Search

Apaka Tajapra

Cerita dari Jakarta dan kota-kota disekitarnya

Tag

bandung

Oleh-oleh dari KICKFest 2008

“Jap, besok kamu dateng ke Kickfest?”
Saya terdiam, yang sepertinya langsung terbaca dikening saya “kickfest? apa itu?
“Kickfest!!! kickfest!!! salah satu acara besar di Helarfest!!!”
“Oh, iya.. iya…”
jawab saya pura-pura tahu yang kurang sukses sepertinya.
“You should manage your social and professional life, jap!”

“…..”

Oke, bagi temen-temen di Bandung yang belum tahu apa itu KICKFest, dont worry be happy. Karena masih ada saya, salah satu temen kuper kalian. Mari mulai bergaul bersama-sama, hehehe…. 😛

KICKFest adalah festival besar tahunan KICK (Kreative Independent Clothing Kommunity), sebuah bazzar clothing dan distro-distro yang April 2008 lalu di gelar di Yogyakarta, sebulan kemudian di Makasar. Dan pada tanggal 1,2, dan 3 Agustus 2008 kemarin digelar di Lapangan Gasibu Bandung, sebagai bagian dari seluruh rangkaian acara Bandung Helarfest 2008.

[Lanjutkan baca]

Advertisements

Indahnya Bandung Sore Ini

Selepas Shalat Ashar di Salman saya memutuskan tidak langsung naik ke kantor, tetapi malah turun ke arah Taman Ganesha (dahulu bernama Ijzerman Park). Menuruni kaki-kaki tangganya, saya berencana menikmati hidupnya suasana taman sore itu. Ibu penjual cireng (aci goreng) isi sudah tidak ada lagi ditempatnya, meninggalkan Ibu penjual donat yang senantiasa menjadi teman ngobrolnya sehari-hari. Sayapun melewatinya dengan gontai, pun jika masih ada cireng yang masih dijual, saya tak akan membelinya, karena saya sedang tidak enak badan hari ini karena mual dan sedikit sakit perut. Sesampai di taman seketika terdengar kicau-kicau burung. Tidak terlewatkan oleh saya burung merpati yang turun ke tanah, nampak sedang mencari-cari makan, entah cacing atau apa. Saya ikuti dianya kabur, tapi terus turun lagi ke tanah, ahh dia menggoda saya (geer mode on, heu)

Kini perhatian saya tertuju pada vegetasi taman tersebut. Sebagai salah satu kota taman yang dirancang Thomas Karsten, Kota Bandung memiliki banyak sekali taman-taman tropis seperti Taman Ganesha ini, seperti: Taman Maluku (Molukken Park), Taman Cibeunying, Taman Pramuka, dll. Salah satu pohon yang mendominasi taman-taman tersebut adalah Filicium decipiens (Fern tree, Sapindaceae) atau yang lebih dikenal dengan Kirai Payung. Juga di taman ini, pohon tersebut berjaya menaungi taman bersumbu sama dengan Institut Teknologi Bandung, Gunung Tangkuban Perahu.

Filicium decipiens

Tepat di tengah taman, terdapat beberapa tanaman perdu bertuliskan Kaca Piring (Gardenia Augusta, Rubiceae), Gardenia jasminoides (nama binomialnya) pada papan namanya, bentuk tanamannya seperti tanaman melati, berbunga seperti mawar, hanya saja warnanya putih. Ah, saya semakin tertarik mencari-cari papan nama pohon lainnya, namun tidak menemukan lagi selain papan bertuliskan “Palem Kuning” dibawah pohon palem yang kurus dan kering, dan memang berwarna kuning pada lehernya. Nama Latinnya sudah tertutup karat.

Suasana taman sangat hidup sore itu, saya lihat beberapa pasangan bercengkerama dibangku taman, beberapa orang sendirian tampak sedang menunggu seseorang, beberapa lagi berkelompok seperti sedang berlajar atau berdiskusi, dan tepat didekat saya dua orang pemuda sedang bermain gitar diatas bangku taman, tampaknya mereka sedang berlatih sebuah lagu. Saya tertarik pada sebuah papan besar bergambarkan burung-burung yang terdapat di taman tersebut, beserta nama-namanya, makanannya dan dimana mereka biasa berada di taman itu. Namun seketika saya tertarik pada dentingan gitar yang dimainkan dua orang pemuda tadi. Sambil melihat papan informasi itu, saya terus mendengarkan lagu yang dimainkan. Saya seperti mengenali lagunya, “ah… Depapepe kayanya”, “iya… betul Depapepe” kata saya girang dalam hati. dan saya terus berusaha mengenali lagunya dari balik papan informasi yang memisahkan saya dengannya. Seperti diberikan hiburan yang betul-betul saya sukai tanpa saya minta. Dua orang itu memainkan lagu Canon in D versi Depapepe. “What a stunning and surprising coincidence“. (halah lebay… ) But, im serious, i was surprised and really wanted to tell anyone that i was happy with it. Couldnt hardly wait to tell mba milla in the office, but i still wanted to listen they played that song.

Kemudian saya mencari tempat duduk terdekat yang dapat mendengar sekaligus melihat permainan mereka. permainannya keren, yah walaupun masih latihan, jadi sering stop tiba-tiba. tapi tetep aja keren, Depapepe gitu, heu. Posisi duduk dimulai dengan posisi normal kaki menjuntai, hingga makin tak sadar diri, bersila sambil bertopang dagu menikmati Filicium decipiens yang banyak itu. “Ahhh, indahnya bandung sore ini”.

“Maaf Mas, Mas kuliah di ITB?”

”Iya, kata saya?”

”Biasanya kalau kuliah di ITB paling sore sampai jam berapa ya Mas?”

”Paling sore biasanya jam 5, Mba?”

Nampaknya mba-mba yang duduk di bangku sebelah saya sedang menunggu seseorang

“Biasanya sedang praktik ya Mas Kalo sampai sore begini? Soalnya saya telpon gak diangkat.”

“Oh, tergantung jurusannya itu Mba, mungkin juga sedang ada kuliah jadi tidak bisa angkat telpon”

“Oh, segitunya ya?”

Dan percakapan pun berlanjut dengan santai, antara dua orang asing yang sedang duduk sendiri di sebuah taman, diiringi lagu Canon in D versi Depapepe. Ditemani burung-burung Merpati, Jalak Kerbau, Gereja, dan lainnya. Dipayungi sang Kirai Payung si Filicium decipiens, dan pohon lainnya. Ditunggui oleh kantor yang memanggil-manggil sang peminggat ini untuk kembali bekerja… “Mba, saya balik ke kantor lagi ya” “Oh iya, terima kasih ya Mas”. Sayapun kembali melangkah gontai dengan semangat baru menuju kantor.

”Aahh, Indahnya Bandung Sore Ini”

Indahnya Bandung Malam Ini

Tidak pernah saya bayangkan sebelumnya, segelas kopi Circle-K dalam gelas kertas ukuran small itu bisa memberi sedikit rasa tenang pada diri saya. Tak mengerti teori endorphin dalam coklat yang jugakah ada dalam segelas kopi, namun apapun itu ternyata segelas kopi bisa membuat saya kembali bersyukur masih berada di kota ini.

Circle-K juga ada di kota lain, Jap“. Atau “kalau mau segelas kopi di gelas kertas ribuan kota dunia ini juga punya. Tidak harus di Bandung, Kawan“.

Saya tidak suka kopi, apalagi black coffee atau espresso yang pahit tanpa gula. Tapi toh saya membelinya malam ini dan berjalan sambil menyeruputnya dalam perjalanan pulang di udara dingin yang nyaman dirasakan saat badan terbungkus jaket, saat kaki melangkah gontai di bawah hidupnya pohon-pohon yang berusia ratusan tahun, saat diri bergerak lambat dengan rasa aman hingga tak perlu merasa harus terburu sampai di rumah, saat jarak dan waktu amat bersahabat untuk hidup yang amat sangat harus dinikmati, saat mimpi dengan mudah diresapi untuk ditindak lanjuti menjadi langkah demi langkah ke depan,

saat sendiri bukan jadi hal yang terlalu penting untuk dihindari.

Kan terus melangkah meski tanpa segelas kopi,

Kan terus melangkah meski tanpa pohon-pohon yang melindungi,

Kan terus melangkah meski udara tidak lagi bersahabat, saat waktu terus menjerat, dan jarak semakin membatasi.

Pasti ku kan merindu udara ini, pasti ku ingin kembali lagi kesini. Tempat dimana nanti mati bukan lagi hal yang patut tuk ditakuti, karena janji dan mimpi tlah ditepati. Berbakti sampai mati.

Bandung, 3 Oktober 2007

Reza Prima

Up ↑