Search

Apaka Tajapra

Cerita dari Jakarta dan kota-kota disekitarnya

Ashar, Sore, Senja…

garis senja, menelisik tekstur di serat bambu. senja begitu hangat, namun mengapa ia identik dengan kemurungan yang siap menjemput?

adakah karena sang surya siap tinggalkan ibu bumi dalam lindap dinginnya malam?

geus ashar meureun…

ucap seorang ibu dengan isak dan suara penuh duka melihat laku tak biasa kekasih hidupnya dalam dekapan penyakit keras..

Ashar, sore, senja, menjadi kias jemputan akhir akan kehidupan

Advertisements

Protected: embun pagiku

This content is password protected. To view it please enter your password below:

ia bahagia

ternyata
kebahagiaan dan kesenangan kadang tak datang dengan sendirinya,
namun kebahagiaan dan kesenangan ada karena diciptakan.

ternyata
kebahagiaan dan kesenangan itu tidak berpola,
tetapi abstrak dan tak beraturan.

kebahagiaan dan kesenangan itu tidak terkotak-kotakan,
karena ia bebas dan berhamburan.

kebahagiaan dan kesenangan juga tak pernah absolut berdasar kebersamaan atau kesendirian,
tetapi datang saat siapa mampu menerima kebersamaan ataupun kesendiriannya.

malam ini ia bahagia…
tanpa satupun siapa yang dapat ia sebut bersama…
tanpa ada satu juga yang ia rasa miliki…

ia selalu berpikir ia sendiri
orang lain bilang ia tidak pernah sendiri
(nyatanya) kita memang tidak pernah benar-benar sendiri

karena pada saat ia bahagia…
ada senyum dari yang ia cinta disana…

begitu juga disaat sendu
dapat ia rasa dari mereka pilu…

tapi tidak saat ini…
apa itu kesedihan ia sedang lupa…
dalam gemerlap hedonistik individual pribadi…
dalam langkah kaki yang kembali mengayun gontai di atas trotoar Jakarta
Meluap rasanya, melambung jiwanya,
benderang seterang kota setelah padam sejam lamanya.

kali ini ia bahagia
dalam satu bentuk abstrak yang ia cipta,
dan bukan karena satu pola umum yang ada…

ya, ia bahagia…
sangat bahagia…

Perjalanan Pulang Petang Ini

Langkah kaki tergegas keluar dari bis dan pintu itu kembali bergeser tertutup. Bus melaju lagi, juga langkah kaki ini, segera kembali bergegas menuju luar halte yang bernama Tosari.

Lari… lari dan terus berlari… terlihat gedung-gedung itu mencakar langit begitu tinggi dari rendahnya trotoar merah mulus ini. Sementara itu alas kaki terus menerus hendak terlepas. Naik turun nafas terengah, hampir habis ditengah gegas diri yang terus melaju…

Bisa kulihat stasiun itu, Stasiun Sudirman, masih 2 kali lemparan batu untuk sampai sana. Namun tak dapat kuhalangi pandang mata ini terus menarik ke arah puncak gedung-gedung nan tinggi, yang terasa begitu harmonis dengan gegas kaki ini, yang terasa begitu klop dengan waktu yang melesat seperti tak pernah mampu dan dapat dikejar.

Kali ini aku benar-benar harus mengambil nafas, kulihat penunjuk waktu di telepon genggam. ”Ah… sudah lewat tiga menit” rasanya aku sudah ketinggalan kereta senja…
Tapi setitik asa masih tersisa ”Ini kan Indonesia… Kereta telat bukan hal aneh disini… jadi, masih ada harapan untuk si komuter ini”

Ku kembali berlari, dan alas kaki terus saja hendak terlepas yang kadang sempat membuatku geram dan ingin melepasnya saja. Ah, tapi apa jadinya jika berlari hanya dengan kaus kaki saja? Tanpa kaus kaki mungkin lebih baik, namun waktu yang dibutuhkan tuk melepas rasanya membuang waktu lebih banyak lagi. Dan akhirnya kupilih terus berlari sembari menahan sepatu agar tak terlepas.

Aku sampai stasiun itu, tak pernah kulihat antrian loket kereta Jabotabek sepanjang ini, seperti antrian bioskop saja rasanya. Huff… sudah telat, antrian pun tak dapat ditolak, kereta itu bisa jadi sudah lewat, tapi hati terus berharap bersama pandang mata yang selalu mengarah ke peron, bertanya ”kereta ekonomi ac itukah disana?”

”Ekonomi AC Depok sudah lewat, Pak?”
“Manggarai” Jawab penjaga tiket singkat dan datar, ekspresi macam ini sudah jamak kudapatkan di kota ini, tak sedikit orang yang tak suka sedikit berbasa basi ataupun ramah sedikit saja… yah, mungkin kerasnya ibukota yang membuat beberapa orang malas mengayun turunkan nada bicara atau membuang senyum, sedikit saja…

“Manggarai, kereta yang seharusnya berangkat pukul 17.30 itu masih di Manggarai?”
Kabar buruk bagi mereka yang datang tepat waktu, namun baik bagi yang gopoh gapah telat 5 menit seperti saya. Saya tunggu kereta di peron satu yang sudah penuh sesak orang, bagai cendol tanpa air… padat!!! Kami semua bersentuhan, begitu rapat. Saya menunggu kereta telat itu sampai saya lihat arah kereta ke arah Depok bukan di peron ini… Peron seberang! Ah! Saya harus kesana… rapatnya manusia tak terelakan harus diterobos, harus naik tangga penyebrangan, tas terjepit dan isinya keluar ”alamakjang!”, terpaksa saya harus menunduk-nunduk mencari-cari kunci yang jatuh diantara kaki-kaki, dan kembali berlari menaiki tangga penyebrangan menuju peron 2. Gopoh gapah…

Tubuh berhenti, peluh langsung mengalir deras… hawa panas seketika itu juga membungkus diri…Saya lihat wajah-wajah pekerja ibukota… ramai mewarnai stasiun kereta. Saat kereta menuju Tangerang sampai di peron seberang, saya lihat wajah-wajah itu berdesak masuk begitu jelas berusaha sekeras mungkin mendapat kursi di kereta kosong yang datang. Sementara itu waktu sudah menunjukkan pukul enam kurang lima, dan kereta itu masih belum datang juga. ”Tertahan di stasiun Manggarai”, begitu kata petugas informasi lewat pengeras suara. Informasi semacam ini sangat membantu, karena tidak membiarkan penumpang menunggu lama tanpa kepastian (digantung begitu saja).

Akhirnya kereta tiba, saya masuk dengan tenang, tak perlu berebut tempat duduk karena memang sudah tak bersisa dan berdiri pun sudah cukup nyaman bagi saya asal kereta sampai di Stasiun Depok Baru saja, karena makanan sudah disiapkan di rumah oleh kakak tercinta, menyempurnakan perjalanan pulang petang ini.

Satu perjalanan pulang di senja hari yang saya suka,
begitu sederhana namun sarat makna.

Saya suka Jakarta…
Saya suka naik kereta…
Saya suka naik kereta di Jakarta…

Hidup Komuter!!!

Salam

-japs-

ibukota

Ayah, Ibu… saya lelah
mengejar denyut nadi ibukota.
Tapi kemana saya harus bersandar?

“Hanya kepada-Nya, Anakku… hanya pada-Nya” jawab mereka penuh kasih…

1 Februari 2009 – Hari Pertama Kerja di Jakarta

Ini yang saya rasakan di hari pertama bekerja di Jakarta:
Sudah berangkat jam 1/2 6 pagi dari rumah, dan baru sampai di kantor pukul 1/2 8! 2 jam perjalanan dari Depok ke Bilangan Blok-M? Saya pikir nambah 1/2 jam lagi, saya sudah sampai di Bandung dengan travel langganan. Jakartaaaaaaaaaaaaa!!!

Jadi begini ceritanya, saya naek kereta ekonomi, tapi turun di Pasar Minggu buat naik P 75 jurusan Ps. Minggu-Blok M. Bodohnya saya nggak tau kalau jalur buncit yang dilewatin sama bis itu bakalan jadi petaka di pagi hari. Ditambah lagi hujan yang bakal bikin kemacetan tambah akut. Dan benar saja, Kawan. 1/2 jam saja dari Depok ke Ps. Minggu. Tapi, dari Psr. Minggu ke Blok-M nya 1 1/2 jam! Saya bisa tidur lagi di bis metromini itu…. hehehe.

Sampai kantor sekitar jam 1/2 9, saya sms teman saya yang sudah sebulan lebih dahulu bekerja bertanya nanti saya harus ke ruangan mana dan ketemu siapa. Ternyata dia juga terjebak macet dan kemungkinan baru akan sampai di kantor jam 10. Huwahahah. Dia sms balik, langsung ke lantai 2 aja, disana Bos Kami (yang selanjutnya akan saya panggil Nyonya) sudah disana.

Saya buka pintu ruang kerja itu, nampak meja sekretaris didepan ruang kepala divisi yang masih kosong, ia belum datang, saya berbelok ke kiri, terlihat deretan meja menghadap tembok, dengan sirkulasi orang lewat tepat di belakangnya. Disana sudah ada Nyonya bersama seorang kawan satu tim saya akan bekerja, namanya Nancy. Nyonya memberikan pekerjaan pada saya, sebuah file presentasi/paparan yang harus saya edit. Ia menunjuk laptop yang sudah terbuka di sebuah meja di ruangan kerja dengan 3 barisan meja. Saya di meja baris pertama.

Itulah kali pertama saya bertemu dengan teman seperjuangan saya di kantor ini, kelak nanti saya akan memberinya nama: Gundam.  Tugas saya pagi itu adalah : 1. Memperbaiki catatan notulensi suatu acara dengan mendengarkan rekaman acara tersebut. 2. Memperbaiki paparan seorang pengisi acara, di acara berikutnya. Karena pekerjaan yang kedualah yang lebih diburu waktu, maka saya diminta untuk mengerjakan yang itu dulu.

Saya belum merasa nyaman bekerja di tempat kerja ini, wajar masih hari pertama. Mungkin juga karena kantor ini terlalu besar dibandung kantor diman saya bekerja di Bandung. Saya hanya belum bisa merasa nyaman. Wajar… hari pertama. Saya bertanya kepada Nyonya yang saya lihat sudah mulai sedikit sibuk. “Bu, kira-kira dua kerjaan ini harus selesai kapan? hari ini apa besok?”.  Dengan intonasi keras dan tidak terduga ia menjawab. “Ini bukan MAIN HARI, ini MAIN JAM!!!”. Oke, ini hari pertama saya bekerja di Jakarta, dan pertama kalinya pula diteriaki seperti itu di dalam kantor. Muahaha…. Awal yang cukup mamacu adrenalin. Dan saya bekerja secepat mungkin pekerjaan yang sudah diberikan pada saya tadi…. karena ini main jam…

Seharian itu diwarnai dengan naik turun, lantai, karena revisi paparan yang saya buat harus diasistensikan dengan kepala divisi di lantai 6. Oh ya, saya harus ceritakan dahulu, sebelum diasistensikan saya cetak dulu file itu, untuk mencetak kami menggunakan mesin printer yang terhubung dengan laptop Nancy, jadi kami harus meminta tolong padanya untuk dapat mencetak file. Nancy mengambil USB saya, mengcopy file ke laptopnya, dan membuka file yang saya mau cetak.

“Ini boros tinta, lu benerin lagi deh lay outnya”
Deangan intonasi yang tidak lebih ramah dari Nyonya barusan ia memberikan instruksi sebelum mau mencetakkan file itu. Baiklah, siap laksanakan. Saya mengubah layoutnya dan template file paparannya menjadi lebih hemat tinta. Setelah dicetak, saya lari naik tangga (tak gunakan lift) ke lantai 6, untuk memberikan file paparan pada seorang asisten kepala divisi. Tentunya saya harus bolak-balik dulu untuk tahu dimana divisi seorang asisten kepala ini, seperti sudah saya bilang. kantor ini terlalu besar buat saya. Saya tanya pada sekretarisnya yang berbadan kecil dan menggunakan jilbab, ah ternyata si Bapak sedang rapat, saya tanya kapan ia ada di ruangan. Katanya jam 1. Oke nanti saya akan kesini lagi.

Saya kembali ke meja, Nancy bertanya, saya jawab, lalu saya kembali meneruskan pekerjaan. Pekerjaan nomor 1 tadi, revisi catatan notulensi. Aha hari ini sepertinya kerjaan saya revisi-revisi. Mendengarkan rekaman, lalu memperbaiki tulisan yang salah. Teman saya yang sudah sebulan lebih dahulu bekerja itu datang, ia manyampaikan salah satu “kondisi” di ruangan ini,, dan harap maklum untuk satu hal itu. Saya tersenyum dan kembali bekerja. Jam 1 saya kembali ke lantai 6, ternyata pak asisten kepala itu sudah kembali pergi. Saya terpaksa titipkan file paparan tercetak itu pada sekretarisnya.

Di bawah Nancy kembali bertanya, saya jawab si asisten kepala itu sudah tidak ada. “Kamu terlambat?”. Dia tersenyum, senyum yang aneh. Saya tidak menjawab.

Di sore hari Nyonya meminta pekerjaan revisi notulensi saya segera di cetak, sementara beberapa hal belum saya selesaikan karena memang belum keburu. Ia mengatakan agar tidak seluruhnya dulu di revisi, bagian akhir saja yang menyatakan kesimpulan. Oke dan ia baru memberitahunya saat ini, saat ia mulai panik dan minta di print. Saya segera mengarahkan rekaman ke bagian akhir dan berusaha menemukan kesimpulan. ketemu? Ketemu. tapi tidak semudah itu karena kesimpulan dibacakan dengan perlahan dan panjang, tapi Nyonya melihat dari belakang dan meminta saya segera mengetikkan kesimpulannya. Bagaimana mungkin? saya tidak ikut acaranya dan kini harus mengetik lebih cepat dari rekaman?! Luar biasa.

Hari ini hari pertama kerja yang luar biasa. Impresi pertama begitu “menggoda”, selanjutnya? Kita lihat esok hari! hahaha

Salam

-japs-

bertanya atau berjalan?

di sebuah pedalaman terdengar suara yang lewat berkelebat,

sebenernya hidup ini buat apaan sih?
ya buat dijalanin lah…
dijalanin bagaimana?
ya di jalanin sebaik-baiknya aja…
sebaik-baiknya? buat siapa?
ya buat diri sendiri, buat orang lain, siapapun lah!
terus???
ya terus lo jangan nanya mulu aja!!! kapan jalannya?

mereka terus berjalan masuk lebih dalam tanpa bicara, kendati mungkin hatinya terus bertanya. sunyi, lalu menghilang…

suara-suara itu membuat saya tergelak di akhir, dan merenung sesaat berikutnya… sampai suara-suara itu benar2 hilang dan pergi. sunyi di telinga, lalu bingar tanpa suara…

salam

-japs-

aku ada dua???

Dan saya menggeragap ketika diri sanggup bersikap seolah padri di satu sisi sekaligus menjadi serigala tak kenal rasa di sisi berbeda. Menggeletar bengis menoreh luka mengundang murka begitu mala, dan bertenang-tenang seketika disisi lainnya menjadi rusa tanpa dosa.

Degup mengencang, jari gemetar, ampun… saya tak sanggup. 

-japs-

nb:  dan tempat ini semakin menjadi ruang penuh lindi luapan rasa. maaf, saya hanya butuh tempat meneteskannya… esok pun sudah tak apa… (barangkali) 🙂 

Sampai Ketemu di 2009…

sepatu bututku

Tertuang salam ucapan terima kasih melengkapi tuangan kata Sahabat semua di cangkir 2008 yang penuh cita rasa. ‘Kan saya sruput pelan di senja tahun ini. Seteguk demi teguk: catatan, balasan, pengalaman, perkenalan, hingga persahabatan… yang mengalir tenang mengisi relung dan tabula yang masih kosong. 

Membiarkan cangkir ini kosong kembali, untuk lagi dan lagi kita isi

di tahun 2009
tahun perjalanan.

 

salam harap semua kawan dilingkupi kebahagiaan,

 

-japs-

Up ↑