berpikir untuk naik Xtrans dari Blora-Sudirman saja karena pemberangkatan ke Bandung disana setiap setengah jam. Sekarang jam 1/2 8, jam 8.20 nanti saya bisa naik kereta Depok Express ke arah Stasiun Sudirman, jadi tinggal jalan ke Blora. Asal bisa segera nyampe Stasiun Depok Lama sih, amaaan….

Tiba-tiba telepon saya berbunyi, saya lihat ke layarnya, telepon dari kakak saya.
“Ca! charger laptoplu ketinggalan”.
Argh! kenapa pas buru-buru gini malah ada yang ketinggalan…
“Ya udah deh, gue balik lagi” Dyem, harapan saya untuk mengejar kereta Depok Expres punah sudah.
Saya akhirnya turun lagi, dan naik angkot ke arah sebaliknya. Mengambil charger laptop, dan kembali pamit pergi kepada kakak saya dan suaminya.

Travel Aya Depok-Bandung belum tentu ada pemberangkatan jam 9.
Travel Cipaganti di Lenteng Agung gak bisa dihubungi.
Saya telepon Xtrans Blora Jalan Sudirman, dan dapat pemberangkatan yang jam 9, sementara sekarang sudah jam 8 dan saya masih di angkot di Depok. Kalau saya sempat mengejar kereta Depok Express ke Stasiun Sudirman jam 8.20. Jam 9 kurang 15 mungkin saya sudah bisa sampai Sudirman, masih ada harapan ternyata. Tapi ini jalanan menuju stasiun depok macet banget. Panik, saya berulang kali melihat penunjuk waktu di hape, berharap angkot bisa segera berjalan lancar keluar dari kemacetan.

Sampai di pertigaan Jalan Margonda saya turun dan berlari menuju ojek, tanpa saya beritahu kemana tujuan saya tukang ojek langsung tancap gas ke arah Stasiun Depok Lama dengan kencang. Nampaknya ia sudah paham kalau gerak buru-buru penumpang yang  keluar angkot, berlari menuju ojek berarti : “Stasiun, cepat! Sebelum saya ketinggalan kereta“.  Tepat pukul 8.15 saya sampai di depan loket stasiun berkat tukang ojek. Kereta Depok Express itu sudah menanti di peron 2, 5 menit lagi berangkat, saya masuk dan duduk dengan tenang dan lega. Xtrans Blora pemberangkatan jam 9, sepertinya masih akan terkejar. Jika tidak toh ada pemberangkatan 1/2 jam berikutnya di travel ini. Yaah, walaupun saya tentu akan tetap sangat telat sampai kantor di Bandung.

Sekarang, sudah pukul 10.00, dan saya masih di dalam mobil Xtrans menuju Bandung tepatnya di Km.56. Duduk tenang sendiri di kursi paling belakang, online dengan laptop saya, dan langsung menulis kejadian kesiangan ini, pagi ini juga di perjalanan ke Bandung. Ah… betapa saya cinta laptop dan hape saya. Terlebih lagi, betapa saya cinta naik kereta di Jakarta.

Salam

-japs-

I Hear Babies Cry….

Baru saja semalam saya bercerita hal remeh temeh kecil yang tak terduga dan terrencana selalu membuat hidup saya lebih hidup. Jika kemarin malam hal remeh kecil itu terjadi di omprengan, maka pagi tadi hal remeh kecil itu terjadi di dalam sebuah gerbong kereta ekonomi ac jurusan Jakarta Kota.

Satu hal yang menarik perhatian saya adalah, begitu banyak bayi dan anak balita di dalam gerbong itu. Hampir semuanya di dalam gendongan ayah atau ibunya. Dan satu gerbong menjadi semerbak harum bayi-bayi habis mandi, hahaha… Saya lihat bayi lelaki kecil di gendongan ibunya yang tenang, saya lihat kakaknya yang masih balita di gendongan ayahnya lebih aktif menunjuk2 dengan senyuman dan tawa yang hanya dia dan Tuhan yang tahu maksudnya, senyum dan tawa dalam dunianya sendiri. Tak jauh dari keluarga muda kecil itu ada bayi lain yang juga tertidur tenang, berbalik kanan, saya melihat lagi-lagi bayi di gendongan, melirik ke arah yang lebih jauh, juga sama, bayi lagi… bayi lagi… ada apa dengan gerbong kereta ini di siang hari ini? Kenapa begitu penuh dengan bayi… dan bayi??? Saya pikir ini adalah “Family on the train time”. Minggu siang yang cerah, waktu yang tepat untuk berjalan-jalan membawa si kecil naik kereta ekonomi tapi ber-ac ini. Tak sedikit bayi yang bukannya senang malah menangis dan gelisah di dalam. Ada yang berhasil ditenangkan sang ibu, ada juga yang menangis menjerit tiada henti.

Stasiun Cawang, tempat saya akan turun sebentar lagi kereta ini sampai. Saya mengambil posisi di depan  pintu kereta, di kanan saya si bayi yang terus menangis, sementara di sisi kiri saya balita lain di gendongan ibunya, tatapnya melihat ke arah saya, saya “godain” dia tanpa sepengetahuan si ibu, dia bingung dan untungnya nggak nangis. “Tuh liat tuh, ade yang itu nangis tuh, kesian ya… cup cup cup” Ucap ibunya pada anak sembari menunjuk ibu lain yang kewalahan dengan anaknya yang terus menangis, berteriak dan terus menerus menangis”

Dan sesaaat kereta perlahan berhenti lagu Louis Armstrong yang di bawakan Buble di iPod saya secara tak terduga sampai di bait:

I hear babies cry… I watch them grow… They’ll learn much more, than I’ll ever know…

senyum  saya tersungging, “hal remeh kecil ini… ” batin saya.

And I think to myself… What a wonderful world…

Pintu kereta terbuka, saya melangkah keluar, berhenti di atas peron, terpaku dalam bauran rasa yang aneh, serta kecamuk pikiran. Mulut saya masih tersenyum, namun mata saya terasa sedikit berair.

Yes I think to myself…  What a wonderful… w o r l d

Saya kembali berjalan keluar stasiun dengan setumpuk rasa bahagia tiba-tiba. Lagi-lagi, karena satu hal remeh kecil yang tak terduga.

Mendadak Ngompreng

Saya lihat mobil omprengan di depan saya itu, tampak seorang lagi masuk ke dalam mobil pick-up dengan terpal hitam menutupi baknya. Seorang yang masuk itu sepertinya penutup sisa tempat terakhir dalam omprengan itu. Meski demikian saya tetap berjalan menujunya, sekiranya masih ada sisa tempat sedikit untuk duduk, saya lihat kenek masih memanggil-manggil saya berteriak “Depok! Depok! Berangkat langsung!”. Waktu saat itu saya kira sekitar pukul 00.00, lokasi di Pasar Minggu.

Saat tepat di belakang bak mobil omprengan saya melongok ke dalam, melihat sekiranya ada sisa tempat duduk yang nyatanya tiada. Sesaat itu juga mobil perlahan berjalan, bersamaan dengan beberapa orang yang berdiri di samping saya naik ke atas mobil bak itu, berpegangan pada “frame” terpal lalu bergelantungan. Tanpa pikir, timbang apalagi hitung-hitung saya ikuti gerakan orang-orang disamping saya itu berbarengan dengan omprengan yang langsung berjalan tinggalkan Pasar Minggu membawa semobil penuh penumpang dengan lima penumpang-gelantung di belakang, termasuk saya.

Tangan kiri saya sedang memar, praktis hanya bisa bergelantung dengan satu tangan, tapi yang saya pikirkan hanya pengalaman pertama menggelantung di mobil omprengan Pasar Minggu – Depok di tengah malam. Ransel saya menggelantung hanya di satu bahu dengan laptop didalamnya yang tak sempat saya sampirkan di kedua bahu karena keputusan singkat menggelantung saja tadi, tapi alih-alih berpikir kemungkinan ransel jatuh dan laptop bisa rusak, saya justru terpaku menatap jalan, resapi angin yang menerpa wajah sekencang mobil melaju, tersenyum-tampak-gigi sepanjang perjalanan, dan tiada beralih masuk kedalam bak mobil saat berangsur-angsur penumpang turun dan kursi di dalam kosong.

Saya rogoh saku celana, keluarkan earphone iPod saya yang masih menjepit di saku, memasangnya di kedua telinga, menekan tombol play, mengencangkan volumenya hingga maksimum ‘tuk melawan deru angin yang juga bervolume tak kalah maksimum. Terdengar petikan gitar akustik musisi baru malaysia, Yuna. Saya rasakan lagu ini pas sekali iringi saya bergelantung di omprengan saat tengah malam di Jalan Margonda Raya yang belum juga mati.

“Adakah-perasaan-benci-ini-sebenarnya-cinta, yang masih… bersemadi untukmu…?”

Dan sebenarnya, spontanitas, juga hal-hal remeh kecil yang tak terduga dan terrencana seperti ini membuat hidup saya terasa lebih… h i d u p . . .

Mengejar 3 Idiots

Langkah kaki terus tergegas menyusuri aspal jalan Gatot Subroto karena tak tersisa lagi tempat untuk berjalan kaki di atas trotoar, demikian juga dengan waktu saya, tak tersisa terlalu banyak untuk mendapatkan tiket film 3 Idiots di Blitz Pacific Place malam itu. 30 menit lagi tersisa sebelum film itu dimulai, itupun belum tentu masih ada tiket yang tersisa ketika saya di depan loket nanti. Kabarnya sejak kemarin tiket film tersebut laris manis. Dan benar saja, sesampainya di depan loket saya lihat tiket 3 Idiots untuk pukul 20.10 tertulis dengan warna merah: ‘sold out’. Sedikit kecewa, tapi untuk menonton yang pukul 22.00 artinya saya harus batalkan travel ke Bandung pukul 11.45, dan memesan kembali yang …. pukul 02.00?

Entah apa yang membuat saya ‘maksa’ harus nonton film ini sebelum pulang ke Bandung, mungkin review banyak orang yang bilang film ini keren. Atau cerita tentang pantai pada akhir filmnya yang membuat beberapa orang yang nonton ingin kesana? Entahlah, yang jelas saya tetap antri di depan loket, berharap ‘sold out’ tidak berarti seluruhnya terjual, tapi ada kursi-kursi sisa untuk satu orang yang menurut mereka tak mungkin lagi terjual, toh saya hanya nonton sendiri. Dan benar saja, diantara informasi tiket ‘sold out’ dan keajaiban nonton film sendiri, mba-mba penjaga loket mengatakan : “Kalau untuk satu orang masih ada”. “Yes!!!” Saya teriak dan jumpalitan dalam hati. Mendapatkan kursi di ujung paling atas teater. Kursi nomor A15! Tiketnya sudah di tangan. Satu keberuntungan.

Duduk di sebelah saya, pasangan bapak dan ibu yang tengah ngomel-ngomel karena anaknya membelikan banyak tiket untuk teman-temannya yang tidak jadi datang, “Buat apa itu?!!!” geramnya. Pada saat sendiri, mulut tidak memiliki teman diskusinya, dan telinga memang selalu jadi bekerja lebih keras.

Seorang bercerita tentang seorang teman yang ingin melakukan sesuatu dengan membuat film. Menyampaikan pesan-pesan yang ingin disampaikannya untuk kebaikan yang dia harapkan untuk bangsanya. Menurutnya film salah satu media yang paling mudah menyampaikan pesan-pesan atau bahkan propaganda pada masyarakat, terutama di negara di mana buku belum menjadi jendela dunia yang terlalu digemari untuk dibuka daun-daunnya. Dengan kata lainnya, film mampu ikut mengembangkan, melestarikan atau justru menjerembabkan budaya bangsa. Film dengan cerita dan visualisasinya mampu menghipnotis atau merasuk pikiran setiap penontonnya. Itu pendapat subjektif saya, setelah beberapa film yang saya tonton seperti tak mau pergi dari pikiran hingga hampir seminggu lebih, selama itu pula ia terus merasuk dan hantui pikiran. Terakhir film cin[T]a, dan kini 3 Idiots.

Dalam hantaman komedi yang membombardir ruangan teater dengan gelak tawa seluruh penonton, termasuk saya yang sampai mengangkat kaki saking ngakak-nya ketawa-tawa tanpa memedulikan bapak ibu galak (sepertinya) di sebelah saya, terselip tragedi-tragedi pada cerita tiap pemeran utama film tersebut. Ada satu teman lain yang berpendapat kalau komedi dan tragedi adalah dua sisi dalam satu keping mata uang. Dalam komedi sesungguhnya juga ada tragedi. Dalam hal ini saya merasakan hal lain, tidak hanya komedi yang juga merupakan tragedi di sisi lainnya. Namun tragedi, kesedihan, duka, tangis, atau apapun itu padanannya akan jauh lebih terasa torehannya saat kita telah rasa lebih dahulu komedi, kesenangan, ria, tawa atau apapun itu padanannya. Dan begitulah saya, setelah tertawa puas dengan kaki terangkat seketika mampu dibuat berkaca-kaca. Komedi-tragedi, keriaan-kesedihan, tawa-tangis, datang silih berganti dalam 165 menit durasi standar film india, lengkap dengan lagu dan tariannya yang masih terus bertahan di film-film India hingga tahun 2010 ini. Komedi-tragedi, keriaan-kesedihan, tawa-tangis, datang silih berganti terselip pesan besar dalam sebuah film yang terinspirasi oleh novel Chetan Bhagat berjudul ‘5 Point Someone’. Rajkumar Hirani, sutradara film ini dengan apik mampu menyampaikan pesan apa yang Chetan Bhagat sampaikan di novelnya. Dalam Komedi-tragedi, keriaan-kesedihan, tawa-tangis yang silih berganti terumbar kritik pada dunia pendidikan di India, terumbar penolakan pada sistem pendidikan yang berorientasi pada nilai, bukan pendidikan itu sendiri, terumbar penolakan pada tradisi orang-orang tua di masyarakat di India yang kerap menentukan jalan hidup dan profesi anaknya untuk sebuah status. Menjadi menarik saat film ini menyoroti fakta tingginya kasus bunuh diri pada mahasiswa india karena tekanan-tekanan tersebut.

Chase excellence, success will follow” salah satu tagline dan pesan besar film ini yang menjawab isu pendidikan di India. Kita boleh sebut pesan tersebut basi, tapi berapa banyak pelajar kita yang masih akan memikirkan berapa nilai yang didapatkan dalam pelajaran tertentu ketimbang seberapa jauh kita sudah memahami materinya? filosofinya? Seberapa banyak yang masih berpikir untuk berlomba-lomba mendapatkan pekerjaan yang menjamin kehidupan meskipun itu bukan yang disukainya? Film ini keras menyentil, yang membuat saya berpikir seandainya saja klan India pencipta sinetron-sinetron di Indonesia itu menciptakan hal-hal yang sebaik Chetan Bhagat dan Rajkumar Hirani, rekan sebangsanya. Chase excellence, rating will follow

Tentu hidup tidak semudah cerita dalam film ini yang bagaikan cerita dongeng dengan akhir bahagianya. Namun, film ini sampaikan satu mantranya saat cobaan menentang dalam sebuah perjuangan di dunia nyata: “Aal izz well…

Watch it! Definitely recommended!

*dan pukul 11.20 saya kembali bergegas di atas trotoar Sudirman Central Business District mengejar waktu yang tersisa 20 menit lagi sebelum travel ke Bandung itu meninggalkan saya di ibukota.

Boulevard Agung Kampusku

Saya tidak mengerti, apa yang membuat saya tidak diperkenankan menyandarkan sepeda saya pada sebuah bidang batu kali penahan pohon kenari tua yang berdiri tegak di depan bangunan agung baru itu, ‘campus center’ kampus tempat saya kuliah dulu.

Saya tengah membaca  Arok Dedes di atas bidang turap/pot besar  pohon kenari itu, sembari menunggu teman saya datang, hanya untuk memberikan sebungkus abon dan dendeng yang dibekali kakak saya dari Sukabumi. Saya perlu memberikannya kepada teman saya itu agar makanan tersebut tidak mubazir dan terbuang di kosan. Saya hanya memerlukan waktu barang 5 menit untuk menunggu kawan saya datang untuk kemudian akan pergi lagi dengan sepeda saya tanpa meninggalkan jejak kerusakan atau vandalisme di kawasan bangunan agung baru itu.

Tapi entah mengapa pihak keamanan kampus itu tiada memperkenankannya. Ketika saya tanya mengapa sepeda saya sebaiknya tidak berada disitu ia hanya menjawab tegas, keras, dan tidak suka: “Gak boleh!”. Tak terpikir untuk saya melanjutkan pertanyaan selanjutnya yaitu mengapa tidak diperbolehkan? Juga tak terpikir untuk memberikan alasan kecil saya bahwa saya hanya perlu menunggu sekitar lima menit. “Diparkir di luar, baru Mas masuk kesini!” Ucapnya masih dengan tegas, keras, dan tidak suka. “Saya tidak membawa kunci sepeda saya”, jawaban datar saya yang menjadi satu-satunya alasan saya tidak seperti biasanya memarkirkan sepeda itu di tempatnya untuk kemudian dapat meninggalkannya terkunci dengan tenang, dan dapat berjalan kaki ke tempat saya berjanji bertemu dengan kawan saya di taman depan campus center ini. Dengan amarah dalam hati saya mengayuh sepeda keluar kawasan bangunan agung tersebut, melintasi batas demarkasinya yang berupa rantai, batas yang memisahkan “area luar” menurut petugas keamanan tersebut dengan boulevard bebas kendaraan (termasuk sepeda) dan kegiatan apapun kecuali hanya lewat dan berjalan, yang dulunya pernah menjadi tempat kami (mahasiswa saat itu) duduk, berjanji bertemu, berdiskusi, berorasi, belajar, atau sekedar lewat dan berlari menuju ruang kuliah karena telat. Tiada gangguan sedikitpun kami dapatkan di masa boulevard itu justru dilalui oleh mobil juga motor yang dalam dunia urban kerap dipisahkan untuk kenyamanan pedestrian.

Namun lihat apa yang terjadi sekarang pada boulevard agung baru itu, dia semata-mata menjadi “jalur bersih” sirkulasi pejalan kaki yang menuju atau melewati bangunan agung baru itu, yang begitu bersih, putih, bening transparan dengan hampir seluruh bangunannya yang berbalut kaca, yang begitu simetris dan sempurna. Bangunan agung yang bersih dan suci sepertinya juga membutuhkan jalan masuk yang bersih, suci, tiada kotor dan cela apapun, termasuk sepeda yang bersandar ringan pada satu sudut kawasannya.

Tadi saya bertanya dengan amarah: “kenapa?”. Tapi hingga kini pertanyaan tersebut tak kunjung temui jawab, sisakan ‘kenapa’ yang tak lagi ditemani amarah, kini saya bertanya dengan kesedihan yang dalam.

Kampusku rumahku,
kampusku negeriku,
kampusku kebebasanku,
kampusku wahana kami.

Disana kami dibina,
menjadi manusia dewasa,
namun kini apa yang terjadi?
Ditindas semena-mena.

Walking on The Grave

Jalan yang jauh tapi “aman”, atau jalan dekat tapi lewat kuburan.
Itu pertanyaan.

Lirik penunjuk waktu di telepon genggam saya sudah hampir jam 11 malam, pintu gerbang perumahan yang saya lewati tadi juga sudah ditutup yang membuat saya harus “molos” gerbang seperti maling. Tentu setelah semua itu dalam hati saya berbicara:
Jalan jauh tapi aman.
Itu jawaban.

Tak berapa lama setelah jawaban yang “logis”, Pikir baru sadar kalau langkah Kaki ternyata tak bergerak berdasar kesimpulan matang yang sudah diputuskan “Logika” tadi.  Nampaknya Kaki punya nalurinya sendiri untuk memilih jalan yang dekat, dia tak kenal apa itu kuburan, apalagi setan, itu urusan Si Hati yang kerap kecut dan Otak yang kerap berpikir “terlalu jauh”. Maka begitulah mereka (kedua Kaki), membawa Otak, Hati, dan seluruh bagian Tubuh lainnya menuju jalan yang paling pintas, terus mendekat menuju kuburan.

Sempat Otak berpikir kembali belok ke kanan, kembali arah jalan yang “benar”. Tapi itu artinya sebuah pembelotan yang menyebabkan sebuah jarak sia-sia dikali dua. Kesia-siaan untuk ketakutan yang tak beralasan. Maka ia mengamini Kaki berbelok ke kiri, dan Si Hati pasrah saja untuk hal ini, dua lawan satu. Tak ada lagi yang bisa diajak koalisi. Sang Otak kini lebih berpihak pada Si Kaki, mau tak mau ia harus berani. Kuburan doaaang! Cemeeen!

Kali ini Si Mata mulai unjuk gigi, sementara Si Gigi tak ambil peduli untuk hal ini. (Mie Godhog Jowo Bengawan dan Pempek Pak Raden sudah cukup buat dia bisa tidur enak-enak sampai sahur nanti, toh bihun goreng sudah ada di Si Tangan dengan aman) Ia melihat ke kiri dan kanan, tepat sebelum masuk  gang yang akan mengantarnya ke arah kuburan di depan. Hmm… bangku yang biasanya diduduki warga sembari ngerumpi kali ini kosong, pertanda selanjutnya kalau malam sudah cukup larut dan mereka mungkin telah lelap.

Memasuki gang selebar satu meter dengan rumah-rumah petak di kiri dan kanan, mata melihat ke kiri dan kanan, sudah diduga tidak ada sebatang hidung pun warga yang masih di depan rumah. Dan kuburan itu semakin dekat, tak ada alasan sebenarnya untuk takut, toh tiap hari juga lewat situ. Anak kecil aja pagi-pagi ngegulung benang layangan sambil duduk di atas batu nisan. Yah, itu pagi-pagi sih. Waktu itu malem-malem juga sempet kaget liat sesosok bayangan hitam besar di atas kuburan. Udah kaget dan melotot, pas udah deket tau-taunya bapak-bapak  lagi nelepon diatas kuburan, mungkin karena gak pake kaos, jadi tampak lebih seperti genderuwo dan sejabatnya :p, yah intinya udah gak perlu takut lagi laaah.  Tapi kenapa semakin dekat rasanya aliran darah ke kepala semakin tersumbat ya? Rasanya seperti hampir kesemutan, tak bisa saya pungkiri, ini memang pertanda kalau saya sedang ketakutan sepersepuluh mati.  Tapi kenapa? Si Otak mulai bekerja. Ini hari apa? Ia bertanya. Kemarin saya bilang hari selasa  tapi Kang Dony teman kantor saya bilang “Bukan, Jap,  ini hari Rabu”. Dan saya yang lemot baru bisa mengambil kesimpulan, kalau kemarin bukan hari selasa, berarti hari ini bukan hari Rabu. Kata Kang Dony kemaren hari Rabu, berarti sekarang hari….

KAMIS!!!

Giliran ini cepet deh mikirnya, Kamis = Malam Jumat!!! Jriiit… Kuburan tinggal sepuluh langkah di di depan. Balik lagi ke jalan yang “benar” berarti kesia-siaan jarak tiada tara, yang tak akan bisa dimaafkan sampai akhir jaman. Baiklah, mari kita tetap istiqomah berjalan terus dengan pandangan tetap lurus ke depan…

Sepuluh, sembilan, delapan, tujuh, enam, lima, empat, tiga, dua, satu, blaaaasss…..

Pemandangan pekuburan yang tak asing lagi bagi saya sudah terpampang dengan indah, lengkap dengan pohon bambu yang menjuntai di tengah-tengah kuburan dan jalan setapak yang berkelak kelok gemulai menghindari makam demi makam di kiri dan kanannya, bahkan ada bagian jalan setapak yang tercoak oleh badan makam, sehingga saat saya melangkahinya sensasinya seperti “walking on the grave”.

“Assalamualaikum ya ahlil kubur,  assalamualaikum ya ahlil kubur”
Terus menerus saya ucapkan dalam hati, seiring dengan aliran darah ke kepala yang rasanya makin tersumbat, kepala saya semakin terasa hampir kesemutan, beginikah rasanya orang terkena gejala stroke? *berlebihan*.

Harap-harap cemas saya menanti suara embikan domba-domba yang selalu mengembik setiap saya lewat di malam hari. Dimulai dari suara domba yang agak ngebass, “Embe”, lalu disusul oleh yang bersuara normal “Embeee” dan kemudian domba bersuara cempreng yang juga turut aksi “EmbeeeeeeEE”, (suaranya domba yang ini paling menyebalkan di antara yang lainnya) lalu kemudian kembali ke domba bersuara agak ngebas, dan demikian seterusnya sampai jarak tertentu, dimana makam Gerry Rimbawan dan koloni pohon-pohon bambu sudah saya lewati, baru mereka diam. Itu biasanya… tapi tidak saat tadi, mereka tidak bersuara sama sekali, sudah tidur barangkali…

Pandangan saya tetap lurus kedepan, makam Gerry Rimbawan dan koloni pohon-pohon bambu saya lewati tanpa saya lirik sedikitpun. Mata terus melihat ke satu titik di depan, jendela rumah warga dengan lampu temaramnya, berharap ada sesosok yang masih bercengkrama di teras depannya. Nyatanya tidak ada. Malahan yang datang sembari berlari ternyata bukanlah sesosok orang. Tapi sesosok yang kerap saya panggil Si Bos tiap kali saya lewat jalan setapak yang sempit itu dan ia sering kali dengan santainya tengah terlentang menghabiskan satu lebar jalan setapak untuk orang lewat. “Misi Bos” ucap saya sebelum melangkahinya dan ia tampak tetap santai, terus telentang bagai di pantai. Malam ini ia berlari dengan santainya mendekati saya, dalam hati saya berkata “Akhirnya ada ‘makhluk hidup’ juga….”, lalu kembali saya dapat berjalan dengan tenang, darah kembali lancar mengalir ke kepala, langkah meninggalkan petak-petak kuburan di belakang yang esok akan dijumpai lagi.

Entah mengapa di saat-saat tertentu diri masih tak mampu hilangkan rasa ngeri, toh disana juga sudah tak ada siapa-siapa lagi. Hantupun bukan lagi yang harus ditakuti di era teknologi.

Dan tentang “malam jumat”? Plis deh jap! Hari giniii….. hahaha….

Nyatanya mitos dan klenik masih bisa meraja di otak dan hati… mari kita batasi!

Salam

-japs-

Catatan Hari Senin, 24 Agustus 2009 – cin(T)a

Bandung, 25 Agustus 2005

01.25

Dini hari ini aku duduk dan mencoba menulis, mengenai catatan satu hari kemarin, setelah diri ini kembali tenang. Setelah diri ini kembali mampu menggerakan tubuh dengan perlahan dan penuh perasaan di setiap gerakan shalat, setelah sebelumnya entah mengapa selalu tergesa. Setelah mandi sebelumnya dan tadarus setelahnya. Entah apa yang membuat diri ini kembali sedikit merasa percaya bahwa segalanya akan kembali membaik, setelah satu hari sebelumnya yang amat sangat sulit dimengerti. Satu hari dimana diri terus bertanya “mengapa” dan “mengapa”, “mengapa aku begini” dan tiadapun yang ditanya mampu menjawab. Entah apa yang kembali membawa diri kembali ke jalur yang seharusnya, yang sudah kesekian kali biasanya oleng lagi ke jalur yang tak seharusnya. Diri ini labil? Mungkin. Diri ini sulit sekali berpegang? Kadang. Maka teramat berbahayalah saat segala sesuatu yang tak terkontrol dan mala mendekat padanya semudah ia mengikuti itu semua dengan rendahnya.

Sekali lagi entah apa yang membuatnya kembali, mungkin saja karena memang ia butuh kembali. Mungkin saja karena tak ditemukannya apa yang dicari. Mungkin saja karena sesungguhnya ia mendamba tetap berjalan lurus tak berpaling. Entahlah, tapi kurasa mungkin ada juga pengaruh sebuah film yang kutonton bersama dua orang kawan malam ini sepulang lembur mengerjakan sebuah proyek. Film bertajuk cin(T)a yang mengisahkan cinta segitiga sepasang manusia yang berbeda agama dan Tuhan. Sebuah film yang mengusung tema yang sedemikian mentransenden dalam pertanyaan-pertanyaan yang timbul di dalamnya.

“kalau Allah ingin disembah dengan satu cara, kenapa Allah menciptakan kita berbeda-beda?”

Salah satu pertanyaan yang sudah cukup membuat terhenyak sejak saya melihat potongan film ini di Youtube. “Tuhan, Engkau mencintai Cina dan Annisa (kedua karakter pasangan berbeda agama di film tersebut), namun sejak mereka menyebut Kau dengan nama yang berbeda, mereka tak dapat saling mencintai.” Satu bentuk kalimat yang ternyata mampu menuai berbagai opini dan tanggapan. Isu religi menjadi isu yang teramat sensitif, dan hal tersebut yang membuat begitu banyak silang pendapat akan tema film ini. Isu sinkretisme beragama lah, isu sekularisme lah, isu propaganda religi tertentu lah, dan lain dan lainnya. Namun lain dari itu justru apa yang saya rasakan hanyalah sebuah pertanyaan wajar insan akan sesuatu yang seolah-olah diluar nalar, diluar kuasanya sebagai hamba.

Memilih antara cinta kepada kekasih dan Kekasih menjadi masalah yang sudah sedemikian klasik, namun selalu menjadi onak dalam beberapa kasus pasangan yang berbeda keyakinan. Mudahnya, jelas setiap ajaran agama mengajarkan (dan mewajibkan) mendahulukan cinta pada Kekasih, ketimbang kekasih. Maka ada nasihat diawal hubungan, jangan bermain api dengan hubungan beda agama, karena sejak kau memulainya, saat itu juga kau menyalakan bom waktu yang siap meledak suatu saat.

“Kalau begitu bagaimana kalau Kau pindah saja ke Agamaku?” Cina
“Kamu yakin masih mau menerimaku saat itu” Anissa
Cina terdiam
“Tuhanku saja aku khianati, apalagi kamu?” lanjutnya

Nyatanya, memang hal itu tak semudah itu, cinta pada Kekasih, tak serta merta menghilangkan cinta pada kekasih yang (sayangnya) berbeda keyakinan. Toh Tuhan juga yang menciptakan cinta dan perbedaan ini? Lalu harus bagaimana? Sementara setiap kami menganggap-Mu sebagai Yang Paling Benar, setiap kami mempercayai-Mu hanya Satu dan itu Kamu, satu Kamu bagi saya, satu Kamu bagi dia, dan satu, satu, satu Kamu lagi untuk mereka. Maka dalam pikiran bebal yang durhaka, kamu tidak lagi menjadi Satu, tapi Banyak. Demikian jika diteruskan pertanyaan-pertanyaan dalam diskusi antar agama akan menjadi semakin menakutkan, karena tak pernah ada titik temu, semua merasa yang paling benar. Dan toleransi menjadi pagar.

Maka benar adanya jika seorang Dee mengatakan hal-hal tersebut hanya menjadi benang kusut yang semakin berpilin-pilin kacau tak mampu terurai.

Kembali, jika saya ditanya apa yang saya dapat dari film ini, saya hanya bisa menjawab : Pertanyaan. Ya film ini menawarkan pertanyaan yang setiap pribadi, suku, golongan, dan agama dapat menyimpulkan jawabannya masing-masing. Tak saya rasakan kesan ataupun pesan terselubung yang dikhawatirkan beberapa (atau kebanyakan?) orang yang menganggap terdapat nuansa sinkretisme beragama di film ini, namun hanya pertanyaan dan pertanyaan.

Dalam dialog-dialog cerdas yang beruntun keluar, dalam plot cerita yang lambat namun perlahan menuju konflik yang yang kian tak terpecahkan, dalam adegan demi adegan entah mengapa jantung saya mulai berdebar lebih kencang, posisi duduk menegak, pandangan memusat dengan raut muka yang terasa semakin kaku, larut terbawa dalam kecemasan karakter-karakter dalam film. Sampai akhirnya saya merasa 79 menit adalah waktu yang pas untuk film ini. Bisa gila saya berdebar-debar, berpikir dan bertanya-tanya selama 2 jam di dalam kelindapan.

“Akhir cerita yang aman” ujar teman saya seraya kami berjalan pulang dan seperti biasa membahas setiap hal yang menarik pada film yang kami tonton. Ya, akhir yang di tengah-tengah menurut saya, tidak sedih, namun juga bukan Hollywood ending yang bahagia. Untuk pastinya, silakan menontonnya saja…

Dan disini saya menulis pengalaman saya menyaksikan film ini, sesaat sebelum sahur hari keempat di Bulan Ramadhan, dengan kata demi kata yang semakin melenceng dari garis perdebatan tema film ini, namun demikian hanya itu yang dapat saya simpulkan dengan segala keterbatasan pikir dan pengetahuan. Dan semakin melenceng lagi berikut status yang saya tulis di sebuah situs microblogging kesayangan saya :

“cin(T)a, film yang mendapat berbagai opini miring tentang sekularisme, sinkretisme agama, propaganda, dan sebagainya justru membuat saya berpikir… sejauh mana saya sudah mengenal Tuhan saya? Agama saya? Dan sejauh manakah pengalaman saya menuju-Nya?”

Karena aku tak ingin menjadi penyembah-Mu yang buta, aku ingin mencintai-Mu karena pengalaman-pengalamanku akan kasih-Mu. Hingga suatu saat nanti aku akan menjadi sangat rindu ingin segera bertemu dengan-Mu, Kekasih Sejatiku.

Amien

japs

03.54

Di Kota yang Mengeraskan… [catatan bulan pertama di Jakarta]

Aku tak mau menjadi keras,
Mengacuhkan hijau dan sulur daun dan ranting yg bergerak hilang diatas langkah yang tergesa

Aku tak mau mengeras.
Membiarkan matahari terbenam tanpa pandang lena terpukau menikmati sabda alam dikala senja

Aku tak mau mengeras…
Hingga alunan musik tak sanggup payungi damai hari
sis-siakan lelangutnya di gendang telinga…

Aku tak mau mengeras…
menjadi abai dan teramat tak acuh
merasa pusat semesta di telapak kaki

bukan…
dunia tak berhenti di sebatas pandang mata ini

Aku tak mau mengeras…
aku hanya ingin menjadi aku…
yang tetap sama
di kota yang mengeraskan ini…

japs,
februari 2009

Up ↑