Search

Apaka Tajapra

Cerita dari Jakarta dan kota-kota disekitarnya

Tag

film

3 Idiots, Kali Kedua

Hari ini kali kedua saya menonton 3 Idiots, dan masih, saya tertawa dibuatnya. Dan masih, mata saya sedikit basah di beberapa adegannya. Di tulisan sebelumnya, saya tak katakan adegan mana yang paling menguras air mata saya. Haha, saya tak malu katakan air mata saya terkuras, saya rasa karena memang sangat menyentuh.

Adegan itu adalah adegan dimana Farhan akhirnya memberanikan diri mengatakan kepada ayahnya bahwa ia tidak ingin menjadi Insinyur di hari ia akan melakukan wawancara kerja di akhir masa kuliahnya di sekolah teknik. Ia berusaha memberi tahu kepada ayahnya yang begitu menginginkan anaknya menjadi insinyur bahkan menentukannya di menit pertama kelahiran sang anak di dunia, ia berusaha memberi tahu kepada ayah yang mengorbankan satu-satunya AC di rumahnya dipasang di kamar sang anak agar dapat belajar dengan tenang, dan ia berusaha memberi tahu kepada ayah yang rela hanya memiliki motor, bukan mobil, untuk membiayai pendidikan sang anak, dan semua itu hanya untuk satu alasan: “Sang anak hidup terpandang menjadi seorang insinyur”.

Farhan berjuang melawan ketakutan yang sangat besar yang dimiliki seorang anak atas keinginan orang tua yang begitu besar dengan segala pengorbanannya.
“Ayah, jika aku menjadi insinyur, selama hidupku aku akan mengutuki hidupku, selama hidupku aku akan menyesalimu”
“Jika aku menjadi fotografer, mungkin gajiku lebih kecil, rumah dan mobilku juga, tapi aku akan mengerjakannya dengan sepenuh hati. Dan aku tak ingin menyesalimu, Ayah. Lebih baik aku sesali diriku.”

Farhan membuka dompetnya keitka ibunya menangis dan khawatir Farhan mengikuti hal yang dilakukan Raju sahabatnya, mencoba bunuh diri dan melompat saat kehidupan menekannya. Farhan berlutut di depan ayahnya, menunjukkan gambar ayah dan ibunya yang tersenyum di dalam dompetnya.
“Lihat ayah, Rancho temanku yang ayah sebut mempengaruhiku itu yang memintaku memasang foto ayah dan ibu”
“Ia memintaku untuk melihat foto ini setiap pikiran buruk itu datang, ia berkata: Apa yang akan terjadi dengan senyum ini jika kau melakukan hal bodoh itu? membunuh dirimu?”
Saat itu rasanya mata saya hendak leleh, perang batin antara keinginan baik sang ayah untuk kehidupan anaknya dengan kehidupan yang diimpikan anak itu sendiri, kasih orangtua, dan kekuatan persahabatan meremas-remas perasaan dan mengaduk-aduknya dengan emosional.

Sang ayah berjalan meninggalkan Farhan menuju laptop yang baru saja dibelinya sebagai hadiah bagi anaknya yang akan segera lulus dan menjadi insinyur kebanggaannya.
“Berapa harga sebuah kamera? Kamu jual laptop ini, Nak, kalau kurang bilang ayah”
Farhan merangsek memeluk ayahnya dalam haru dan mata yang leleh, ia berhasil meyakinkan ayahnya, bukan sekedar hanya untuk satu pekerjaan yang diminatinya. Ia berhasil meyakinkan ayahnya, untuk hidupnya.

Hidup yang bagaimana lagi yang bisa kita banggakan selain hidup yang sesuai dengan panggilan jiwa kita? Hal ini benar-benar seperti menjungkir balikkan semua hal yang acap kali kita lihat di dalam hidup ini. Yang banyak kita seringkali lupa. Terlalu banyak Farhan-Farhan yang menyerah pada dunia yang disodorkan, yang mengorbankan harapan untuk selamanya hanya menjadi impian yang perlahan-lahan abu-abu dan hilang tergerus kehidupan.

Farhan, Raju, dan Rancho. Tiga bersahabat yang bersama-sama menjalani kuliah dalam kampus teknik nomor satu di India. Dengan sistemnya yang dianggap sangat kaku dan tidak mengarahkan mahasiswa untuk mengejar ilmu melainkan nilai dan prestasi belaka. Bertiga mereka menghadapi kehidupan kampus tersebut dengan permasalahan dan karakternya masing-masing. Farhan yang sebenarnya ingin menjadi fotografer fauna dan terjebak karena keinginan sang ayah, Raju yang menjadi tulang punggung keluarga sehingga begitu terbebani dan ketakutan dalam persaingan yang begitu ketat di dalam kampus. Sementara Rancho? Ia berbeda, sosok yang amat mencintai dunia teknik, menyukai mesin, dan menganggap kuliah bukan sekedar persaingan mengejar nilai sebaik-baiknya kemudian kembali bersaing mendapatkan perkerjaan terbaik. Ia menganggap kuliah adalah tempat kita melahap sebanyak-banyaknya ilmu yang ia sukai, untuk selanjutnya dapat melakukan yang terbaik dengan ilmu tersebut. Selanjutnya, maka kesuksesan itu sendiri yang akan menghampiri. Rancho menjadi sosok yang berpengaruh bagi kedua sahabatnya. Bagi Raju untuk keluar dari ketakutannya, bagi Farhan untuk keluar dari mimpi-mimpi ayahnya. Dan bagi seluruh dunia, dalam setiap pesannya:

Chase excellence, and success will follow

Amien

Film ini begitu positif dan saya tak merasakannnya berkurang bahkan saat menonton kedua kalinya di bioskop. Aamir Khan, seorang aktor berusia 40sekian tahun, dan membuat saya tidak bermasalah melihatnya memerankan karakter berumur 18an, tentu saja karena kemampuan akting yang brilian. Kareena Kapoor, bagaimana mungkin ada wanita secantik itu?  Ah! Film ini terlalu menghibur.

Advertisements

Catatan Hari Senin, 24 Agustus 2009 – cin(T)a

Bandung, 25 Agustus 2005

01.25

Dini hari ini aku duduk dan mencoba menulis, mengenai catatan satu hari kemarin, setelah diri ini kembali tenang. Setelah diri ini kembali mampu menggerakan tubuh dengan perlahan dan penuh perasaan di setiap gerakan shalat, setelah sebelumnya entah mengapa selalu tergesa. Setelah mandi sebelumnya dan tadarus setelahnya. Entah apa yang membuat diri ini kembali sedikit merasa percaya bahwa segalanya akan kembali membaik, setelah satu hari sebelumnya yang amat sangat sulit dimengerti. Satu hari dimana diri terus bertanya “mengapa” dan “mengapa”, “mengapa aku begini” dan tiadapun yang ditanya mampu menjawab. Entah apa yang kembali membawa diri kembali ke jalur yang seharusnya, yang sudah kesekian kali biasanya oleng lagi ke jalur yang tak seharusnya. Diri ini labil? Mungkin. Diri ini sulit sekali berpegang? Kadang. Maka teramat berbahayalah saat segala sesuatu yang tak terkontrol dan mala mendekat padanya semudah ia mengikuti itu semua dengan rendahnya.

Sekali lagi entah apa yang membuatnya kembali, mungkin saja karena memang ia butuh kembali. Mungkin saja karena tak ditemukannya apa yang dicari. Mungkin saja karena sesungguhnya ia mendamba tetap berjalan lurus tak berpaling. Entahlah, tapi kurasa mungkin ada juga pengaruh sebuah film yang kutonton bersama dua orang kawan malam ini sepulang lembur mengerjakan sebuah proyek. Film bertajuk cin(T)a yang mengisahkan cinta segitiga sepasang manusia yang berbeda agama dan Tuhan. Sebuah film yang mengusung tema yang sedemikian mentransenden dalam pertanyaan-pertanyaan yang timbul di dalamnya.

“kalau Allah ingin disembah dengan satu cara, kenapa Allah menciptakan kita berbeda-beda?”

Salah satu pertanyaan yang sudah cukup membuat terhenyak sejak saya melihat potongan film ini di Youtube. “Tuhan, Engkau mencintai Cina dan Annisa (kedua karakter pasangan berbeda agama di film tersebut), namun sejak mereka menyebut Kau dengan nama yang berbeda, mereka tak dapat saling mencintai.” Satu bentuk kalimat yang ternyata mampu menuai berbagai opini dan tanggapan. Isu religi menjadi isu yang teramat sensitif, dan hal tersebut yang membuat begitu banyak silang pendapat akan tema film ini. Isu sinkretisme beragama lah, isu sekularisme lah, isu propaganda religi tertentu lah, dan lain dan lainnya. Namun lain dari itu justru apa yang saya rasakan hanyalah sebuah pertanyaan wajar insan akan sesuatu yang seolah-olah diluar nalar, diluar kuasanya sebagai hamba.

Memilih antara cinta kepada kekasih dan Kekasih menjadi masalah yang sudah sedemikian klasik, namun selalu menjadi onak dalam beberapa kasus pasangan yang berbeda keyakinan. Mudahnya, jelas setiap ajaran agama mengajarkan (dan mewajibkan) mendahulukan cinta pada Kekasih, ketimbang kekasih. Maka ada nasihat diawal hubungan, jangan bermain api dengan hubungan beda agama, karena sejak kau memulainya, saat itu juga kau menyalakan bom waktu yang siap meledak suatu saat.

“Kalau begitu bagaimana kalau Kau pindah saja ke Agamaku?” Cina
“Kamu yakin masih mau menerimaku saat itu” Anissa
Cina terdiam
“Tuhanku saja aku khianati, apalagi kamu?” lanjutnya

Nyatanya, memang hal itu tak semudah itu, cinta pada Kekasih, tak serta merta menghilangkan cinta pada kekasih yang (sayangnya) berbeda keyakinan. Toh Tuhan juga yang menciptakan cinta dan perbedaan ini? Lalu harus bagaimana? Sementara setiap kami menganggap-Mu sebagai Yang Paling Benar, setiap kami mempercayai-Mu hanya Satu dan itu Kamu, satu Kamu bagi saya, satu Kamu bagi dia, dan satu, satu, satu Kamu lagi untuk mereka. Maka dalam pikiran bebal yang durhaka, kamu tidak lagi menjadi Satu, tapi Banyak. Demikian jika diteruskan pertanyaan-pertanyaan dalam diskusi antar agama akan menjadi semakin menakutkan, karena tak pernah ada titik temu, semua merasa yang paling benar. Dan toleransi menjadi pagar.

Maka benar adanya jika seorang Dee mengatakan hal-hal tersebut hanya menjadi benang kusut yang semakin berpilin-pilin kacau tak mampu terurai.

Kembali, jika saya ditanya apa yang saya dapat dari film ini, saya hanya bisa menjawab : Pertanyaan. Ya film ini menawarkan pertanyaan yang setiap pribadi, suku, golongan, dan agama dapat menyimpulkan jawabannya masing-masing. Tak saya rasakan kesan ataupun pesan terselubung yang dikhawatirkan beberapa (atau kebanyakan?) orang yang menganggap terdapat nuansa sinkretisme beragama di film ini, namun hanya pertanyaan dan pertanyaan.

Dalam dialog-dialog cerdas yang beruntun keluar, dalam plot cerita yang lambat namun perlahan menuju konflik yang yang kian tak terpecahkan, dalam adegan demi adegan entah mengapa jantung saya mulai berdebar lebih kencang, posisi duduk menegak, pandangan memusat dengan raut muka yang terasa semakin kaku, larut terbawa dalam kecemasan karakter-karakter dalam film. Sampai akhirnya saya merasa 79 menit adalah waktu yang pas untuk film ini. Bisa gila saya berdebar-debar, berpikir dan bertanya-tanya selama 2 jam di dalam kelindapan.

“Akhir cerita yang aman” ujar teman saya seraya kami berjalan pulang dan seperti biasa membahas setiap hal yang menarik pada film yang kami tonton. Ya, akhir yang di tengah-tengah menurut saya, tidak sedih, namun juga bukan Hollywood ending yang bahagia. Untuk pastinya, silakan menontonnya saja…

Dan disini saya menulis pengalaman saya menyaksikan film ini, sesaat sebelum sahur hari keempat di Bulan Ramadhan, dengan kata demi kata yang semakin melenceng dari garis perdebatan tema film ini, namun demikian hanya itu yang dapat saya simpulkan dengan segala keterbatasan pikir dan pengetahuan. Dan semakin melenceng lagi berikut status yang saya tulis di sebuah situs microblogging kesayangan saya :

“cin(T)a, film yang mendapat berbagai opini miring tentang sekularisme, sinkretisme agama, propaganda, dan sebagainya justru membuat saya berpikir… sejauh mana saya sudah mengenal Tuhan saya? Agama saya? Dan sejauh manakah pengalaman saya menuju-Nya?”

Karena aku tak ingin menjadi penyembah-Mu yang buta, aku ingin mencintai-Mu karena pengalaman-pengalamanku akan kasih-Mu. Hingga suatu saat nanti aku akan menjadi sangat rindu ingin segera bertemu dengan-Mu, Kekasih Sejatiku.

Amien

japs

03.54

Up ↑